Remote Voice: Fikri Rasyid

Fikri Rasyid

Pada remote voice kali ini, aku berhasil mengajak ngobrol via email dengan Fikri Rasyid. Seorang blogger aktif dan Front-end + WordPress (Theme+Plugin) Developer dari Bandung. Sekarang ini Fikri Rasyid bekerja dari rumah untuk hijapedia.com.

Sebelumnya aku juga pernah merekomendasikan Fikri Rasyid untuk PSD to WordPress Theming.

Berangkat dari blogger dan menggunakan WordPress sebagai engine-nya. Fikri Rasyid berevolusi menjadi WordPress Developer karena ketidakcocokan theme yang tersebar di internet dan dari situlah Fikri belajar membuat WordPress Theme dan karir WordPress Developer dimulai.


Bisa ceritakan perjalanan Anda?

Sebenarnya karir gue bermula dari rencana gue untuk masuk jurusan DKV ITB, tapi ngga keterima ☺) Daripada nganggur / nyobain di kampus lain (waktu itu keukeuh ingin DKV ITB, tapi akhirnya tahun depan malah masuk Pendidikan Bahasa Inggris UPI), gue milih mengambil kelas web development di Quantum E-Commerce College (sekarang tempatnya sih sudah tutup setahu gue) di Jalan Supratman Bandung selama 10 bulan. Momennya pas dengan gue mulai ngeblog menggunakan WordPress dan ngga bisa menemukan theme yang pas buat blog gue. Akhirnya belajar dan buat sendiri. Setelah gue pikir-pikir, ini theme kalo didiemin ngga ada gunanya juga. Akhirnya gue share aja.

Dari nge-share theme buatan sendiri itu, akhirnya ada yang ngirim email dan nanyain bisa ngga buat custom theme, desainnya sudah ada. Dari situ gue kerjain, klien puas, dan dikasih kerjaan berikutnya + direferensiin ke klien lain. Dari situ polanya berulang: klien puas dan direferensiin ke klien lain atau klien baru nemu portofolio gue. Polanya begitu terus.

Menurut kamu definisi bekerja remote?

Pada dasarnya sama saja dengan kerja di kantor (menyelesaikan task / business objective tertentu), tapi dikerjainnya tidak dari kantor. Ada yang hubungan kerjanya freelance, ada yang employee — employer, dll.

Dan bagaimana prosesnya bisa work from home dari fulltime employee? Atau waktu di DMD juga remote?

Awalnya dari freelance biasa, sampai ketemu klien yang cocok dan percaya banget (Pak Danu Widhyatmoko. BTW, setahu gue DMD lagi hiring). Gue sempat remote selama satu tahun karena waktu itu belum lulus kuliah (gue mulai freelance dari tingkat dua akhir) dan gue udah komitmen untuk menyelesaikan sarjana. Kebetulan Pak Danu juga dosen dan udah cocok banget pola kerjanya, jadi mendukung. Akhirnya remote lah gue selama satu tahunan. Begitu lulus sarjana, dua pekan berikutnya gue direferensiin untuk kerja full-time dan on-site dengan kontrak satu tahun di Jakarta. Setelah satu tahun gue memutuskan untuk ngga memperpanjang kontrak, kembali ke bandung, menikah dan kerja remote untuk Hijapedia.

Bagaimana kamu bisa work remotely di Hijapedia?

Sebelum menawarkan pekerjaan permanen, owner Hijapedia dulu klien gue. Jadi sebenarnya gue sudah pernah bekerja secara remote sebagai freelance sebelumnya dan hal tersebut terbukti bisa berjalan. Jadi ngga ada masalah bekerja secara remote sebagai employee.

Dan kenapa memilih work remotely?

Karena untuk saat ini yang pas bekerja secara remote. Gue menghindari bekerja di ibukota karena setelah gue rasakan dan hitung-hitung, hidup dan bekerja di ibukota tidak sustainable secara waktu dan biaya. Apalagi kalau tiap weekend lu harus bulak-balik ke Bandung dan biaya transportasi naik terus begini.

Bagaimana caranya bisa kerja di kota yang gue pilih (Bandung)? Solusinya ya kerja secara remote.

Workspace Fikri Rasyid

BTW tipikal work day kamu?

