Javan Cipta Solusi
Published in

Javan Cipta Solusi

Peran Efikasi Diri Dalam Dunia Pekerjaan

Salah satu yang dapat menjawab tantangan zaman agar tidak kalah bersaing dengan perusahaan lain adalah kinerja atau performansi yang tinggi dari para karyawan. Bagi setiap perusahaan, memiliki karyawan dengan kinerja dan performansi yang tinggi tentunya sangat dibutuhkan karena pastinya setiap waktu akan ada perubahan dan permintaan dari klien yang beraneka ragam. Namun jika hal tersebut tidak dimiliki perusahaan, maka akan menghambat kinerja perusahaan atau produktivitas perusahaan akan menurun.

Perofrmansi kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor dan salah satunya adalah efikasi diri. DIkatakan oleh Judge dan Bono (2001) bahwa semakin tinggi efikasi diri karyawan, maka semakin tinggi pula karyawan memiliki kinerja dan performansi yang baik. Bandura (1997) mendefinisikan efikasi diri (self efficacy) merupakan sebuah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasikan dan melaksanakan serangkaian tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Efikasi diri sebagai suatu gambaran subjektif terhadap kemampuan diri yang bersifat fragmental yaitu setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda pula. Maksudnya adalah, individu menilai kemampuan, potensi dan kecenderungan yang ada padanya lalu dipadukan dengan tuntutan lingkungan, karena efikasi diri tidak mencerminkan secara nyata kemampuan individu yang bersangkutan.

Dalam teori sosial kognitif, rendahnya efikasi diri akan menyebabkan meningkatnya dan perliaku menghindar. Individu akan menghindar dari aktivitas-aktivitas yang dapat memperburuk keadaan. Hal ini disebabkan bukan oleh ancaman, tapi karena merasa tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola aspek-aspek yang beresiko. Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi, tingkat stressnya rendah. Pendapat ini didukung oleh McDougall dan Kang (2003) yaitu korelasi negatif antara efikasi diri dan kecemasan.

Bandura (1997) mengemukakan bahwa perbedaan efikasi diri setiap individu terletak pada 3 dimensi yaitu: (1) Magnitude atau tingkat kesulitan: berhubungan dengan kesulitan tugas dimana individu akan memilih tugas berdasarkan pada tingkat kesulitannya. (2) Generality atau generalisasi: berkaitan erat dengan luas bidang tingkah laku, dimana individu merasa yakin akan kemampuannya berdasarkan pengalaman sebelumnya. (3) Strength atau kekuatan: berhubungan dengan keyakinan seseorang tentang sejauh mana ia yakin akan dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Lalu bagaimana menumbuhkan efikasi diri kita ketika sadar memiliki efikasi diri yang rendah? Terdapat empat sumber infomasi utama yang dapat kita pakai sebagai alat untuk menumbuhkan dan mengembangkan efikasi diri, yaitu: (1) Pengalaman keberhasilan atau mastery experience. Merupakan sumber informasi efektif dalam mempengaruhi efikasi diri pada diri individu, karena didasarkan pada pengalaman-pengalaman baik berupa keberhasilan dan kegagalan pribadi individu tersebut secara nyata. Efikasi diri individu dapat ditingkatkan melalui pengalaman keberhasilan, teta pi bisa menurun jika individu mempunyai pengalaman akan kegagalan. Dengan terjadinya serangkaian keberhasilan nyata, maka efikasi diri akan kuat dan berkembang karena pada umumnya pengaruh negatif dari berbagai kegagalan akan berkurang. Bahkan, kegagalan dapat diatasi dengan usaha-usaha tertentu untuk memperkuat motivasi diri, (2) Pengalaman orang lain atau vicarious experience. Keberhasilan orang lain dengan kemampuan yang setara atau sebanding dalam mengerjakan suatu tugas, dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan efikasi diri guna melaksanakan tugas yang sama. Begitu pula sebaliknya, kegagalan yang terjadi pada orang lain akan dapat menurunkan penilaian individu terhadap kemampuannya, dan individu akan mengurangi usahanya, (3) persuasi verbal atau verbal persuasion. Individu diarahkan dengan saran, nasihat, dan bimbingan agar ia dapat meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai suatu tujuan. Bandura (1997) berpendapat, persuasi verbal tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap efikasi diri karena kurang memberikan pengalaman langsung yang dapat dirasakan atau dialami oleh individu. Pengaruh sugesti berupa nasihat akan cepat lenyap apabila seseorang dalam kondisi tertekan, mengalami kegagalan terus-menerus, dan adanya pengalaman yang tidak menyenangkan, (4) Kondisi fisiologis atau physiological state. Individu akan menjadikan informasi sebagai dasar atas kondisi fisiologis untuk menilai kemampuannya. Ketegangan fisik dalam situasi yang menekan akan dipandang individu sebagai suatu tanda ketidak mampuan karena hal itu dapat melemahkan prestasi kerja individu. Efikasi diri individu bukan sekedar prediksi tentang tindakan yang akan dilakukan oleh individu di masa yang akan datang. Keyakinan individu akan kemampuannya merupakan determinan tentang bagaimana individu bertindak, pola pemikiran, dan reaksi emosional yang dialami dalam situasi tertentu.

Efikasi diri berdampak pada produktivitas, tingkatan stres dan kesehatan mental karyawan karena ada tuntutan pekerjaan yang harus mereka penuhi (McAtter-Early, 1992). Semakin rendah efikasi diri seseorang, berarti semakin tinggi tekanan yang dia rasakan. Hal inilah yang mempengaruhi produktivitas seorang pekerja, karena dapat menyebabkan pekerja menjadi mudah sakit, mengalami gangguan tidur dan lain-lain. Efikasi diri dalam sebuah kelompok akan mempengaruhi misi dan tujuan kelompok karena kekuatan komitmen dari anggota sangat mempengaruhi kinerja organisasi.

Berikut adalah beberapa manfaat bagi karyawan yang memiliki efikasi diri yang tinggi, diantaranya adalah:

  1. Memiliki kecenderungan memilih tugas yang lebih sukar dan mengandung tantangan (Pervin & John, 1997).
  2. Memiliki suasana hati lebih baik yang ditunjukkan dengan rendahnya tingkat kecemasan atau depresi ketika mengerjakan tugas (Pervin & John 1997).
  3. Dapat menentukan usaha dan ketekunan, terutama dalam menghadapi hambatan dan pengalaman yang kurang menyenangkan (Compeau & Higgins, 1995)
  4. Tidak merasa ragu dan takut bila dihadapkan pada tantangan baru yang sulit dalam pekerjaannya
  5. Lebih berkomitmen pada pekerjaan
  6. Lebih cepat pulih (bangkit) dari kegagalan dan kekecewaan
  7. Tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi suatu masalah

--

--

Business Process Optimization Partner. Contact us to help you optimize your business using technology.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store