Sekadar Cerita Pengantar Tidur di Masa Depan


“Begitu alasanmu meninggalkan aku & putriku Katherine waktu masih dalam kandungan?!” Nenek Rina menatap tajam seorang di depannya, mantannya sewaktu muda, Kakek Reza. Mereka berdua duduk berhadapan di atas sofa coklat dalam ruang tamu bernuansa antik.

“Tenang, Nek, tenang! Tentu Kakek Reza punya maksud baik,” Rina, cucu Nenek Rina, yang bernama sama dengannya, memijit kedua bahu Nenek Rina berusaha menenangkannya.

“Kamu pikir aku punya pilihan, Rina? Dengan ayah yang sudah meninggal tanpa jaminan asuransi, hanya ada ibu & adik-adikku yang masih sekolah, siapa yang mengurus mereka? Keluargamu yang kaya itu tak akan menerimaku, apalagi kita kawin lari. Makanya, aku harus berpisah denganmu. Kita tak mungkin berkeluarga di rumahku yang sempit,” balas Kakek Reza pada Nenek Rina tegas.

“Jika kamu mengira aku tak bisa hidup sengsara, kamu salah besar. Jika kamu mengira aku, yang rela melepas warisan tujuh turunan tak kuat mengarungi hidup bersama pemuda biasa, kamu benar-benar tak mengenalku Reza,” Nenek Rina bersikap yakin dengan mengepal tangan di dadanya.

“Rina, kamu mungkin kuat, tapi Katherine tidak.”

Nenek Rina terdiam. Tangannya masih tetap di dada.

“Setelah aku pergi, kamu pun tak berlama-lama di rumah kontrakan kita tapi langsung balik ke rumah orang tuamu yang seukuran vila kan?” Kakek Reza menatap tajam Nenek Rina. Nenek Rina menurunkan tangannya.

“Kita berbeda, Rina. Kamu… masih bisa bergantung pada keluargamu. Aku… keluargaku yang bergantung padaku.”

Nenek Risa terisak-isak.Dia berbicara dengan terputus-putus, “Begitukah jawabanmu? Begitukah jawabanmu setelah bertahun-tahun aku terus memimpikanmu, menyebut namamu dalam tidur?! Sampai cucuku Rina harus bersusah payah mencarimu hanya karena igauan ‘Reza, Reza’ setiap malam? Kenapa juga kamu tak pernah coba menghubungiku dan menjelaskan semuanya?” Rina memijat bahu Neneknya, berusaha menenangkannya.

“Maafkan aku, Rina. Aku hanya ingin yang berlalu tetap berlalu,” Kakek Reza menunduk, tak berani melihat ke depan. Nenek Rina terus menangis. Cucunya mendekapnya di samping.

Nenek Rina mengelap air matanya dengan sapu tangan. Dia lalu berbicara seperti biasa, “Vilamu ini bagus. Pasti kau hidup bahagia dengan keluargamu. Istri yang baik, anak-anak yang sukses, cucu yang lucu.”

“Vila ini hadiah dari adikku. Aku tak pernah menikah lagi semenjak kita berpisah,” balas Kakek Reza.

“Ha? Bodoh sekali. Kenapa Reza?”

“Menurutmu karena siapa?”

Kakek Reza menatap hangat Nenek Rina. Nenek Rina terperangah, mukanya memerah, tangannya menutup mulut.

“Mari kita pergi dari ruang tamu ini, Rina. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu. Tentang aku. Tentang kamu. Tentang kita,” Kakek Reza beranjak dari sofa, mengulurkan tangan ke arah Nenek Rina. Nenek Rina tersipu meraih tangan Kakek Reza, beranjak dari sofa. Nenek Rina berdiri sembari bergetar. Rina ingin membantu neneknya, tapi Kakek Reza menahannya. “Tak apa-apa, Nak Rina. Kakek bisa. Kamu tutup saja gorden jendela ruang tamu; pemandangannya tak baik.”

Rina melihat ke jendela. Balon biru besar melayang-layang di jendela; tercetak tulisan “HealingStories.com”. Rina bergegas menutup gorden, rapat-rapat, sampai cahaya biru dari tembusan sinar matahari tak terlihat.

