Sebelum Tuhan Menetes di Rahim Istriku

Di balik hal-hal yang tak terduga, selalu ada penanda yang mendahuluinya. Kita hanya terkadang tak memikirkannya, tak mengantisipasinya, dan membiarkan tanda-tanda itu berlalu hingga menjelma nyata.

Apakah mungkin kitalah yang menciptakan ketakterdugaan kita sendiri?

Di kuartal pertama tahun 2012, sehari setelah Hari Perempuan, sepuluh purnama lagi sebelum kiamat versi kalender Maya, saya ingat betul pernah menulis puisi bertajuk “Wanita Dengan Bunga Plastik di Dadanya”. Di bait akhir puisi itu saya menutupnya dengan sesumbar fantasi (untuk tidak menyebutnya sebagai doa apalagi sumpah):

Tuhan/demi wanita-wanita yang/melewati harinya kemarin pagi/membelai dalam-rindu dendam alam/Inilah wanita/pagar nafasku hari ini.

Puisi itu hakikatnya hanya rayuan gombal. Tujuannya sekadar basa-basi untuk melanggengkan konvensi asmara yang saya bangun bersama seorang perempuan; agar minimal ia merasa bahagia di hari ulang-tahunnya meski hanya dihadiahi sepotong puisi.

Eh, siapa yang menyangka, tiga tahun kemudian, perempuan yang bersembunyi di balik puisi itu menjadi pendamping hidup saya setelah berpacaran-putusnyambung selama hampir setengah dekade.

Tapi barangkali itu biasa. Perpacaran yang berlangsung hingga ke sofa pelaminan bukankah hal yang biasa saja (dan lumrah adanya)?

Namun yang masih misteri bagi saya: bagaimana relasi kausalitas antara jodoh dan secarik puisi. Bisakah puisi mengintervensi jalannya takdir manusia? Apakah puisi bisa berdoa, atau jangan-jangan doa adalah puisi juga – salah satu genre dari puisi? Saya hanya tak menyangka telah menikahi “puisi” secepat itu, meski saya benar-benar menginginkannya.

Lalu dua tahun sebelum puisi itu ditulis, saya jadi teringat pernah menulis novellete berjudul “Fantasi dari Negeri Kelamin”. Cerita itu bercerita tentang perjuangan Para Sperma yang berkompetisi untuk mencintai-membuahi Ovum, sosok putri di Negeri Feminesia.

Kompetisi itu menjadi rumit sebab sperma-sperma yang berasal dari Negeri Maskulinesia itu ternyata memiliki mazhab pemikiran sendiri-sendiri dalam menafsir perjalanan hidup mereka menuju inti Ovum.

Polemik pun terjadi ketika Para Sperma diperhadapkan dengan wacana equillibrium: siapakah yang layak membuahi Ovum, Sperma X atau Y; jika X membuahi Ovum (yang notabene berkromosom X) maka hasilnya adalah manusia bergenre perempuan (XX), jika Y yang membuahi maka hasilnya laki-laki (XY).

Pada bab Perebutan Kuasa, polemik itu terjadi dalam dialog para tokoh (Para Sperma) seperti ini:

“…Negeri Maskulinesia harus terus berjaya. Aku khawatir kehadiran Negeri Feminesia yang baru hanya akan menyebabkan banyak dosa bagi manusia.”

“Apakah itu berarti fatwa untuk melarang Sperma berkromosom X membuahi Ovum?”

“Iya. Harus Sperma Y yang melakukannya!”

“Ini diskriminasi namanya. Kami Sperma X tidak terima kalau kami harus mati tanpa berjuang untuk mencapai Ovum. Ini tidak moralis.”

“Sudahlah. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan Sang Rasio Andrologis. Bahwa kita berasal dari Negeri Maskulinesia maka harus mempertahankan kejayaan negeri kita.”

Perdebatan itu terus berlanjut hingga di bab Tak Ada Jalan Pulang:

“Tapi Undang-Undang itu juga tidak mengatur bagaimana kesetaraan antara Sperma X dan Sperma Y!”

