Alasan Lain Mengapa Harga Kebutuhan Pokok Melambung Tinggi Pra danPasca Lebaran

Sumpah saya baru sadar alasan sederhana ini. Selama ini saya mengira harga kebutuhan pokok naik menjelang hari raya, atau setelahnya, adalah akal-akalan dari para pedagang untuk meraup untung. Istilah kerennya manfaatin momen. Walaupun dengan melambungnya harga bahan pokok ini bisa juga karena ulah pedagang yang manfaatin momen itu tadi. Tapi saat saya mendengar sendiri penjelasan dari pedagang langganan ibu saya, rasanya saya harus merevisi anggapan bahwa fenomena “wajar” yang timbul menjelang hari raya itu tidak hanya disebabkan profit taking action para pedagang. Ada alasan lain sebenarnya.

Mungkin ada di antara kita yang sudah tahu mengenai alasan lain ini. Namun sebagiannya lagi ada yang masih bertanya-tanya inti persoalannya di mana. Lalu apa sebenarnya alasan lain itu? Alasan selain tindakan spekulatif para pedagang yang memang berniat menaikkan harga karena memanfaatkan momen lebaran?

Agak telat membahas ini, tapi tak apalah. Saya hanya ingin berbagi insight terkait melambungnya harga bahan pokok ketika lebaran atau hari besar lainnya. Sesuatu yang pasti sering menjadi concern kita. Hanya saja kita kadang bingung, kenapa bisa terjadi seperti itu dan apa yang harus dilakukan.

Jadi begini ceritanya.

Pagi itu, tepat H+2 lebaran, kami sekeluarga mulai bingung mau makan apa. Bingung karena sudah mulai bosan dengan menu makanan khas lebaran yang sebenarnya juga mulai akan habis. Balado kentang, ketupat dan opor ayam. Klasik sebenarnya. Mungkin di tempat lain ada juga yang mengalami seperti kami. Entah keberapa kalinya kami mencecap makanan khas lebaran itu yang lama kelamaan terasa hambar di lidah.

Mau tak mau harus ada masakan baru. Masalahnya persediaan bahan-bahan untuk memasak hanya tinggal beberapa. Jelas tak cukup. Solusinya adalah harus belanja ke pasar. Maka berangkatlah kami ke pasar yang letaknya tak jauh dari rumah. Perjalanan menuju pasar kami habiskan dengan diskusi mengenai menu yang akan dimasak pagi ini. Sudah diduga sebelumnya, pasar masih ramai pembeli. Sangat ribut. Entah karena bising kendaraan atau tawar-menawar harga. Ibu berencana membeli beberapa sayuran dan ikan untuk dimasak hari itu. Namun alangkah terkejutnya kami ketika beberapa bahan pokok yang kami cari susah ditemui, padahal hari biasa atau beberapa hari sebelum lebaran, bahan pokok tersebut masih bisa dijumpai.

Beberapa sayuran, ikan dan bumbu dapur susah kami dapatkan, kalaupun ada harganya bisa sangat mahal. Sempat bertanya mengapa mahal, akhirnya kami tahu alasan dari kenaikan harga itu. Kami terima dan percaya penjelasannya. Percaya karena memang ibu adalah pelanggan tetap di beberapa pedagang.

Lalu apa alasan itu? Itulah alasan lain yang saya ingin ungkap di awal tulisan ini: Harga melambung tinggi karena pasokan dan distribusi bahan pokok terhambat karena adanya arus mudik dan balik. Sehingga logis rasanya, dengan biaya operasional distribusi yang tinggi karena arus mudik tadi, kebanyakan mereka menaikkan harga kebutuhan pokok tersebut.

Akhirnya kami hanya membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak. Hal ini berimbas pada menu masakan. Masakan yang kami diskusikan saat menuju ke pasar, berkurang jumlahnya ketika kami keluar dari pasar. Dan saya harus menerima kondisi seperti itu.

Tapi sebelum membahas lebih jauh, izinkan saya paparkan dulu bagaimana kondisi Garut (kampung halaman saya) ketika arus mudik dan balik. Kondisi yang bisa jadi juga dialami kota-kota lain di Indonesia yang banyak dilintasi oleh para pemudik. Rumah saya terletak di Kecamatan Kadungora. Sebuah kecamatan yang terletak di Garut Utara. Yang gersang dan amat panas jika siang, namun dingin menusuk di kala malam. Kecamatan yang lebih dekat ke Bandung dibanding ibu kota kabupaten (Kecamatan Garut Kota). Kecamatan yang cukup beruntung sekaligus sial karena dilewati oleh jalan provinsi. Apa yang terjadi jika lebaran kian dekat? Macet? Sudah pasti. Tapi biar saya deskripsikan dulu macet seperti apa yang terjadi.

