Artikel SEO atau Artikel Viral?

Di sini, anda akan belajar bagaimana membuat kombinasi artikel SEO dengan artikel psikologis (artikel viral).

Artikel seperti ini berfungsi meningkatkan trafik pengunjung blog sekedip mata.

Sebelum menulis artikel ini, saya membaca beberapa referensi cara membuat artikel.

Saya bukan online marketing expert, melainkan content marketing producer yang sudah bekerja sama dengan beberapa pebisnis online.

Setelah membaca beberapa artikel yang menarik, saya simpulkan bahwa artikel yang baik dan benar adalah artikel yang human friendly.

Apa itu artikel human friendly?

Artikel yang sesuai kebutuhan, keinginan, selera, dan nyaman bagi pembaca.

Untuk membuat artikel yang seperti demikian, anda harus mempelajari cara menulis artikel dengan susunan yang benar.

Kenapa harus begitu?

Karena:

  1. artikel akan dibaca manusia. Sehingga, anda yang berpengalaman menulis ilmiah atau di koran pun belum tentu bisa.
  2. perilaku pembaca artikel berbeda dengan pembaca buku. Pembaca artikel memiliki “hak” untuk tidak membaca setiap kalimat bahkan kata di artikel Anda.
  3. artikel berpedoman pada mesin pencari. Artikel harus sesuai “aturan” mesin pencari, salah satunya Google.

Dulu, ketiga konsep tadi terbilang sederhana. Namun, di tahun 2016, semua itu tidaklah sesederhana itu .

SEO Ranking Factor tahun 2015

Terkait hal ini, ucapkan terima kasih terlebih dulu pada Searchmetrics.com.

Situs ini membantu pebisnis online mengetahui perkembangan SEO Ranking Factor’s.

Apa itu?

Kriteria website agar bisa masuk di halaman pertama mesin Google.

Dulu, SEO Ranking Factor’s terdiri dari 17 faktor. Saat ini, jumlahnya sudah meningkat.

Fenomena media sosial membuat tatanan SEO Ranking berkembang secara signifikan. Artikel akan “naik daun” bila disertai strategi artikel viral.

Bagaimana bisa?

Artikel viral bekerja dengan cara menambahkan “emosi” tertentu di dalam artikel SEO. Dampaknya, pengunjung membanjiri artikel serta tidak lupa membagikannya melalui media sosial.

Teknik viral content melejitkan trafik website secara mendadak.

Perkawinan media sosial dan search engine, pada akhirnya, tidak bisa dielakkan. Sehingga, jadilah SEO Ranking Factor’s seperti ini.

SEO Ranking Factor tahun 2016

Tulisan ini membahas 3 poin tadi dan bertujuan membuat artikel yang bisa “mengakali” si Google Ranking Factor’s.

Siapkan tempat duduk yang nyaman dan dua gelas minuman, disertai makanan kecil di sampingnya.

Lalu, mari dimulai.


Lupakan teknik SEO. Di bagian ini, Anda akan belajar membuat artikel yang:

  • memuaskan naluri kebutuhan, keinginan, dan harapan pembaca
  • memiliki bobot dan kualitas lebih dibanding yang sudah ada
  • mencipatakan rasa penasaran
  • tata bahasa dan ejaan “untuk” dibaca
  • mudah dipahami
  • patut dibagikan
  • sederhana, tetapi mengena
  • memiliki “cerita” (story telling)
  • memakai strategi click bait
  • [Bonus] mampu mengatasi teknik F-shaped pattern
  • [Bonus] memraktekkan strategi inverted-pyramid
  • [Bonus] memasukkan latent semantic indexing (LSI) di artikel

Pembaca memiliki motivasi tertentu saat membaca sebuah artikel. Entah itu sebagai hiburan, rekomendasi memilih produk, hingga menyelesaikan masalah genting di dalam hidupnya.

So, artikel bukan hanya sekedar “pelengkap”. Dia merupakan alat penghubung Anda dengan pelanggan.

