KHARISMA FIB UNDIP
Published in

KHARISMA FIB UNDIP

Sebuah Zaman Tatkala Hantu Telah Tiada

Bagaimana jika mereka pun tidak tahu tentang hal gaib?

Ingat Aku?

Aku ceritakan kepadamu, kawan. Sebuah kisah yang tidak pernah terbayangkan oleh kakek nenek kita berabad-abad sebelumnya.

Kau tahu? Hantu sudah tidak ada.

Nah, sekarang, harus aku mulai cerita dari mana ya?

Oh, tapi tampaknya aku tidak bisa menceritakannya saat ini juga. Baru saja aku teringat perihal seseorang yang aku punya janji dengannya. Kalian mengerti betul ‘kan kalau salah satu ciri orang munafik itu “apabila berjanji ia ingkar”, dan aku tidak mau dicap begitu. Oke, waktunya berangkat.

Tentang orang ini… dia aneh, cuping telinganya panjang dan lancip. Pertemuan awal kami berkaitan dengan urusan pekerjaan. Lebih kurang itu terjadi sebulan lalu, di sebuah perpustakaan bergaya klasik, di sebuah daerah yang kamu tidak akan bisa kunjungi.

“Ada masalah?” gadis itu berucap dengan agak serius, sadar akan aku yang bengong beberapa detik menatapnya.

“Tidak. Maaf.”

Kampret! Kupingnya panjang amat.

Beruntung aku mengamini nasihat lama yang berbunyi, “Hargailah setiap perjumpaan” sehingga kami pun bisa cukup akrab. Selanjutnya, kami saling berbagi cerita. Pertama, tentang aku yang seorang manusia, peladang yang menghabiskan hari-hari dengan menanam berbagai palawija, pernah gagal panen karena hama, lalu merugi, kemudian pulih berkat bantuan teman yang pandai mengelola bisnis, dan entah bagaimana bisa sampai bertemu dengan gadis bertelinga panjang yang menjaga perpustakaan bersejarah setelah mendengar kabar burung kalau di perpustakaan itu tersimpan pengetahuan tentang bagaimana mengatasi hama dengan menciptakan ekosistem bagi hama tersebut. Ah, rumit!

Nah, cerita dariku selesai. Aku pikir cerita darinya akan membuatmu tertarik.

Namanya Ilyna. Panggil saja Ily. Pekerjaannya sebagai penjaga perpustakaan telah dilakoninya selama kurang lebih lima ratus tahun.

“Sebenarnya kau ini apa?” tanyaku.

“Aku jin, tepatnya ras Elwa. Ras kami memiliki ciri telinga yang panjang, berumur terlalu panjang, serta gila akan ilmu pengetahuan. Kau harusnya sadar dan mempertanyakan kenapa bangsa jin sepertiku bisa memahami bahasa manusia, bahasa yang kau tuturkan.” Ily menjelaskan.

Tunggu, biarkan aku bernapas sebentar. Aku pernah menonton film tentang makhluk yang mirip dengan ciri-ciri jin ras Elwa ini. Apa ya namanya? Sang Tuan dari Cincin? Entahlah.

“Jadi, jin itu banyak jenisnya? Hah, aku pikir mereka itu satu kesatuan.” Lagipula, mana mungkin aku bisa tahu hal-hal semacam itu.

“Begitulah. Dibanding manusia yang hanya punya perbedaan minor, bangsa jin benar-benar majemuk. Kau tahu? Ada ras Danawa yang berbadan raksasa, ada ras Anggara yang sekujur badannya ditutupi surai, ada ras Mante yang kerdil, ras Baharia yang menguasai lautan, ras Jalma yang fisiknya mirip manusia, lalu…”

“Cukup, cukup. Terima kasih banyak, tapi pengetahuan itu tidak akan menghasilkan uang bagiku.” Sungguh, ‘gila pengetahuan’ memang bukan hiperbola semata.

Aku menyeruput minuman serupa teh yang dihidangkan oleh Ily. Sehabis melihat semangatnya yang menggebu-gebu saat menjelaskan sesuatu, aku jadi trauma untuk bertanya tanaman jenis apa yang dipakai sebagai bahan baku minuman ini. Bisa-bisa ia kambuh dan menghadiahiku setumpuk buku tentang keragaman flora dunia jin. Walau demikian, aku takjub pada wawasan dan keingintahuan yang dimiliki Ily dan ras Elwa pada umumnya. Tidak heran bila arsip dan catatan pengetahuan dari waktu yang sangat lampau bisa terjaga dengan baik.

Ingatanku selama satu bulan ini cukup membekas gara-gara gadis berusia 934 tahun itu selalu beralih ke mode guru cerewet setiap kali aku berkunjung. Memang gilanya itu sudah kelewatan.

