Remote Voice: Gan-gan Tabah Ghifary Diniya

Di remote voice edisi #15, kita akan berbincang dengan seorang yang unik. Dia bukan developer, designer atau orang yang paham ilmu IT. Tapi, bisa kerja remote. Hmm.. bidang apa yaa.. Yuk kita kenalan! :)

Mas Gan-Gan, paling terkenal se-Kaskus Raya

Halo, bisa ceritain mas ini siapa?

Hallo, kenalan yuk! Nama saya Gan-gan. Saya adalah orang yang paling sering disebut namanya di sebuah forum terbesar di Indonesia :D

Jadi ceritanya, saya pengen sedikit berbagi pengalaman saya sebagai pekerja remote.

Saat ini saya bekerja secara remote untuk Quipper, sebuah start-up dari London yang bergerak di bidang pendidikan.

Saya akui di grup Kami Kerja Remote banyak rekan-rekan yang lebih senior dari saya, karena memang memiliki dasar keilmuan di dunia IT.

Disinilah uniknya bekerja secara remote. Kita tidak perlu menjadi orang IT, namun cukup belajar sedikit tentang IT untuk mendukung bidang yang kita tekuni.

Perlu digaris-bawahi: saya bukan seorang web-smith, programmer, ataupun designer. Saya seorang yang memiliki ketertarikan dan pada dunia pendidikan.

Saya seorang yang memiliki ketertarikan dan pada dunia pendidikan.

Di bangku kuliah, saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas negeri di Bandung.

Selama kuliah, saya mengisi waktu dengan bekerja sebagai substitute teacher di sekolah, pengajar di bimbel, atau les private, ataupun penerjemah.

Sejak tahun 2012, selama kurang lebih dua tahun, saya bekerja sebagai guru honorer di banyak sekolah di Bandung. Mungkin sudah menjadi rahasia umum tentang bagaimana sulitnya menjadi guru honorer di Indonesia.

Waktu itu saya bekerja sebagai full-time teacher yang mengajar selama 6 hari seminggu dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, dengan mendapatkan honor 300–500 ribu/bulan.

Negara kita (saat ini), belum mampu memberikan karir yang menjanjikan untuk mereka yang bekerja di dunia pendidikan.

Saya sempat mengalami kegundahan saat itu, karena passion yang saya tekuni belum bisa memberikan penghidupan yang layak.

Baru di tahun 2014 saya mulai kenal dengan dunia remote-working.

Pertengahan tahun 2014 saya bertemu team dari Quipper (via Skype). Mereka ingin mengembangkan marketnya ke Indonesia agar platform e-learning Quipper digunakan di sekolah-sekolah se-Nusantara.

Di sinilah ilmu kependidikan saya diterapkan. Saya bergabung dengan team content agar materi dan bahan ajar yang disediakan Quipper bisa sejalan dan sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Workspace mas Gan-Gan

Apa suka duka kerja ke perusahaan asing khususnya perusahaan yang berbasis di London mas? Gimana juga cara mereka nge-treat karyawannya?

Poin plus

  1. Kita bisa kenal banyak orang dari banyak negara. Karena memang team kita yang tersebar secara remote.
  2. Salary kita dihitung per jam.
  3. Walaupun berjauhan, kita selalu menyempatkan untuk kopdar, dan itu merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi pekerja remote.

Poin minus:

  1. Kita cuma dapet salary (salary dihitung per jam dan dibayar per bulan). Nggak ada tuh namanya BPJS, THR, uang makan, uang jalan, dll. Hal ini bisa berbahaya kalau kita nggak bisa mengatur keuangan dengan bijak.

Secara pribadi sih merasa diperlakukan dengan sangat baik. Contohnya: Jika karyawan butuh webminar / software yang mendukung produktifitas kerja, perusahaan bisa memfasilitasi.

Memperkenalkan Quipper ke para pelajar

Wah.. ngomongin duit nih. Ada tips ngga teknik ngatur duit buat seorang pekerja remote?

Saya juga sebenernya nggak punya skill financial management yang mumpuni sih. Cuma 1 prinsip yang selalu saya pegang tiap gajian: “Sebelum beli ini itu, beli emas dulu.” Kalau bisa 3/4 dari gaji kita belikan emas.

Kenapa emas? Sebab ketika kita lagi butuh uang, kita bisa gadaikan emasnya. Dan kalau nggak mepet banget, kita nggak bakal mudah gadaikan emas. Nggak kaya nyimpen uang di ATM yang bentar-bentar ada godaan buat diambil.

Believe it or not, dengan memiliki emas, kita bisa menghilangkan kebiasaan kredit barang.

Balik lagi ke kerjaan mas. Ada tips ngga buat rekan-rekan yang ngga punya skill di bidang IT tapi mau kerja remote?

Hmm… Internet itu kan dunia maya. Artinya, dunia internet juga butuh guru, dokter, artisitek, psikolog, dan semua profesi yang ada disekitar kita.

Ada ribuan website dan aplikasi hasil dari orang-orang yang memulai start-up. Kalau kalian bukan dari dunia IT namun ingin bekerja secara remote, cari start-up yang memang bergerak di bidang kalian, lalu beranikan diri untuk melamar bekerja secara remote bersama mereka.

Desktop mas Gan-Gan

Sip. Gimana ruitinitas keseharian mas?

Rutinitas saya hampir sama seperti orang lainnya: bekerja 8–10 jam tiap hari. Namun dengan waktu yang lebih fleksibel.

Saya biasanya menghabiskan waktu bekerja di rumah, co-working space atau perpustakaan.

Di waktu senggang, saya suka memasak atau nongkrong bareng warga. (Karena sesungguhnya diantara para pekerja, pekerja remote-lah yang paling merasa kesepian :D)

Kontak
FB: https://www.facebook.com/ganoizeconstantine
Remote Voice adalah rubrik interview developer remote Indonesia di group Kami Kerja Remote di FB. Ada teman yang ingin di rekomendasikan untuk di inteview? Join Kami Kerja Remote!

Edisi kali ini, disponsori oleh Menyelami Framework Laravel, panduan komprehensif menguasai framework Laravel. Download di https://leanpub.com/bukularavel

Tertarik jadi sponsor di edisi selanjutnya? Kontak rahmat.awaludin@gmail.com sebelum hari Selasa.