KHARISMA FIB UNDIP
Published in

KHARISMA FIB UNDIP

Menilik Sedikit tentang Ketidaktahuan Saya akan Dakwah Kampus

Tepat di penghujung tahun 2020 lalu, meski sejak awal saya sudah bersiap dan memperkirakan kejadian ini, tetap saja agak kaget ketika melihat nama saya terpampang di layar, menyebutkan bahwa saya telah terpilih menjadi mas’ul (setara ketua umum) Kharisma untuk tahun 2021. Bukan apa-apa, hanya saja saya penasaran pertimbangan macam apa yang dipakai oleh pihak-pihak yang memberikan argumen penguatan tentang Arya Rahmadi sebagai ketua umum selanjutnya. Namun kemudian tidak lagi saya pusingkan perkara itu hingga berlarut-larut ataupun mengeluh dengan menggumamkan kata “merepotkan” sepanjang hari. Memang bukanlah ‘kesalahan’ dari saya sendiri kalau ternyata nama sayalah yang harus mengisi jabatan seorang ketua umum, tetapi tanggung jawab yang terlimpah harus tetap saya pikul, siap atau tidaknya. Ibarat kamu hendak pergi ke masjid untuk sholat Subuh tapi tiba-tiba kamu jumpai di depan pintu rumahmu sebuah keranjang berisi bayi mungil yang sedang terlelap, walau kamu tak punya kesalahan apapun kamu harus tetap ambil tanggung jawabnya, begitu. Mengutip Mark Manson (2018), kalau kamu pernah menonton serial Spiderman, pasti familiar dengan kutipan “Kekuatan besar melahirkan tanggung jawab yang besar”. Tapi kalau dalam kasus saya jadinya malah “Tanggung jawab yang besar menuntut kekuatan yang besar pula”. Makanya, saya sudahi semua keluh kesah lalu bergegas mengisi hati saya dengan rasa syukur, ikhlas, dan doa.

Kalau ditanya soal “apa perubahan yang ingin kamu bawa pada Kharisma” kepada saya, ada beberapa ihwal yang ingin saya ikhtiarkan terkait hal ini. Berkaitan dengan hal ini agaknya dapat disimak dahulu paparan saya di bawah ini yang ‘terilhami’ (kalau tidak mau disebut membeo) pemikiran Alm. Kuntowijoyo.

Persoalan dakwah dalam dekade terakhir ini berbeda dengan dua puluh tahun lalu ketika buku Muslim Tanpa Masjid karya Kuntowijoyo diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Kendati demikian, pokok-pokok pemikiran Kuntowijoyo yang tertuang di dalam bukunya itu saya nilai masih amat relevan jika berbicara tentang realitas umat Islam pada masa sekarang. Imajinasi sejarahnya mengatakan bahwa pada tahun 2020-an umat (Islam) akan menghadapi arus liberalisasi yang semakin kompleks, dan sulit atau bahkan tidak bisa dijawab dengan bekal dan peralatan yang ada pada umat sekarang.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa akibat tekanan liberalisme politik dan ekonomi yang kapitalistik, umat, khususnya mereka yang berkecimpung dalam upaya dakwah semakin tidak berdaya kecuali dengan melakukan apa yang disebut memperjuangkan nilai-nilai Islam melalui jalan ekonomi (Tim Peneliti INSEP, 2011: 17); tidak lagi dengan upaya fisik (revolusi/ jihad) kecuali akan dicap sebagai teroris. Setuju atau tidak, Islam kemudian menjadi komoditas yang terus diputarkan agar keberadaannya tetap eksis. Meski penyebutan ‘komoditas’ itu lumayan keterlaluan dan tidak sepenuhnya tepat karena mereka yang berkaitan dengannya tidak mencari keuntungan pribadi.

Untuk menjawab persoalan ini umat perlu mengejar ketertinggalan dalam banyak hal. Berjuang lewat sentimen dan ideologi sudah bukan lagi zamannya. Nilai seseorang di zaman sekarang adalah ilmu.

Kalau dulu Kuntowijoyo pesimis terkait ketertinggalan umat dalam hal sains dan teknologi, sekarang saya sedikit optimis tentang hal ini setelah melihat potensi beberapa orang yang — Kuntowijoyo menyebutnya creative minority — mungkin bisa membawa Indonesia sedikit lebih maju dalam hal teknologi. Baiklah, mungkin sains dan teknologi bukan kapasitas saya, dan kita berdoa saja supaya banyak sarjana sains yang masih punya idealisme. Kemudian, umat setidaknya masih punya peluang untuk mengejar ketertinggalan dalam hal sosial dan humaniora. Permasalahan politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan budaya setidaknya masih bisa ditangani oleh umat dengan mengandalkan ilmu pengetahuan yang disertai iman dan takwa, bukan mengandalkan teori persekongkolan (conspiracy theory). Walaupun late enough, sekiranya jangan sampai too little.