Kecamatan tempat saya tinggal berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dan sangat dekat dengan Jalan Cagak Nagreg maupun Jalan Lingkar Nagreg. Anda sendiri mungkin sudah tahu jika menjelang lebaran macetnya seperti apa. Buka tutup jalan tidak bisa diprediksi. Sistem satu atau dua arah bisa diberlakukan kapan saja. Dan catat ini: penerapannya bersifat situasional! Menderitakah? Jelas. Menjelang lebaran, kami yang bertempat tinggal di bagian Utara tentu ingin berbelanja kebutuhan hari raya, yang mana hanya bisa secara layak dipenuhi di pusat kota. Pusat kota ini letaknya ada di tengah-tengah kabupaten. Nah, sekarang bagaimana jika sistem satu arah diberlakukan? Semisal arah Garut ke Bandung. Tentu kami tidak bisa mendatangi pusat kota.

Bisa sebenarnya lewat jalur alternatif, tapi sangat jauh dan jalannya jelek. Angkot mana mau lewat jalan itu, kalaupun ada, tarifnya bisa naik tiga kali lipat. Tidak aneh rasanya jika lebaran menjelang, tarif angkot dari tempat saya tinggal ke pusat kota sudah sebanding tarif bus AKDP di hari biasa. Atau bagaimana jika sistem yang diberlakukan adalah satu arah ke Garut saja? Implikasinya sama. Kondisi inilah yang membuat saya malas untuk mudik menggunakan mobil. Kereta adalah pilhan yang tepat dalam situasi seperti itu.

Belum lagi dengan diberlakukannya perubahan trayek angped (angkutan pedesaan) yang arahnya jadi memutar, dan kebijakan larangan operasi delman selama H-7 dan H+7. Mengenai larangan beroperasinya delman, memang ada kompensasinya. Tapi kompensasi ini dinilai tak sebanding dengan pendapatan mereka (perhari diganti Rp 75.000). Ada beberapa kusir delman yang tetap nekad beroperasi pada hari itu. Ok, ini cukup melebar walau perlu disampaikan.

Nah, bisa dibayangkan jika dengan kondisi seperti itu, jelas dapat mengakibatkan distribusi kebutuhan pokok tidak seperti hari biasa. Selalu ada lost opportunity cost jika kemacetan terjadi. Sesalnya, itu harus diganti dengan menaikkan harga barang. Cara apa lagi yang bisa dilakukan untuk menutup biaya operasional yang membengkak itu?

Jangankan menjelang lebaran, semenjak Dicky Candra (iya yang artis itu) pernah menjadi wabup Garut, tiap weekend jalan raya di kecamatan saya ini sering macet. Inilah konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi di kawasan kami. Walaupun begitu, secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Dicky Candra atau pada siapa saja yang berkat jasanya, kini Kabupaten Garut dijadikan destinasi kunjungan masyarakat luar Garut.

Itulah sebab mengapa harga kebutuhan pokok bisa mahal pada pra dan pasca lebaran. Mau tak mau, suka tidak suka, kenaikan harga dilakukan untuk menutupi biaya distribusi bahan pokok tersebut. Cara ini dilakukan hanya oleh pedagang yang mau ambil risiko, berdaya spekulasi yang tinggi, selain juga yang mutlak adalah memiliki modal usaha yang tentu besar. Karena hal ini tidak bisa diadopsi oleh pedagang bermodal kecil. Kebanyakan dari pedagang bermodal kecil ini memilih untuk tidak membeli atau mendatangkan bahan pokok dari luar kota untuk dijual kembali. Imbasnya, bahan pokok tertentu bisa langka di pasaran.

Saya jadi terpikir, lebaran sebenarnya hanya insidental case. Bagaimana bila ada case, selain lebaran, yang sifatnya rutin, atau selamanya, dan membuat pasokan kebutuhan pokok menipis atau malah harganya makin melambung tinggi? Faktor cuaca misalnya. Atau lahan pertanian dan tempat budidaya untuk memanen bahan pokok itu sudah sulit ditemui. Sudah berubah menjadi pemukiman tapak.

Solusinya ada pada tiga konsep ini: food security, food safety, dan food sovereignty. Food security atau ketahanan pangan berarti menjaga kelimpahan pasokan pangan. Salah satunya dengan cara variasi konsumsi pangan. Food safety atau keamanan pangan artinya menjaga kualitas pangan. Salah satunya adalah dengan rekayasa benih dan pupuk yang berkualitas. Food sovereignty atau kedaulatan pangan, artinya mandiri pangan. Di antaranya adalah dengan membatasi impor, membuka lahan pertanian seluas dan semaksimal mungkin, program One Village One Product (OVOP), dan lainnya.

Oh iya, ini pembahasan udah sangat sangat melebar. Intinya sederhana, dan masalahnya satu. Tapi bukankah solusi itu harusnya dibangun dari mengidentifikasi sebab masalahnya? Dan paparan di atas mencoba menjabarkan sebab masalah tersebut. Semoga bisa dijadikan asupan pikir kita semua.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.