Javan Cipta Solusi
Published in

Javan Cipta Solusi

Perilaku Organisasi

Perilaku organisasi merupakan studi ilmu yang mengkaji berbagai macam pengaruh perilaku para pelaku organisasi terhadap suatu organisasi .

Apakah seorang karyawan merupakan salah satu bagian dari pelaku organisasi ?

Menurut Sthepen P. Robbins, Perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perseorangan, kelompok, dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi. Sehingga dalam hal ini, apabila kita berada dalam suatu perusahaan yang terdiri dari beberapa individu. Maka secara otomatis kita merupakan pelaku organisasi yang disetiap perilakunya dapat dipelajari.

Perilaku Organisasi merupakan salah satu pendekatan multisiplin guna mempelajari prinsip, perilaku, persepsi, kemampuan, perasaan mereka penting bagi organisasi dari berbagai ilmu. Perilaku organisasi juga mengkaji bagaimana meningkatkan etos kerja, faktor yang mempengaruhi aspek-aspek proses kerja, termasuk permasalahan dalam lingkungan kerja.

Variabel-variabel yang terdapat pada perilaku organisasi diantaranya ada tentang produktivitas, absensi kerja, Turnover, Kepuasan kerja, dan perilaku kewarganeraan organisasional. produktivitas sendiri dipengaruhi dari berbagai sumber, baik itu dari perorangan ataupun suatu kelompok. Dalam hal ini memang tidak bisa dipungkiri persepsi ataupun pemikiran yang bersifat individual dapat mempengaruhi proses kerja seseorang (karakteristik biografi, kepribadian dan emosi, nilai-nilai dan sikap, persepsi, motivasi, pembelajaran individual, dan kemampuan). Selain itu kelompok, ketika kita ada dalam suatu organisasi maka sudah pasti ada orang lain yang berperan mempengaruhi proses kerja kita baik ataupun buruk (Bentuknya : komunikasi, konflik, kekuatan dan politik, tim kerja, struktur kelompok, kepemimpinan dan kepercayaan, dan pembuatan keputusan kelompok).

Absensi. Tingginya angka ketidakhadiran merugikan organisasi karena organisasi (perusahaan) tetap mengeluarkan uang untuk membayar gaji pegawai, tetapi di sisi lain pegawai tidak memberikan kontribusi apapun pada saat absen. Dalam hal ini ditunjukan oleh beberapa perusahaan dimana beberapa kontrak tahun pertama belum diberikan hak cuti. Hal tersebut digunakan untuk menunjang produktivitas suatu perusahaan tersebut. Namun, dalam hal ini beberapa karyawan melakukan perijinan tidak selalu karena berpergian. Beberapa karyawan ingin “mangkir” dari pekerjaannya karena Situasi kerja seperti wilayah pekerjaan, level pekerjaan, penekanan terhadap kelompok, norma kelompok kerja, gaya pemimpin, hubungan antar karyawan, dan kesempatan untuk maju. Ketidaknyamanan pada lingkungan ataupun kondisi tempat ia bekerja menjadi salah satu faktor untuk melakukan absen pada saat jam kerja.

Turnover. Perputaran karyawan adalah pengunduran diri secara permanen secara sukarela maupun tidak sukarela dari suatu organisasi. Dikarenakan adanya kecenderungan karyawan untuk meninggalkan organisasi di saat mereka memiliki tempat yang menjadi tujuan, maka literatur lebih menekankan pada persepsi mengenai alternatif eksternal sebagai prediktor dari turnover organisasional. Karyawan tidak akan melakukan turnover dari organisasi jika ia merasa bahwa ia bisa atau mempunyai kesempatan untuk pindah (internal transfer) ke pekerjaan lain, di organisasi yang sama yang dianggapnya lebih baik.

Kepuasan kerja. Kepuasan kerja menjadi salah satu bagian yang ikut andil dalam ketahanan suatu individu untuk tetap berada pada suatu organisasi tersebut. Keyakinan bahwa karyawan yang merasa puas lebih produktif bila dibandingkan dengan karyawan yang tidak puas telah menjadi prinsip dasar di antara para manager selama bertahun-tahun. Beberapa karyawan di zaman milenial ini justru senang menjadikan pengalaman kerja sebagai kutu loncat. Tidak perlu bertahan dalam kurun waktu yang lama pada perusahaan yang sama. Tapi, Pelajari pengalaman dari berbagai perusahaan untuk dijadikan pedoman di kehidupan mendatang. Hal ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Apabila individu mampu menekuni 1 bidang di waktu yang cukup lama, maka bidang tersebut akan mudah dikuasai. Dengan proses pindah -pindah tempat kerja, sebenarnya beberapa individu justru hanya jalan ditempat. Karena proses pembelajaran sebagai “anggota/karyawan baru” dari tahun ke tahun. Individu akan mendapatkan upgrade knowledge apabila dia mampu dari langkah 1 ke langkah lainnya. Proses tersebut tentunya juga akan membutuhkan waktu yang tidak cepat.

Perilaku Kewargaan Organisasi (Organizational Citizenship Behavior)
Pelaku organisasi yang memiliki OCB tinggi tidak hanya mendapatkan upah kerja saja, namun pelaku OCB dia juga akan mendapatkan dorongan sosial dari lingkungannya. OCB lebih kepada perilaku sosial dari masing-masing individu untuk bekerja melebihi apa yang diharapkan. Pelaku OCB biasanya lebih dikenal dengan individu yang ramah, supel dan mudah bergaul. Sehingga, ia akan senang apabila ia mampu berperan dalam proses kinerja orang lain. Individu yang memiliki OCB lebih sering tidak segan untuk membantu rekan kerjanya pada saat istirahat ataupun diluar jam kerja. Menurutnya, keberhasilan suatu organisasi itu amatlah penting. Terlebih dia memiliki peran didalamnya.

Dengan begitu, kita mampu mempelajari dan memahami letak kedudukan kita sebagai pelaku organisasi yang disetiap perilakunya memberikan dampak positif dan negatif terhadap organisasi tersebut. Sehingga, akan kemana arah pembentukan suatu organisasi itu dikendalikan oleh perilaku para pelakunya.

Selamat menyayangi organsasi anda.

--

--

Business Process Optimization Partner. Contact us to help you optimize your business using technology.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store