Indonesia Science Expo 2019
Pameran Indonesia Science Expo (ISE) 2019 ini lebih besar dan meriah dibanding event serupa yang saya kunjungi sebelumnya. Apalagi bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City yang memang representatif sebagai tempat pameran. Lobby-nya cukup leluasa bagi LAPAN untuk memamerkan roket dan pesawat nirawak buatan mereka.

Tapi kok terasa lebih sedikit ya exhibitornya? Kalau dihitung booth anak-anak dan remaja yang ikut lomba, memang cukup banyak sih. Padahal pengunjung cukup ramai karena banyak rombongan siswa. Mungkin juga karena waktu kunjungan saya yang singkat dan jam tutup pamerannya terlalu siang, saya jadi kurang banyak menjelajah ke berbagai booth.
Meski demikian, dalam kunjungan sehari pada tanggal 23 Oktober, saya tetap menemukan hal-hal kecil yang menarik. Kalau bisa dibilang kecil sih.
“Everywhere I Go, I See His Face”
Booth dari perguruan tinggi memamerkan hasil penelitian sivitas akademika mereka. Kebanyakan bidang penelitian mereka luas, tapi hampir pasti ada poster penelitian UAV atau pesawat drone. UAV sepertinya salah satu objek penelitian favorit di kalangan mahasiswa karena selain implementasinya beragam, UAV juga terlihat keren. Melihat poster-poster itu saya merasa seperti …

Yang jaga booth biasanya dari direktorat penelitian atau semacam pusat inkubasi bisnis berbasis riset. Orang-orang ini biasa menghandle banyak hasil-hasil penelitian sivitas perguruan tingginya, tapi tidak terlibat langsung dengan penelitiannya. Jadi, ga bisa ditanya-tanya detail penelitian.
Menurut exhibitor dari UGM, ada banyak penelitian yang dikelola direktorat penelitiannya. Menurut situs mereka, direktorat ini juga melayani kerjasama riset industri dan pendaftaran hak kekayaan intelektual. Di UGM saat ini, banyak penelitian di bidang elektronika. Misalnya, ada penelitian membuat mesin batik. Jadi bikin batik tulis, tapi pakai robot.
Booth UI menampilkan mesin cek kesehatan dan penerapan VR untuk pendidikan medis menggunakan HTC Vive. UI memiliki program inkubasi bisnis dari penelitian sivitasnya dan tiap tahunnya menginkubasi sekitar 20 perusahaan rintisan. Yang menarik, penelitian-penelitian yang tidak masuk program inkubasi pun dirangkum dalam semacam buku katalog penelitian per tahun. Mungkin katalog serupa juga ada di perguruan-perguruan tinggi lain. Jadi, kalau kamu entrepreneur, birokrat, aktivis, dan politisi yang butuh ide serta percaya dengan kemampuan sains dan teknologi untuk mewujudkannya, datanglah ke kampus-kampus! Do it for Habibie’s sake!
Apakah Ada Semacam ‘Academic Bubble’?
Seorang dosen dari Universitas Negeri Malang menjelaskan permainan ludo yang ia modifikasi jadi peraga untuk mengajarkan topik ikatan antar molekul pada mata pelajaran kimia. Jadi karena ini adalah topik yang sulit, membuatkan peraga dalam bentuk permainan diharapkan dapat membantu siswa memahaminya. Selain itu, peraga ini juga dilengkapi dengan augmented reality untuk membantu menyampaikan materi secara visual. Peraga ini sudah menarik minat dari guru-guru kimia di Malang.
Dosen tersebut mengatakan juga kalau dia sedang mengamati respon dan masukan dari masyarakat. Lalu saya tanya, apakah sudah mencoba berkonsultasi dengan, misalkan, komunitas boardgame Malang? Dia bilang, ‘boardgame itu apa?’.

