20 Tahun Perjalanan Paroki Santo Damian Bengkong

Sumber: santodamian.com

Pemandangan yang sama selalu tampak di Paroki Santo Damian Bengkong setiap hari Minggu pagi. Ribuan umat mengisi bangku-bangku di dalam gereja guna merayakan Ekaristi dan menerima Firman Tuhan pada misa pagi. Halaman gereja dipadati dengan mobil umat, sementara puluhan bahkan ratusan sepeda motor terparkir rapi di jalan di luar pagar gereja. Kondisi serupa juga tampak pada misa sore hari.

Tak hanya di gereja Paroki Santo Damian, di Stasi Santo Yosef Kabil umat pun berbondong-bondong memadati gereja setiap misa minggu. Nyaris tak ada bangku kosong di ruang gereja, balkon, maupun tenda yang dipasang secara semi permanen di salah satu sisi gedung gereja.

Keramaian di setiap misa hari Minggu seperti itu tidak terjadi sejak awal Paroki Santo Damian Bengkong berdiri. Selama 20 tahun perjalanan paroki, perjuangan dalam membangun dan membesarkan paroki mengisi kehidupan umat. Tak mudah untuk mengembangkan paroki meski sejumlah amanat dari Keuskupan Pangkalpinang berusaha dijalankan oleh para pastor maupun pengurus paroki. Kegiatan seperti Komunitas Basis Gerejawi (KBG), misalnya, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diadakan di seluruh lingkungan.

Apalagi pada awalnya Bengkong bukan wilayah yang menjadi lokasi tempat tinggal bagi warga di Batam. Kondisi alam Bengkong ketika itu jauh dari yang tampak saat ini. Lokasinya yang berbukit, jalan sempit, dan minim pasokan listrik dan air bersih membuat Bengkong bukan lokasi yang cocok untuk dihuni. Jika ada wilayah yang ramai didiami hanya di sekitar kawasan industri besar seperti PT Mc Dermott dan PT Vetco Gray. Jika melihat kondisi Bengkong waktu itu, tak ada yang membayangkan akan hadir sebuah paroki dengan jumlah umat hampir 9.000 jiwa.

Kondisi Bengkong mulai berubah ketika sejumlah masyarakat dari Nagoya mengalami penggusuran di awal dekade 1980-an. Masyarakat yang tak ingin pindah jauh dari Nagoya memilih membuka lahan di Bengkong karena menguntungkan dari sisi jarak.

Ternyata semakin lama kawasan ini makin ramai. Warga-warga korban gusuran di Jodoh, Bukit Senyum, dan Batu Ampar juga memilih mendiami Bengkong. Kawasan ini merasakan konsekuensi langsung dari pengembangan Batam sebagai daerah industri. Makin lama, pendatang yang masuk semakin banyak karena tergiur dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik di Batam.

Diantara warga yang menempati kawasan Bengkong, terdapat sejumlah umat Katolik. Mereka kemudian menjadi bakal umat mula-mula dan berperan dalam terbentuknya Paroki Santo Damian Bengkong.

Sementara itu tak jauh dari kawasan Bengkong, di Batu Merah sudah ada komunitas Katolik yang kerap beribadah bersama. Jauh sebelum Bengkong diisi warga yang tergusur, tepatnya sekitar bulan September 1980 di sana ada sekelompok umat mulai merintis ibadat sabda bersama. Karena ketiadaan gedung, maka mereka melaksanakan ibadat dari rumah ke rumah. Mereka berkumpul dan berdoa rosario, diselingi dengan nyanyian yang sempat mereka ingat. Mereka juga belum memiliki buku pegangan.

Belakangan kelompok tersebut mendapat kiriman buku ‘Umat Allah Beribadah’ dari Paroki Santa Maria Tak Bernoda Tanjungpinang. Kelompok beriman ini kemudian dinamakan Kelompok Batu Merah. Dari kelompok ini berdiri sebuah kapela kecil, pada tahun 1987 diubah menjadi Kapela Santo Mikael yang bertahan hingga saat ini.