Misalnya blog ponselmu.com dengan peringkat Global 286,886 dan Indonesia 5,227.

Namanya tidak terlalu menarik, tetapi jelas menggambarkan topik artikel yang dibahas. Ya, saat ini bertebaran blog review smartphone dan device terbaru. Namun, kenapa saya memilih blog ponselmu?

Selain isi yang lebih rinci dan terasa “manusia”, artikel ponselmu memiliki:

  • jumlah kata perartikel sebanyak lebih kurang 1000 kata.
  • foto high quality di dalamnya
  • bahasa yang mudah dipahami
  • kalimat nyaman dibaca
  • isi lebih rinci dengan disertai penjelasan topik terkait lainnya
  • gemar berkomunikasi dengan pembaca melalui kolom komentar dan akun media sosial
  • hobi membagikan artikel di akun Twitter

Meski ada 7 hal positif yang patut ditiru, tetapi masih ada beberapa hal negatif yang harus Anda acuhkan dari blog Ponselmu.com.

Agar lebih gamblang, mari membahas satu persatu kriteria artikel untuk manusia berikut ini:


Memuaskan naluri kebutuhan, keinginan, dan harapan pembaca

Artikel harus dibuat berdasarkan konsep yang jelas. Bukan asal tulis. Setiap paragraf memiliki substansi tersendiri. Hal ini terdengar “melelahkan”, tetapi beginilah faktanya.

Sebagai informasi, saya butuh 15 hari untuk membuat artikel ini. Mulai dari hunting ide, riset substansi, mencari referensi, hingga kroscek tata penulisan.

Hasilnya?

Tata tulis ala kadarnya, isi dangkal, dan kurang spesifik.

Apalagi Anda yang ingin meningkatkan trafik bisnis online melalui artikel, Anda wajib membiasakan diri mengakses Google Keyword, ubersuggest.io, keyword.io, keywordtool.io.

Itu merupakan daftar situs “hunting keyword” atau berburu kata kunci.

Sesuatu yang dibutuhkan, diinginkan, dan diharapkan pembaca terlihat jelas di tool keyword research.

Namun, apabila Anda ingin mendapat informasi lebih merinci, lakukan wawancara, survei, atau bahkan observasi ke target market.

Tenang, saat ini kegiatan survei pelanggan lebih mudah. Anda bisa menggunakan beberapa tools, seperti:

  1. kataanda.com
  2. jajakpendapat.net
  3. gudpoin.com
  4. nusaresearch.net
  5. id.ann-kate.com

Situs-situs tadi memberi reward kepada responden yang sesuai kriteria dan mau menjawab survei.

Sehingga, Anda tidak perlu lagi bingung mencari, mencatat, lalu menghubungi pelanggan satu-persatu.

Situs survei online membantu Anda mencari, mencatat, hingga menyebarluaskan survei.

Anda hanya perlu mendaftar atau menghubungi pihak situs survei online, lalu berikan deskripsi kriteria pelanggan dan list pertanyaan survei. Tunggu beberapa saat, Anda akan mendapatkan hasilnya.

Bagi Anda yang masih bingung menentukan seperti apa kriteria atau “spesifikasi” pelanggan, silahkan pahami 1001 cara menemukan kriteria pelanggan ini.


Memiliki bobot dan kualitas lebih dibanding yang sudah ada

Artikel berbobot tidak selesai dalam satu malam, bahkan satu jam. Jangan sampai Anda salah tafsir. Artikel berbobot tidak selamanya harus panjang dengan substansi yang jelas.

Hal ini tergantung niche.

Apabila niche Anda berupa daily news, maka artikel tidak harus panjang, tetapi topik selalu fresh. Pada niche review, artikel harus panjang, tetapi substansi lebih spesifik dibanding yang sudah ada…

… lalu, bagaimana membuat artikel yang berbobot sesuai niche?

Pertama. Temukan 3 blog terbaik yang sesuai topik. Pastikan ketiganya memiliki kesamaan substansi sesuai artikel yang sedang dibuat.

