Jaringan Alma-matre

Bisnis itu butuh jaringan. Jadi memanfaatkan jaringan pertemanan waktu sekolah dulu adalah hal yang normal, wajar, dan harus kan?

Pada reuni alumni pesantren ternama di Garut, seorang alumni mencetuskan konsep diaspora almamater. Meniru konsep diaspora Yahudi, ia berharap para alumni dapat membentuk lingkaran kerja sama dalam aktivitas masing-masing baik sosial maupun bisnis. Kalau bisa, ikatan alumni menjadi wadah jejaring kerja sama (khususnya bisnis) antar alumni.

Menarik mengingat mencari partner kerja, klien, atau ahli itu (kadang) sulit. Kadang kita mendapat outsource yang kerjanya kurang sesuai harapan atau klien yang, setelah proyek selesai, kabur dan tidak membayar. Atau sekedar menyebalkan. Jadi mengapa tidak mencari partner dari sesama alumni almamater yang sama yang minimal sudah pasti latar belakang nya terpercaya?

Jadi mari menyebar ke berbagai bidang bisnis. Bawa tali silaturahmi antar alumni. Bikin jaringan yang luas. Dan kita akan membangun bersama. Sebenarnya tidak ada yang buruk dengan ide ini, namun jika berlebihan -seperti biasa- bisa jadi musibah.

Karena di ujung pelangi pertemanan antar alumni ini terdapat pundi emas. Atau hanya ujung pelangi.

Buddy Price

Hal lumrah yang selalu ada dan bahkan diharapkan saat berbisnis dengan teman, atau membeli dari teman, adalah harga teman, atau buddy price. Pada dasarnya, harga teman adalah diskon yang diberikan atas dasar kedekatan personal. Di sini, kita rela untuk merugi, sebab ini kesempatan kita untuk menunjukkan kesetiakawanan sekaligus mendapatkan pelanggan yang loyal. Harapannya, teman kita akan kembali lagi membeli barang atau jasa dari kita, atau merekomendasikan usaha kita kepada relasinya yang lain. Kita pasti sudah pernah mengalami hal ini, baik sebagai pemberi atau penerima harga teman.

Ini biasanya baik untuk mengawali usaha, namun bukan untuk dilakukan terus menerus.

Sebagai pemilik usaha, mudah untuk menjaga bisnis agar tidak dieksploitasi oleh ‘teman’ yang ingin memanfaatkan harga teman selamanya. Misalnya dengan memberi pemahaman bahwa kita juga perlu profit dan menghidupi karyawan. Bisa juga dengan melakukan pembatasan jumlah ‘teman’ yang diberi harga teman.

Sebagai penerima harga teman, dampaknya bisa lebih berbahaya dan kadang sulit dihindari. Misal kita bagian dari sebuah perusahaan, kita perlu mencari barang atau jasa yang murah untuk kebutuhan usaha, kita punya teman yang bisa menyediakannya dengan harga teman (asumsi kualitasnya sudah cukup). Perusahaan kita terus memberikan order pada teman dengan harga teman melalui kita.

Jika sial, teman secara mendadak menyatakan tidak bisa lagi memberi harga teman.

Jika beruntung, kita bisa mempertahankan harga teman, sampai kita pindah kerja (lalu teman kita menghentikan harga teman untuk perusahaan).

Sial atau beruntung, akhirnya perusahaan akan kesulitan menyediakan dana untuk hal yang sudah terlanjur dianggarkan dengan harga teman.

Ikatan almamater bisa masuk memperkeruh kondisi ini, misalnya dengan mengharuskan sesama anggota memberikan diskon. Dampaknya, perusahaan kita akan menghemat dana dengan hanya merekrut anggota ikatan dan menempatkannya di posisi-posisi strategis. Selanjutnya perusahaan kita menjadi eksklusif untuk alumni almamater tertentu. Tapi tentu ini hanya hipotesis, eksklusifitas lebih mungkin terjadi oleh hal-hal yang akan saya bahas nanti.

Dampak lain dari harga teman adalah rusaknya harga pasar. Saat penyedia barang, dan khususnya jasa, melihat penyedia barang dan jasa sejenis menurunkan harga, untuk meningkatkan persaingan dia akan menurunkan harga pula, dan dalam prosesnya mungkin memotong penghasilan dan gaji karyawan. Tapi tidak akan kita bahas mendalam di sini.