Seiring perjalanan waktu, proses penggusuran yang terjadi pada pertengahan hingga akhir 1980-an itu juga melanda lembaga pendidikan TK-SD Sinar Timur. Pada Tahun 1987, lembaga pendidikan bernuansa Katolik kemudian pindah ke Bengkong Harapan. Perpindahan ini menjadi sarana berkumpul bagi umat Katolik yang tersebar di Bengkong. Bapak Simon Payong kemudian melakukan pendataan untuk mendapat gambaran umat Katolik di Bengkong.

Sejumlah umat kemudian membangun sebuah kelompok doa yang waktu itu dipimpin oleh Bapak Ola Making dan Ibu Ros Rumangkang sebagai sekretaris. Kelompok ini makin lama makin besar. Namun jarak stasi Santo Petrus Lubuk Baja jauh. Dengan pertimbangan itu kelompok Bengkong tersebut sepakat dengan pengelola sekolah untuk mengadakan ibadah di SD Sinar Timur.

Sebagai sebuah kelompok, Bengkong termasuk dalam Stasi Santo Petrus Lubuk Baja, Paroki Santa Maria Tak Bernoda Tanjung Pinang. Dalam pelaksanaannya, kelompok ini mendapat pelayanan dari Suster Cicilia, FSE dan Suster Wilfrida, FSE serta Bapak Stefanus Nong. Ketiganya melakukan pelayanan doa dan kunjungan-kunjungan kepada keluarga.

Namun, ketika Suster Cecilia dipindahtugaskan ke Medan, umat Bengkong merasa kehilangan. Karena itu, umat sepakat mengubah nama kelompok Bengkong menjadi kelompok Santa Cecilia. Tak hanya kelompok Cecilia, di Bengkong juga ada kelompok Santo Yosef yang wilayahnya meliputi Bengkong Laut, Bengkong Palapa, Bengkong Mahkota, Bengkong Kodim, Bengkong PLTD dan sekitarnya.

Awalnya Kelompok Santo Yoseph dan Santa Cecilia tidak memiliki hubungan khusus. Keberadaan mereka hanya sebagai kelompok Stasi Santo Petrus Lubuk Baja. Namun perlahan umat kedua kelompok kemudian mengadakan ibadah bersama yang memungkinkan kedua kelompok itu bersatu.

Kegiatan kelompok kemudian dilaksanakan di sekolah Sinar Timur. Kedua kelompok ini juga mendapat pelayanan langsung dari Stasi Santo Petrus Lubuk Baja. Pelayanan ini didorong karena jauhnya jarak dan beratnya medan, serta ongkos perjalanan yang mahal dari Bengkong untuk mengikuti misa ekaristi di gereja Santo Petrus Lubuk Baja.

Dua kelompok yang beribadah di Bengkong mengalami perkembangan yang pesat. Gabungan kedua wilayah itu juga cukup luas. Total dalam kedua kelompok itu terdaftar sekitar 100 keluarga. Perkembangan jumlah keluarga dan jumlah wilayah juga diikuti meningkatnya keaktifan umat di kedua kelompok tersebut. Ini yang kemudian menimbulkan gagasan untuk meningkatkan status kelompok menjadi stasi. Apalagi pada masa yang sama, stasi Santo Petrus Lubuk Baja telah berubah menjadi Paroki pada 6 Oktober 1991.

Hal lain yang mendorong Bengkong harus ditingkatkan menjadi stasi agar pelayanan umat menjadi lebih terjangkau. Usulan itu diterima oleh Pastor Paroki Santo Petrus Lubuk Baja, Pastor Albert Novena, SVD. Tak sampai di situ, usulan itu mendapat dukungan dari uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD.