Kedua. Temukan poin-poin artikel dari ketiga blog tadi. Lalu, simpulkan poin-poin ketiga blog tadi dan catat.

Ketiga. Lakukan perburuan keyword melalui situs Google Keyword, ubersuggest.io, keyword.io, keywordtool.io. Tambahkan keyword ini di kolom Keyword Terkait.

Keempat. Pilih poin mana yang dibutuhkan pembaca dan mana yang tidak dibutuhkan.

Kelima. Cari referensi sebanyak-banyaknya. Mulai dari artikel, berita, data statistik, hingga jurnal penelitian.

Keenam. Buat konsep artikel yang akan Anda buat. Biasanya berupa poin-poin.

Gunakan GoogleSheet untuk mempermudah tahap demi tahap panduan di atas.

Tahap pemilihan poin yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan pembaca merupakan tahap paling krusia. Apabila salah, maka artikel tidak akan sesuai ekpektasi.

Mudahnya, poin yang dibutuhkan pembaca, yaitu:

  • Sudah sering dibahas, tetapi sulit dipahami dan belum spesifik
  • Sudah ada, isi terlalu dangkal
  • Belum pernah ada yang membahas
  • Bentuk berupa text saja; belum ada infografis, ebook, motion grafis, video, podcast, hingga map thinking.

Tata bahasa dan ejaan “untuk” dibaca

Menulis itu mudah. Namun, cara membuatnya amat melelahkan. Anda bisa melihat-lihat contoh artikel yang sesuai gaya Anda untuk mempermudah proses pembuatan artikel.

Lupakan teknik menulis EYD seperti yang diajarkan guru SD Anda.

Teknik EYD menghasilkan tulisan “kaku” yang tidak cocok untuk sebagian pembaca internet. Faktor niche berpengaruh pula pada tahap penulisan artikel.

Meski bertentangan dengan EYD, Anda tetap harus paham benar dengan konsep SPOK. Konsep ini memudahkan Anda menyusun kata tiap kata di dalam kalimat.

Harapannya, agar setiap kalimat mudah dibaca dan dipahami pembaca.

Detail artikel di sini

Beberapa orang menyebut “tulisan yang mudah dibaca” dengan sebutan “readability”.

Lalu, seperti apa tulisan yang readability?

Dikutip dari akun Ivan Lanin, berikut kriterianya:

Pertama. Usahakan kalimat tidak terlalu panjang. Ini akan menyulitkan pembaca saat memahami isi kalimat.

Apabila kalimat “harus” panjang, maka pecah menjadi beberapa klausa. Batasannya, panjang setiap kalimat tidak boleh lebih dari 1,5 baris.

Kedua. Dahulukan kata kerja aktif dibanding pasif. Selain itu, hindari pula frase kata benda atau kata sifat kompleks.

Ketiga. Beri sedikit space di setiap kalimat bahkan paragraft, seperti jarak antarparagraf, tepi (margin) halaman, dan ruang antarkolom.

Pembaca lebih betah bila aktivitas membaca didukung “lingkungan” seperti ini.

Keempat. Usahakan jarak perbaris tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh. Besaran jarak tergantung ukuran font. Misalnya, jarak ukuran font 12px perbaris sebesar 12pt-13pt.

Kelima. Jenis dan ukuran font nyaman di mata. Rekomendasi jenis font yang nyaman di mata, yaitu proxima nova, montserrat, dan cambria.

Selain itu, Anda bisa pula menggunakan jenis font lain. Syaratnya, perbedaan bentuk huruf bold, normal, dan italic sangat jelas. Pastikan ukuran font standart yaitu 12 hingga 13px.

Keenam. Huruf besar dan kecil memudahkan pembaca. Variasikan kata “penting” di dalam tulisan dengan huruf tebal atau KAPITAL.

Ketujuh. Jangan sampai satu paragraf terpotong dengan adanya kolom, foto, tabel, atau bahkan element lain. Selain itu, judul (heading) dan subjudul (subheading) ditandai dengan letak dan ukuran font.