Di dalam buku Muslim Tanpa Masjid tidak disebutkan secara spesifik bagaimana penulisnya menanggapi tentang persoalan lembaga dakwah kampus atau pun kedakwah-kampusan. Esai-esai yang ada banyak membahas dalam lingkup nasional, realitas umat yang terjadi pada dekade itu (2000-an) serta beberapa imajinasi sejarahnya tentang realitas umat pada dekade sekarang (2020-an). Karenanya mungkin akan saya jelaskan sedikit tentang upaya yang perlu dilakukan oleh LDK sebagai salah satu anasir umat. Upaya-upaya itu tergolong dalam pembenahan budaya akademis: landasan imtaq (religiositas) dan iptek (ilmiah), membumi (realistis), dan kesediaan menerima perbedaan (pluralitas).

Landasan imtaq dan iptek. Sudah sangat jelas rujukan utama dan pertama seorang Muslim adalah ajaran agamanya. Perkara iman dan takwa juga, selain menjadi patokan, juga menjadi tujuan kita. Karena itu nilai-nilai Islam yang fundamental maupun yang universal harus tetap mengisi setiap kegiatan yang dilaksankan oleh LDK. Landasan imtaq menjadi ruh (esensi) untuk semua bidang (keinternalan, kaderisasi, syiar, mentoring, pelayanan umat, kemuslimahan, media informasi, dan usaha ekonomi). Kemudian, agar lebih mampu dicerna dengan mudah oleh segenap civitas academica, konsep dan pengemasan bentuk kegiatan yang ada harus dibuat dengan mempertimbangkan keabsahannya secara ilmiah. Kalau suatu materi atau pembahasan dibawakan dengan gaya yang ‘dogmatis’, kemungkinan masih diragukan efektivitasnya. Baiknya kita atur porsi antara ihwal yang normatif, ideologis, dan ilmiah agar ketiganya bisa berfungsi di saat yang tepat. Hal ini diperlukan agar peta permasalahan yang dihadapi bisa jelas sehingga kita tidak keliru dalam menempatkan suatu hal atau saat bertindak. Imtaq diibaratkan kompas yang tetap menunjukkan arah mata angin secara tepat sejak dahulu hingga seterusnya, bersyukur kita punya kompas yang tidak akan pernah cacat. Jika imtaq ibarat kompas, iptek ibarat peta yang perlu dipahami agar kita tahu kondisi lapangan yang serba dinamis.

Membumi. Kuntowijoyo (2001: 98–99) menyebutkan bahwa kritik yang sering dilontarkan orang terhadap agama ialah agama menjauhkan orang dari realitas, agama adalah candu yang menjadikan orang berpaling dari problematika yang riil (Karl Marx), karenanya agama adalah ilusi yang membuat orang bermimipi tentang realitas imajiner sehingg perlu dihilangkan (Sigmund Freud). Kesalahan fatal yang dilakukan oleh para pengkritik adalah terlalu berani melakukan generalisasi terhadap agama-agama yang ada, dan tidak pernah bersungguh-sungguh mempelajari agama tapi malah mendefinisikan agama menurut gambarannya sendiri, lalu mengkritiknya. Padahal, dalam Islam sendiri, selain tasawuf ada pula syariah, selain urusan spiritual ada pula urusan ritual dan sosial, keduanya resmi mewakili Islam sebagai agama. Perlu digarisbawahi memang kalau penerapan syariah bukan hanya lewat politik, tetapi juga bisa lewat budaya. Keduanya penting dan tidak bisa diabaikan salah satunya. Permasalahan dalam realitas kontemporer saat ini yang memakai istilah seperti penindasan ras tertentu, kekerasan seksual, kemiskinan struktural, terorisme, kerusakan lingkungan, dan sebagainya, agaknya perlu direspon secara tepat dan perlu perumusan yang benar-benar matang.

Kesediaan menerima perbedaan. Masyarakat kampus yang majemuk mendorong terjadinya persilangan atau bahkan benturan pemikiran. Kalau kita merespon sebuah pemikiran dengan antitesis, dikhawatirkan kita hanya terjerumus pada idiosinkrasi (harus serba beda) dan bukan kritik yang konseptual. Perhatian kita patutnya diarahkan pada we versus it alih-alih we versus you atau we versus them. Lawan kita sebagai masyarakat sipil adalah permasalahan-permasalahan umat yang masih belum dituntaskan, bukan pihak tertentu.

Sebuah Lembaga Dakwah Kampus hanya bagian remeh dari umat dan bangsa, bagian kecil dari sekian jumlah orang yang berkecimpung dalam dakwah. Upaya-upaya yang dilakukan oleh LDK memang terhitung sedikit dan entah diperhitungkan atau tidak. Namun, kita tidak harus merasa rendah diri. Fokus kita bukan kemenangan umat yang temporal di permukaan, tetapi upaya jangka panjang untuk memperbaiki salah satu sumber daya umat yang kini menyandang nama yang cukup asing yaitu “mahasiswa”. Berdoa saja semoga hal itu menjadi guliran bola saju yang turun dari tepi lereng bersalju. Terakhir, kembalikan niat kita hanya untuk mengharap ridho Allah semata.[]

Referensi:

Kuntowijoyo. 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Penerbit Mizan.

Tim Peneliti INSEP. 2011. Al-Zaytun: The Untold Stories. Jakarta: Pustaka Alvabet.

Manson, Mark. 2018. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Terjemahan oleh F. Wicakso. Jakarta: Grasindo.

--

--

Keluarga Humaniora Islam Madani, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Arya Rahmadi

Arya Rahmadi

Language and tech junkies, sometimes review somethings.