Apa Teknik Membaca Cepat Selalu Benar?

Kadang iya, kadang nggak.

Photo by Thought Catalog on Unsplash

Sebagai anak 90-an, membaca cepat selalu diagungkan.

Teknik-tekniknya selalu dibahas bahkan sampai kuliah.

Ada lesnya, kontesnya, bahkan rumus tersendiri untuk menghitung berapa kata yang berhasil diserap dalam hitungan menit.

Fenomena ini terjadi secara internasional. Bahkan TEDx Talks juga sempat membahas cara-cara speed reading.

Dahulu memang terlihat ‘selalu’ benar.

Sampai kuliah, saya selalu berkutat pada kecepatan ketika ingin melahap buku baru.

Misal novel Aroma Karsa karya Dee Lestari saya selesaikan hanya dalam satu hari.

Lihat tebalnya. Source: Aroma Karsa dari Gramedia

Saya tidak rela membaca buku terlalu lama

  • Sisa waktunya bisa menyelesaikan hal lain.
  • Membaca lama terlihat loading lama.
  • Lebih baik bisa membaca banyak buku sekaligus.

Tabiat ini mengakar sampai saya fresh graduate.

Dampaknya baru terasa beberapa tahun kemudian.

Untuk mengembangkan diri, saat kuliah saya mulai belajar membaca buku self development. Seperti biasa saya coba membaca dengan cepat.

Waktu itu saya membaca Seni Bersikap Masa Bodoh oleh Mark Manson. Karena bukunya cukup tipis, saya selesaikan dalam beberapa jam.

Seni Bersikap Masa Bodoh Dalam Bahasa Inggris. Photo by Swetabh Suman on Unsplash

Buku tersebut memang bagus karena membantu pikiran saya yang sempat buntu.

Dan karena buku ini juga viral, banyak teman saya yang memfoto bagian halaman tertentu dan menyebarkannya di media sosial.

Tapi yang mengagetkan bagi saya adalah, saya tidak bisa mengingat beberapa halaman secara terperinci.

Kalau saya coba ingat-ingat sekarang, hasil dari membaca buku itu terasa agak blur di pikiran saya. Saya ingat konsep besarnya, tapi tidak mendetail.

Jenis Literasi dan Cara Membaca Sangat Variatif

Di Indonesia, seorang anak yang membaca cepat dianggap pintar karena bisa memproses informasi dengan mudah. Anggapan itu keliru.

Photo by Annie Spratt on Unsplash
  1. Bagian ‘Fovea’ di mata yang bertugas untuk melihat detail akan bekerja lebih keras ketika kita mencoba membaca dengan lebih cepat.
  2. Bagian otak manusia memiliki kapasitas tertentu ketika menerima informasi. Kita akan mengalami burn out jika informasi yang diserap dipaksa masuk terlalu banyak dan cepat.

Hal-hal ini pasti kita pernah rasakan ketika harus belajar sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Kualitas informasi yang masuk ke otak kita pasti berbeda dari mereka yang menyicil dari jauh hari kan?

Otak kita lelah, mata kita juga lelah.

“Berati membaca cepat itu jelek?”

Nggak, nggak juga.

Sampai sekarang saya masih membaca cepat.

Saya membagi berdasarkan literaturnya. Mana yang bisa dibaca cepat, mana yang harus lambat.

Contoh Buku untuk Dibaca Cepat:

  • Buku komik, web novel, buku seri.

Anggapannya seperti movie marathon. Saya tidak apa-apa kehilangan detail ceritanya. Suatu hari kalau lupa saya bisa baca lagi untuk refreshing.

Contoh Buku untuk Dibaca Lama:

  • Buku Self Development.

Buku Pengembangan Diri perlu perenungan tersendiri. Proses refleksi pasti tidak sebentar karena harus menarik kenangan lama.

  • Buku Bahasa Inggris.

Ini saya lakukan kalau saya sedang belajar bahasa Inggris.

Buku yang original bahasa Inggris pasti mahal (untuk saya). Jadi daripada membaca cepat, lebih baik berhenti kalau ada kata-kata yang jarang ditemukan dan buka kamus.

Pengalaman Slow Reading: 1 Buku 1 Tahun

Baru-baru ini saya menyelesaikan buku garapan John C. Maxwell yang berjudul ‘No Limits’. Totalnya 311 halaman dan saya menghabiskannya dalam kurun 1 tahun.

(Jangka waktu satu tahun bukan standar slow reading, tapi menurut pengalaman pribadi saya saja.)

Beberapa hal yang saya dapat selama slow reading:

No Limits-John C. Maxwell
  • Bisa mencatat poin-poin terpenting dalam buku.
  • Waktu untuk merenungkan bab-bab bukunya. Kadang saya ambil satu bulan jika memang perlu.
  • Beberapa ide penulis kadang mengambil buku lain, dan hal itu ditulis dalam buku. Kadang saya berhenti untuk mengingat sumbernya supaya punya buku lain untuk saya baca.
  • Hasil dari refleksi buku ini saya kutip ke beberapa artikel.

Gaya Hidup Berubah Selama Slow Reading

Saya bisa membaca sambil menghidupi.

Proses saya belajar menjadi semakin berkembang.

Saya selesaikan membaca satu bab, saya hidupi juga hasil pemikirannya.

Objektif saya berubah dari hanya menyelesaikan buku, menjadi menyelesaikan pola pikir yang salah.

Jika saya terlalu banyak membaca tapi minim bertindak, terasa sia-sia membeli buku ini.

Lebih banyak membaca daripada membeli

Sebagai pecinta buku, saya suka membeli buku. Buku No Limit juga saya beli ketika Big Bad Wolf hadir di Tokopedia.

Ketika saya memutuskan membaca buku ini dengan lambat, saya merasa ada komitmen juga yang mengikuti.

Karena terlalu sibuk dengan buku ini, saya tidak membeli buku baru.

Jika memang bosan, saya lebih memilih istirahat dan membaca buku lama yang tidak pernah disentuh, atau membaca sumber lain seperti webnovel.

Secara Personal Bisa Lebih Menghargai Penulis

Jika dipikirkan lagi, proses pengeditan buku juga bukan hal yang mudah.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Pastinya dalam setiap bab ada penulis, editor, publisher, dan translator yang sedang memikirkan pembaca secara mendalam.

Sayang jika buah-buah pikiran ini dilewatkan dan sekedar dilihat.

Kadang saya berhenti untuk melihat bagaimana penulis membaca sangat banyak buku untuk membuahkan karyanya.

Saya juga heran bagaimana editor memampatkan banyak pikiran dalam satu bab.

Membaca secara lambat membuat saya lebih khusyuk.

Setiap Orang Punya Proses Membaca yang Berbeda

Jangan minder jika durasi membacamu lebih lama daripada yang lain, setiap orang memiliki kemampuan dan pikiran yang berbeda.

Laper ya hehe. Photo by Brian Chan on Unsplash

Untuk sebagian orang, ayam KFC lebih enak dimakan cepat supaya terasa hangat, tapi untuk sebagian orang ayam KFC lebih enak dimakan lambat supaya rasa asinnya lebih terasa.

Mana yang benar dan mana yang salah dalam situasi ini? Tidak ada.

Semua bergantung pada kapasitas dan diri masing-masing. Termasuk proses membaca.

Bagaimana kalau kalian? Buku apa yang kalian baca dengan lama?

--

--

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store