Seberapa Berpengaruh sih Hasil Personality Testmu?

Jangan disamakan dengan Zodiak.

Photo by Jason Coudriet on Unsplash

Ada banyak tes psikologi yang bisa membantu kita mengenal diri kita sendiri. MBTI, DISC, four temperaments (Plegma, Sanguins, etc) adalah beberapa tes yang sudah lumrah kita kenal.

Apalagi semenjak tes kepribadian tersedia di internet, akses kita semakin terbuka dan mudah. Tak perlu repot-repot pergi ke psikolog dan menunggu hasilnya.

Tapi menjadi kekhawatiran pribadi karena saya tidak pernah menerima edukasi oleh ahlinya

Menjadi hal yang normal bagi saya untuk:

  • Mengambil tes
  • Mencari informasi tambahan di internet.
  • Setelah itu menginterpretasikan hasilnya sesuai yang saya inginkan.

Saya jadi bertanya-tanya, “Apakah memang seharusnya begini cara kita memakai hasil tes kita?

Untuk itu di suatu Sabtu sore, saya berbincang dengan teman saya, Tasyallthetime, terkait bagaimana seharusnya personality test digunakan.

Source: Dokumentasi Penulis

Artikel ini tidak sepenuhnya objektif, tapi setidaknya saya bisa mendengar opini dari pihak yang menekuni bidang tersebut. Berikut rangkuman catatan yang saya dapat.

Profil Natasya Yochabel Karel

Dalam ranah profesi tujuan personality test adalah membantu psikolog memahami dan menangani pasien dengan cepat dan lebih baik.

Bagi pengambil tes, hasilnya dapat membantu kita mengenal diri kita lebih baik lagi.

Namun menurut Tasya, Fenomena tes kepribadian sangat menarik di Indonesia.

Tes psikologinya banyak dipakai, namun juga banyak yang tidak pernah dibimbing oleh ahlinya.

Hasil Tes Kepribadian Tidak Bisa Ditelan Mentah-Mentah

Source: Ilustrasi Penulis

Misal hasil tes MBTI saya adalah INFJ. Hasil tes menjelaskan pribadi saya yang belum dipengaruhi oleh hal-hal eksternal.

Photo by Kinga Cichewicz on Unsplash

Ibaratnya jika kita baru bangun tidur, saya belum merespons panggilan dari ibu saya di lantai bawah, ataupun panggilan dari bos.

Sedangkan dalam suatu hari pasti ada:

  • Kontak dengan orang lain.
  • Kejadian yang sudah/tidak dapat diprediksi.
  • Kondisi atau suasana bekerja.
  • Kondisi badan yang tidak fit (sakit, menstruasi, etc)

Beberapa contoh faktor-faktor ini bisa mempengaruhi kepribadian kita sehingga terlihat berbeda dengan hasil yang kita terima dari internet.

Karena itu hasil tes psikologi seharusnya dibaca bersama ‘Dokternya’

Ilustrasi Penulis

Walaupun banyak artikel di internet yang sudah menjelaskan siapa diri kita. Bahkan website seperti 16personalities memiliki analisa tersendiri, sebenarnya tetap lebih baik jika hasil tes tersebut dikonsultasikan oleh psikolog.

Seorang psikolog dapat memberikan konsultasi yang lebih pribadi dan lebih dalam karena mendapat data kondisi pasiennya. Hal itu mengapa hasil tes psikolog sifatnya rahasia.

Photo by Philippe Bout on Unsplash

Misalnya jika kalian:

  • Anak sulung dengan 5 saudara
  • Memiliki orang tua yang keras
  • Kondisi ekonomi stabil
  • Bersekolah yang berstatus elit
  • Depresi

Faktor-faktor ini tidak akan tertangkap dan dianalisa oleh sistem tes online.

Justru ketika kita bercakap-cakap dua mata dengan seorang psikolog, kita akan lebih banyak mendapat informasi yang menyeluruh.

Yang berarti, walaupun saya dan teman saya misalnya adalah seorang Plegmatis, tidak berarti kami memiliki sifat yang 100% sama. Analisanya berbeda.

Jangan mengotak-kotakkan seseorang berdasarkan tes kepribadiannya.

Contoh stereotype berdasarkan hasil tes kepribadian. Ilustrasi Penulis

Fenomena ini menggelikan karena banyak orang Indonesia yang menggunakan tes kepribadian layaknya Zodiak.

Walau tes kepribadian membantu seseorang mengenal dirinya, tapi tidak membuat kita mengenal 100% diri orang tersebut.

Ketika kita menganalisa seseorang hanya berdasarkan pengetahuan yang sepotong, bukannya membantu kita mengenal seseorang dengan lebih baik, kita bisa jadi keliru menilai seseorang sebelum bertemu.

“Ketika kita ingin mengenal seseorang, akan lebih baik jika kita mulai berbicara dan mengenal secara personal dalam waktu tertentu.

Barulah kita menanyakan hasil tes kepribadian mereka. Supaya kita sadar apakah tes kepribadian mereka valid atau tidak”. — Tasya

Sayang sekali jika kita mengenal seseorang hanya berdasarkan tes kepribadian semata.

Tanpa informasi yang cukup, berarti kita menjadikan hasil tes sebagai asumsi pada kehidupan seseorang.

