Saat Zona Nyaman Tak Lagi Nyaman

Apakah masih bisa disebut “zona nyaman” bila mengurung kita dalam jebakan?

Photo by Nadine Shaabana on Unsplash

Istilah “zona nyaman” sering diartikan sebagai suatu tempat atau situasi di mana seseorang merasa aman atau tentram. Berada di zona nyaman adalah keadaan psikologis di mana hal-hal terasa ‘familiar’, membuat kita merasa berada di lingkungan yang terkendali.

Biasanya, saat di zona nyaman, hidup terasa mudah dan simpel. Mengalir begitu saja tanpa adanya hambatan berarti.

Namun, kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa zona nyaman dapat berubah menjadi jebakan tak kasat mata. Mengapa?

Karena zona nyaman adalah tempat yang stagnan.

Stagnan adalah tempat yang sangat berbahaya, namun seringkali disepelekan.

Stagnasi pada dasarnya berarti kita berhenti bergerak, berhenti berkembang dan maju. Kita hanya diam di tempat. Kalau begini, lalu apa yang membedakan kita dengan batu?

Jika masih menganggap stagnan adalah tempat yang biasa-biasa saja, coba bayangkan kamu membuat genangan air dalam ember kecil yang stagnan (tidak bergerak). Lalu biarkan sampai 24 jam. Apa yang terjadi?

Dalam kurang dari 24 jam, genangan itu akan berubah menjadi tempat favorit pembunuh terbesar di dunia yang menyebabkan 1 juta kematian tiap tahunnya; nyamuk DBD.

Tak hanya itu, 48 jam selanjutnya, jamur, bakteri dan berbagai macam parasit juga akan ikut mampir. Tak sekadar mampir, jam-jam selanjutnya mereka akan berlomba-lomba membuat rumah baru disitu. Pertumbuhan bakteri yang cepat ini akan terus berlanjut dan tidak terlihat selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan jika kita tidak segera menyingkirkan genangan air tersebut.

Genangan air ini adalah zona nyaman kita; dan itulah seberapa bahayanya tempat yang stagnan.

Dari genangan air tersebut, seluruh jamur, bakteri, nyamuk, parasit merupakan cerminan dari ‘hal-hal tak kasat mata’ dalam zona nyaman yang selama ini kita abaikan. Lalu, apakah hal-hal yang tak terlihat ini?

Jawabannya: rasa takut.

Rasa takut untuk berubah. Untuk maju. Untuk berkembang. Rasa takut akan ditolak. Akan gagal. Akan memulai hal baru. Takut atas ketidakpastian dan ketidaknyamanan.

Zona nyaman adalah ‘jebakan’ yang bersumber dari ketakutan kita.

Ketakutan adalah perasaan yang secara diam-diam dapat memakan kita dari dalam. Ia memiliki kekuatan untuk dapat mengendalikan kita dan mendorong kita untuk menjauhi perubahan. Rasa takut memenjarakan kita; namun di saat bersamaan ia juga menghindari kita dari kesakitan, kecemasan, dan kekecewaan.

Saya mengerti, siapa yang ‘suka’ rasa takut?

Banyak dari kita lebih memilih untuk menonton film romansa atau fantasi yang menyenangkan dibanding film thriller atau horor yang menegangkan. Tentu, ini juga masalah selera. Poinnya adalah: rasa takut adalah rasa yang tidak mengenakkan.

Ada kalanya, walau berada di “zona nyaman”, kita tetap merasa “tidak nyaman”. Kita tidak merasa benar-benar bahagia walaupun kita memiliki apa yang kita mau. Kita merasa cemas, gelisah, dan ‘kosong’.

Maka dari itu, sesungguhnya zona nyaman tidak selalu membuat kita ‘nyaman’; namun selalu membuat kita merasa ‘familiar’.

Hal ini karena kita sudah terlalu lama berada di tempat stagnan tersebut, membuat kita menjadi semakin takut untuk melihat maupun melangkah ke luar; bahkan jika itu ‘membunuh’ kita dari dalam. Kita tidak ingin berubah, karena dalam perubahan artinya ada ketidakpastian. Dan ketidakpastian inilah yang menghambat kita untuk maju, tanpa benar-benar menyadari bahwa ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan.