“Apa yang kau tunggu, Tuhanmu memusnahkan Sperma X dan menunjukkan jalan bagi Sperma Y? Tuhan mestinya tidak menanyakan jenis kromosom kita ketika membuka jalan menuju Negeri Feminesia.”

Hingga akhir cerita, hanya seekor Sperma yang berhasil membujuk Ovum untuk jatuh cinta, sementara yang lainnya gugur dengan beragam cara. Ialah yang berhak meraih kesempurnaanya dengan membuahi Ovum. Tapi Sperma itu tak jelas identitasnya. Ceritanya (sengaja) tak sempurna hingga jenis kelamin manusia yang mencicit dari gua kerahiman, dalam fantasi itu, pun tetap menjadi misteri.

Enam tahun kemudian, lahirlah sosok bayi berjenis kelamin perempuan dari rahim “Wanita Dengan Bunga Plastik di Dadanya” itu – di dunia nyata. Saya pun mengira-ngira: mungkinkah jenis kelamin anak saya ini adalah hasil angan-angan saya tentang emansipasi Sperma X dalam “Fantasi dari Negeri Kelamin” itu, jauh sebelum saya berpuisi untuk ibunya – menikahi ibunya?

Slide. Hal tak terduga lainnya adalah nama yang saya berikan kepada anak saya: Aletheia.

Ada satu puisi yang pernah saya tulis lalu terlupakan di tahun 2012, sebulan sebelum puisi “Wanita Dengan Bunga Plastik di Dadanya” ditulis, tepat di hari ulang tahun saya, di bulan yang sama dengan bulan kelahiran Aletheia. Puisi itu adalah “Janin”.

Plato: janin itu merangkak ke-luar-vagina/tangannya menggenggam amplop/lidahnya kaku/punggungnya luka//

ketika diselimuti kain jarah/orang-orang menyambutnya dengan bendera/dan senyum merekah//

“apakah itu yang kau genggam?”/tapi ia hanya membungkam/lalu jawabnya hanyalah/“amplop milikmu”//

tibalah janin itu di beranda/dipangku ibunya yang renta/beruban/“apa sebenarnya yang kau bawa, nak?”//

dan terasa terpaksa ia membuka/amplop itu hanya berisi tulisan:/“lupa”//

“Janin” diawali dengan frase Plato dan diakhiri frase lupa. Dan entah kenapa, kedua frase itu sangat erat hubungannya dengan arti harfiah A-letheia (menidak-lupa, versi Plato: mengingat-kembali), padahal saya benar-benar tak mengingat telah pernah menulis puisi ini ketika hendak menyematkan nama itu, dan baru saya sadari ketika membuka kembali blog lama di mana semua fantasi dan puisi itu bersemayam.

Apakah ini hanya kebetulan ataukah ini juga adalah pertanda?

Ah, andai saja segala keseolah-olahan ini benar, berarti tanda-tanda kelahiran Aletheia (2016) bisa jadi telah ada sebelum Tuhan menitipkannya di rahim istriku.

Tapi kenapa harus fantasi (2010) dan puisi (2012) yang menjadi penandanya?

Setelah saya renungkan dalam-dalam dengan menarik kedua kata itu sampai keakarnya lalu menghubungkannya dengan nama anak saya, muncul hal tak terduga lainnya (dan mungkin menjadi hal paling tak terduga bagi saya) yakni terdapat tiga kata yang membentuk semacam satu jalinan teknik penciptaan:

Fantasi (dari Phantasia yang bisa berarti mimpi, angan-angan) sebagai ide penciptaan; Puisi (dari Poiesis yang berarti mencipta, menyingkap) sebagai laku-proses penciptaan; lalu Aletheia (yang dalam pengertian lebih lanjut juga berarti ketersingkapan, ketak-tersembunyian) sebagai hasil penciptaan.

Well. Bisa dipercayai, bisa juga tidak. Saya pun tak pernah menyangka sebelumnya tentang segala ketakterdugaan ini. Toh namanya juga hal-hal yang tak terduga.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.