Oke, sesuai janjiku. Aku akan ceritakan sebuah kisah yang tak pernah terbayangkan oleh nenek moyang kita dahulu. Kisah yang aku dengar dari Ily ini sampai membuatku berkata “wah” berulang kali. Inilah kisah tentang bagaimana dunia bisa berakhir seperti sekarang dan mengapa tidak ada lagi yang namanya hantu di dunia ini.

Pada zaman dahulu, dimensi atau matra antara dunia manusia dan jin terpisah. Mereka sama-sama hidup di bumi, tetapi dengan kosmologinya masing-masing. Antara dua matra itu tidak saling mengganggu. Barang siapa hendak mampir ke matra yang lain, dia butuh energi yang besar. Hanya orang-orang terpilih (dari golongan jin dan manusia) yang bisa pulang pergi antar-dimensi. Waktu berlalu dan menggilas berbagai zaman, di dunia manusia teknologi berkembang. Tidak hanya di dunia manusia, para jin pun mengembangkan teknologinya sendiri. Tidak kalah ironis dari perilaku manusia, bangsa jin juga menindas sesamanya dengan kepemilikan aset teknologi yang tidak merata. Kau ingin tahu bagaimana hantu terwujud? Inilah rahasia yang hanya aku ceritakan kepadamu seorang.

Ada sebuah teknologi bernama “jimat” yang memungkinkan seorang jin untuk menampakkan wujudnya di dunia manusia. Akan tetapi, jimat ini akan menguras energi hayat dari si pemakai. Bertahun-tahun alat ini ditinggalkan dan pabriknya dibuat mangkrak sebelum akhirnya seorang bangsawan dari ras Jalma memproduksinya secara massal. Dia tawarkan jimat kepada para jin jelata dari berbagai ras dengan harga murah. Untuk apa? Sebelum itu, dia melarang dan merampas setiap lahan milik setiap orang untuk dijadikan properti pribadi para bangsawan, para kawula hanya bertugas menggarapnya dengan upah murah. Dia lalu membuat sebuah sayembara, bagi siapa saja yang bisa menghibur dirinya dengan cara menakuti manusia, akan dihadiahkan sepuluh petak tanah secara cuma-cuma. Dia menawari banyak orang agar membeli jimat dengan harga murah dengan dalih supaya setiap orang punya kesempatan yang sama untuk mengikuti sayembara ini. Banyak orang berbondong-bondong membeli jimat itu.

“Menakuti manusia ya? Tampaknya gampang saja. Aku dengar rumor kalau mereka itu mudah sekali was-was.” pikir para jin.

Berbagai modus operandi mereka jalankan. Teknik dasar yang mereka pakai adalah membuat mitos ketakutan yang dipercayai manusia menjadi nyata. Contohnya, di sebuah tempat bernama Jawa, ada cerita rakyat yang muncul di masyarakat tentang kuntilanak. Kuntilanak adalah arwah perempuan gentayangan yang mati dengan tidak tenang sehingga berniat membalas dendam kepada para pemerkosa atau pembunuhnya. Nyatanya, cerita ini hanya rekaan yang diciptakan agar lelaki hidung belang tidak berani macam-macam terhadap perempuan. Adanya cerita ini mengilhami para jin wanita yang miskin untuk berdandan seram serta memakai kain putih seadanya sebagai modal menakuti manusia.

“Alhamdulillah ya mbak, bisa ikut sayembara pakai modal minim.” ucap seorang jin wanita pada temannya.

Namun, sayembara tidak semudah yang diperkirakan. Jimat itu dengan ganas merenggut nyawa beberapa jin yang jiwa raganya lemah. Muncul protes yang menuntut agar si bangsawan bertanggung jawab, tapi ia mengelak dengan baiknya.

“Bukannya mereka sendiri yang memilih mati karena buta akan harta? Tidak ada jalan pintas untuk sukses, kalian semua kembalilah bekerja!” tegas si bangsawan.

Sekian abad berlalu, sayembara masih ada. Tetapi hanya mereka yang memiliki cukup kekuatan yang bernyali untuk ikut. Bagi si bangsawan, kehilangan beberapa petak tanah bukan hal penting. Dia hanya mencari pelipur lara atas anak dan istrinya yang telah lama meninggal. Satu hal yang jelas, sayembara ini niscaya akan berakhir, tanpa menunggu kematian si bangsawan itu.

“Telat…”

“Maafkan aku.”

Dingin sekali. Maksudku tentang udara di luar. Tentu saja, ini sudah masuk musim dingin. Tidak ada yang bisa tahan dengan cuaca yang keterlaluan ini, termasuk palawija yang kutanam. Untungnya, aku sudah selesai panen pada musim gugur lalu dan dapat mengamankan persediaan untuk triwulan ini.

Sementara itu, untuk menjaga kelembapan agar tidak terlalu pekat, setiap hari Ily selalu memeriksa penghangat ruangan yang dipasang agar buku-buku dan dokumen tidak rusak. Ia juga rajin membersihkan debu atau jaring laba-laba yang mungkin hinggap di tiap rak yang berjejer. Urusanku kali ini adalah belajar padanya tentang botani, terkhusus perihal tanaman apa saja yang mungkin bisa dibudidayakan dan memiliki nilai guna.

