Aku perempuan, aku juga seorang insinyur muda

Photo by Sergey Zolkin on Unsplash

Saat ini saya sedang dalam masa transformasi dari mahasiswa jadi karyawan. Jadi, saya sebenernya bingung mau cerita apa tentang sisi ke-perempuan-an saya. Tapi secara saya luar dalam, dari lahir sampai detik ini masih perempuan, jadi kayaknya apapun yang saya ceritain tentang diri saya mencakup sisi ke-perempuan-an lah ya (termasuk kebiasaan saya bangun siang dan “hemat air”).

Saya anak kedua dari tiga bersaudara, berkakak perempuan dan beradik laki-laki. KTP Bogor, SD & SMP Bekasi, SMA Jakarta, dan kuliah Depok. Hobi saya sangat beragam mulai dari yang standard kayak baca dan nonton film, yang “girly” kayak beli make up, baju, dan sepatu, dandan, gosip-gosip cantik, hingga ngeliatin tiang listrik, sistem distribusi listrik, panel surya, dan gosip-gosip ilmiah sama kakak saya. Cita-cita saya masih dipertimbangkan, sekarang baru sampai tahap “Menjadi manusia yang dapat membuat perbedaan bagi sesama dan lingkungannya dengan cara……” (yang mau bantu silakan).

Di penghujung masa-masa SMA, saat semua orang berusaha menentukan langkah ke depan mereka, saya sedang berusaha menyeleksi probabilitas jurusan dengan cara mengevaluasi kemampuan dan level kemageran menghadapi kesulitan yang mungkin akan saya temukan di kuliah. Akhirnya pilihan pun jatuh ke Teknik Elektro dengan alasan saya nggak suka IPS dan Biologi, saya nggak ngerti Kimia organik, dan saya nggak bisa gambar. Teknik Elektro sebagai satu-satunya jurusan teknik tanpa mata kuliah Gambar Teknik pun menjadi pilihan. Ditambah lagi, om (paman, pakde, dsb) ngomporin dengan iming-iming prospek yang bagus kedepannya “karena belum banyak perempuan di bidang itu.” Maka dengan diiringi doa dan kepasrahan kepada Tuhan yang Maha Esa, saya pun mendaftar dan puji Tuhan diterima.

4,5 tahun kemudian, nama saya pun bertambah panjang dengan gelar S.T (dan merupakan 1 dari 2 orang cewek Departemen Teknik Elektro yang diwisuda semester itu). Maka teringatlah saya akan janji-janji yang saya terima sebelum dan semasa kuliah, dan dengan percaya diri saya memasuki dunia pencari kerja. Dengan bersenjatakan ijazah dan transkrip yang puji Tuhan menurut saya cukup menjual, sayapun mencari medan pertempuran. Dan apa yang saya temukan? “LOWONGAN KERJA: Posisi project engineer, menerima fresh graduate, S1 minimal IPK 3.00, maks. 27 tahun, LAKI-LAKI”. Untuk semua iklan lowongan kerja yang saya temukan. “LOWONGAN KERJA: (1) Administrasi (2) Engineer (3) Teknisi (4) Marketing *Posisi (2) (3) untuk PRIA). Ini maksudnya apa?! Saya pikir saya spesial! Selamat datang di dunia nyata, Bung.

Puncaknya adalah ketika beberapa perusahaan besar yang saya temukan juga mempunyai klausa di atas untuk semua lowongan mereka. Bahkan salah satu anak perusahaan BUMN yang menggunakan sistem online menerapkan kebijakan berikut: kalau kamu udah masukin jenis kelamin “Perempuan” maka daftar pilihan pekerjaan yang bisa kamu pilih akan secara signifikan LEBIH SEDIKIT daripada kalau kamu masukin jenis kelamin “Laki-Laki”. Dari beberapa diskusi dengan temen-temen saya, beberapa alasan yang saya denger adalah itu merupakan cara mereka untuk menyaring pegawai yang akan di-assign di lapangan karena engineer cewek bakal lebih susah kalau disuruh kerja di lapangan, manjat tiang listrik dan trafo, dan panas-panasan di bawah terik matahari khatulistiwa. Keren banget nggak sih? Semua keringat, air mata, begadang, dan laporan praktikum saya semata kuliah sekarang jadi dihargai dengan setengah harga karena stereotip.

Sebagai seorang manusia yang udah sering ngebolang Bekasi — Blok M sejak kelas 5 SD naik Mayasari Bakti, saya nggak tau mau ngomong apa sih ketika kerelaan saya untuk panas-panasan, jalan jauh, dan kerja fisik dipertanyakan. Harapan saya, itu cuma kondisi birokrasi dan gaya kepemimpinan sekarang aja. Mengingat waktu ujian saya nggak dikasih soal yang lebih mudah, waktu ngerjain tugas saya nggak dikasih deadline yang lebih panjang, dan waktu bolak-balik rumah-kampus saya nggak disediaiin mobil pribadi karena saya cewek. Asumsi saya adalah generasi saya dibentuk untuk menilai orang dari kualitas dan kapasitas profesionalnya sebagai hal yang paling utama. Dan kalau yang membentuk itu nggak siap untuk ikut terbentuk ke cara pandang ini, nggak tau deh bakal kemana potensi-potensi bangsa yang sebenernya mampu dan mau manjat trafo dan kerja lapangan tapi nggak dapet kesempatan demi “efektivitas” proses rekrutmen.

Sekian harapan saya. Waktunya tidur sebelum besok menghadapi panas, debu, dan sesaknya Kopaja sekalipun saya perempuan. Ha.

Catatan: Artikel ini adalah publikasi ulang dari artikel yang sama di kamiperempoean.wordpress.com tertanggal 27 Mar 2017.

Like what you read? Give Kami Perempoean a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.