What. Saya bilang, ya yang Bapak bikin itu boardgame. Sayangnya saya sendiri tidak punya kontak komunitas boardgame (sebenarnya ada, tapi waktu itu tidak ingat), jadi hanya bisa memberikan keyword untuk membantu dosen tersebut mempelajari lebih lanjut, mungkin lewat googling.
Kejadian ini mungkin indikasi bahwa boardgame adalah istilah yang masih asing dan tren yang sangat terbatas. Tapi juga membuat saya berpikir, soal bagaimana arus keluar masuk informasi ke dan dari komunitas riset dan akademik terjadi saat ini. Bagaimana masyarakat tahu soal perkembangan penelitian di kampus dan bagaimana peneliti di kampus mencermati berbagai trend di luar bidang penelitiannya namun dapat membantu pengembangan penelitiannya? Mungkin selama ini sudah menjadi salah satu kerjaan dari lembaga semacam direktorat penelitian.
Hayati Terlalu Beragam, Ahli Terlalu Sedikit
Keanekaragaman hayati menjadi salah satu fokus utama dalam pameran ISE 2019 ini. Salah satu topik yang diangkat oleh LIPI adalah mengenai buah langka di Indonesia. Buah langka itu bukan buah yang susah ditemui di pasar ya ibu-ibu, tapi buah yang, singkatnya, terancam punah. Benar-benar langka di seluruh muka bumi. LIPI menjelaskan soal buah langka ini dalam talkshow di panggung kecil.


Booth utama LIPI juga menampilkan berbagai tanaman-tanaman unik yang jarang ditemui. Di booth ini, saya sempat mengobrol seru dengan seorang peneliti Biologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong Science Center. Peneliti — yang saya lupa tanyakan namanya — ini meneliti lumut kerak. Sebenarnya dia ingin menjadi ahli lumut karena ahli lumut di negeri ini belum banyak. Beda dengan di luar negeri. Namun lembaganya menugaskan dia untuk meneliti lumut kerak.
Dia sudah menjelajah ke berbagai daerah di Indonesia (tapi belum sempat ke bagian Timur), untuk mengambil sampel lumut kerak dan menentukan taksonominya. Artinya, dia meneliti sampel, mencocokkan berbagai karakteristiknya dengan database atau koleksi lumut kerak di herbarium, lalu menentukan apakah ini spesies baru atau spesies lama, lalu menamainya dengan penamaan latin, jika baru.
Ok, ini sebenarnya asumsi sotoy saya soal kerjaan taksonomi. Saya lupa tanya detail kerjaan taksonomi itu seperti apa. Jadi, kalau kamu ahli biologi, CMIIW.
Satu hal lagi yang lupa saya tanyakan adalah: “Who in their right mind would do such useless research?”. Tapi saya bisa membuat asumsi dari obrolan kami, bahwa lumut kerak ini memiliki potensi manfaat yang belum banyak digali. Saya juga googling sedikit kalau lumut kerak ini bisa dimanfaatkan sebagai obat atau perasa makanan. Lumut kerak juga berperan sebagai indikator kondisi udara di lingkungan sekitarnya.
Dalam dunia riset sains, ada banyak hal useless atau ‘kek ga ada kerjaan lain’ di mata masyarakat awam yang mungkin di kemudian hari menjadi penopang peradaban. Dan saya membayangkan, dengan luasnya daerah Indonesia beserta keanekaragaman hayatinya, untuk bidang biologi saja diperlukan banyak peneliti.
Menurut berita dari bulan Maret ini, ada 89 orang peneliti tiap 1 juta penduduk di Indonesia. Menurut World Bank, idealnya 4.000–5.000 orang per 1 juta penduduk. Jadi, yah, minimal tinggal 3.911 orang lagi, per 1 juta. Kalikan untuk 260 untuk 260 juta penduduk Indonesia, jadi, kira-kira kita tinggal butuh 1.016.860 orang lagi. Semoga kita sempat meneliti ratusan spesies serangga, tanaman obat, lumut, dan lumut kerak di hutan Indonesia, sebelum kita cuma bisa neliti sawit.
Btw lumut dan lumut kerak itu spesies yang berbeda jauh ya. Cek biologi SMA.
Dana Riset
Di booth yang sama, terdapat hasil-hasil penelitian dari berbagai kelompok penelitian di LIPI Bandung. Di antaranya pupuk padatan slow release yang dibuat dari mineral dan bebatuan, radar navigasi portabel, ultrafine micro/nano bubble generator, dan pengembangan IoT untuk smart room. Untuk yang terakhir ini, saya sempat mengobrol dengan penelitinya yang masih kelihatan muda.
Fokusnya adalah mengembangkan model sistem IoT dengan multi-modal fusion, artinya mengendalikan suatu alat elektronik rumah dengan menggabungkan dua sensor. Misalnya, dalam model sistem yang dikembangkan oleh peneliti ini, dia menggunakan Kinect untuk mendeteksi gerakan tubuh seseorang dan sensor audio sehingga kita bisa bilang ‘nyalakan lampu’ dan menunjuk lampu yang ingin dinyalakan, lalu lampu yang ditunjuk nyala sedangkan yang lainnya tidak.
Ini penelitian yang cukup menarik, meski saya masih ragu apakah ini cukup praktis untuk diimplementasikan. Saya tertarik dengan Kinect yang digunakannya. Kinect adalah perangkat dari Microsoft yang digunakan sebagai kontroler pada konsol game X-Box, dan dapat mendeteksi gerakan tubuh manusia secara akurat. Penelitiannya dapat juga dikembangkan di bidang video game. Karenanya saya menanyakan latar belakang penelitiannya.
“Sebenarnya latar belakang saya dari jurusan game (S2 ITB), tapi penelitian di bidang game susah dapet pendanaannya”, katanya sambil senyum. Ah, ya. Masalah dunia akademik dengan industri video game yang gak nyambung tea. Sebenarnya agak wajar kalau pendanaan penelitian lebih diprioritaskan untuk riset yang manfaatnya lebih mudah dijelaskan (kita akui saja, video game manfaatnya agak susah dijelaskan). Tapi booth selanjutnya yang saya kunjungi membuat saya berpikir bahwa prioritas pendanaan bukan soal manfaat saja.
Di dekat booth LIPI Bandung ini, ada booth dari Kelompok Penelitian Optoelektronika Pusat Penelitian Fisika LIPI. Saya ingat pernah melihat beberapa karya penelitian mereka di event ITD Expo Juli kemarin. Yang jaga booth ini juga sepertinya sama dengan dulu, yaitu Dr. Bambang Widyatmoko. Kali ini saya melihat karya penelitiannya yang tidak boleh ditampilkan pada event ITD Expo (karena tidak didanai penyelenggara event), yaitu perangkat Weight in Motion. Alat ini dapat mengukur beban kendaraan tanpa perlu menghentikan kendaraan tersebut. Alat ini juga mampu mengukur beban sampai puluhan ton.

