Wiro Sableng : Pendekar Maut Naga Geni 212

Banyak karakter, banyak cerita, Minim pendalaman.

Sumber: www.youtube.com

Menjadi salah satu film yang paling ditunggu-tunggu pada tahun 2018, Wiro Sableng : Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Wiro Sableng : PKMNG 212) datang dengan segudang ekspektasi penonton film lokal. Berbeda dengan saya yang berhasil nonton pada hari kedua setelah perilisannya, saya mencoba menikmatinya tanpa ekspektasi.

Cerita dibuka dengan penyerangan desa tempat tinggal Ranaweleng dan Suci oleh Mahesa Birawa, serta terpilihnya Wira (anak Ranaweleng dan Suci) menjadi murid Sinto Gendeng (guru silat sakti). Film beralih ke fase-fase pelatihan Wira. Dari sini mulai terlihat tujuan asli alasan Sinto Gendeng melatih Wira, yaitu untuk menangkap Mahesa Birawa murid “durhaka” Sinto Gendeng sekaligus pembunuh kedua orang tua Wira. Sampai disini Wiro Sableng : PKMNG 212 menunjukan potensinya untuk menjadi film komedi-laga dengan memiliki cerita yang matang dan kuat. Namun seiring berjalannya cerita, plot dari film lah yang akhirnya malah menjatuhkan potensinya tersebut. Dengan dimulainya perjalanan Wiro untuk membalas perbuatan Mahesa Birawa, maka terbukalah pintu untuk mengenalkan banyak karakter baru dan plot baru kepada Wiro dan juga penonton. Sebut saja Bujang Gila Tapak Sakti dan Anggini yang keduanya turut membantu Wiro untuk menuntaskan tugasnya. Sayang kemunculan kedua karakter ini seakan-akan hanya menjadi pe-ramai cerita. Mereka dihadirkan tanpa latar belakang yang jelas. “Apa alasan dan motivasi mereka membantu Wiro?”, “Kenapa tiba-tiba mereka menjadi sedekat “Trio Kwek-kwek” padahal sebelumnya belum pernah bertemu?” menjadi beberapa pertanyaan yang muncul dibenak saya. Belum lagi ditambah dengan antek-antek Mahesa Birawa yang namanya bahkan tak pernah disebut di sepanjang film. Kebingungan saya tak berhenti disitu. Sub-plot penjatuhan Raja Kamandaka oleh Werku Alit (adiknya Kamandaka) yang juga tak digali dengan dalam kembali mengganjal keseluruhan cerita film. “Kenapa Werku Alit harus mengkudeta raja?”, “Kenapa Mahesa Birawa yang notabenenya adalah salah satu pendekar silat terkuat mau diperalat oleh Werku Alit?” kembali menambah daftar pertanyaan saya. Di akhir film, akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa durasi 2 jam 3 menit bukanlah durasi yang cukup untuk menampilkan sebuah film dengan jumlah karakter yang mem-bludag dan cerita yang bercabang. Terlebih lagi buat saya yang bukan penikmat serial komik dan TVnya. Jujur munculnya Ken Ken, salah satu pemeran Wiro Sableng pada serial TVnya, baru disadari saya usai menonton film. Masih saya ingat suasana studio bioskop pada saat itu pun seperti tak terjadi apa-apa yang “wow”. Mungkin hal ini yang seharusnya disadari Angga Dwimas Sasongko. Bahwa sebagian banyak penonton film Indonesia dari kelas remaja pada saat ini belum pernah menonton serial TVnya ataupun membaca bukunya. Dengan kondisi penonton yang seperti ini, akan lebih bijak untuk menjadikan film pertama ini sebagai pengenalan cerita Wiro Sableng. Memaksimalkan latar belakang cerita dan setiap karakter dalam semesta Wiro Sableng.

Disamping semua kekurangan diatas, untungnya Wiro Sableng : PKMNG 212 dapat memanfaatkan perkembangan teknologi CGI (Computer Generated Effect) dengan maksimal pada setiap adegan action­-nya. Terlebih lagi fakta bahwa Wiro Sableng : PKMNG 212 notabenenya adalah sebuah film laga yang sepatutnya berisi banyak adegan action. Selain itu, dengan dipastikan akan hadirnya sekuel (atau sekuel-sekuel) cukup menyelamatkan film pertama ini. Dengan adanya sekuel, peluang untuk kembali menggali latar belakang karakter-karakter (yang tersisa) pada semesta Wiro Sableng kembali terbuka. Lebih-lebih lagi, penonton yang akan menonton sekuelnya “diharuskan” untuk menonton film pertamanya terlebih dahulu.

Wiro Sableng : PKMNG 212 merupakan bentuk realisasi perdana semesta Wiro Sableng ke dalam dunia layar lebar. Film yang sepatutnya dapat mengenalkan semesta Wiro Sableng kepada penikmatnya yang baru, disamping penggemar serial komik dan TV-nya. Sebagai salah satu penonton baru, saya pun berharap sekuelnya dapat mengenalkan semesta Wiro Sableng secara lebih dalam, bukan sekedar menambah-nambah karakter dan cerita.

written by : Adira Syafi