Javan Cipta Solusi
Published in

Javan Cipta Solusi

Faktor Sukses Proyek Agile

Selama lebih dari 4 dekade, metodologi waterfall banyak digunakan dalam melakukan manajemen proyek. Metodologi ini bersifat predictive, sehingga berusaha melakukan planning dengan lengkap dan akurat di awal proyek. Pada saat itu, proyek biasanya dianggap sukses ketika memiliki 3 kriteria sukses, yaitu : on time, on budget, dan on scope. Ketiga hal ini juga sering disebut sebagai triple constraint yang akan saling berkaitan.

Namun begitu, survey membuktikan bahwa cukup banyak proyek menggunakan waterfall dan berbagai variasinya yang mengalami kegagalan untuk memenuhi aspek time , budget, dan scope ini. Sebagai alternative metodologi yang bersifat predictive, di awal 90'an sudah ada beberapa praktisi yang mengenalkan metodologi seperti XP dan scrum. Kemudian di tahun 2001, muncul gerakan untuk semakin mempopulerkan kerangka kerja atau cara baru yang dikenal dengan sebutan agile dalam manajemen proyek terutama dalam hal pengembangan software, yang juga menjadi payung bagi beberapa metodologi seperti XP, scrum, DSDM, dan berbagai metodologi lain yang memiliki value yang sama.

Survey yang dilakukan oleh Standish group pada 2015, untuk data proyek selama 2011 s/d 2015 membandingkan hasil dari penggunaan metodologi waterfall versus agile sebagai berikut:

tingkat kesuksesan proyek agile vs waterfall

Saat ini, adopsi agile dalam proyek pengembangan software semakin meningkat. Agile dipandang bukan lagi sebagai sesuatu yang mewah, tetapi menjadi suatu kebutuhan dan metodologi untuk deliver benefit dan value kepada customer.

Untuk dapat memaksimalkan hasil dari penggunaan agile ini, ada beberapa faktor yang harus kita perhatikan, diantaranya sebagai berikut:

  1. User involvement
    Salah satu value dari agile adalah “Customer collaboration”, dimana hal ini diharapkan dapat membantu memberikan benefit dan value yang riil dari produk yang dihasilkan.
  2. Executive support
    Penggunaan agile memerlukan berbagai perubahan mindset dan bahkan kultur perusahaan. Hal ini memerlukan dukungan penuh dari pihak manajemen sehingga cara kerja agile dapat tetap selaras dengan sistem di perusahaan
  3. Team competence & expertise
    Keberhasilan agile sangat bergantung pada tim, bukan sekadar seorang superhero. Karakteristik tim yang ideal untuk implementasi agile minimal adalah cross functional dan self organizing.
  4. Agile practice
    Berbagai metodologi seperti scrum, XP, DSDM, maupun kanban memiliki beberapa hal yang berbeda dalam hal praktiknya. Tim harus mampu menerapkan praktik sesuai dengan metodologi yang dipilih, dan apabila diperlukan melakukan “tailoring” sesuai dengan kondisi tim maupun proyek yang dikerjakan
  5. Right amount of documentation
    Salah satu value yang dibawa oleh agile adalah “Working software over comprehensive documentation”. Hal ini bukan berarti agile tidak mementingkan dokumentasi, tetapi dokumentasi memang dibuat sesuai dengan kebutuhan dan bertujuan untuk mendukung keberhasilan proyek, bukan sekadar formalitas.

Javan sejak 2015 mulai menerapkan kerangka kerja agile dalam manajemen proyeknya untuk bisa memperbaiki kualitas layanan dan delivery-nya. Beberapa faktor sukses diatas menjadi bagian yang perlu selalu diperbaiki dan ditingkatkan, karena agile merupakan suatu cara untuk mencapai sukses, bukan merupakan kesuksesan itu sendiri.

--

--

Business Process Optimization Partner. Contact us to help you optimize your business using technology.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store