Stasi Bengkong akhirnya terbentuk pada 2 Oktober 1994. Peningkatan status ini turut diikuti dengan pemekaran wilayah menjadi enam kelompok yakni: Santo Fransiscus, Santo Yoseph, Santa Ursula, Santa Cecilia, Santa Clara, dan Santo Bonaventura. Umat juga semakin bertambah menjadi 1.140 jiwa dalam 300 KK.

Status stasi tak lama disandang Bengkong. Setelah menjalani berbagai pembekalan dari keuskupan Pangkalpinang, status Stasi Bengkong ditingkatkan menjadi Paroki dengan pelindung Beato Damian pada 11 Juni 1995.

Peningkatan menjadi paroki ini bukan tanpa kendala. Kebanyakan umat di Stasi Bengkong saat itu adalah masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Kondisi itu membuat secara finansial pembangunan paroki nyaris mustahil. Pasalnya keberadaan sebuah paroki menuntut sejumlah fasilitas diantaranya gedung gereja dan pastoran. Pada masa itu Stasi Bengkong bahkan masih menumpang di Sekolah Sinar Timur.

Namun, bukan kemampuan keuangan yang utama dalam membentuk sebuah paroki. Hal yang terpenting adalah kesederhanaan dan dukungan dari kesatuan umatlah yang menjadi faktor utama. Selama masa persiapan pembentukan paroki, Keuskupan Pangkalpinang menunjuk Pastor Yance De Ornay untuk membangun paroki baru ini.

Terkait letak paroki, umat Batu Merah sempat merasa lokasi mereka layak menjadi lokasi paroki. Lokasi itu merupakan tempat perkembangan umat mula-mula di dalam lingkungan paroki Beato Damian Bengkong. Apalagi mereka sudah memiliki kapela.

Namun, Batu merah bukanlah daerah yang ideal untuk menghubungkan berbagai di wilayah pelayanan paroki. Selain itu, status tanah di lokasi yang diusulkan di Batu Merah masih belum jelas.

Akhirnya Bengkong dinilai lebih pas untuk mendirikan paroki baru. Sebagian besar umat tinggal di daerah ini dan lokasinya dapat dijangkau dari berbagai lokasi di wilayah paroki. Untuk mengatasi persoalan itu Pastor Yance bersama Dewan Stasi mencoba mengadakan sosialisasi untuk menjelaskan kepada warga kelompok Pulau Todak, Batu Merah, dan Teluk Bakau.

Keberadaan paroki baru ini menimbulkan pertanyaan baru tentang konggregasi apa yang akan melayaninya. Namun pertanyaan itu tidak lama karena keuskupan kemudian menunjuk Tarekat Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Santa Perawan Maria (SS.CC). Penunjukan itu diambil saat Tarekat SS.CC akan meninggalkan Bangka, bahkan Keuskupan Pangkalpinang, karena kurangnya tenaga.

Menanggapi langkah yang akan diambil Tarekat SS.CC, Mgr. Hilarius mengaku agak mendesak tarekat tersebut untuk menjadi gembala di Paroki Bengkong. Ia merasa akan menyesal jika SS.CC pergi dari keuskupan. “Saya merasa kita kehilangan satu mata rantai sejarah Keuskupan Pangkalpinang yang sangat berjasa dalam mengembangkan iman umat disini,” kata Uskup Hilarius.

Pernyataan uskup beralasan karena Tarekat SS.CC sudah berkarya di Keuskupan Pangkalpinang sejak 1923. Pelayanan yang dilakukan tarekat ini tak mudah karena mereka harus melayani daerah kepulauan seperti Kepulauan Riau atau Bangka.

Perjalanan awal Paroki Bengkong dipimpin oleh Pastor Yosef CM Van De Sterren, SS.CC. Ia menjadi pastor kepala pertama bersama pastor pendamping Antonius Suprapto, SS.CC. Sejak awal berdiri, selalu diupayakan agar Paroki Bengkong dilayani oleh dua orang imam.

