Web Developer. Harga Pasar Jatuh? Move on!

Sebelum memutuskan untuk menulis artikel ini, saya baru saja menyelesaikan web official dari salah satu Piano Warehouse di Australia. Proyek ini adalah salah satu buah hasil dari usaha saya untuk move on dari kondisi pasar web developer di Indonesia yang semakin kurang menjanjikan.

Ketika ingin mematikan komputer, saya teringat bahwa sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu, saya sempat mengeluhkan standar harga jasa pembuatan website di Indonesia yang makin hari makin terpuruk. Mengapa saya sebut terpuruk? Karena saya pernah kalah bid project di salah satu web marketplace Indonesia dikarenakan ada web developer lain yang menawarkan jasanya di harga 50rb.

What? Jika persaingan terus seperti itu, bagaimana saya bisa maju? Bagaimana caranya agar saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin hari semakin mahal dengan pekerjaan sebagai Web Developer sementara standar harga programmer semakin anjlok? Saat itu saya sempat berpikir untuk mencari alternatif pekerjaan lain karena sudah hampir putus asa dengan bidang pekerjaan yang saya geluti selama 6 tahun terakhir ini.

Sedikit informasi tambahan, saya menjadi freelance web developer sejak tahun 2009. Basic ilmu pemprograman saya adalah Pascal. Kemudian Delphi, lalu PHP.

Dalam 6 tahun terakhir saya sudah bergelut dengan berbagai jenis customer dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Menurut pengalaman saya, rata-rata pelanggan selalu menawar dengan harga serendah mungkin dan menginginkan fitur sebagus mungkin. It’s little bit cruel, but it’s a true story.

Moving On

Setelah mencoba berbagai cara alternatif, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di Upwork. Perjuangan tidak selesai sampai di situ, puluhan proposal saya berstatus Pending dan giliran ada notifikasi isinya selalu “Your proposal was declined.”

Yah, sakit memang. Tapi bagi saya, tidak ada kata menyerah. Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak? Saya terus mempelajari cara membuat proposal yang ideal agar bisa mendapatkan pekerjaan pertama saya di Upwork.

Akhirnya, setelah kurang lebih dua bulan berjuang, sekitar akhir November 2015 kemarin, salah satu proposal saya diterima. Tugasnya cukup simple, saat itu budgetnya pun hanya $10. Sebenarnya angka yang ditawarkan adalah $70, namun karena saya sedang mengejar proyek pertama di Upwork, akhirnya saya pasang harga terendah, karena sebagai permulaan rasanya tidak pantas jika saya langsung memasang harga tinggi.

Buktikan dulu kemampuan kita. Setelah orang lain tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, uang akan datang dengan sendirinya.

Setelah mengobrol singkat di Skype, akhirnya saya berhasil mendapatkan proyek pertama di kancah internasional. Mungkin $10 tidak terlalu banyak berarti dibandingkan dengan peluang yang sudah mulai terbuka di depan mata.

Getting Bigger Chance

Berselang seminggu kemudian, saya berhasil mendapatkan proyek kedua saya di Upwork. Budgetnya pun lagi-lagi tidak banyak, yaitu hanya $5. Tapi ternyata di proyek kedua ini peluang saya terbuka. Alhamdulillah kerja keras saya selama ini untuk move on tidak sia-sia.

Owner proyek kedua adalah pria berkebangsaan Australia. Beliau adalah seorang musisi yang bekerja di sebuah Piano Warehouse di Australia. Di Piano Warehouse tersebut, beliau menjabat sebagai Marketing Manager. Selain berprofesi sebagai musisi dan Marketing Manager, ternyata beliau juga sangat tertarik dengan dunia web development. Beliau mempunyai ide-ide menarik di dunia web development namun tidak mempunyai cukup skill untuk merealisasikannya. Saya cukup beruntung karena terpilih dan dipercaya sebagai orang yang bisa membantu beliau mewujudkan ide-ide tersebut.

Setelah menyelesaikan proyek kecil di Upwork tadi, beliau rutin memberikan tugas-tugas kecil via Skype terkait dengan fixing bug di web perusahaan tempat beliau bekerja atau di web e-commerce beliau sendiri dan saya dibayar langsung via Paypal.

Seiring berjalannya waktu, beliau mulai percaya memberikan proyek yang lebih besar. Dan kurang lebih dua minggu yang lalu kami baru saja deal dengan project yang bernilai 4 digit USD. It’s really interesting. Mengingat pasar website di Indonesia yang sudah mulai anjlok, saya sangat bersyukur bisa mendapat pasar yang lebih baik di negara yang memiliki selisih waktu 4 jam lebih cepat dari tempat saya tinggal saat ini.

Saat ini, saya kembali mulai mencintai pekerjaan saya. Bukannya saya materialistis, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan lebih enjoy dalam bekerja jika semua kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Minimal kebutuhan dasar bisa terpenuhi, maka itu akan berdampak besar dalam kinerja kita.

Kesimpulan

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan saya kali ini adalah bahwa kita tidak boleh menyerah dalam menekuni pekerjaan, khususnya dalam hal ini adalah yang sebangsa dengan saya yaitu Web Developer.

Ketika kita menyadari bahwa pasar lokal sudah mulai kurang bersahabat, kita bisa mencari peluang yang lebih baik di luar Indonesia.

Come on! Pekerjaan web development adalah pekerjaan global yang bisa dikerjakan dari mana saja selama kita commit terhadap tugas-tugas yang telah disepakati.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan ada pelajaran yang bisa diambil. Tetap semangat! Salam kenal untuk seluruh web developer yang telah bersedia meluangkan waktunya membaca tulisan yang sederhana ini.


Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca — Perkenalkan, nama saya Hendra Setiawan. Saya seorang Web Developer dan writer wanna be. Saat ini saya bekerja sebagai Web Developer di salah satu Piano Warehouse di Australia. Selain itu, saya juga sedang merintis Start-Up yang juga bermarkas di Australia. Info lengkap tentang saya dapat dilihat di web pribadi saya …

www.hellohendra.com

Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan atau sekedar say hello, bisa kontak saya langsung via Email di alamat …

hendra16@icloud.com


Punya tulisan menarik seputar kerja remote? Kontak editor kami di rahmat.awaludin@gmail.com
Mau belajar kerja remote? Join Kami Kerja Remote!
Suka artikel ini? Klik ❤ agar temen-temenmu juga tahu!