Kedelapan. Warna background membuat mata pembaca nyaman. Hindari menggunakan jenis warna “mencolok” mata, seperti merah, kuning, jingga, atau bahkan biru dan hijau.

Pilih warna soft atau lembut sebagai latar belakang. Anda bisa memakai color-hex.com untuk memudahkan pemilihan kombinasi warna.

Kesembilan. Tambahkan beberapa objek di dalam artikel agar pembaca semakin betah berlama-lama membaca.

Misalnya, foto, animasi, tabel, diagram, hingga video dan podcast.

Terlalu banyak text membuat mata pembaca lelah sehingga objek visual dan pendengar perlu pula dimasukkan.


Mudah dipahami siapa saja

Sesulit apapun niche artikel, hindari penggunaan bahasa teknik. Memang benar, Anda sudah menargetkan siapa pembaca artikel, tetapi bukan berarti semua pembaca paham setiap istilah “unik” di topik tersebut.

Anda tetap boleh memasukkan istilah teknik, tetapi tuliskan pula keterangan mengenai istilah tersebut sesudahnya.

Selain memudahkan pembaca memahaminya, Anda pun membantu pembaca terlihat lebih smart dengan memperkenalkan istilah baru.

Atau, penjelasan istilah menggunakan gambar ilustrasi atau bahkan video. Salah satunya menggunakan powtoon. Situs ini membuat siapa saja, termasuk Anda, bisa membuat video secara mudah dan gratis.

Tertarik menggunakannya?

Silahkan kunjungi situs powtoon.com, daftarkan diri, lalu buat video.

Apabila kesulitan, di sana tersedia pula halaman panduan cara membuat, keuntungan menjadi premium member, contoh video animasi buatan user powtoon, hingga marketplace jasa pembuatan video powtoon yang “mewah”.


Patut dibagikan

Artikel Anda sudah panjang dan “terlihat” berbobot. Namun, apakah artikel itu patut dibagikan?

Tidak semua artikel patut dibagikan. Ada beberapa syarat agar artikel patut dibagikan, yaitu:

  • Informasi padat dan tidak bertele-tele
  • Topik fresh
  • Bentuk visual menarik; terdiri dari text, foto atau animasi ilustrasi, berbentuk video, dst.
  • Subtansi lebih baik dari artikel yang sudah ada
  • Tombol “share” media sosial yang kentara (di bawah atau di samping artikel)
  • Judul dan isi sesuai
  • Opsi berbagi ke media sosial tidak lebih dari 4 jenis. Misal: Facebook, Twitter, Instagram, dan Pinterest,

Kenapa artikel harus berkriteria “patut dibagikan”?

Sumber QuickSproud

Hal ini berhubungan dengan istilah social influencer. Yang intinya, potensi calon pelanggan menjadi pelanggan dipengaruhi oleh teman, keluarga, dan orang terdekat lainnya.

Kedekatan yang dimaksud adalah “rasa percaya”.

Ketika seseorang yang “dipercayai” pelanggan mereview produk secara positif, maka ia akan membeli atau memakai produk tersebut.

Sebaliknya…

Apabila orang terdekat mengatakan “tidak”, maka pelanggan akan ragu membelinya.


Sederhana, tetapi mengena

Berlaku sederhana itu sulit. Namun, sesuatu yang sederhana itu terbaik. Semakin banyak opsi, maka semakin besar informasi yang terlupakan pembaca.

Crew.co menjelaskan, rata-rata pembaca hanya mampu menghafal 5–9 hal dalam sekali waktu. Apabila lebih dari itu, maka artikel menjadi sia-sia.

Namun, sederhana bukan berarti tidak berbobot. Kuantitas bisa jadi terbatas, tetapi kualitas harus tetap tinggi.

Bagaimana cara membuatnya?

Anda kenali dan manfaatkan emosi pelanggan. Ada lebih dari 7 jenis emosi manusia, tetapi gunakan 4 emosi saja….

