Cukup Sampai Sini, Gelut Kita dengan Medium Partner Program

Akal-akalan kita terhadap Stripe sudah mendekati jalan buntu.

Sumber: dokumentasi penulis

Dengan Stripe — platform pembayaran yang digunakan Medium — yang masih belum beroperasi di Indonesia, bergabung dengan Medium Partner Program sebagai penulis tanah air cukup menantang.

Sistem keamanan Stripe yang semakin ketat memaksa saya mencari cara baru untuk mengakalinya — tutorial yang sudah ada, tak lagi berfungsi — yang saya tuangkan dalam satu tulisan Maret lalu.

Meski sudah berhasil bergabung dengan MPP dua bulan terakhir, saya rasa kita sudah sampai pada titik di mana kita harus berhenti mengakali Stripe, demi kemudahan dan keamanan kita sendiri.

Mendekati jalan buntu

Beberapa pekan yang lalu, saya mendapat email dari Stripe: Mereka sedang mengadakan semacam audit data dan menemukan bahwa data akun saya (yang digunakan untuk Medium Partner Program) “kurang beres”.

Email pemberitahuan “audit” terhadap akun Stripe penulis (Sumber: dokumentasi penulis)
Email balasan dari Stripe, memberitahukan ketidaksinkronan alamat yang penulis cantumkan, setelah penulis mengirimkan dokumen verifikasi EIN-nya dari IRS (Sumber: dokumentasi penulis)

Ini disebabkan alamat yang saya cantumkan berbasis di AS, sementara alamat EINNPWP-nya AS yang bisa dibuatkan untuk orang asing jika perlu dan wajib dicantumkan di Stripe — saya merupakan alamat asli di Indonesia (bahaya berbohong ke lembaga pajak AS); keduanya tidak sinkron.

Pihak Stripe meminta saya menyunting data akun saya untuk menyinkronkan keduanya. Dan sampai saya melakukan itu, bayaran MPP saya tak akan bisa dicairkan.

Saya jelas tidak bisa mengubah alamat di Stripe karena:
1). Alamat asli di Indonesia jelas belum di-support oleh Stripe; dan
2). Kalau pun bisa, kita tidak bisa mengubah negara yang kita pilih pada pendaftaran akun di awal.

Menulis tanpa “bintang” untuk sementara ini?

Nah, sedikit intermeso (tapi juga amat penting) berkaitan dengan poin kedua di atas:

Untuk teman-teman yang sudah bergabung dengan MPP menggunakan Stripe berbasis negara asing apa pun, jika suatu saat Stripe akhirnya beroperasi di Indonesia, kita harus membuat akun Stripe baru berbasis Indonesia (dan menghubungkannya ke akun Medium kita; menggantikan akun Stripe yang lama).

Ini artinya, untuk mereka yang bayaran bulanan MPP-nya masih tertahan (karena masalah seperti saya tadi), kecuali entah bagaimana berhasil mengakali sistem Stripe yang makin ketat ini, saya menduga bayaran tersebut tidak akan bisa dicairkan sampai kapan pun.

Saya tak tahu pasti apakah nominal di akun Stripe lama kita nantinya bisa dialihkan ke akun Stripe Indonesia yang baru, tapi karena bagaimanapun nominalnya sudah berada di tangan Stripe dan di luar kekuasaan Medium, saya rasa tidak mungkin.

Alhasil, sejak saat ini saya memutuskan untuk sepenuhnya mempublikasikan tulisan “tak berbintang” — tidak lewat MPP, karena keuntungannya tak bisa dicairkan dan mungkin dengan demikian bisa dibaca lebih banyak orang — sampai Stripe betulan beroperasi di Indonesia.

Pada akhirnya, kita akan kehabisan cara.

Kembali pada topik utama: permasalahan sinkronisasi data.

Satu-satunya cara yang terlintas di benak saya untuk mengakali masalah saya yang satu ini adalah mengajukan EIN baru (cek tulisan saya sebelumnya terkait caranya) ke IRS (kantor pajak AS) dengan alamat berbasis AS yang saya cantumkan di akun Stripe.

Saya yakin ini bisa berhasil (petugas IRS tak banyak tanya alamat kita valid atau tidak), tapi risikonya jelas tak bisa diterima: berbohong pada lembaga resmi sama saja cari mati. Jadi, lupakan saja, lah, ya?

Dan sebetulnya, terlepas dari berisiko maupun tidak, trik-trik seperti ini toh tak akan bekerja selamanya.

Dulu, cukup dengan akun Payoneer saja, kita sudah bisa menerima bayaran MPP lewat virtual bank account yang kita buat di sana.