Intinya adalah harga teman bisa menjadi candu yang membutakan kita dari kondisi pasar yang sebenarnya di bidang industri yang kita geluti.

Untuk memanfaatkan harga teman dengan baik, kita perlu membatasi kerakusan dan lebih menghargai harga standar, karena toh teman kita juga orang yang mencari nafkah seperti kita.

Klub Eksklusif

Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, selalu ada dominasi dari almamater tertentu. Misalkan eksekutif di perusahaan A umumnya lulusan ITB atau pejabat di dinas B kebanyakan lulusan UGM. Saya pernah berada dalam organisasi paguyuban kedaerahan yang jabatan pentingnya didominasi lulusan ITB. Yang mengagetkan saya waktu itu adalah, petinggi paguyuban berupaya agar jabatan penting tetap didominasi lulusan ITB. Alasannya kualitas. Waktu itu saya membenarkan, tapi tentu dalam jangka panjang, hal tersebut tidak boleh dibiarkan.

Dalam ikatan alumni, kita dituntut untuk saling membantu sesama anggota. Membantu dalam kebaikan kadang-kadang adalah hal yang abu-abu. Biasanya kita jadi terjebak dalam kepentingan, bukan kebaikan. Misalnya dalam sebuah organisasi, secara natural kita lebih mudah memercayakan suatu pekerjaan atau jabatan pada orang yang sudah kita kenal. Ketika kita cenderung mempercayakan hal-hal penting pada orang-orang tertentu, orang lain akan melihat gelagat tersebut; yang akan melihat bahwa telah ada golongan eksklusif yang ‘menguasai’ organisasinya dan ia bukan bagian dari itu. Orang lain ini akan segan untuk lebih jauh terlibat di dalam organisasi, terlebih jika si golongan eksklusif hanya bergaul dengan golongannya.

Ketika sebuah organisasi didominasi golongan orang yang sama atau itu-itu saja, maka ide-ide jadi lebih monoton dan orang-orang baru akan segan bergabung.

Karena itulah Tarlen Handayani salah satu founder Tobucil membekukan Klub Filsafat di Tobucil padahal itu adalah salah satu klub yang aktif; karena anggota-anggota yang hadir pada setiap pertemuan cenderung selalu sama.

Kebetulan alumni-alumni pesantren yang saya sebut di atas juga adalah alumni yang dominan di anak-anak organisasi dari ormas Muhammadiyah. Mungkin memang karena kualitas mereka pantas, atau mungkin karena pesaing mereka mundur; orang lain yang berkualitas dan tidak senang dengan dominasi kelompok lalu memilih beraktivitas di tempat lain.

Bayangkan kalau ini terjadi di perusahaan, dan alumni-alumni muda tanpa talenta merasa dengan mudah melamar karena seniornya dominan di perusahaan tersebut. Sedangkan talent lain menghindarinya karena sudah tahu bahwa lingkungan kerjanya tidak sehat.

Fanatisme Almamater

Saya lulus dari ITB yang alumninya terkenal sombong, dan meskipun prestasi saya rendah, saya terjebak dalam stereotipe tersebut. Padahal saya sama sekali tidak punya rasa memiliki terhadap almamater. Dari situ saya menyadari bahwa fanatisme itu laten, dan siap kapan saja muncul, jika kita membiarkannya.

Konsep diaspora almamater terlihat keren bagi yang berkhayal menjadi anggota persaudaraan rahasia semacam iluminati. Ada semacam kebanggaan jika kita menjadi bagian dari sesuatu yang besar, misterius, dan berpengaruh di berbagai segi masyarakat. Tentu saja kebanggaan itu tidak masuk akal dan tidak berdasar, terlebih jika kita hanya menempelkan identitas organisasi pada kita, tanpa melakukan apa-apa. Inilah awal dari fanatisme.

Lambat laun kita akan semakin bangga, semakin merasa lebih daripada golongan lain, dan semakin loyal pada organisasi.

Lalu kalimat berikut menjadi moto kita:

Hidup-hidupilah organisasi dan jangan mencari hidup dalam organisasi.

Semboyan di atas adalah racun yang meng-katalisasi fanatisme yang menyebar hampir di segala organisasi dan partai di negeri ini. Obatnya adalah sebuah pertanyaan:

Untuk apa hidupnya organisasi?

