Photo by Kace Rodriguez on Unsplash

Success Story Is Damn Boring

Hampir semua orang bangga menceritakan keberhasilan, tapi malu menceritakan kegagalan. But let me share mine.

Hari Jumat minggu lalu, saya dan salah satu pemegang saham resmi menandatangani akte pembubaran CV. Sebuah tindakan yang tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiran ketika mulai.

Perjalanan bisnis ini usai setelah satu tahun berjalan. Meninggalkan luka yang masih basah dan perih.

Beginilah wirausaha, terkadang keputusan yang dikira tepat ternyata salah besar. Analisa pasar yang dikira ladang subur, siap panen berbagai hasil tani. Ternyata hanyalah tanah lumpur, menghisap modal ke dalam Bumi.

Tidak hanya pasar yang berantakan, model bisnisnya pun sangat kompetitif. Licin macam belut, licik bagai ular, dan lihai bak kera, adalah suatu kebiasaan baru yang harus saya tekuni. Alhasil customer, supplier, dan distributor bisa saya kuasai.

Suatu tindakan yang melanggar kode etik dalam diri dan meningkatkan beban moril.

Maka itu keputusan saya dalam menutup usaha ini merupakan sebuah keputusan yang saya nilai tepat. Dan ini adalah beberapa pelajaran yang bisa saya bagikan ke kamu:

1. Perhatikan Rekan Bisnismu

Sebuah awal yang baik belum tentu membawa hasil yang baik, tapi sebuah awal yang buruk pasti memberi hasil yang buruk.

Jika dari awal rekanmu mulai menunjukkan kurangnya komitmen untuk berkontribusi, ini merupakan sebuah lampu kuning untuk diperhatikan.

Kesalahan terbesar saya adalah toleransi yang kebablasan. Saya ingin menjadi seorang pemimpin, bukan seorang boss. Saya ingin menginspirasi, menggerakkan melalui hati. Bukan menyuruh, dan menebarkan gertakan.

Tapi saya lupa kalau seorang pemimpin pun harus menindak tegas setiap pelanggaran yang terjadi.

Rekan saya sering lupa janji meeting. Bahkan sering kali dia tidak hadir pada hari dan jam yang sudah ditentukan. Padahal saya sudah mengkonfirmasi ulang dan sudah tiba di lokasi beberapa menit sebelumnya.

Teguran keras pernah saya sampaikan secara langsung kepada dia. Tetapi tamparan itu tidak dianggap serius olehnya. Saya sudah tidak sabar untuk membubarkan perusahaan di saat itu juga.

Janji-janji akan adanya peningkatan penjualan yang membuat saya menelan ludah dan bersabar. “Saya masih membutuhkan pengetahuan dan koneksi dia yang lebar di industri ini,” pikir saya.

Tapi ternyata semua janji manis itu hanyalah sebuah bualan seperti semua janji meeting yang dia batalkan.

2. Tinggalkan Usaha yang Tidak Membuat Dirimu Menjadi Orang Yang Lebih Baik

Seperti yang saya ceritakan di atas, setiap hari beban moril saya perlahan menumpuk.

Ketika saya harus pintar membawa diri, mengorek info dari semua sisi. Bukan untuk mengenal pribadi lawan bicara, tapi untuk mengenal medan arena. Di sini lah tekanan batin terbesar saya.

Dalam dunia yang didominasi pemimpin hebat multi talenta, memperlihatkan kelemahan justru menjadi inspirasi di era modern ini.

Lihat saja Awkarin yang menjadi sensasi semalam, para politisi yang berlomba-lomba menjadi korban rezim yang dzalim, dan semua motivator yang menceritakan masa lalu kelam mereka. Hal ini turut mempengaruhi cara saya memandang sebuah masalah.

Sebagai seorang content creator, saya sudah terbiasa menceritakan sebuah situasi apa adanya. Walaupun ada rangkaian kata maupun intonasi yang didramatisasi, tapi itu hanya untuk hiburan semata.

Saya selalu membangun relasi dengan membuka diri dan menjadi pribadi yang genuine. Ini terbukti berhasil dan tentunya bisa kamu praktekkan untuk meningkatkan likeability di teman, keluarga, dan kolegamu.

Sayangnya teknik ini menjadi kesalahan terbesar dalam industri ini. “Rejeki masing-masing sudah ada yang atur” tidak dapat diaplikasikan karena memang target marketnya hanya orang-orang yang sama.

Saling sikut tidak bisa dihindari. Langganan bagus direbut sana sini. Begitu juga keadaan kita di supplier, saya menunggu distributor lain melakukan ‘kesalahan’ yang bisa diangkat untuk di-blow up agar supply chain bisa saya monopoli.