Kelahiran Paroki Bengkong ternyata membangkitkan gairah umat dalam bergereja. Sejumlah aktivitas diadakan mulai anak hingga dewasa. Padahal, di masa-masa awal, paroki masih belum memiliki gedung gereja dan pastoran. Namun itu tidak menghalangi umat untuk berkarya.

Pada tahun-tahun pertama, Mudika paroki Beato Damian sudah melakukan refleksi di Pulau Todak. Kegiatan yang berlangsung pada Oktober 1997 itu berisi panggilan terhadap para mudika, dengan mengikuti teladan Bunda Maria. Kegiatan-kegiatan terus dilakukan mudika paroki setelahnya, baik itu kegiatan ibadah maupun perayaan. Tak cukup sampai di situ, mereka juga mengadakan beberapa kegiatan diskusi.

Sementara itu, kaum remaja pada tahun-tahun pertama pernah melakukan kegiatan wisata rohani guna menjalin keakraban diantara kaum remaja. Dalam wisata ini, gereja berperan dalam membimbing para remaja katolik agar tidak terjerumus dalam berbagai kegiatan negatif.

Tak mau kalah adalah kaum ibu yang juga memiliki berbagai kegiatan di tahun-tahun pertama paroki Beato Damian Bengkong. Beberapa bulan sebelum peresmian paroki, Bapak BCG Manurung meminta pembentukan perkumpulan kaum ibu. Perkumpulan ini akan membantu saat peresmian karena akan membantu pengurusan konsumsi dan melayani para tamu undangan.

Perkumpulan ibu-ibu ternyata tak berhenti hanya pada masa peresmian paroki. Selanjutnya para ibu kerap melakukan pertemuan sekali dalam sebulan dalam bentuk arisan. Pertemuan-pertemuan itu juga diisi dengan pelatihan kegiatan rumah tangga seperti memasak, merias, membuat bunga kertas dan diskusi mengenai KB alami.

Masa Sinode Pertama: Merintis Kelompok Basis Gerejawi

Selama lima tahun pertama usia Paroki Beato Damian Bengkong, misa selalu dilaksanakan di Sekolah Sinar Timur, Bengkong Harapan. Tiga kelas di SD Sinar Timur dijadikan satu. Ruang kelas itu dapat menampung 100–150 umat. Sementara umat lain harus berjemur di luar, yang dalam ruangan banjir keringat karena kepanasan.

Pastor Propinsial, Nugroho Krisusanto, SS.CC mengatakan, persiapan misa saat itu dilakukan oleh para mudika setiap malam minggu. Setelah misa, para mudika harus bekerja kembali agar pada hari Senin ruang kelas dapat digunakan kembali untuk kegiatan belajar.

Bongkar pasang ruang kelas rupanya tak membuat pemilik sekolah tenang. “Saat itu pemilik SD Sinar Timur merasa khawatir kalau ada yang rusak karena setiap akhir minggu kelas dibongkar pasang untuk misa,” kata Iwan Juniyanto, salah satu saksi perkembangan Paroki Santo Damian Bengkong.

Iwan menuturkan, selama lima tahun perkembangan umat begitu cepat. Kondisi ini mendesak paroki untuk memiliki gedung gereja maupun pastoran. Namun kondisi keuangan umat tidak memungkinkan untuk mengadakan pembangunan. Pastor Nugroho mengungkapkan, dari keseluruhan biaya pembangunan, hanya tiga persen yang ditanggung umat. “Untuk mewujudkan gereja seperti sekarang, Pastor Rolf, Pastor Willem, dan Pastor Felix harus berkeliling ke beberapa tempat,” kata Pastor Nugroho.

Dalam perkembangannya Paroki Beato Damian mendapat hibah tanah dari Bapak Budi. Sejumlah lahan kapling disekitar lahan hibah juga dibeli untuk mendukung rancangan gereja yang akan dibangun. Setelah lima tahun usia Paroki Beato Damian Bengkong, sebuah gedung gereja yang megah berdiri.