Jika kita benar-benar memahami bahwa hidup penuh dengan ketidakpastian, tentu menjadi tidak masuk akal bagi kita untuk merasa takut. Toh, semua hal di dunia ini tidak ada yang benar-benar pasti. Selalu ada hal di luar kuasa kita yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Kita bisa merencanakan dan memperkirakan, namun hidup mampu membolak-balikkan ‘jalan’ kita hanya dengan sekejap mata.

Yang perlu diingat adalah; semua rasa takut itu hanya ada di kepala kita.

Pertanyaannya, apakah kita mau ‘melawan’ rasa takut itu atau membiarkannya ‘mengendalikan’ kita?

Pentingnya rasa takut dan penderitaan

Rasa takut dapat menghindari kita dari kesakitan dan penderitaan. Namun, apa jadinya apabila kita tidak bisa merasa sakit lagi? Bukankah rasa sakit itu juga adalah hal yang membuat kita ‘merasa hidup’? Kecuali kamu menderita Congenital insensitivity to pain (CIP) —suatu kondisi langka dimana seseorang tidak dapat merasakan (dan tidak pernah merasakan) sakit fisik — maka kesakitan adalah bagian dari kehidupan.

Coba sebutkan apakah ada 1 orang pun di dunia ini yang berhasil atau benar-benar mencapai kebahagiaan tanpa harus menghadapi rasa takut atau keluar dari zona nyaman mereka, saya yakin hasilnya nihil.

Bahkan, Matthieu Ricard, penulis dan biksu asal Prancis yang disebut sebagai orang paling bahagia pun, juga pernah mengalami rasa takut dan penderitaan. Ricard memiliki gelar PHD dalam Genetika Molekuler dari institut French Nobel Laureate. Namun, setelah lulus ia memutuskan untuk meninggalkan karir ilmiahnya dan mempelajari praktik Buddhisme Tibet. Ia keluar dari ‘zona nyaman’nya.

Tahun 1991, Ricard juga pernah kehilangan sahabatnya, Dilgo. Namun ia memilih untuk melewati masa duka tersebut, mengambil hikmah dari kejadian itu dan tetap melangkah maju menuju perubahan.

Seluruh perjalanannya, akhirnya membuat Ricard menjadi biksu yang taat dan penulis yang bijaksana hingga mendapat gelar “The Happiest Man on Earth”. Dalam salah satu karyanya, ia berujar:

Beyond the sensation of pain, there exists a simple, peaceful and alert presence at the core of our experience. — Matthieu Ricard

Hidup memberi kita banyak peluang dan kemungkinan, tetapi kita tidak dapat benar-benar melewatinya tanpa harus menghadapi rasa takut.

Kebanyakan orang memilih untuk menetap di zona nyaman mereka. Mereka menjalani kehidupan ‘pasif’ yang aman dan tentram, seluruh kebutuhan mereka terpenuhi dan tak ada dorongan tertentu yang membuat mereka menginginkan perubahan.

Namun, jika kita tidak mencoba hal baru di luar zona nyaman kita, kita tidak akan berhasil dalam sesuatu yang baru; seluruh pencapaian, impian, prestasi, hasil, dan tujuan. Kitalah yang harus mengambil langkah menuju gerbang kesuksesan, bukan hanya diam di tempat dan menanti keajaiban.

Melepas diri dari jebakan

Untuk menghindari jebakan zona nyaman, kita harus membiasakan diri terhadap ketidaknyamanan dan belajar merasa nyaman dalam ketidaknyamanan.

Hal ini bisa dilatih dengan mulai mencoba hal-hal baru dan memberanikan diri untuk mengambil risiko.

Ketika kita menerima ketidaknyamanan, kita tidak hanya akan meningkatkan skill dan kapabilitas, namun juga meningkatkan kepercayaan diri kita. Rasa percaya diri itu pun akan menumbuhkan keberanian untuk dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Nantinya, ini akan membawa kita menuju zona pertumbuhan (growth zone).

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Tanpa mengambil langkah pertama, tujuan tidak akan pernah kita capai.

Mungkin ‘dunia luar’ tampak menakutkan, menyeramkan, dan penuh ketidakpastian. Namun, disitulah tempat di mana kita akan benar-benar tumbuh, belajar dan berkembang meniti lika-liku kehidupan.

Normality is a paved road: It’s comfortable to walk, but no flowers grow. — Vincent van Gogh

--

--

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Annisa RT

Annisa RT

792 Followers

Writer. A curious soul striving for personal growth. Writes on Mental Health, Self, Psychology, Writing & Marketing | More insight: bit.ly/thecuriositymagnet