“Bacalah ini!” Ily menyodorkan sebuah buku tebal kepadaku. “Sisanya kau bisa baca di rumah, jika ada yang membingungkan tanyakan padaku kapan saja.”

Hmm, sudah kuduga akan seperti ini.

“Oke.”

Ya ampun, aku ingin pulang dan bersantai.

Tapi sebelum itu, tentu kau penasaran kenapa aku dan Ily bisa berada di tempat yang sama. Oleh karena aku sedikit lupa pada apa yang dijelaskan Ily tempo hari, mari kita dengarkan langsung dari orangnya!

“Ily, bisa jelaskan lagi soal dua matra yang bersatu dan peristiwa kiamat pertama?” tanyaku.

“Dasar manusia, kalau kau sadar umurmu pendek, setidaknya milikilah ingatan yang panjang.” tukas Ily.

Sialan!

“Akan kujelaskan sesingkat mungkin, pekerjaanku masih banyak.”

Mari kita simak baik-baik!

“Sekitar dua ratus tahun lalu, manusia dan jin telah sampai pada titik puncak perkembangan teknologi. Dengan beracuan pada hasil perhitungan yang hampir mustahil, manusia dan jin sama-sama nekat mencoba untuk mendobrak ‘dinding tak tertembus’ yang memisahkan dua matra itu. Ajaibnya, itu berhasil. Manusia menyebut peristiwa ini dengan istilah “Tumbukan Besar”. Sebuah portal yang menghubungkan dua dunia kemudian tercipta. Naasnya, baik manusia maupun jin sama-sama serakah. Mereka berperang habis-habisan untuk merebut sumber daya alam dan melakukan pembersihan etnis. Perang itu terlalu mengerikan untuk dialami. Singkatnya, setelah perang berakhir dengan perjanjian damai, bangsa manusia dan bangsa jin yang tersisa membangun kembali peradaban, mereka menciptakan teknologi yang memungkinkan seseorang untuk bepergian lintas dimensi demi mempermudah kerja sama yang dilakukan. Waktu demi waktu berlalu, kini perjalanan antar-matra adalah hal biasa. Namun, akibat adanya celah bekas Tumbukan Besar, iklim antara dunia jin dan manusia menjadi berkelindan dan saling mempengaruhi. Tamat dengan bahagia.”

Begitulah kisahnya kawan, semenjak itu pula, hantu tidak pernah ada lagi. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan selain kehilangan jati diri dan rasa tanggung jawab. Mungkin kalian bertanya-tanya, “Lalu setan itu apa? Tuhan itu benar adanya atau tidak?”

Untuk yang pertama kalian tanyakan sendiri pada Ily. Mampirlah sesekali ke perpustakaan klasik tempat di mana ia bisa dijumpai. Nah, untuk pertanyaan yang kedua, itu benar-benar bagus. Aku bisa rehat sejenak dari membaca ensiklopedia flora yang membuatku pusing.

“Nona Ilyna…”

“Apa-apaan panggilan itu.”

“Kau dan mungkin ras Elwa lainnya, apakah tahu keberadaan Tuhan?”

Helaan napasnya terdengar sampai kemari.

“Tidak tahu.” jawab Ily.

“Hmm, jin kafir.” Aku terkekeh setelah mengatakannya.

“Sembarangan!” Dia tampak marah. “Pertanyaanmu salah, bodoh. Kami, ras Elwa memang mengetahui dan menghargai segala bentuk ilmu pengetahuan. Akal kami bisa menjangkau segala yang terlihat oleh mata kepala dan empiris secara sifat.”

Aku mengangguk.

“Tapi… kau pikir kami bisa paham tentang perkara gaib. Keberadaan Tuhan, cara kerja takdir, kehidupan setelah kematian, atau surga dan neraka, itu di luar jangkauan akal budi.” ucap Ily.

“Karena itulah …” sambungnya. “Aku memilih untuk percaya.”

Gaib, kah? Padahal dulu, bagi manusia, keberadaan kalian juga terlalu gaib. Tapi, ya, keadaan sekarang adalah takdir. Barangkali memang begitu kehendak Tuhan.

“Ya, menarik sekali.” Buku-buku yang dipinjamkan Ily, aku taruh ke dalam tas. “Kalau begitu, aku pulang dulu, matahari hampir terbenam.”

“Setidaknya ucapkan sebelum kau pamit.” sahut Ily.

“Oh, baik. Sampai jumpa lagi.” Aku beranjak keluar.

“Harusnya… ‘Assalamualaikum’, begitu ‘kan?”

Sumpah, bilang dari awal dong.

“Ya, assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

(Selesai)

--

--

Keluarga Humaniora Islam Madani, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Arya Rahmadi

Arya Rahmadi

Language and tech junkies, sometimes review somethings.