…… yaitu membahagiakan, menyedihkan, mengagumkan, dan menyebalkan.

4 jenis emosi untuk marketing

Hal ini terkait efektivitas marketing. IPA dataBANK membeberkan bahwa content marketing bernilai emosi memiliki presentase efektivitas sebesar 31%…

unggul 5% dari content marketing campuran (logis dan emosi), serta 2x lipat lebih efektif dibanding content marketing logis.

Tambahan, penelitian IPA dataBANK ini berdasarkan 1400 kasus media periklanan dunia.


Memiliki “cerita” (story telling)

Setiap artikel harus memiliki “hiasan” cerita di dalamnya. Adanya alur cerita membuat pembaca mudah menyimak artikel.

Sumber i-scoop.eu

Story telling harus ada di dalam artikel, menurut Jeffbullas.com, karena:

  • disukai pembaca dan terkesan lebih “alami”. Bila sebuah artikel diawali atau disisipi story telling, maka itu akan menghibur pembaca. Akibatnya, ia membaca lebih lama dibanding sebelumnya.
  • meningkatkan kredibilitas content. Cerita tidak selalu berjalan mulus. Adakalanya buruk dan menyenangkan. Ketika pembaca “mendapat” kejujuran seluk-beluk (baik dan buruk sekaligus), ia merasa dihargai.
  • cerita lebih menarik dibanding fakta data dan statistik. Fakta ini berdasar hasil kajian dari beberapa peneliti di Pennsylvania University. Dimana dokter lebih paham dan hafal kondisi pasien melalui cerita pasien dibanding dalam bentuk “data tertulis”.

Setelah tahu betapa pentingnya cerita di dalam artikel, sekarang saatnya membuat. Ada 6 tahap menulis cerita di dalam artikel, yaitu:

Personalisasi. Buat tokoh di dalam artikel. Misalnya, menjadikan pembaca sebagai tokoh utama. Anda pun sering menyapa pembaca dengan kata “Anda”.

Sebaliknya, hindari membuat artikel yang terkesan abstrak.

Personalisasi artikel ditampilkan dalam bentuk nama sapaan, kesamaan masalah, aktivitas sehari-hari, serta segala hal yang berkaitan dengan pelanggan Anda.

Memiliki emosi. Sesekali bercandalah dengan pembaca. Jangan sungkan menunjukkan beberapa emosi Anda, sebagai penulis, kepada pembaca

Misalnya, marah, sedih, malas, hingga bersemangat.

Khusus di poin ini, nilai saya masih nol besar. Terlalu lama menulis artikel “teknis” membuat ekpresi di dalam artikel terpinggirkan.

Penambahan emosi di dalam artikel dilakukan dengan cara mendeskripsikan kondisi lingkungan atau bahkan keadaan fisik tokoh.

Objek visual seperti foto atau karakter pun bisa Anda manfaatkan untuk menunjukkan emosi.

Bahkan, 12 warna ini bisa dimanfaatkan guna mengekspresikan emosi manusia. Namun, penggunannya harus disertai ilustrasi visual yang jelas.

Sudahkah Anda tahu?

Seorang peneliti neuroscientist (reaksi kimia di otak manusia) bernama Antonio Damasio mengungkan bahwa…

Decisions are Emotional, not Logical

Artinya, pengaruh artikel beremosi terhadap keputusan membeli pelanggan itu sangat besar.

Penelitian yang termuat di bigthink.com ini memaparkan, keputusan berdasarkan “emosi” lebih sederhana dan cepat. Sedangkan, keputusan berdasar pikiran logis sangat kompleks dan butuh waktu lama.

Sehingga, buatlah artikel dengan porsi “emosi” tinggi. Dari sisi pemilihan kata, warna, tambahan objek, hingga teknik penulisan dan substansi artikel.

Rencana penyelesaian masalah. Solusi merupakan kebutuhan pelanggan. Sebagian besar orang mau mengeluarkan anggaran tidak terbatas demi menjauh dari kata “masalah”.

Begitu pula pembaca Anda.