Walaupun tes MBTI mengeluarkan 16 macam-macam kepribadian, saya yakin setiap manusia di dunia ini memiliki pribadi yang unik.

Bukankah ada banyak hal yang bisa diperbincangkan oleh suatu orang pada pertemuan pertama. Misalnya:

  • Apa hobimu?
  • Apa makanan kesukaanmu?
  • Apa cita-citamu?
  • Apa yang kamu kerjakan selama ini?

Tes-tes kepribadian sifatnya membantu, tapi tidak sepenuhnya menjelaskan diri kita seutuhnya.

Ilustrasi Penulis — Quote Tasya

Jika Kalian Tidak Mengenali Diri Sendiri dengan Baik, Hasil Tes Psikologi Bisa Terus Berubah

Teman saya pernah mengeluh,

Ilustrasi Penulis

Menurut Tasya ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini terjadi.

  • Orang tersebut sedang mengalami kejadian yang berdampak besar pada kehidupannya.
  • Support system yang dimilikinya berganti atau malah tiada.
  • Pindah tempat tinggal jadi harus selalu beradaptasi.
  • Berpikir terlalu lama untuk memprediksi jawaban dari tes.
  • Dan belum mengenal dirinya dengan baik.

Tasya bercerita dia pernah menguji beberapa anak SMP untuk tes psikologi dengan pilihan ganda.

Contohnya tesnya misalnya seperti ini:

Pilihlah yang paling mencerminkan siapa diri kamu:

a. Senang bercanda.

b. Sabar.

c. Pemikir.

d. Rajin.

Setelah membaca pertanyaan tersebut, seorang murid SMP bertanya kepada Tasya,

“Miss dari pilihan ini, saya kira-kira yang mana ya?”

Siswa tersebut kebingungan sendiri karena tidak mengerti siapa dia.

Tidak hanya dalam jenjang SMP, ketika saya melihat teman-teman mencoret jawaban tes psikologi di SMA, sering dari mereka sangat lambat memilih jawabannya karena harus berpikir keras.

Di masa akil balig, pubertas, ataupun krisis identitas, pasti ada sifat dari kita yang berubah sedikit demi sedikit.

Bisa jadi ketika usia belia kamu merasa dirimu suka bertemu orang lain, tapi ketika sudah dewasa kamu menyadari ternyata lebih menyenangkan mengumpulkan energi ketika sendiri.

Kita mulai memahami siapa diri kita sebenarnya karena ada pertumbuhan emosional yang lebih matang, dan itu membutuhkan waktu.

Jika kalian sampai sekarang merasa belum mengenal diri kalian sendiri. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Banyak-banyak merenung.
  • Punya support system yang bisa jujur untuk memberikan saran atau komentar yang membangun.
  • Mengambil tes grafis (karena tidak memiliki pilihan ganda).

Kamu Harus Tetap Mencoba karena Hidup Tidak Seideal Hasil Tes Kepribadian

Ilustrasi Penulis

Dalam setiap tes psikologi, pasti ada bagian yang menjelaskan pekerjaan apa yang paling ideal bagi seseorang. Entah itu Researcher, seniman, penulis dan banyak hal lagi.

Seringkali orang menjadikan hasil tes kepribadian menjadi pedoman satu-satunya dalam hidup.

Padahal di dunia ini ada banyak sekali pekerjaan baru yang bermunculan, ataupun banyak hal yang belum dicoba sehingga diri sendiri tidak tahu kapasitas pribadinya.

Teman saya memilih teknik sipil, padahal berdasarkan tes kepribadiannya cocok dengan jurusan ilmu komunikasi. Walau begitu dia tetap bisa lulus dan bekerja di tempat yang diinginkan.

Memang tidak semua orang punya pengalaman yang seideal teman saya, tapi dari sana saya juga berpikir, “Oh ternyata ada orang yang bisa ketika mau mencoba.”

Bakat memang tidak dapat diubah dari lahir, tapi kemampuan adalah sesuatu yang bisa dibangun.

Tidak ada pengetahuan yang akan sia-sia,

tidak ada pengalaman yang terbuang percuma.

Hidup memang tidak seideal cerita di film. Tidak semua orang mempunyai privilege mendapatkan pekerjaan atau jalan hidup yang sesuai dengan hasil tes kepribadiannya.

Tapi tenang, manusia memiliki kemampuan adaptasi yang kuat. Menurut John C Maxwell dalam bukunya No Limit ada dua topi yang membuat orang-orang tidak berkembang.

  1. Topi yang orang lain taruh padamu.
  2. Topi yang kamu taruh pada dirimu sendiri.

“Kamu Sanguins, kamu nggak cocok kerja belakang meja”, “Aku tipe Plegma aku nggak cocok memimpin orang”.

Ketika kita mengetahui kekurangan kita dari analisa tes kepribadian, seharusnya kita bekerja lebih keras untuk memperbaikinya. Bukan menyerah dan diam di tempat.

You can be successful if others don’t believe in you,

but you cannot be succesfull if you don’t believe in yourself.

— John C. Maxwell.

What do you think? Yuk bagikan pendapatmu.

Ilustrasi Penulis

--

--

Komunitas Blogger Medium. Tempat kumpul, berbagi dan berinteraksi sesama blogger Medium dari Indonesia

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store