(c) Rizky Syaiful 2014, “Kemarau 11 September Bandung-Jakarta” — kering, seperti diri saya saat ini ☹!

Saya Sehat?


“Argh, kesal! Kenapa saya tadi tidak berani bicara dengan wanita itu? Betul sih, cuma mirip doang. Lihatpun hanya sepintas. Tapi apa ruginya kalau ternyata wanita itu bukan dia? Apa yang saya takutkan? Saya biasanya berani memulai pembicaraan. Apa saya takut kalau nanti tidak dia pedulikan? Kenapa sekarang saya takut? Biasanya dulu-dulu saya tinggal tidak mempedulikan mereka yang tidak mempedulikan saya. Kenapa sekarang saya ingin sekali ‘dipilih dia’? Saya ingat dulu punya gaya hidup ‘memilih diri sendiri’.”

Kira-kira begitu renungan saya sore ini.

Kesimpulan: saya sakit.

Beberapa bulan ke belakang gaya hidup saya memburuk. Alhasil, perasaan saya juga kadang jadi aneh. Jadi sering garuk-garuk kepala, merasa diri ini barusan menyebalkan. Pilihan-pilihan tindakan memburuk.

Untungnya bukan di bidang karir saya. Mungkin karena karir-lah kambing hitam saya dalam mengubah gaya hidup.

Tapi tentu. Kalau secara pribadi saya sudah tidak sehat, cepat atau lambat, karir saya akan ikut mengalami keanehan juga.

Empat Keanehan


Berikut 4 keanehan yang paling terasa belakangan ini.

Badan Melemah


Dulu saya bisa lari non-stop satu lingkar luar UI, kira-kira 7 km.

Sekarang 2 km-pun tidak sanggup.

Terkait berhenti lari, sebenarnya itu sudah cukup lama terjadi. Namun waktu itu, saya langsung pindah ke gym. Di 3–4 bulan, rutin ke gym minimal 2 kali seminggu. Seringnya bahkan 3 kali. Otot saya sedikit berbentuk karenanya.

Tidak puas dengan lemak perut yang tak kunjung turun, saya berhenti Gym dan fokus di diet. Bulan Ramadhan saya jadikan kesempatan untuk mencoba diet rendah karbo alias keto. 1 hari saya cuma makan maksimum 1/2 piring nasi. Lumayan manjur, padahal tidak ditemani olah raga. Lingkar pinggang menurun, meski harus dibayar dengan lemas berlebihan di minggu pertama.

Diet berhenti di lebaran. Saya kalap makan sajian lebaran, dan sajian rumah selama libur pasca-lebaran. Di periode itu saya memang juga kalap kerja—kebut menulis buku pertama sembari mengembangkan ulang Testimoo.com. mayoritas 24 jam saya diisi dengan duduk.

Ini yang buruk: pasca libur lebaran sampai sekarang, saya tetap tidak rutin berolah raga lagi. Bahkan porsi makan bahkan kembali ke zaman sebelum rutin lari. Perut saya sekarang malah lebih buncit dari sebelum mulai diet keto. Jam tidur saya berubah-ubah. Badan sering terasa melayang.

Kenapa sekarang tidak rutin berolah raga? Bahkan selepas buku pertama saya rampung—tidak lama pasca libur lebaran?

Sibuk.

Kabur dari Grup WA


Di awal-awal kesibukan saya mulai menulis buku, saya undur diri dari tiga grup WA:

  • Alumni OSIS SMP,
  • grup yang berisi sejumlah banyak lelaki ‘biasa-biasa-saja’ di kampus dulu,
  • & grup mantan penghuni kosan di kampus dulu.

Tiga grup WA ini masuk ke golongan grup yang aktif. Ada saja yang diobrolkan. Jarang ada hari yang tanpa chat. Tiga grup WA ini selama ini bertanggung jawab ke puluhan tawa dan senyum acak di keseharian saya. Selain pembaca, saya juga termasuk peramai suasana.

Saya keluar tanpa alasan. Hanya bilang pamit sebentar, lalu tekan menu ‘Delete and Exit Group’.

Harus diakui, pikiran saya jadi lebih bersih dari distraksi. Meski bayarannya adalah hubungan sosial saya berkurang. Hilang kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang acak & spontan.

Memaksa Sekitar Ikut Produktif


Dari dulu memang saya punya kecenderungan seperti ini. Tapi belakangan makin menjadi-jadi.

Beberapa minggu yang lalu sempat numpang kerja sampai malam di kampus. Ternyata, di malam hari, tempat saya numpang kerja itu disulap jadi game center. Ada 20-an mahasiswa yang tiba-tiba bergerombol datang membawa kabel TCP/IP.