Dr. Bambang juga menunjukkan pada saya prinsip kerjanya yang memanfaatkan bocoran laser pada serat optik. Jadi alat ini pada dasarnya adalah semacam pipa pralon (bukan pipa pralon sih, lupa jenis pipanya) yang dililit oleh kabel serat optik. Saat kendaraan melewati alat ini, pipa akan melengkung karena beban. Lilitan serat optik pada pipa juga akan melengkung. Serat optik biasanya menyalurkan laser secara sempurna, namun semakin serat optik ini melengkung, maka akan ada sinar laser yang keluar dari lengkungan serat optik. Bocoran sinar ini dideteksi oleh sensor cahaya. Semakin besar lengkungan, semakin banyak bocoran sinar yang ditangkap oleh sensor. Sensor cahaya kemudian mengantarkan informasi banyaknya sinar yang dideteksi ini ke komputer untuk diproses sehingga menghasilkan data beban kendaraan.
Jadi ini adalah penelitian yang manfaatnya jelas, dan cara kerjanya juga mudah dijelaskan. Bayangkan jika di jalan tol, tarif ditentukan berdasarkan beban kendaraan. Pas lewat gerbang tol dipasang alat ini, lalu otomatis tarif yang perlu dibayar muncul. Itu lebih adil karena kerusakan jalan tergantung beban kendaraan yang lewat.
Namun penelitian ini tidak dapat pendanaan. Seperti yang saya sebut sebelumnya, alat ini tidak mendapat pendanaan Kemristekdikti. Menurut Dr. Bambang, saat kami mengobrol, penelitian ini tidak mendapatkan pendanaan dari pihak pemerintah maupun swasta. Sekalipun dari perusahaan swasta yang memproduksi alat timbang kendaraan. Bahkan, pada selebaran yang saya dapatkan dari booth ini, tertulis kalimat berikut:

Saya tidak ngobrol lebih lanjut mengenai besar biaya penelitian yang dibutuhkan atau tren prioritas pendanaan riset saat ini. Mungkin juga ada aspek bisnis dan teknis implementasi yang membuat penelitian ini kurang dapat diprioritaskan. Namun saya jadi berpikir mengenai bagaimana prioritas riset akan dirancang dan bagaimana masyarakat yang tertarik mendanai riset di luar prioritas untuk menyalurkan bantuannya. Mungkin kitabisa.com bisa?
Siapa tahu masyarakat juga bisa berkontribusi buat mendanai riset yang agak kontroversial, seperti reaktor nuklir misalnya. Btw BATAN akan membangun reaktor nuklir eksperimental di Serpong pada 2021. Reaktor khusus untuk penelitian ini (bukan pembangkit listrik), menggunakan reaktor nuklir generasi ke-4, yang meski cara kerjanya dijelaskan berulang kali, saya selalu saja lupa lagi. Yang jelas lebih aman. Dan meski bikin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir masih kejauhan, pendanaan BATAN untuk penelitian-penelitian sampingan seperti iradiasi pangan, lancar-lancar saja.
Apanya yang Smart dari Smart City?

