Mendulang Uang dengan Kecerdasan Buatan

Arif Akbarul Huda
Aug 9, 2021 · 3 min read
Sumber Techrunch

Instagram meluncurkan fitur baru dengan nama Reels. Hadirnya fitur ini menambah seru perhelatan antar sosial media dalam memikat netizen. Pasalnya, Reels memiliki kemampuan yang mirip dengan Tiktok. Kita dapat membuat video durasi pendek dan berinteraksi denga aplikasi. Inovasi serupa juga dapat dijumpai pada Snapchat. Ketiganya memiliki fungsi yang menyenangkan yakni efek dan filter.

Berbagai pilihan efek dan filter tersaji gratis disana. Ada efek 3D Cartoon yang mempu merubah wajah kita menjadi tokoh kartun disney. Ada effect Donuts, yang mampu mengubah pipi kita menjadi gendut lantaran donut masuk bertubi-tubi saat mulut terbuka. Ada juga efek ujung jari mengeluarkan api atau kepala memiliki tanduk seperti setan. Ada juga filter yang merubah gradasi warna sehingga seolah-olah menjadi video lawas.

Dari balik layar interaksi yang menyenangkan ini, terdapat berbagai macam terapan disiplin ilmu komputer dan informatika. Menyatunya interaksi dunia nyata dengan obyek digital, dikenal dengan istilah Augmented Reality. Ide inovasi teknologi ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1901, disampaikan oleh L. Frank Baum di Amerika Serikat. Kemudian berkembang pesat dalam ruang lingkup penelitian, terlebih dalam sepuluh tahun terakhir.

Dunia penelitian dan industri semakin kompak saling bersinergi. Kemampuan komputasi pada perangkat bergerak juga semakin canggih dan murah. Sebagai contoh, processor Exynos 990 dari samsung digunakan oleh Samsung Galaxy S20. Processor Apple A14 Bionic digunakan oleh perangkat Iphone 12. Kedua processor ini telah dioptimasi untuk keperluan komputasi berbagai macam kecerdasan buatan dan pengolahan gambar

Gambar tersebut (diambil dari situs adobe), menunjukkan pengenalan obyek yang dikonversi kedalam e-commerce. Melalui kecerdasan buatan, perangkat dapat mengenali brand jaket, topi, sepatau yang dikenakan oleh Influencer. Selanjutnya sistem akan mengubahnya menjadi tulisan yang bisa diklik. Inovasi ini seolah lebih interaktif daripada harus menulis panjang lebar informasi penjualan pada caption. Kini Augmented Reality terbukti diterima oleh berbagai sektor industri bisnis dan entertainment. Inovasinya digunakan sebagai penunjunag aktifitas pada bidang Tourism, Military, Game, Bisnis, Arkeologi, social media.

Kembali ke efek dan filter pada Reels. Pada dasarnya, ilmu yang diterapkan adalah deteksi wajah. Seorang programmer membuat logika-logika untuk mengenali wajah. Serangkaian logika tersebut kemduain dilatih sedemikian rupa sehingga mampu membedakan antara wajah manusia atau kucing. Bahkan lebih dari itu, serangkain logika tersebut dapat menandai mata, hidung, mulut atau ujung jari.

Rangkaian logika tersebut dikemas dalam satu paket menjadi sebuah Standart Development Kit (SDK). Kemasan paket ini dapat dibagikan ulang ke programmer lain, sehingga dapat digunakan dengan mudah tanpa harus mengetahui detil logika didalamnya. Kita dapat membuatnya dengan Spark AR.

Melalui SDK, siapapun dapat berkontribusi membuat efek dan filter sendiri. Cukup menyediakan visual baik 2D ataupun 3D kemudian diunggah kedalam sebuah platform. Setelah diakukan serangkaian ujicoba, kita bisa menerbitkan ke Tiktok, Instagram atau Snapchat.

Bagi programmer, kemampuan membuat efek dan filter ini menjadi peluang mendapatkan uang. Beberapa social media menyediakan fitur efek berbayar. Programmer bisa mendapatkan uang dari skema ini. Dengan cara lain, programmer dapat menawarkan jasa kepada brand-brand terkenal untuk melakukan promosi melalui interaksi efek.

Kabar Informatika

Informatic is eating the world

Kabar Informatika

Bacaan bagus seputar invoasi Teknologi Informasi, dikelola secara resmi oleh program studi informatika Universitas Amikom Yogyakarta

Arif Akbarul Huda

Written by

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Kabar Informatika

Bacaan bagus seputar invoasi Teknologi Informasi, dikelola secara resmi oleh program studi informatika Universitas Amikom Yogyakarta