Melihat kegiatan mereka, saya jadi kesal sendiri. Sayang tidak bisa diungkapkan, karena apa yang mereka lakukan tidak melanggar hukum. Saya kesal karena saya pribadi berpendapat itu kegiatan yang tidak produktif. Belum menghitung sia-sianya sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka yang keasyikan.

Di rumah, saya jadi kakak yang menyebalkan buat adik saya yang masih SMA. Bayangkan, saya mengomel hanya karena di minggu pagi, dia menonton acara Get Lost Ruben bersama teman bancinya, dan acara Game Show Aming dkk.

Isi omelan saya saya mungkin benar. Tapi keterlaluan sebenarnya kalau sampai mengomel bawel.

Saya juga lupa kalau hobi saya dari kecil sampai pertengahan SMA adalah tidur siang.

Akhir SMA-lah baru terpaksa produktif karena persiapan Ujian Masuk PTN. Masuk kuliah, saya otomatis produktif karena kepadatan kuliah. Selanjutnya karena keasyikan meniti karir. Mungkin tanpa hal-hal tersebut, saya masih jadi ‘kerbau’ seperti si adik bungsu ini.

Langsung Jatuh Cinta


Saya mudah jatuh hati lewat pandangan dan tujuan hidup orang.

Sebagai bukti, baru sekali bertemu, saya sudah merasa seperti sahabat karib dengan teman-teman di Indigo Incubators ini.

Mulai dari jam 9 malam. Sampai subuh.

Selepas training hari kedua saya, kami langsung mengobrol sampai subuh. Kami bicara banyak hal—mulai dari definisi realita, keimanan, sampai mekanisme penciptaan uang. Kami memiliki tujuan hidup yang kurang lebih sama, dan selera topik diskusi yang serupa.

Kalau jatuh hatinya dengan lawan jenis, dan sedang tidak punya kekasih, dan intens berinteraksi, biasanya jadi pintu pembuka untuk jatuh cinta.

Kebetulan beberapa waktu ke belakang tanpa sengaja membaca blog seorang wanita, yang tujuan hidupnya membuat saya jatuh hati. Kebetulan saya juga sedang tidak punya kekasih.

Dan argh! Baru itu saja sudah membuat saya jatuh cinta. Hampir macam remaja tanggung. Lebay.

Biasanya kalau tertarik setelah berinteraksi dengan lawan jenis, saya melakukan Uji Laboratium Cinta Platonik. Laboratoriumnya ada di pikiran. Pengujiannya sederhana. Cukup menjawab pertanyaan jujur: “kira-kira berkurang berapa persen ketarikan saya dengan wanita ini misal jenis kelaminnya laki-laki?”

Kalau cukup drastis, saya akan menganggap kadar cinta platonik saya ke wanita tersebut rendah. Kalau tidak turun drastis, berarti benar saya jatuh hati dengan wanita ini. Dengan kata lain, kadar cinta platoniknya cukup tinggi.

Jika merasa cinta platoniknya tinggi, baru saya akan menabung momen dua arah dengan yang bersangkutan, sembari makin mengenal yang bersangkutan. Momen inilah yang saya percaya adalah dasar dari cinta (dalam konteks ini lawan jenis) itu sendiri.

Yap. Saya memang tidak percaya dengan konsep ‘belahan jiwa yang sudah ditakdirkan’ macam di cerita-cerita. Bagi saya, cinta sama dengan persahabatan yang kita miliki dengan banyak orang, bermula—di cinta biasa disebut ‘jatuh cinta’—dan dirawat dengan mengumpulkan momen-momen. Cinta & persahabatan tidak abadi. Cinta & persahabatan bisa mati jika tidak dirawat.

Bedanya, cinta itu jauh lebih spesial dan berkomitmen karena umumnya terkait dengan ‘membangun keluarga baru’ & ‘seks’. Tentu tinggi sekali kuantitas dan kualitas momen yang bisa didapat saat tinggal bersama, membesarkan anak bersama, dan orgasme bersama. Sesuatu yang tidak dimiliki persahabatan-persahabatan biasa.

Nah ini. Belum melakukan Uji Laboratorium Cinta Platonik, belum menabung momen, kali ini rasanya sudah seperti jatuh cinta. Asik sih sebenarnya. Tapi sumber stres lho. Jelas tidak sehat. Ketika alam bawah sadar kita dengan bawelnya bilang: “pilih aku!” “pilih aku!” “pilih aku!”

“Hm… Tumben.” Ucap saya kepada diri saya sendiri.

Berani bilang seperti itu karena sebelumnya sudah pernah jatuh cinta.