Penyadaran terhadap tujuan, bagi saya, adalah hal yang bisa membendung fanatisme. Untuk apa klub penggemar sepak bola? Tujuan olah raga adalah untuk kesehatan. Selama klub tidak mendukung kesehatan, mungkin tidak artinya ‘hidup’ dari klub tersebut (kecuali jika tujuan utama klub sepak bola bukan mendukung olah raga).

Untuk apa pendirian persaudaraan rahasia, ikatan alumni, atau gerakan diaspora? Perlu ada jawaban yang jelas dari pertanyaan tersebut agar tidak hanya menjadi hiasan pada identitas anggotanya.

Silaturahmi Dengan Uang

Dalam reuni alumni yang saya ceritakan di awal, salah seorang alumni berujar: ‘Kalau acaranya cuma ketemu-ketemuan saja tidak penting. Bagusnya kalau saling kerja sama bisnis atau usaha’. Saya jadi langsung teringat kekecewaan seorang teman yang jika bertemu teman lama, mereka langsung membicarakan soal bisnis. Lalu saya mencoba mengingat-ingat lagi bagaimana saya bisa berteman dengan mereka.

Sebagian besar pertemanan yang dibangung seseorang umumnya terjadi di masa sekolah. Setelah beranjak ke dunia kerja, tempat orang cari uang, orang datang dan pergi dengan cepat tanpa waktu yang pasti. Semakin beranjak dewasa, kita semakin sulit menjalin hubungan pertemanan. Kita lebih mudah berteman saat dunia kita masih belum seputar kerja, usaha, bisnis, uang, mencari nafkah, dan tanggung jawab hidup lainnya. Ketika kita kembali bertemu teman lama saat fokus kita berubah, adalah hal yang wajar jika bahan pembicaraan kita sering membelok ke masalah nafkah. Kasus ekstrem muncul jika teman kita misalnya ikut MLM.

Namun pada ketika kita memanfaatkan jaringan pertemanan untuk bisnis, atau kepentingan lainnya, kita kadang melupakan alasan kita berteman sejak awal. Saat hubungan berubah menjadi kerjasama bisnis, maka resikonya adalah ketika kerja sama bisnis kita putus, putus pula hubungan pertemanannya. Kita kehilangan kepolosan dan ketulusan hubungan personal dan menilai hubungan dengan jumlah profit sharing yang kita sepakati. Kita fokus pada hasil dari kerja sama, bukan pada kerja sama tersebut.

Pada akhirnya mungkin kita akan menanyakan: ‘Apakah dia teman kita atau rekan kerja sementara?’

Dengan kehati-hatian dan keseimbangan antara fokus pada hubungan personal dan bisnis, tentu ini bisa diatasi. Terlebih jika yang kita ajak kerja sama adalah alumni yang tidak terlalu kita kenal. Namun tentu saat kerja sama kita gagal atau berhasil dengan pengalaman yang buruk, kesan buruk ini akan menyebar ke jejaring alumni tersebut.

Baik dan Tidak Baik

Didukung dengan fenomena wirausaha yang sedang ‘kekinian’, paguyuban kedaerahan, almamater, atau keluargaan bisa sangat bermanfaat jika digeser menjadi jejaring bisnis. Namun kehati-hatian sangat diperlukan. Sekalipun perusahaan keluarga yang bisnisnya dijalin antar sesama anggota keluarga, jika tidak hati-hati malah bisa merusak hubungan antar keluarga.

Konsep diaspora sebagai jejaring bisnis itu baik dan menarik. Jaringan eksklusif yang menguntungkan sesama anggotanya saja itu buruk.

Yang terpenting adalah tujuan dan sifat dari program yang berdasarkan konsep ini.

Akan lebih baik, menurut saya, jika kita membuat jaringan inklusif yang juga memberi manfaat kepada orang-orang di sekitar anggotanya. Tidak hanya sekedar memberi eksklusifitas, tapi mendidiknya agar lebih mudah beradaptasi dengan bidang garapannya. Anggotanya dikenalkan dengan relasi lain di luar ikatan alumni sehingga relasinya menjadi lebih luas. Memberi kesempatan kepada siapa saja yang berada di dalam atau luar jaringan untuk bekerjasama. Tujuan-tujuan ini perlu menjadi fokus jaringan tersebut dan anggotanya sadar akan hal tersebut.

Terakhir, perlu kita ingat bahwa berbuat baik dan memberi manfaat itu bukan saja kewajiban antar satu kelompok atau keluarga, namun antar sesama manusia.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.