Kakek Reza memapah Nenek Rina ke kamar tidur. Dia melihat cincin kecil di jari telunjuk Nenek Rina. Dia kenal cincin itu, cincin perak berbentuk huruf “RiRe”, cincin yang mereka pilih bersama untuk janji pernikahan dulu.

“Kau masih menyimpannya, Rina?” Kakek Reza memandang hangat Nenek Rina. “Selalu,” Nenek Rina mengulurkan jari telunjuknya ke wajah Kakek Reza. Kakek Reza memegangnya, lalu dia menurunkan jari Nenek Reza. Katanya pelan, “Mari kita istirahat. Besok kita akan bercerita lebih banyak.”

Nenek Rina dan Kakek Reza berjalan di lorong rumah krem cerah. Jendela-jendela meneruskan cahaya matahari yang menyegarkan mata, sampai tiba-tiba segala sesuatu menjadi biru. Balon-balon biru membanjiri luar jendela, terus melayang cepat tanpa henti. Tak ada benda lain terlihat, segalanya tenggelam dalam warna biru. Muncul tulisan “Sesi Terapi Healing Stories 1233 ‘Pertemuan Nenek Rina dengan Kakek Reza’ telah selesai.”

***

Terlihat ruangan serba putih dengan dinding melengkung, terpasang tulisan biru bercahaya “Healing Stories”. Terlihat seorang wanita berbaring, mengenakan jubah putih, dengan mesin seperti helm biru muda tersambung kabel-kabel menutupi kepalanya. Wanita itu melepas helm, rambut hitamnya yang terurai. Pandangannya masih bengong, seakan telah melalui mimpi panjang.

“Sudah bangun, Rina?” Seorang pria berambut perak, berjaket putih dengan turtle neck dan celana abu-abu memasuki ruangan itu. Wanita itu menoleh, dan berbicara dengan pelan, “Iya, Dokter. Tapi aku masih lumayan pusing.” Pria itu mendekati wanita berambut hitam, melakukan tes. Dia bertanya mengenai angka-angka apa yang ditunjukkan jarinya. Dia bertanya apa lima poin Pancasila, dan berbagai pertanyaan lainnya. Merasa cukup, pria itu bertanya, “Namaku siapa?” “Dokter Alfa”, jawab wanita itu. “Namamu?” “Rina”. “Baik, Rina. Selamat datang di dunia nyata tahun 2080.”

Rina dan Dokter Alfa berjalan-jalan dalam taman rumah kaca. Sekitarnya terdapat berbagai tanaman hijau, dari rerumputan sampai pepohonan. Binatang kecil seperti capung, kupu-kupu, belalang, mengelilingi taman. Tanamannya asli, binatangnya semua hologram yang seperti asli, tapi tak bisa tersentuh .

“Maafkan aku Rina, tadi lupa memasang software pemblokir iklan untuk sesi terapimu. Semestinya balon biru itu tak perlu muncul,” Dokter Alfa mengelus daun di sampingnya. “Tak apa-apa, Dok. Namanya juga asuransi gratis pemerintah. Hanya layanan premium berbayar yang bebas iklan,” Rina mengeluarkan telunjuknya, dan seekor burung mendarat di atasnya. “Namun aku terkejut, Nenek Rina menyebut soal anaknya dengan Kakek Reza. Ini belum pernah terjadi di sesi sebelumnya,” Dokter Alfa menoleh ke Rina. “Ya, mungkin ingatannya mulai membaik walau tetap masih kabur,” Rina mengibaskan jari ke burung itu; jarinya menembus badan burung, bentuk burung menjadi kabur seperti tayangan TV rusak. “Bisa jadi itu ibumu kan, Rina? Namanya juga sama-sama Katherine?” Dokter Alfa menatap Rina. Rina terdiam, burung virtual itu terbang dari jari Rina. “Aku tak terlalu peduli, Dok. Mungkin itu satu dari cerita Nenek, yang kebetulan nyambung dengan skenario ‘Healing Stories’. Nenek Rina tak akan bercerita mengenai asal-usul keluarga,” balas Rina. Dokter Alfa menatap Rina, tak membalas ucapannya. Mereka berjalan-jalan di taman.