Keberadaan gedung gereja yang baru mendorong perkembangan umat. Umat semakin banyak. Salah satu saksi berdirinya Paroki Beato Damian, Suwarno mengatakan, perkembangan ini membuat keakraban umat mulai berkurang. Hal itu tidak bisa dihindari mengingat jumlah umat yang bertambah dan makin bervariasi. Saat masih menggunakan gedung SD Sinar Timur, selepas ibadah, banyak umat yang masih tinggal untuk bercengkrama atau mengatur kembali ruang kelas. Akhirnya mereka saling mengenal satu sama lain.

Meski tampak redup di hari Minggu, rasa guyub itu tak hilang di kelompok. Hal tersebut diungkapkan Pastor Alexander Dato, SS.CC yang menjabat sebagai Pastor Paroki pada 2004–2007. Menurut Pastor Alexander, dalam setiap kunjungannya di kelompok, ia hampir selalu pulang larut malam karena umat masih mengajaknya bercengkrama. Dia mengaku, suasana seperti itu bahkan sulit ditemui di wilayah pelayanannya saat ini di Bandung.

Periode 2000–2010 di Paroki Bengkong merupakan masa pelaksanaan amanat Sinode Keuskupan Pangkalpinang tahun 2000. Lewat sinode ini, keuskupan ingin mendorong terlaksananya gereja partisipatif, dimana semua umat turut aktif dalam kegiatan bergereja. Ada empat prioritas utama dalam pelaksanaan amanat sinode, yakni : Komunitas Basis Gerejawi (KBG), pastoral Bina Iman Anak dan Remaja (BIAR), pastoral Orang Muda Katolik (OMK), dan pastoral keluarga.

Sejak awal, KBG menjadi menjadi fokus dari pelaksanaan Sinode Keuskupan Pangkalpinang tahun 2000. Pastor Alexander mengungkapkan, ketika Pastor Felix Supranto, SS.CC menjabat sebagai Pastor Paroki pada 2001–2004, KBG mulai digalakkan. Ketika tongkat estafet Pastor Paroki diserahkan ke Pastor Alexander, Pastor Felix berpesan untuk meneruskan kegiatan KBG yang menjadi amanat sinode. Meski begitu, Pastor Felix juga berpesan untuk tidak melepaskan fokus pada aktivitas BIAR, OMK, dan pastoral keluarga.

Peran fasilitator dalam mengembangkan KBG sangat penting. Dalam masa sosialisasi, Pastor Alexander mendapati antusias umat sangat tinggi. “Antusiasme itu muncul di kalangan tua dan muda, sehingga saya optimis KBG bisa berkembang,” kata Pastor Alexander.

Lingkungan Cecilia di daerah Greenland, Batam Centre cipilih sebagai pilot project KBG. Dari lokasi ini, KBG menunjukkan hasilnya. Peran serta dan keterlibatan umat meningkat. Umat yang sebelumnya tak kelihatan, perlahan-lahan muncul. Namun, meski antusiasme itu tinggi, ada hambatan yang muncul dalam mengembangkan KBG. Menurut Pastor Alexander, hambatan itu disebabkan banyak warga lingkungan yang keberatan adanya pemekaran kelompok. Mereka terlanjur akrab dan kesulitan jika harus memisahkan diri karena masuk dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.

“Saat itu kami harus mendekati dan memberi penjelasan kepada mereka,” kata Pastor Alexander. “Hasil sinode tahun 2000 itu memang masih baru, jadi butuh proses panjang untuk mewujudkannya.”