Gue lebih sering kerja dari rumah. Tapi kalau perlu keluar, kerja di manapun yang memungkinkan bisa-bisa saja sih. Tipikal work day gue: bangun, beres-beres, morning routines, masuk ke kamar kerja, kerja, istirahat, kerja, istirahat, kerja, begitu terus sampai target hari itu beres. Kadang ada hal lain yang lebih efisien yang kalau gue lakukan pagi, jadi waktu kerjanya gue geser dimulai dari siang sampe malem. Pada dasarnya gimana caranya pekerjaan hari itu beres.

Beberapa kali nyobain kerja dari coworking space tapi kok rasanya saat ini lebih enak kerja dari rumah ya ☺) Perjalanan ke coworking space-nya saja bisa 45 menit lebih, belum segala macem-nya. Bulak-balik bisa satu setengah jam. Gue kepikirannya kalo freelance dibayar per jam, itu udah berapa duit XD

Masalah produktivitas sendiri kerja ikut jam atau menjadi deadliner? Untuk jam kerjanya sendiri Bagaimana?

IMO balik lagi tergantung ke jenis pekerjaan, objektif, dan kecenderungan-nya masing-masing. Gue pribadi normalnya dari jam 9–5. Tapi jika ada hal-hal yang akan lebih efisien yang gue lakukan siang, waktu kerjanya gue tarik ke pagi atau ditambah saat malam. Kelebihannya remote work itu kan fleksibelitas. Selama objektif pekerjaannya tercapai dan laporannya masuk, waktu kerjanya jam berapa dan dimana ngga jadi masalah.

Tolak ukur untuk produktivitas dan kemajuan karirnya?

Untuk produktifitas: objektif tercapai dan client / employer puas. Buat gue ada kesenangan sendiri saat klien bilang “wah keren nih! Thanks!” karena ekspektasinya 10 dan gue bisa deliver 12.

Untuk kemajuan karir: keahlian dan pengalaman bertambah. Sifatnya bisa vertikal / horizontal: antara semakin mahir di keahlian tertentu, atau jadi punya keahlian baru. Kalau keahlian dan pengalaman bertambah, biasanya income juga bertambah. Begitu saja terus. Buat gue idealnya “jenjang karir” itu naik bukan karena naik pangkat, tapi karena keahlian dan pengalamannya memang naik. Keahlian dan pengalaman itu kan currency yang berlaku secara universal di employer manapun. Sedangkan “pangkat” umumnya hanya dikenal secara internal untuk employer tertentu saja.

Apa saja kendala bekerja dari rumah?

Distraksi yang kadang tidak bisa diprediksi ☺)

Apa saja sih requirements and tips for staying sane while working the 9–5 and freelancing on the side?

Tips-nya:

  1. Punya motivasi yang kuat (ada kebutuhan)
  2. Proyeknya menarik (ada hal yang lu bisa pelajari + ada koneksi dengan klien yang bisa dibuat)

Kalo requirements, gue pikir asal sanggup aja sih. Kalo sanggup ya kerjain aja. Tapi setelah gue jalanin, sebenarnya kerja dobel itu ngga sustainable untuk jangka panjang. Kalo untuk 1–5 tahun pertama untuk ngebangun portofolio oke lah. Atau kalau untuk kerja dobel untuk ngebangun sesuatu yang untuk jangka panjangnya meringankan ngga masalah. Kalo terus-terusan dobel IMO ngga balance juga.


Bagi Anda yang ingin bekerja dari rumah perbanyak link dengan startup (co) / founder. Selain itu juga bisa meniru cara Fikri Rasyid dengan cara memberikan freebies WordPress Themes dan membagikan Plugin WordPress. Karena freebies itu bisa dijadikan sebuah portfolio kamu. Selain membagikan freebies kamu juga bisa ngeblog aktif dan memberikan artikel yang sifatnya lebih ke how-to untuk branding kamu karena mereka bisa melihat kalau kamu produktif dan punya nilai plus.

Note:

Anda bisa bertanya-tanya dengan Fikri Rasyid seputar WordPress / work remotely dengan cara mention @FikriRasyid di Twitter.

Remote Voice adalah rubrik interview developer remote Indonesia di group Kami Kerja Remote di FB. Ada teman yang ingin di rekomendasikan untuk di inteview?Join Kami Kerja Remote!