Aksi ke Depannya


Saya tidak akan tinggal diam.

Sumber daya yang saya—dan semua orang—punya sebenarnya hanya waktu dan tenaga.

Kebetulan, kambing hitam saya selama ini juga kurangnya waktu & tenaga. Saya menyalahkan, tanpa bijak menyadari kalau sebagaimana impian, daftar antrian pekerjaan sebenarnya tidak akan pernah habis. Itulah resep untuk terjebak di lingkaran setan ini.

Jadi, pertama, saya harus memberikan slot waktu dan tenaga baru, tanpa mengganggu eksekusi antrian pekerjaan.

Kedua, di slot baru tersebut, saya akan melakukan aksi-aksi baru untuk menanggulangi keanehan-keanehan ini.

1) Mengelola Waktu Lebih Baik


Ketegangan kerja selama ini sebenarnya bisa dikurangi kalau lebih tertata.

Bekerja ala koboy memang seru. Tapi untuk yang jangka panjang macam maraton, semua yang seru akan kontra-produktif.

Tepat kemarin, selama 12 jam lebih, saya mengembangkan Personal Kanban yang bisa diakses di website pribadi saya.

Sampai tidak solat Idul Adha karena bergadang mengerjakan http://rizkysyaiful.com/tools/kanban.php.


Personal Kanban ini sudah saya buktikan sendiri manfaatnya beberapa waktu lalu. Sayang, karena menggunakan post-it yang ditempel di meja dan saya yang kerjanya pindah-pindah, jadi sulit berlanjut penggunaannya.

Dengan antrian pekerjaan yang tertata, transparan, namun tetap fleksibel, saya jadi bisa lebih mudah untuk menjadwal waktu kerja, non-kerja, dan tidur.

Saya juga akan tambah jadwal khusus tiap hari, di mana fokus adalah untuk kesehatan diri saya. Mungkin beberapa saat sesudah bangun dan sebelum tidur.

2) Aksi-Aksi Sayang Diri


“Sayang Anak! Sayang Anak!” Ujar penjual mainan pinggir jalan.

Saya sempat bertanya, kenapa ya tidak ada penjual yang bilang “Sayang Diri! Sayang Diri!” Padahal, dibandingkan anak sendiri, diri sendiri tidak kalah penting untuk disayang.

Mungkin kalau saya lebih sayang diri saya, keanehan-keanehan tersebut akan berkurang. Harusnya sih iya. Karena dugaan kuat saya, keanehan-keanehan itu bermula karena saya mulai tidak menyayangi diri saya.

Terkait dengan memilih aksi-aksi sayang diri. Saya jadi ingat dengan tulisan legendaris James Altucher: “How to be the luckiest guy on the planet.

Di sana dia bilang kuncinya sederhana. Lakukan kegiatan yang menyayangi sisi fisik, sosial, mental, dan spiritual kita. Setiap hari.

Karena ibu saya berbahasa Indonesia, saya jadi lebih senang mengingatnya dengan jiwa & raga.

Jiwa adalah hubungan dengan orang-orang sekitar (sosial) & kerendah-hatian terhadap Tuhan Yang Maha Esa (spiritual).

Raga berkaitan dengan tubuh (fisik) & wawasan/pikiran (mental).

Berikut hal-hal yang akan saya lakukan dalam waktu dekat. Semuanya pernah saya lakukan dan terbukti manjur:

  • Memulai bangun pagi dengan perenggangan. (fisik)
  • Solat subuh lebih khusyuk & berdoa untuk rencana sepanjang hari. (spiritual)
  • Olah raga rutin. (fisik)
  • Gabung lagi dengan grup WA, tapi jadi berani bilang ketika terganggu dengan diskusi OOT. (sosial)
  • Menulis jurnal harian & @rizk_tlog. (mental, sosial, & spiritual)
  • Menyediakan sedikit waktu khusus untuk baca buku pinjaman bos, atau baca Quora, atau nonton TED. (mental)

Itu dulu. Nanti kalau sudah rutin dilakukan, baru saya ekspansi dengan hal-hal baru.

Sehat bukanlah tentang kewarasan, suhu tubuh, nilai IQ, tekanan darah, dsb. Bukan kondisi tertentu yang pasti dan tetap. Sehat adalah perubahan yang terus menerus.

Menjadi sehat adalah menyayangi raga dan jiwa sendiri.

Semua orang—ya, kamu termasuk—bisa melakukannya tanpa menunggu dipilih atau diperintah pihak lain.

Semua orang—kalau mau—bisa bilang:

“Saya sehat.”

Nomor 1: Jadi sehat!


~ Depok, 6 Oktober 2014