Menurut Yoakim Rahmatprasojo, meski usaha yang dilakukan para pastor dan petugas pastoral sudah maksimal selama periode 2000–2010, pertumbuhan KBG berlangsung lambat. Sampai Tahun 2010 jumlah KBG di Paroki Santo Damian Bengkong hanya 65. Kendala yang muncul saat itu adalah tak semua lingkungan punya orang yang siap menjadi fasilitator KBG. Untuk menyiapkan itu, paroki kemudian melakukan berbagai pelatihan fasilitator.

Meski fokus paroki pada periode itu lebih pada perkembangan KBG, bukan berarti amanat sinode lain dipinggirkan. Pada pastoral Bina Iman Anak dan Remaja, sejak tahun 2006, Keuskupan Pangkalpinang telah melangsungkan kegiatan Kunjungan Tiga Raja. Awalnya kegiatan ini dipusatkan di Paroki. Namun seiring dengan munculnya KBG, persiapan kunjungan Tiga Raja mulai dilakukan oleh Pengurus KBG di kelompok masing-masing. Sejak tahun 2010, Kunjungan Tiga Raja pun sudah dilakukan di kelompok masing-masing.

Keberadaan KBG mendorong pemindahan kegiatan BIAR dari paroki ke KBG. Namun sebelum pemindahan itu, seperti persoalan yang dialami KBG, tidak semua kelompok memiliki pendampng anak dan remaja. Untuk itu, paroki kemudian mengadakan pelatihan sebelum akhirnya memindahkan kegiatan BIAR ke tiap-tiap KBG.

Sementara itu untuk Pastoral OMK juga menjadi prioritas karena jumlah orang-orang muda mendominasi Paroki Bengkong. Dalam kunjungannya pada 2009 Uskup Hillarius mengingatkan, kaum muda akan menjadi masa depan gereja. Keadaan ini membuat pendampingan pada kaum muda harus menjadi perhatian.

Seperti Pastoral BIAR, pada periode ini OMK mulai tumbuh di sejumlah KBG. Pada akhir periode ini OMK di masing-masing kelompok mulai mengatur komunitasnya. Sejumlah kelompok juga melakukan pembekalan pengurus. Semua itu dilakukan agar OMK dapat mengambil bagian dalam kegiatan gereja dan masyarakat.

Prioritas terakhir dalam amanat Sinode Keuskupan tahun 2000 adalah Pastoral Keluarga. Sebagai gereja terkecil, keluarga diharapkan memberikan harapan bagi perkembangan umat di Paroki Bengkong. Untuk itu diberikan pendampingan agar keluarga-keluarga Katolik dapat menyadari dan melaksanakan tanggungjawabnya sebafai anggota gereja Katolik dan masyarakat.

Salah satu bentuk pendampingan adalah mulai diadakannya Kursus Persiapan Pernikahan sebanyak satu kali dalam empat bulan. Melalui KPP, Gereja membina calon keluarga Katolik sejak awal untuk menyadari perutusan mereka sebagai sebuah keluarga Katolik nantinya.

Pada periode ini, pemberesan perkawinan merupakan salah satu perhatian dalam Pastoral Keluarga. Pada masa Pastor Felix menjabat Pastor Paroki, ia melihat banyak umat yang menyilangkan tangan di dada ketika pada saat pemberian komuni. Ini kemudian mendorong dia untuk merundingkan dengan para pastor dan petugas pastoral untuk menyelesaikan persoalan ini. Keputusannya, paroki akan membereskan pernikahan yang bermasalah.

Pemberesan pernikahan juga didorong oleh faktor eksternal. Ketika Pemerintah Kota Batam ingin menetapkan Batam sebagai kota madani dan agamis, banyak razia dilakukan untuk menertibkan pasangan-pasangan tidak resmi. Pasangan yang ketahuan akan didesak menikah sesegera mungkin. Menurut Bapak Agung, ketika itu Pastor Paroki, Johan Rita Wongso, SS.CC mengultimatum pasangan yang belum meresmikan pernikahannya di gereja agar membereskan pernikahannya. Hasilnya saat itu ada sekitar 100 pasangan yang terdaftar dalam pemberkatan nikah masal. Sementara pada 2009 dilakukan pemberesan akte catatan sipil yang diikuti oleh sekitar 300 pasangan.