Rencana penyelesaian masalah tidak harus berupa deskripsi panduan yang panjang lebar. Cukup cantumkan poin-poin solusi apa yang Anda tawarkan.

Sumber tukang.id

Masalahnya, memasukkan hal ini ke dalam artikel tidaklah mudah. Apalagi artikel dengan panjang 2000 kata.

Contoh di atas dipakai pada landing page situs tukang.id. Khusus di dalam artikel, Anda bisa meniru cara yang saya gunakan di artikel kali ini…

…. yaitu menuliskannya dalam bentuk bullet and numbering dan diletakkan di dekat subheading artikel.

Bentuk bullet and numbering bertujuan men-display “menu” apa saja yang tersedia di dalam artikel.

Cara ini pun membantu pembaca mengidentifikasi isi artikel. Supaya ia tidak membuang-buang waktu bila isi artikel tidak sesuai kebutuhan.

Bertindak layaknya jurnalis handal. Artikel berbobot selalu disertai investigasi. Di bagian ini, Investigasi dikenakan pada lingkungan internal bisnis dan atau lingkungan eksternal.

Pertama (internal). Brand, etos dan budaya kerja, hingga kriteria pengguna atau pegawai Anda merupakan beberapa jenis elemen yang perlu diobservasi dan wawancara.

Cara ini sudah dipakai tim marketing Nissan di tahun 2011.

Seorang content writing serupa jurnalis berpengalaman dengan teknik ini. Mencari sumber valid melalui media sosial, wawancara, observasi langsung, hingga menyebarkan survei online.

Ketiga tugas tersebut harus bisa di-manage oleh content writer.

Kedua (eksternal). Seorang marketer harus ditunjang laboratorium online. Dan, media sosial, blog, keyword research tool, hingga situs toko online pun menjadi objek pengamatan.

Teknik eksternal ini sudah digunakan oleh Coca-Cola, Walt Disney, Apple, Cisco, American Express, dan lain-lain. Sumber.

Penerapan penggalian data dapat dibantu teknik SWOT Analysis. Setiap bisnis atau perusahaan pasti memiliki titik:

  • kelebihan (Strengths)
  • kesempatan (Opportunities)
  • kelemahan (Weaknesses)
  • ancaman (Threats)

Nah, inti dari teknik SWOT yaitu menggali keempat hal tersebut.

Di dalam artikel, teknik ini dipakai sebagai bahan pelengkap. Di sela-sela artikel, Anda masukkan beberapa hal dari hasil SWOT Analisis ini.

Tampak sulit, dulu saya mengalaminya. Dan itu wajar.

Bila Anda sudah terbiasa membuat alur cerita di dalam artikel, maka cara ini akan tampak sederhana. Penerapan SWOT Analisis membuat artikel lebih “kaya” dibanding sebelumnya.

Tambahkan data. Data lebih berharga dibanding fakta. Terkadang apa yang dilihat tak tepat menggambarkan kondisi lingkungan. Socialmedia.biz menemukan 4 nilai penting data bagi online marketer.

Baik data kualitatif atau kuantitatif.

Data di dalam artikel berfungsi meningkatkan skor kredibilitas artikel di mata pembaca. Kadangkala, Anda harus memberi “makan” pikiran logis pembaca. Dan, data merupakan jenis makanan untuk itu.

Di dalam artikel, Anda tambahkan beberapa data terkait topik. Salah satu bank data sebagai referensi content marketer, seperti:

Apabila visualisasi data kurang begitu “sedap” dipandang, maka Anda bisa me-redesign ulang dengan desain yang lebih segar dan nyaman bagi pembaca.

Ajak pembaca mengikuti alur cerita. Buat artikel layaknya medan petualangan. Di dalamnya, tidak hanya berisi subtansi artikel, tetapi kejutan-kejutan menyenangkan pun bisa ditempatkan.

Agar Anda dan pembaca bisa “klop”, masukkan sedikit cerita latar belakang atau keseharian bisnis. Bagi pembaca, ini membantunya memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu.

