[Kajian] NAK: Reflection of Q.s. An-Naba — part 3

Ustad Nouman Ali Khan — Ramadhan Series 2017

Tulisan ini merupakan resume dari kajian Ust.Nouman Ali Khan — Bayyinah Institute.


SUMMARY

Flashback pembahasan An-Naba sebelumnya..

Pada part 1, membahas terkait orang yang mencemooh dan bertanya secara sarkastik kebenaran hari akhir. Apakah hari akhir benar-benar ada?

Pada part 2, membahas tentang ketidakmampuan manusia dan kekuasaan Allah. Tanda kekuasaan Allah adalah menciptakan segala hal secara berpasangan. Termasuk pasangan dari kehidupan saat ini adalah kehidupan di akhirat.

Pada part 3, menegaskan tentang “ultimate reality” dimana hari akhir yang selama ini disangkal — pasti terjadi. Tidak ada lagi pertanyaan sarkastik. Semua orang diam dan menjadi “humble”. Pembahasan part 3 akan di bahas lebih lanjut dalam tulisan di bawah ini.


Inna yawma alfasli kaana meeqata (ayat 17)
“Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan”

“Yaumal fasl” artinya “day of separation”/hari pemisahan.

Terpisah dari apa? Pada hari itu, orang-orang akan terpisah dengan statusnya selama di dunia, terpisah dari keluarga, teman, jabatan, pengalaman Pendidikan, kekayaan.

Ingat jabatan tidak bisa dibawa mati…

Pendapat ulama juga menyatakan maksud “seperation” ini adalah: saat dimana menjadi jelas mana yang benar dan mana yang salah. Selama di dunia, orang-orang musrik mencampur adukan antara kebenaran dan kesesatan. Pada hari ini, semua menjadi jelas.

“meeqata” berkaitan dengan waktu yang pasti. Sesuatu yang telah ditetapkan.


Inna jahannama kanat mirsada (ayat 21)
“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintaian”.

Jahanam adalah hal yang hidup (living things). Ingat surat Al-Qaf ayat 30? “(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam: ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab: ‘Masih ada tambahan?’”

“Mirsaad” berasal dari kata “rasada” . Yang bisa diartikan “suatu hal yang berusaha untuk menerkam”. “Mirsaad” juga bisa berarti jalan. Dimana pada hari akhir orang-orang harus melewati jalan yang melintasi neraka. Orang yang beriman akan bisa melewatinya.


Rabbi assamawati wal-ardi wamaa baynahuma arrahmani laa yamlikoona minhu khitaba (ayat 37) Yawma yaqoomu arroohu walmalaa’ikatusaffan la yatakallamoona illa man athina lahu arrahmanu waqaala sawaba (ayat 38)
“Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia (37). Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar. (38)”

“Judgment day” adalah “absolute silent day”, dimana tidak ada seorang pun yang diizinkan berbicara.

Bayangkan terdakwa dengan hakim dan pasukan militer yang bersiap untuk mengiring eksekusi. Tidak ada seorangpun yang diizinkan berbicara dan memberikan pembelaan. Kecuali yang telah diizinkan oleh Allah.

Hari dimana Jibril (“ar ruh”) dan para malaikat berbaris. Ketika keputusan keluar, para malaikat membawa “terdakwa” dan mengeksekusi hasil keputusan tersebut.


Dhalika alyawmu alhaqqu famanshaa ittakhatha ila rabbihi maaba (ayat 39)
“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya,”

Al-haq di sini bisa berarti 3 hal:

- Realitas
- Hak
- Tujuan / purpose

Hari itu, merupakan sesunggunya “realita” dalam hidup seorang manusia. Dimana segala perbuatan di dunia akan diperhitungkan dan dievaluasi.

Hari itu, dimana hak sesungguhnya, kembali kepada Allah.

Hari itu, dimana tujuan sesungguhnya dari segala hal yang kita lakukan di dunia.

Hari itu, dimana seseorang akan melihat hasil dari investasinya. Apa yang kita lakukan di dunia merupakan investasi dan benih, yang akan dipanen di akhirat.

Pertanyaannya: berapa banyak benih yang sudah kita tebarkan selama kita hidup? Berapa banyak waktu yang telah kita pergunakan untuk menanam benih tersebut? Apa sudah cukup bekal ke akhirat?


Bisa jadi ada seseorang yang memiliki sedikit ilmu, belum bisa Bahasa Arab, tidak tahu bagaimana caranya mengaji, belum menggunakan hijab, namun dalam hidupnya terus berusaha mencari keridhaan Allah.

Kita hanya melihat dari sisi luar, padahal Allah melihat apa yang ada di dalam.. apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya, niatnya, keikhlasannya, ketulusannya. Ini yang Allah nilai..


Ustad NAK juga menyampaikan contoh kasus: ada seorang perempuan yang belum bisa menggunakan kerudung karena dilarang oleh tempatnya bekerja. Perempuan tersebut sangat membutuhkan uang untuk membiayai orang tuanya berobat. Setiap malam perempuan tersebut berdoa memohon ampunan dari Allah.

Jawaban NAK:

Quran turun secara berangsur-angsur hingga 23 tahun. Dimana aturan-aturan juga diturunkan secara bertahap.

Imbauan menggunakan hijab turun pada Q.s An-Nur pada tahun ke-16. Dimana pada kondisi umat Islam sudah memiliki keimanan yang ajeg. Pada tahun ke-15 tidak ada peraturan seorang muslimah mengenai kewajiban menggunakan hijab.

Saat ini kita berada dalam kondisi umat Muslim yang sebenarnya jauh dari Islam. Menuntun mereka mematuhi peraturan Islam bukan prioritas pertama, tapi menuntun mereka agar kembali terhubung kepada Allah itulah yang menjadi prioristas utama. Ketikan iman datang, yang lain akan mengikuti. Ajaklah orang untuk kembali kepada Allah.


Mohon maaf atas segala typo. Jika ada khilaf dalam penulisan, murni kesalahan datangnya dari saya..
Subhanaka allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.