Sesi talkshow di panggung utama ini seharusnya menghadirkan Kepala LIPI dan Walikota Tangsel. Tapi sepertinya keduanya berhalangan. Kepala LIPI hadir sih, tapi terlambat. Jadilah saya mendengarkan talkshow soal smart city yang cenderung normatif dan membosankan dari seorang peneliti LIPI, seorang lagi peneliti LIPI yang kurang enak cara menjelaskannya, dan wakil walikota Tangsel yang agak sepuh. Ga heran penontonnya sepi. Meski saya mendapatkan insight yang cukup menarik mengenai smart city di Tangsel dan faktor-faktor pendukungnya, saya berharap mendapat pembahasan yang lebih mendalam mengenai efektifitas dan tantangannya.
Jadi Tangsel sudah menerapkan berbagai sistem layanan digital baik untuk memudahkan birokrasi antar instansi maupun layanan publik. CCTV sudah dipasang diberbagai sudut ruang publik. Tangsel juga baru saja meluncurkan Tangsel Pay yang bisa digunakan warga untuk membayar pajak, retribusi, dan layanan lainnya.
Menurut Wakil Walkot Tangsel, Benyamin Davnie, Tangsel yang merupakan kota dengan aksesibilitas tinggi dari berbagai daerah. Karenanya, layanan smart city akan sangat dibutuhkan, misalnya untuk respon cepat pengendalian lalu lintas. Prioritas pengembangan smart city berfokus pada mempermudah birokrasi, peningkatan kesejahteraan warga, dan mempermudah pelayanan publik.
Tantangan dalam penerapan smart city yang disebut-sebut dalam talkshow, selain pendanaan, adalah kesiapan masyarakat, regulasi, kultur birokrasi, dan respon masyarakat. Namun yang akan menjadi tantangan adalah pendekatan membuat layanan sedikit-sedikit yang lebih sering dilakukan pemerintah, lalu integrasi belakangan. Jika pelayanan digital tidak dibangun dengan rencana pembangunan sistem terintegrasi sejak awal, yang ada adalah layanan terfragmentasi yang membingungkan masyarakat dan mungkin juga pegawai layanan publik. Ditambah dengan tidak adanya penyeragaman bahasa komunikasi visual lewat semacam design guide atau UI/UX guide bagi layanan-layanan digital untuk publik, maka masalah penerimaan masyarakat terhadap layanan digital akan semakin sulit diatasi.
Belum lagi soal privasi dalam penerapan pengawasan pemerintah terhadap warga lewat CCTV di berbagai tempat. Dan yang terpenting, belum ada studi yang komprehensif mengenai dampak implementasi layanan-layanan digital terhadap peningkatan kesejahteraan dan partisipasi publik sebagai warga negara. Di sini, warga masih diposisikan sebagai objek pasif yang perlu dicekoki dengan hal-hal berlabel ‘smart’, ‘digital’, dan ‘industri 4.0’.
The biggest idea in smart city is empowering citizen.
Tapi Tangsel memang seharusnya memiliki kapabilitas untuk menjadi yang terdepan dalam penerapan teknologi. Dengan banyaknya daerah-daerah eksklusif yang dikembangkan oleh swasta seperti BSD City, serta dengan adanya Puspiptek Serpong dan Cibinong Science Center di daerah Tangsel, kota ini mempunyai kombinasi masyarakat urban yang lebih siap dengan teknologi dan peneliti-peneliti yang menyediakan berbagai ide teknologi untuk diterapkan. Tangsel juga, katanya, siap untuk menguji kendaraan nirawak yang dikembangkan di Cibinong. Dan di akhir talkshow ini, saya menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan dan implementasi penelitian antara pak wakil walkot dengan LIPI.
Entahlah. Mungkin saya bias, tapi saya kurang yakin menyerahkan urusan teknologi pada orang-orang tua.
Saya Lebih Mempercayakan Sains dan Teknologi Pada Anak Muda
Saya agak bingung dengan berbagai kompetisi dan pameran sains anak dan remaja di sini. Setidaknya ada tiga atau empat kompetisi yang peserta-pesertanya diberi tempat pameran di sini: Kalbe Junior Scientist Award (KJSA), International Exhibition for Young Inventors (IEYI), Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), dan National Young Inventors Award (NYIA).
LKIR dan NYIA sama-sama diselenggarakan oleh LIPI. Bedanya LKIR semacam lomba karya ilmiah untuk SMP dan SMA, sedangkan NYIA lomba inovasi teknologi untuk siswa SD sampai SMA yang mengharuskan pesertanya membuat alat atau peraga inovatif. Saya tidak sempat berkunjung ke booth-booth peserta kedua kompetisi tersebut.
Yang pertama saya temukan adalah booth KJSA. Dari sedikit booth yang saya lihat-lihat, saya menemukan anak SD yang membuat tempat sampah otomatis, sistem pengairan hidroponik, robot pengering gabah, dan sistem penjemputan di sekolah. Mengenai apakah anak-anak ini dibantu guru dalam membuatnya, saya kurang tahu juga. Tapi sepertinya begitu.