Namun, membuat artikel seperti demikian tidaklah mudah.

Setidaknya, Anda harus mengimplementasikan 5 tahap dari Writeitsideways.com ini agar artikel serasa “hutan” penuh tantangan.

Caranya?

  • buat pembaca bertanya-tanya. Tampilkan beberapa klu di awal artikel. Klu atau kata kunci bisa berupa preview isi artikel, hasil akhir artikel, dan atau beberapa fakta menarik terkait substansi artikel lainnya.
  • awali dengan moment penting. Momen ditampilkan dalam bentuk naratif atau bahkan deskriptif. Bisa berupa berita hot mengenai substansi artikel atau data statistik. Intinya, di poin ini Anda harus bisa membuat pembaca ingin “merogoh” lebih dalam ketika pertama kali membaca.
  • sajikan foto menarik. Anda bisa mengambil beberapa foto haigh quality di situs unsplash.com, pexels.com, kaboompics.com. Tempatkan foto di bawah subheading (h2).
  • uji dengan kondisi tidak biasa. Sesekali berikan kejadian mengejutkan bagi pembaca. Misalnya, sedikit argumen kontroversial. Tegaskan argumen dengan data, fakta, atau bahkan jurnal hasil penelitian.
  • mulai dengan penulisan naratif. Meski Anda berstatus sebagai content writer, sembunyikan jati diri Anda di awal artikel. Poin ini bertujuan memperluas pengetahuan pembaca secara kronologis. Terkait tata cara penulisan narasi, bisa Anda pelajari di laman id.wikipedia.org ini.

Memakai Strategi Click Bait

Sudahkah mengenal Click Bait?

Contohnya seperti ini:

Sumber Hipwee

Click Bait adalah teknik pembuatan judul dimana aspek “psikologis” pembaca dijadikan sebagai target.

Ketika membaca judul click bait, pembaca secara otomatis menciptakan ekpektasi isi artikel. Sehingga, dia akan mendorong dirinya membuka artikel.

Kenapa menggunakan Click Bait?

Teknik ini sukses dipakai oleh hipwee.com untuk mendapatkan 15 juta pembaca perbulan.

Venngage.com menambahkan bahwa tidak semua tipe judul click bait itu efektif. Click bait tipe element of shocking dan unknown/new concept saja yang gemar mendapat klik dari pembaca.

Sumber venngage.com

Seperti yang terlihat, judul click bait memiliki beberapa tipe, yaitu:

Listing. Judul memuat jumlah substansi artikel. Cocok digunakan pada artikel tips, panduan, dan review.

Misalnya: 10 panduan membuar artikel SEO, 14 cara memperbaiki iPhone lemot, dst.

Personal Story. Memuat judul yang berisi pengalaman.

Misalnya: 10 Kesalahan Cara Membuat Artikel SEO Yang Membuat Trafik Blog Menurun, 5 Cara Mudah Mengubah Smartphone Rusak Menjadi Uang 1 Miliar, dst.

Animal. Memasukkan segala hal terkait binatang ke dalam judul.

Misal: Kumpulan Fakta Binatang Yang Membantu Pekerjaan Content Marketing, Kebiasaan Hibernasi Para Novelis Yang Membuat Mereka Tetap Produktif, dst.

POP Culture/Food. Layaknya tipe Animal, tipe ini memasukkan beberapa hal mengenai budaya, makanan, dan segala hal yang sedang ramai diikuti.

Misalnya: Teknik Penulisan Artikel Kekinian Yang Berhasil Menarik 1 Juta Viewer Perbulan, Belajar Strategi Penjualan Toko Roti Amanda Bagi Bisnis Toko Online Yang Sedang Lesu, dst.

Unknown/New Concept. Teknik yang tidak biasa dan tercipta begitu saja. Biasanya, click bait tipe ini dibuat dengan teknik kombinasi antartipe click bait.

Misal: 10 Cara Menghilankan Jerawat Yang Efektif Membuat Sandra Dewi Tetap Cantik, dst.

