Review “I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki” Buku ke-1

Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar hidup? — Ulasan buku Baek Se Hee “I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki”

made using Canva

Disclaimer: Ulasan ini dibuat Agustus 2021 untuk Lomba Ulasan Novel Terjemahan Korea yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI). Pada 6 Oktober 2021, KCCI mengumumkan pemenang lomba melalui websitenya. Ulasan ini menjuarai kategori Ketua Asosiasi Budaya-Seni Korea. Kunjungi juga website dan sosial media KCCI karena banyak lomba yang bisa diikuti.

Selamat membaca :)

Menguraikan Peliknya Kehidupan Bersama Baek Se Hee dalam I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki

Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar hidup? Pertanyaan ini kelihatannya mudah untuk dijawab, tapi sebenarnya tidak juga. Bagi sebagian orang, pertanyaan ini justru mengundang pikiran-pikiran negatif dan rasa cemas yang berlebihan karena memicu overthinking. Mungkin pernah terbesit dalam pikiran, “Sesulit itukah untuk hidup bahagia?” Nyatanya, hidup ini tidak selembut, sehalus, dan senyaman kain sutra, tetapi sekusut kabel earphone yang disimpan begitu saja di saku celana. Biarpun begitu, Baek See Hee tetap mengajak pembaca untuk memahami proses penerimaan dirinya melalui I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki.

Buku setebal 240 halaman yang ditulis dalam bahasa Korea ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hyacinta Louisa. Kemudian, pada Oktober 2019, Penerbit Haru akhirnya menghadirkan versi terjemahan tersebut kepada khalayak.

Penerbitannya disambut dengan antusiasme yang ditinggi karena buku ini pernah dibaca oleh leader grup K-pop terkenal, BTS, Kim Namjoon, di sela-sela syuting pada September 2018. Selain RM, bintang lainnya seperti leader Seventeen, S.Coups, juga menyarankan seorang penggemar untuk membaca I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki ketika penggemar tersebut meminta rekomendasi buku di acara fansign pada Januari 2019. Begitupun Hyunjin dari Stray Kids yang mengakui bahwa membaca pengalaman yang ditulis Baek Se Hee membuatnya merasa seperti sedang ikut konseling.

Lalu, apakah buku ini menjadi populer hanya karena direkomendasikan oleh bintang K-pop? Tentu saja tidak. Beberapa hal menarik dari I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki yang membuat pembaca jatuh cinta adalah unsur ketulusan hati, relevansi, dan motivasi yang tercerminkan di dalam bukunya.

Ketulusan Hati

Mengapa cerita yang ditulis dari kisah nyata selalu menarik untuk dibaca? Ketika Baek Se Hee memutuskan untuk membagikan hasil konsultasinya dalam bentuk tulisan, ia seperti memberikan pembaca sebuah kaca pembesar untuk melihat kehidupannya dengan lebih jelas. Inilah yang membuat I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki disukai banyak orang.

Di dalam buku ini, percakapan yang disalin tidak dilebih-lebihkan. Catatan dan kontemplasi yang ditulis pun tidak didramatisir. Semuanya ditulis apa-adanya. Baek Se Hee menjadi dirinya sendiri yang autentik: ia berbicara tentang apa yang ia lalui yakni distimia atau depresi berkepanjangan. Salah satu gejalanya adalah keputusasaan dan hal tersebut terlihat jelas pada halaman 131 ketika ia menulis, “Aku selalu menganggap bahwa diriku tidak bahagia.”

Ketika bicara soal kebahagiaan, setiap orang memiliki parameter yang berbeda. Seseorang dapat dengan mudah berkata bahwa menonton drama seharian atau pergi berbelanja membuatnya gembira, tapi pikiran seseorang yang mengalami distimia atau depresi tentu sangat rumit dan Baek Se Hee telah menunjukkan bagaimana peliknya kehidupan yang telah ia lalui — mungkin rasanya seperti mendaki dan menuruni tebing yang terjal karena meskipun ia “merasa depresi seharian penuh”, terkadang ia “masih bisa tersenyum hanya gara-gara hal sekecil apapun,” contohnya, tteokpokki.

Lagipula, siapa yang tak suka tteokpokki? Kue beras ini bisa saja menjadi sebuah simbol harapan untuk hidup dalam buku ini. Jika kamu mati, tentunya kamu tidak akan bisa makan tteokpokki! Hiduplah demi tteokpokki yang lezat ini! Yang Baek Se Hee inginkan tentu saja lebih dari itu.

