Filosofi Teras, Kenapa Buku Ini Begitu Terkenal

Nggak ada asap, nggak ada api.

Buku Filosofi Teras, Dokumentasi Penulis

Terhitung dua tahun saya menolak membeli buku Filosofi Teras, alasan-alasannya:

  • Buku self development kok banyak gambarnya ya? (Apa ini cuma jualan desain ya).
  • Ini siapa penulisnya kurang tau, kayanya bukan psikolog atau mahasiswa filsafat.
  • Kok banyak yang ngomongin buku ini ya (jangan-jangan pakai buzzer).

Ya memang terlalu parno saat itu. Tapi saya memang beberapa kali pernah zonk ketika beli buku kategori pengembangan diri atau motivasi. Jadi benar-benar super pemilih, karena kalau salah baca buku pengembangan diri susah nariknya dari kepala.

Photo by vnwayne fan on Unsplash

Tetapi dalam kurun waktu saya kuliah sampai sudah bekerja, buku Filosofi Teras ini anehnya selalu muncul di percakapan penggemar buku. Kalau buku ini terkenal cuma karena ilustrasinya pasti nggak sampai seperti ini.

Ulasannyapun saya liat ternyata organik. Sampai saat itu podcast kesukaan saya RAPOT, salah satu anggota si Reza Chandika mempromosikan buku ini di salah satu episode. Katanya buku ini relevan ke kehidupannya yang serba perfeksionis.

Walau nggak mau berekspektasi tinggi, saya akhirnya memberanikan diri membeli buku ini.

Hasilnya? Dari halaman pertama keparnoan saya sudah menghilang.

Apa yang bagus dari buku ini?

Penulis Filosofi Teras ini sudah matang memperkenalkan filsafat Stoa ke orang Indonesia yang jalan pikirnya terlalu ribet dan banyak overthinking.

Dari semua buku self development yang saya baca, baru kali ini saya serasa berdiskusi ketika membaca buku. Henry, penulisnya sepertinya sudah riset dan mendengarkan banyak masukan.

Jadi ketika saya merasa ‘Hm, terlalu aneh nih jalan pikirnya’, Henry sudah menyiapkan jawabannya di paragraf selanjutnya (bukan bab lo ya tapi paragraf). Contohnya seperti gambar di bawah ini.

Dokumentasi penulis.

Selain itu buku ini punya argumen yang kuat, karena:

  • Punya riset sebagai dasar pembuatan buku.
  • Dalam setiap bab Henry memasukkan wawancara, entah itu dari sudut pandang psikolog, ataupun orang yang sudah menjalankan filsafat Stoa.
  • Yang dia ajarkan lebih berupa langkah praktis, bukan konsep belaka. Setelah membaca buku ini langsung bisa latihan.
  • Konsep yang dibahas juga sudah ada dari jaman Yunani dan sudah melalui banyak pengembangan. Henry malah membuatnya lebih ringan untuk bisa dipahami orang Indonesia.

Untuk kalian yang takut jika buku ini membuat kalian menjadi ateis kalian keliru. Ayolah ini kan buku pengembangan diri. Gunanya hanya untuk meredam overthinking, bukan menggantikan kepercayaan. Bahkan saya merasa beberapa filsafat Stoa ini sejalan dengan agama yang saya percayai.

Saya juga senang mendengarkan Henry membagikan tentang kehidupannya di Advertising Agency, saya pernah melihatnya di LinkedIn dan dia memang mempunyai kehidupan karir di sana. Jadi yang dia bicarakan nggak bersifat ‘khotbah’ ala orang tua.

Apa yang bisa dikembangkan lagi dari buku ini?

Yang saya katakan ini kurang menurut saya ya. Saya memutuskan menulis ini sebagai bahan pertimbangan ke penulis atau penerbit (ya siapa tau yakan haha), karena setau saya Filosofi Teras akan terus dikembangkan versinya.

  • Di bab Citizen of the World, sebenarnya akan lebih relevan jika Henry juga membahas tentang orang-orang yang terkena rasisme. Walaupun di bab ini pun sudah menjadi langkah yang berani untuk Henry mau mengedukasi orang-orang yang rasis, ataupun pasif akan rasisme. Karena Indonesia membutuhkan lebih banyak orang-orang seperti ini.
  • Beberapa desain di sini boleh (ilustrasi, halaman quote), tapi kalau bisa jangan sampai membuat kalimat tulisan di buku putus atau bersifat redundant (pengulangan kembali).

Ilustrasinya menurut saya memang diperlukan. Karena filsafat Stoa ini kan baru untuk semua orang, jadi kalau nggak ada desain di buku ini pasti capek sekali membacanya. Sesekali melihat ilustrasinya yang lucu membantu saya tetap membuka halaman selanjutnya.

Apa yang berubah setelah membaca buku ini?

  • Jadi lebih sabar.
  • Overthinking jauh berkurang selama WFH.
  • Mengurangi shock ketika hal nggak berjalan sesuai rencana.
  • Bisa merencanakan sesuatu dengan lebih baik.

Adik saya sampai heran lalu dia bertanya,

Kok kamu ga gampang marah-marah lagi?”

Notes Tambahan

Jika merasa harga buku Filosofi Teras terlalu mahal, ya ditabung saja duitnya. Rp. 20.000 satu bulan, di bulan ke lima sudah bisa beli satu dapat kembalian. Namanya ilmu nggak ada yang gratis, kawan.

--

--

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store