Tak lama kemudian, Stripe mewajibkan mencantumkan Social Security Number (untuk akun berbasis AS) yang hanya dimiliki warga asli sana. Saya berhasil mengakalinya secara legal dengan mengajukan EIN sebagai gantinya, tapi tak lama kemudian, muncullah audit alamat yang tak bisa saya hindari.

Sistem keamanan Stripe akan semakin ketat lebih dari yang kita bayangkan: tinggal tunggu waktu sampai kita kehabisan cara untuk mengakalinya.

Terpaksa berurusan dengan kantor pajak AS

💡 Tip: Kecuali Anda punya EIN atau berencana mengajukan EIN khusus untuk MPP, silahkan lewati bagian ini.

Ada satu lagi alasan kuat untuk berhenti bergelut dengan Stripe saat ini: terpaksa berurusan dengan kantor pajak AS (setidaknya untuk yang menggunakan akun Stripe berbaris AS).

Singkatnya begini:
Sejauh yang saya pahami, Medium bekerja sama dengan Tipalti, yang bertugas mengurus pembayaran dan pembuatan laporan pajak dari royalti yang kita hasilkan lewat MPP (penulis dari Indonesia dikenai pajak royalti 10%).

Pajak royalti 10% untuk penulis Medium dari Indonesia (Sumber: dokumentasi penulis)

Karena sudah diurus Tipalti, kita tak perlu lagi membayar pajak 10% tersebut: tinggal terima bersih saja bayaran dari MPP.

Dan ketika kita melaporkan — wajib — penghasilan bersih tersebut ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) via SPT Tahunan, sejauh yang saya pahami, seharusnya DJP juga mengetahui bahwa penghasilan tersebut bebas pajak.

Ini, saya duga, karena kita mencantumkan NPWP di formulir Tipalti: mestinya entah bagaimana Tipalti memberi konfirmasi pada DJP atas nama NPWP kita, “Penghasilan dari Medium ini udah bebas pajak, ya!”

Kalau betul demikian, sejauh ini, sih, aman-aman saja, dong?

Nah, di sini masalahnya:
Tipalti hanya terhubung ke DJP (lewat NPWP kita), tapi tidak ke IRS (lewat EIN kita), karena baik Medium maupun Tipalti tak tahu EIN kita.

Di sisi yang lain, Stripe kita terhubung ke EIN kita (dan data kita di IRS), tapi tidak ke NPWP kita (dan data kita di DJP).

Ini artinya, data kita di DJP tidak terhubung ke data kita di IRS.

Akibatnya, sekalipun kita sudah melaporkan penghasilan Medium ke DJP, logikanya, kita masih harus melaporkan penghasilan kita (dari Stripe) ke IRS; walaupun keduanya merupakan nominal yang sama, dari sumber yang sama.

Saya tidak punya bukti apakah dugaan saya yang satu ini benar — sulit sekali mencari solusi dari kasus yang tidak biasa seperti ini — tapi selama data kita di DJP dan IRS tidak terhubung, sudah pasti baik DJP maupun IRS butuh laporan penghasilan saya, untuk alasan administratif.

Meskipun demikian, untuk teman-teman yang sudah punya EIN tapi berniat berhenti menggunakan MPP (sampai Stripe beroperasi di Indonesia) seperti saya, jangan khawatir karena kita bisa, kok, membatalkan/”menutup akun” EIN kita. (Saya akan membuat tutorialnya jika saya sudah selesai memproses pembatalan EIN saya sendiri.)

Konklusi

Melihat semakin ketatnya sistem Stripe, saya rasa sudah saatnya kita berhenti mengakal-akalinya, dan betulan menunggu tanggal main resminya di Indonesia, demi kemudahan dan keamanan kita sendiri.

Kabarnya, sih, Stripe sedang siap-siap masuk ke tanah air.

Tapi, melihat belum adanya perkembangan lebih lanjut setelah hampir setahun artikel kabar satu itu dimuat, mungkin kita jangan terlalu berharap. (Saya bahkan sempat melihat lowongan resmi dari Stripe: mereka mencari — dan mungkin masih mencari — Growth Leader untuk proyek ekspansi ke Indonesia ini; sayangnya saya tidak bisa menemukan lagi tautannya.)

Intinya, dari prediksi bahwa kita sudah mendekati “jalan buntu” hingga dugaan mengenai keterpaksaan terlibat dengan kantor pajak asing, saya yakin bersabar sejenak adalah yang terbaik.

Memang disayangkan, jika uang saku dari mbah Medium kita ini mesti tertahan untuk sementara.

Tapi, setidaknya, kita bisa lebih ikhlas mempublikasikan tulisan “tak berbintang” di Medium; jauh lebih banyak pula yang bisa membacanya, kan?

Seperti kata SM Mochtar,

“… Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia.”

--

--

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Anshari Hasanbasri

Anshari Hasanbasri

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