“Tak terasa sudah 10 tahun Nenek Rina menjalani terapi ‘Healing Stories’. Apa Nenek Rina masih sering uring-uringan dan lupa namamu?” Dokter Alfa memulai percakapan. “Syukurlah sudah jauh lebih baik, Dok. Dibanding waktu pertama kali sebelum berobat, Nenek sudah bisa mengingat keluarganya. Dulu Nenek bahkan mengira dirinya masih muda, dan keluar rumah mencari Kakek Reza. Hasil kerja para penulis, ahli teknologi, dan tenaga medis di ‘Healing Stories’ benar-benar membantu saya. Terima kasih juga atas bimbingan dokter. Kupikir tak ada dokter sebaik dokter Alfa yang tahan menangani pikun Nenek selama itu. Biasanya konseling ‘Healing Stories’ cukup setahun untuk menyembuhkan trauma,” balas Rina.

“Setiap orang berbeda-beda, termasuk Nenek Rina. Kita tak tahu trauma macam apa yang terjadi dengan masa lalunya. Seiring usia, ingatan seseorang cenderung semakin hari semakin lemah. Sesi konseling ‘Healing Stories’ juga hanya cerita karangan buatan manusia yang dihidupkan dengan virtual reality. Itu tak sebanding dengan kebenaran.”

“Aku tak peduli dengan kebenaran, Dok. Mau Kakek Reza itu botak, berjenggot, berambut klimis, kalem, playboy, aku tak peduli. Mau Kakek Reza nangis-nangis, memadu kasih, atau meninggal, yang penting urusannya selesai. Yang penting Nenek sembuh dari pikunnya. Menurutku, kebenaran malah bisa merusak jiwanya. Itu kan yang terjadi pada semua pasien stres pasca-trauma macam veteran perang, penyintas bencana alam, korban pemerkosaan, dan korban-korban sejenisnya? Penderitaan hidup membuat mereka gila, dan mereka sembuh oleh cerita-cerita penghiburan ‘Healing Stories’.”

Dokter Alfa diam. Dia bernapas pelan. Dia berbicara, “Kamu tak salah, Rina. ‘Healing Stories’ menjadi solusi bagi yang ingin melepas kenangan buruknya. Banyak yang terbantu, tapi terus kembali untuk terapi. Menurutku, hanya kebenaran yang bisa menyembuhkan mereka sepenuhnya.”

“Tergantung apa kebenaran menurut mereka,” tutup Rina.

***

“Rina… Rina… Aku, Reza. Akhirnya aku menemukanmu.”

Mata Nenek Rina terbuka. Dia terbangun dari tidur, bertanya-tanya suara pria yang berada dalam mimpinya, mengaku dirinya Reza. Barusan bukannya dia bertemu Kakek Reza? Tak bisa tidur lagi, dia beranjak dari ranjang. Dia ingin makan sesuatu di dapur.

Nenek Rina keluar dari kamar menuju dapur. Dia melihat laci dapur terselip sebuah brosur biru. Dia menariknya dan melihat tulisan “Healing Stories”. Dia bertanya-tanya, sampai dia membaca isinya. Dia ingin membuka laci itu tapi terkunci. Terperangah, dia balik ke kamar dan mengambil kunci universal di kamarnya. Dia melihat juga sebotol obat bertuliskan “Healing Stories”. Jantungnya berdegup, sangat ingin membuka laci yang terkunci itu. Laci itu terbuka, Nenek Rina melihat bermacam-macam kertas berserakan. Dia mengambil satu, dan syok membaca isinya.

***

Esok pagi, Rina keluar dari kamar. Dia menguap dengan rambut masih berantakan. Dia melihat sepucuk kertas di atas meja dapur. Dia membacanya, setengah sadar, terperangah, matanya membelalak. Dia bergegas menuju kamar Nenek Rina, kosong tak ada siapa-siapa di sana. Rina syok, dia kalut tak tahu harus bagaimana. Dia melihat surat di tangannya, dan tahu satu-satunya petunjuk. Dia duduk di ranjang nenek dan mulai membaca surat itu.