Awalnya saya tidak masalah karena setiap lini bisnis punya pelajaran dan pengalaman baru yang bisa dipelajari. Yah namanya keluar dari zona nyaman, pasti ada saja yang tidak menyenangkan.

Tapi kok secara finansial tidak bertambah kaya, secara mental makin memburuk, kesehatan badan juga terganggu (karena tekanan dan resiko bisnis yang terlampau tinggi). Alhasil usaha dijalani dengan hati yang galau, penuh kekhawatiran dan kegelisahan kalau saya tergelincir dalam jebakan lawan.

3. Dengarkan Kata Hati, Putuskan Dengan Otak

Sebelumnya saya sudah bercerita kalau bisnis ditutup dengan luka yang masih basah dan perih. Ini karena saya masih mempunyai piutang dengan nilai fantastis.

Bisa dibilang piutang ini penyebab utama bocornya tabungan saya dan keluarga, untuk menutupi segala kerugian.

Kejadian bermula di bulan Desember, ketika saya diberi tanda. Pada saat itu memang saya masih mempunyai semangat menggebu-gebu. Maklum, CV baru berjalan 4 bulan, kobaran api semangat masih membakar semua keraguan.

“Semangat, Bos!”
“Kejar omset, Bos!”
“Kita harus sebar nama kita di pasaran, Bos!”

Demikian kata-kata rekan saya untuk membesarkan api di dalam jiwa. Padahal hati sempat berkata, “Kenapa customer pabrik sepatu bisa ambil bahan otomotif? Lebih baik dihentikan dan diperiksa yang jelas.”

Namun tidak saya indahkan perasaan itu.

“Barang makin cepat keluar, makin bagus!”
“Yang penting kita sudah pegang giro, kita tenang.”

Beberapa kutipan dari mentor saya.

Tidak saya ingat, giro hanyalah secarik kertas yang tidak dapat diuangkan jika pemilik rekening tidak mempunyai dana.

Tidak saya ingat, betapa lemahnya hukum di Indonesia dalam menangani kasus-kasus penipuan dalam perdagangan sehingga para oknum bebas melenggang kangkung mencari korban-korban baru.

Sebagai anak baru gede di bidang ini, saya pun memilih untuk mendengarkan mereka. Traffic kencang, fulus lancar!

Hati pun lelah memberi firasat. Otak merasa menang tanpa syarat.

Lalu terjadilah kemacetan, total, karena tidak ada sedikit pun aliran uang yang masuk. Baru tersadar, diri ini terkena kasus penipuan. Jangankan mau dibayar, ditelpon saja sudah menghindar.

Sama seperti keadaan macet total, geger lah internal bisnis ini. Semua tidak mau mengalah, saling tuding pun terjadi. Untung belum sampai baku hantam. Padahal dibutuhkan kerja sama yang baik untuk menghadapi masalah ini.

Pada saat ini, otak sudah lelah. Hati pun berkesempatan untuk mengambil alih kendali.

Tetapi ini juga keputusan yang salah. Karena hati sulit untuk mengendalikan setiap emosi. Alhasil saya banyak membocorkan cerita internal ke banyak orang.

Bukan maksud menyalahkan hati, ini pilihan diri untuk percaya batin. Dari sini saya belajar untuk mendengarkan hati, dan mengambil keputusan dengan otak.

Menggabungkan intuisi yang tajam dan analisa yang tepat, alhasil saya berhasil mengendalikan diri dalam beberapa pertemuan krusial.

Akhir kata…

Ini adalah kegagalan terbesar sepanjang umur produktif saya. Semoga tidak ada lagi kejadian separah ini dalam bisnis maupun usaha saya nantinya.

Jika saya hanya berfokus pada kegagalan, maka dunia saya sudah berakhir dari entah kapan. Walaupun kegagalan yang terbesar, ini bukanlah yang pertama.

Sulit rasanya untuk mengajak kaki ini melangkah ke depan, karena hutang besar menjadi beban. Namun keluarga juga tetap harus dihidupi, apalagi anak yang tidak mengerti apa yang sedang saya hadapi.

Pelajaran yang berharga ini akan saya simpan seumur hidup, untuk mengingatkan diri jikalau ada kejadian lagi suatu hari nanti.

Semoga cerita pendek ini pun bisa mengajak kamu untuk selalu mawas diri, perhatikan seluk beluk perusahaan, dan ambilah keputusan sendiri. Karena jika pun salah, itu karena keputusanmu. Bukan karena rayuan pihak lain.


Thank you for reading! If you like what you read, show some love by giving me claps to support my writing.

You can find me on:
Twitter and Instagram or just e-mail me at stevenlee.a@gmail.com