Wiro Sableng: Tokohnya Gendeng, Visualnya Sableng

Sumber: www.youtube.com

“Gurunya gendeng, muridnya sableng” — Dewa Tuak

Nostalgia, kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Bagi mereka yang lahir sebelum tahun 2000, pasti sudah tahu bahwa Wiro Sableng merupakan remake dari serial dengan judul sama yang sangat digemari pada tahun 1990–2000an. Tidak hanya bagi penggemar setianya, nostalgia juga berlaku bagi aktor utamanya (Vino G Bastian) yang merupakan anak dari pengarang cerita Wiro Sableng, Alm. Bastian Tito.

Film ini diawali oleh kisah tragis yang dialami oleh Wiro saat kecil yang berujung pertemuannya dengan Sinto Gendeng (Ruth Marini). Kasih sayang serta kegigihan Nenek Sinto yang dipertontonkan berhasil menunjukkan keeratan antara keduanya. Tak hanya itu, tingkah laku absurd keduanya berhasil menggelitik para penonton selama film ini berlangsung. Hingga tiba saatnya Wiro mengemban misi untuk mengalahkan Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan). Namun untung Wiro tidak sendiri, ada Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi) dengan tingkah kocaknya sepanjang perjalanan mereka.

Keanekaragaman Indonesia sangat kental pada film ini. Lokasi syuting yang dipakai sangat “Indonesia Banget”, seperti Hutan Gunung Gede yang dominan di film ini. Jika diperhatikan lebih dalampun, bentuk rumah pedesaan disini memiliki kemiripan dengan rumah adat Suku Baduy. Selain itu berbagai senjata yang digunakan pada film ini pun menunjukkan ciri khas kebudayaan pada corak dan bentuknya.

Scene bela diri sangat ditampilkan dengan baik disini. Menggambarkan seni pencak silat yang Indonesia banget. Angle dan gerakan perkelahian ditampilkan dengan ciamik dan detail. Terbukti dari banyak sekali scene bela diri yang disorot pada film ini yang tidak hanya sekedar “pukul-pukulan” semata, namun memperlihatkan teknik bela diri seperti mengunci pergerakan lawan dan berbagai teknik pencak silat lainnya.

Visual Wiro Sableng sangatlah memukau. Tak heran jika grafisnya dapat sekelas dengan film Hollywood apalagi mengingat film ini dinaungi oleh production company ternama, 20th Century Fox. CGI (Computer-generated imagery) yang ditampilkan pada film sangatlah halus dan memanjakan mata. Hal ini merupakan gebrakan bagi dunia perfilman Indonesia kedepannya.

Meski begitu, sayang visual spektakuler yang dihadirkan tidak didukung oleh alur cerita yang rapi. Alur cerita film ini terlalu monoton. Dari awal hingga pertengahan film, penonton terus disuguhi oleh adegan perkelahian yang tiada hentinya sehingga membuat jalan cerita seakan-akan tenggelam. Bahkan elemen surprise yang diberikan seperti jokes atau kemunculan karakter antagonis yang ada, tak serta-merta mampu menyelamatkan jalan cerita. Selain itu, pengenalan tokoh protagonis cukup dalam, namun lain halnya dengan tokoh antagonis yang tidak dikenalkan dengan baik. Seperti pengenalan Bujang Gila Tapak Sakti yang sangat menggelitik sedangkan pengenalan Iblis Pencabut Sukma yang kurang wah meski perawakannya yang seram.

Wiro Sableng berhasil membangkitkan nostalgia para penonton. Visual yang memukau mampu membalut unsur-unsur kebudayaan serta koreografi bela diri dengan sangat baik, tak seperti kebanyakan film sejenis yang mendominasi salah satu stasiun televisi Indonesia. Pengenalan tokoh yang diberikan oleh film ini sangatlah menghibur, namun sangat disayangkan ketidakkonsistenan dalam penceritaan film tersebutlah yang meninggalkan kesan kurang baik pada ingatan penonton.

Written by : Hilmy Widyarto