Kegagalan Wawancara Kerja Membuat Saya Semakin Memahami Diri Saya

Saya Amalia Nur Fatmaningsih. Saya disabilitas tunadaksa tanpa alat bantu, lulusan D3 Bisnis Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan wawancara di beberapa perusahaan. Setelah saya lulus dari universitas, saya banyak mengirimkan lamaran pada lowongan-lowongan yang saya temukan. Saat itu lowongan yang saya lamar bukan dari Kerjabilitas, karena saya belum tahu Kerjabilitas. Hingga saat ini saya sudah 8 sampai 10 kali melakukan proses wawancara kerja.

Beberapa kali saya dipanggil untuk wawancara kerja, tidak semua berjalan dengan baik. Bahkan saya sempat merasa trauma untuk menghadiri wawancara kerja kembali. Saya pernah wawancara di sebuah perusahaan distributor beras. Saat itu perusahaan sudah mengetahui jika saya berbeda dengan yang lain. Namun perusahaan sempat membuat saya hilang kepercayaan diri, saat perusahaan bertanya apakah saya bisa menggunakan sepeda motor. Kondisi saya yang tidak bisa menggunakan sepeda motor menjadi alasan perusahaan untuk membuat saya mengundurkan diri. Saat saya menyampaikan bahwa saya bisa menggunakan angkutan umum, perusahaan malah mengatakan kalau gaji saya tidak akan cukup jika digunakan untuk biaya transportasi dengan kendaraan umum. Sampai-sampai perusahaan menyarankan saya untuk belajar menggunakan sepeda motor.

Dari pengalaman itu, mental saya runtuh seketika. Tiba-tiba saya merasa memiliki banyak kekurangan dan tidak bisa melakukan apa-apa. Namun saya tidak ingin berlarut-larut memikirkan pengalaman kurang menyenangkan tersebut. Saya terus mengirim lamaran pada lowongan-lowongan yang saya temukan dan menunggu panggilan untuk wawancara.

Semangat saya terus berkobar untuk kembali wawancara. Saya berpikir, jika saya akan banyak belajar dari pengalaman. Sebelum wisuda, saya pernah mendapat pembekalan dari kampus untuk menghadapi wawancara kerja. Pembekalan itu seperti kelas yang berisi penggambaran bagaimana menghadapi wawancara kerja. Kemudian saya berpikir, walaupun saya gagal pada wawancara dan ditolak, setidaknya perusahaan sudah membaca kemampuan saya, dan hal yang paling baik lagi adalah saya mendapatkan teman baru sesama pencari kerja.

Tidak semua wawancara yang pernah saya alami berjalan dengan tidak baik. Ada juga yang menurut saya sangat berkesan. Misalnya, saya pernah mengalami wawancara kerja yang unik. Unik yang saya maksud di sini karena wawancara kerja tersebut membuat saya jadi lebih tahu karakter saya dan juga menjadi lebih paham siapa diri saya. Dari semua wawancara yang pernah saya lakukan, pada wawancara itulah saya merasa lega selepas wawancara selesai. Walaupun pada akhirnya sampai sekarang saya masih belum mendapatkan pekerjaan.

Menurut saya, ada untungnya juga saya belum memiliki pekerjaan, karena saya jadi bisa menemani ibu saya dan menekuni hobi saya menulis di blog dan sesekali bekerja paruh waktu sebagai penulis. Namun saya tetap yakin suatu saat saya akan mendapatkan pekerjaan yang baik.

Sebagai penyandang disabilitas yang tidak menggunakan alat bantu dalam mobilitas, saya tidak pernah bertanya apakah perusahaan yang mewawancarai saya aksesibel bagi penyandang disabilitas atau tidak. Ketika saya mendapatkan panggilan wawancara, saya hanya bertanya detail lokasi dari perusahaan tersebut.

Selanjutnya, saya akan membagikan tips bagi teman-teman penyandang disabilitas yang akan menghadapi wawancara kerja. Pertama-tama, sebaiknya kita menjelaskan detail kondisi kita. Ceritakan semua tentang kondisi dan juga mobilitas kita. Hal ini penting untuk dilakukan agar perusahaan yang memanggil kita untuk wawancara bisa tahu jika kita adalah penyandang disabilitas. Kedua, seperti para pencari kerja yang diwawancara pada umumnya, kita juga harus siap dengan pertanyaan terkait gaji yang kita inginkan.

Dari 10 kali wawancara kerja yang pernah saya ikuti, semuanya adalah wawancara dari perusahaan yang membuka lowongan secara umum, bukan khusus bagi penyandang disabilitas. Adanya Kerjabilitas membuat saya semakin bersemangat untuk mengirimkan lamaran, karena tentunya semua lowongan yang ada di Kerjabilitas sudah terverifikasi terbuka bagi penyandang disabilitas. Jadi ketika saya mengirim lamaran, perusahaan sudah akan tahu bagaimana kondisi saya.

Sampai saat ini saya masih memegang teguh keyakinan bahwa kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang tertunda. Jadi walapun saya sudah beberapa kali ditolak, saya tidak akan menyerah. Saya akan terus mengirim lamaran. Pesan saya untuk teman-teman penyandang disabilitas yang sedang mencari pekerjaan, agar tetap berpikir positif dalam setiap kondisi. Karena berpikir positif akan membuat diri kita bersemangat. Semoga teman-teman bisa mengambil semangat dari pengalaman kegagalan saya pada beberapa wawancara kerja yang saya ikuti. Terus semangat dan jangan pernah takut gagal.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.