Element of shock. Tipe ini paling banyak digunakan. 79% judul clickbait bertipe ini pasti efektif menyihir pembaca.

Contohnya: Modal Cangkul dan Karung, Orang Ini Berhasil Memiliki 100 Hektar Sawah.


Menanggulangi teknik F-shaped pattern

Pembaca tidak pernah membaca semua kata di dalam artikel. Dia hanya memilih beberapa kalimat atau bahkan kata yang menarik.

Artinya, setiap paragraf di dalam artikel tidak pasti disimak oleh pembaca. Teknik F-shaped pattern digambarkan seperti berikut.

Dia hanya membaca beberapa objek saja. Semakin ke bawah, semakin sedikit yang dibaca.

Teknik membaca seperti ini biasa dikenal sebagai disebut scanning atau skimming.

Dari sisi pembaca, teknik ini sangat membantu karena mempersingkat kegiatan membaca tulisan. Namun, hal ini berimbas tak nyaman bagi pembuat tulisan.

Atasi fenomena ini dengan membuat artikel yang:

  • memiliki judul samar-samar
  • menempatkan format bullet and numbering di beberapa bagian
  • di setiap paragraf terdiri dari 3–4 kalimat
  • setiap kalimatnya tidak lebih dari 1,5 baris (maksimal) atau 13 kata.
  • disertai objek tambahan sebagai pelengkap

Memraktekkan Strategi Inverted-pyramid

Masih berkaitan fenomena scanning atau skimming. Agar artikel dibaca lengkap oleh pembaca, usahakan menggunakan desain artikel berbentuk pyramid.

Pernah kenal metode berpikir induktif dan deduktif? Teknik pyramid cenderung mirip dengan metode deduktif, yaitu:

  • membahas gambaran umum di artikel
  • informasi tambahan sebagai penguat, berupa preview artikel di tiap subheading atau paragraf.
  • detail penjelasan berdasar subheading
  • kesimpulan dari substansi artikel.

Semakin ke bawah, pembaca semakin lelah membaca. Sehingga, Anda harus pandai-pandai memuat tulisan yang tidak membosankan dan variatif.

Harapannya, pembaca tidak melewatkan satu pun kalimat atau bahkan kata.


Sebelum beranjak, rebahkan tubuh dengan video ini:


Memasukkan (Latent Semantic Indexing) LSI

LSI serupa dengan sinonim di dalam bahasa Indonesia. Namun, konteks dan kondisinya lebih spesifik.

Secara teknis:

LSI atau Latent Semantic Indexing merupakan sekumpulan kata atau frase umum yang sering digunakan di mesin pencari dan diidentifikasi oleh ssitem sebagai katak kunci.

Penampakan LSI:

LSI ditempatkan di beberapa bagian di artikel. Cukup kata kunci yang di bold saja yang Anda masukkan.

Pada contoh di atas, LSI keyword bunga mawar adalah:

  1. klasifikasi lebih rendah
  2. arti
  3. rose pierre-de-ronsard
  4. lagu
  5. untuk pacar
  6. putih
  7. harga
  8. biru

Kedelapan LSI tadi tidak harus masuk ke dalam artikel. Ketika memasukkannya ke dalam artikel, LSI harus serasi dengan konteks artikel. Usahakan jangan memaksa.

Terkadang, daftar kata kunci LSI tidak relevan dengan substansi artikel. Apabila demikian, hindari menggunakan LSI tersebut.

Bila kata kunci LSI yang ada tidak relevan, maka:

  • masukkan beberapa topik terkait di artikel.
  • hindari memasukkan sembarang keyword
  • jangan sesekali menggunakan software artikel spin.
  • pastikan artikel dibuat berdasarkan konsep jelas karena artikel itu untuk dibaca.
  • manfaatkan Google Webmaster Tools untuk melihat beberapa keyword populer di blog Anda.

…….. bersambung.

I’M HERE!

Complete PORTOFOLIO HERE
Like what you read? Give Prambudi M. a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.