“Cucuku Rina, terima kasih telah merawat Nenek selama ini. Nenek sudah tahu tentang ‘Healing Stories’. Kemarin malam, ketika Nenek tidak bisa tidur, Nenek menemukan tumpukan barang ini di dapur: kumpulan skenario, foto-foto pemandangan serta figur kakek tua. Nenek mengerti siapa ‘Kakek Reza’ yang kemarin kita bertemu, mungkin termasuk yang Nenek lupa. Itu semua cuma rekaan. Namun, Nenek tak akan marah padamu. Penyakit Nenek-lah yang membuatmu melakukan seperti ini.”

Rina memegang surat dengan kedua tangannya. Dia membaca lebih seksama lagi.

“Namun, usia Nenek tak lama lagi.”

Mata Rina berkaca-kaca.

“Nenek tak ingin terus hidup dalam kebohongan. Nenek tak ingin mati tanpa mengetahui jawaban sesungguhnya dari masa lalu Nenek. Karenanya, Nenek akan mengadakan perjalanan untuk mencari Kakek Reza, dengan segala sumber daya dan memori Nenek. Tak usah kau takut, Nak. Nenekmu itu berandalan sewaktu muda, dia tahu bagaimana harus menjaga dirinya.”

Rina tertawa.

“Nak Rina mungkin heran, kok Nenek bisa tiba-tiba sadar begini? Nenek memang lupa minum obat kemarin, tapi itu bukan yang pertama kali. Hanya saja, ada suara seorang dalam mimpi, entah siapa, membangunkan Nenek dalam tidur. Dia mengaku sebagai Kakek Reza. Nenek tak peduli suara apa itu: halusinasi, telepati, bisikan ilahi… yang pasti suara itu memberi Nenek keyakinan bahwa masih ada Kakek Reza. Kalau pun dia telah meninggal, Nenek harus tahu di mana makamnya.

Izinkanlah Nenekmu ini keluar, Nak Rina. Nenek akan menghubungimu, tapi jangan cari aku, biar dengan HP, internet, atau teknologi secanggih apapun. Hiduplah dengan dirimu. Jika memang takdir, Nenek pasti akan kembali. Oh ya, satu hal lagi, anak Nenek, Katherine, itulah ibumu.”

Burung pagi mencicit, Rina membisu dalam kamar. Kertas surat terus dia pegang.

***

Seorang nenek berdiri di trotoar menatap layar HP-nya. Sebuah mobil terbang tak beroda melaju, sampai berhenti di depan nenek itu. Nenek itu menunjukkan HP-nya, memastikan identitasnya.

“Nenek Rina, yang memesan JetCar?” tanya kakek pengemudi mobil. “Iya benar, saya Nenek Rina. Bolehkah saya masuk?” balas nenek itu. “Oh, silakan-silakan.” Nenek Rina membawa koper biru kecilnya dan masuk ke dalam mobil.

“Tujuan ke vila ya, Nyonya?” Si kakek mengemudi sangat cepat sampai pemandangan luar jendela hanya terlihat seperti pendaran garis biru. “Iya, Pak. Saya ingin bertemu orang penting di masa lalu saya, ya jika itu memang benar-benar orangnya,” jawab Nenek Rina.

“Ho. Siapa orang yang beruntung itu?”

“Mantan saya.”

“Ho. Menarik sekali. Jarang sekali ada yang sengaja menemui mantannya.”

“Iya. Ada urusan yang belum selesai bersamanya.”

“Ho. Saya juga sebenarnya punya mantan, tapi sudah lama banget sewaktu muda. Saya tinggalkan dia karena tak sanggup mengurus dia dan orang tua saya yang miskin sekaligus. Karena keluarga mantan saya kaya, saya pikir lebih baik dia kembali. Entah sekarang dia di mana.”

“Wah. Semoga Bapak juga bisa bertemu dengannya ya.”

“Sama-sama, Nyonya.”

Nenek Rina dan kakek pengemudi diam. Tatapan mata mereka penuh harap akan kenangan yang belum terselesaikan. Kakek itu mengemudi cepat, menatap pemandangan yang berlalu dalam pendaran garis biru. Nenek Rina menatap cincin “RiRe” di jari telunjuknya, berharap seseorang itu akan mengenal cincin ini.