Di booth IEYI banyak bocah-bocah bule dari berbagai negara. Saya sempat berkunjung ke booth peserta dari Jepang, Vietnam, dan Singapura. Dua booth Jepang yang saya kunjungi Bahasa Inggrisnya sulit dimengerti. Yang mereka tampilkan juga kurang hi-tech dibanding peserta lain yang saya lihat. Tapi entah, mereka terasa sangat santun dan menggemaskan. Sebenarnya salah satu booth Jepang ini juga menampilkan hal yang menarik. Dari penjelasan lewat Bahasa Inggrisnya yang saya pahami susah payah, mereka membuat semacam karakuri, atau kalau saya boleh terjemahkan bebas, mainan auto-mekanik. Mainan ini seperti kereta-keretaan yang ditarik dengan tali dan memiliki beberapa gerbong yang mengangkut miniatur permainan anak Jepang pada perayaan tahun baru. Begitu roda bergulir, secara otomatis, permainan-permainan di atas gerbong bergerak dengan sendirinya, menampilkan bagaimana permainan ini dimainkan. Sepenuhnya mekanik, tidak pakai listrik. Mungkin ini tidak memiliki nilai manfaat tapi sangat brilian. Peserta-peserta dari Jepang juga memakai seragam kimono dan sama-sama memberikan orizuru (origami bangau) kepada pengunjung. Ah, Jepang dan cara mereka mencekoki kita dengan budaya mereka yang asing tapi mudah dicerna.

Peserta dari Vietnam menampilkan hal yang lebih hi-tech, seperti alat untuk melakukan percobaan kimia di rumah dengan aman dan aplikasi pembelajaran bahasa. Saya percaya Vietnam masih memiliki programmer-programmer terbaik, setidaknya di kawasan Asia Tenggara. Peserta dari Singapura juga mempresentasikan teknologi yang tak kalah canggih. Mereka membuat alat untuk memberikan informasi seputar kampus mereka (mereka bilang ‘campus’, tapi mungkin maksudnya gedung sekolah). Yang menarik adalah, mereka menggunakan Jamie, semacam asisten virtual yang dibuat oleh pemerintah Singapura. Bentar, jadi Singapura punya prototype asisten virtual seperti JARVIS tapi bisa dipake seluruh negeri? Keren! Pinginlah!
Saya sempat mengunjungi booth peserta IEYI asal Indonesia yang membuat alat pelacak berbentuk gantungan tas yang bisa membantu kita melacak posisi bagasi saat perjalanan di bandara. Alat ini terhubung dengan gawai lewat aplikasi dan sepertinya menggunakan teknologi LE Bluetooth. Peserta ini yang mendapat medali emas di IEYI.
Di samping kompetisi-kompetisi di atas, karya anak muda dalam sains dan teknologi dapat juga dilihat di booth Sekolah Pelita Harapan (SPH) yang menampilkan hasil-hasil penelitian siswa-siswa mereka.



Melihat banyak anak muda yang tertarik sains dan teknologi di event ini, nampaknya masa depan akan cerah; kalau orang-orang dewasa ga mengacau dan membiarkan teman-teman mereka menjadi beban bagi masa depan.