Melalui tulisannya, ia juga mengungkapkan keinginannya untuk menerima dirinya sendiri dan hidup tanpa penyesalan. Setelah selesai membaca, satu pertanyaan yang harus ditanyakan pada diri pembaca adalah, sanggupkah berdamai dengan diri sendiri dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak begitu penting demi memperoleh kebahagiaan yang selama ini dicari?

Relevansi

Pada tahun yang sama ketika Baek Se Hee menemukan rumah sakit yang cocok untuk menjalani pengobatan, tepatnya 2017, PBB mengeluarkan artikel tentang globalisasi dan perubahan-perubahan yang dibawanya.

Contoh perubahan itu adalah teknologi yang serba cepat. Ternyata tak hanya teknologi, tapi dunia yang serba cepat ini juga mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan hingga saat ini, termasuk menjadi penyebab meningkatnya gangguan kecemasan dan depresi.

Apakah itu juga yang menyebabkan Baek Se Hee mengalami depresi berkepanjangan? Belum tentu. Tetapi, kontemplasi dan evaluasi diri yang tertulis dalam I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki terasa sangat relevan dengan rasa cemas berlebihan yang kerap muncul sekarang ini.

Contohnya, ketika mencoba mengikuti tren media sosial, kekhawatiran sering datang karena terlalu memikirkan bagaimana orang lain akan berpendapat jika belum mengunggah foto bukti kesuksesan dalam berkarir atau liburan ke pulau tropis yang eksotis. Rasa cemas akan semakin menjadi-jadi ketika memikirkan masa depan yang belum pasti.

Disinilah manfaat membaca I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki mulai terasa. Baek Se Hee menuliskan, “Berfokus pada diri Anda sendiri” (hal. 33). Alasannya tentu karena “hidup Anda adalah milik Anda sendiri” (hal. 61). Kehidupan dan kematian hanya dipisahkan oleh tanah, tapi apakah kamu benar-benar ingin mati jika masih bisa hidup dan membuat perubahan? Seperti keluar rumah dan membeli tteokpokki misalnya. Baek Se Hee mencoba menyampaikan bahwa sekecil apapun, pasti ada alasan untuk tetap hidup, meskipun rasanya ingin menyerah saja.

Motivasi

Sudahkah kamu menyadari betapa spesialnya dirimu? Baek Se Hee menuliskan, “Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat spesial. Diriku adalah sesuatu yang harus kujaga selamanya.” Itu benar karena tidak ada ‘aku’ yang lain di dunia ini. Maka dari itu, penting sekali untuk berhenti menetapkan standar yang terlalu tinggi atau hidup berdasarkan pandangan orang lain.

Hidup yang seperti itu, menurut rekaman percakapan konseling dalam buku ini, tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Lalu, mampukah seseorang yang tidak mau menerima dirinya sendiri menjadi bahagia dan merubah pola pikirnya tersebut? Tentu saja akan sangat sulit. Ingat, ada peribahasa mengatakan, “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan.” Jadi, semuanya harus diawali dari keinginan yang kuat.

Dengan membaca I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki, ada banyak pesan atau saran yang bisa diambil dan dijadikan motivasi untuk menentukan tujuan atau membuat rencana baru, dan memicu perubahan diri yang lebih membangun dan bersemangat.

Seperti yang Baek Se Hee tulis, “Di saat Anda bisa menerima diri Anda sendiri apa adanya, Anda akan merasa lebih bebas dan nyaman.” Ketika sudah merasa begitu, kesempatan-kesempatan baru akan muncul di depan mata dan membuat kamu merasa lebih hidup.

Secara keseluruhan, I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki merangkum konseling pengobatan distimia atau depresi berkepanjangan yang Baek Se Hee jalani.

Melalui buku ini, pembaca akan menemukan percakapan, kontemplasi, evaluasi diri, dan nasihat yang erat hubungannya dengan usaha penulis mencapai kehidupan yang lebih merdeka dari perasaan cemas dan kehidupan yang tenang tanpa kekhawatiran ataupun kekecewaan. Seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu cantik, ketulusan hati sang penulis dalam membagikan kisahnya melalui buku ini mampu memotivasi pembaca yang memiliki masalah yang sama untuk menjadi versi terbaik dirinya.

Jangan lupa tinggalkan komentarnya. Terima kasih sudah membaca. Have a nice day wherever you are :)

©vivit wijayanti

--

--

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store