Pada periode ini juga ditandai dengan kanonisasi Beato Damian menjadi Santo Damian pada 11 Oktober 2009. Selain itu Pada 7 Juni 2009, Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Norak, SVD meresmikan Gereja Stasi Santo Yosef Kabil. Gereja Santo Yosef merupakan stasi pertama dalam Paroki Santo Damian Bengkong dan dibentuk sebagai dampak perkembangan umat di wilayah Batam Centre hingga Nongsa.

Bakal umat Stasi Santo Yosef Kabil berasal dari terbentuknya Kelompok Santo Don Bosco di Kabil sebagai hasil pemekaran Kelompok Santo Yohanes Pemandi Teluk Bakau. Dalam perjalanannya, di lokasi itu dibangun sebuah kapela yang dinamakan Kapela Santo Don Bosco.

Pastor Alexander mengatakan, alasan pembentukan Stasi Santo Yosef Kabil karena tingginya partisipasi umat. Pembentukan stasi ini membangkitkan pertanyaan dari umat di Batu Merah. Pasalnya komunitas Katolik pertama di wilayah Paroki Santo Damian ini tak kunjung diangkat menjadi stasi meski mereka sudah memiliki kapela. Terkait hal itu, Pastor Alexander menjelaskan banyak hal yang harus dipelajari kelompok Batu Merah dari kelompok-kelompok di Kabil jika mereka ingin diangkat menjadi stasi.

Masa Sinode Kedua: Menikmati Pertumbuhan KBG

Periode Sinode Kedua yang berjalan hingga 2015, usaha-usaha dalam mengembangkan amanat Sinode Keuskupan tahun 2000 mulai menunjukkan hasil. Pastoral kategorial yang pada awalnya mengalami pertumbuhan yang lamban mulai menunjukkan peningkatan.

Jumlah KBG meningkat pesat dalam waktu lima tahun. Tercatat di dalam Paroki Santo Damian kini ada 109 KBG yang termasuk dalam 28 wilayah. Jumlah itu bertambah 44 KBG dari tahun 2010. Pada saat itu Paroki Santo Damian memiliki 21 wilayah. Peningkatan jumlah itu tidak lepas dari peran para pastor dan dewan pastoral yang tekun melakukan sosialisasi pada periode pertama.

Menurut Agung, pada masa Pastor Johan menjabat Pastor Paroki, pertumbuhan KBG tidak pesat. Pada saat itu banyak kelompok yang enggan mekar. Perlahan, ketika Pastor Thomas menjabat sebagai Pastor Paroki, dia mulai melakukan pendekatan persuasif kepada seluruh kelompok. Untuk menunjang hal itu, Paroki juga terus lakukan pelatihan untuk membuka wawasan umat akan pentingnya KBG. Di masa kepemimpinan Pastor Arundati, SS.CC, KBG kembali didengungkan dan keaktifan umat lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pastoral BIAR juga menungalami perkembangan dengan semakin banyaknya kegiatan BIAR di tiap-tiap KBG. Kegiatan Kunjungan Tiga Raja juga berguna untuk mendata keluarga-keluarga Katolik yang ada di dalam KBG. Dari tahun ke tahun tercatat ada peningkatan jumlah keluarga dan anak di dalam Paroki Santo Damian Bengkong yang terdata dalam kunjungan itu.

Prestasi juga ditunjukkan oleh Bina Iman Anak dengan menjadi juara pada lomba paduan suara di Pangkalpinang pada 2010. Sementara kaum remaja Paroki Santo Damian juga memperoleh berbagai prestasi dalam tiga jambore remaja di lingkungan Keuskupan Pangkalpinang.

Perkembangan juga ditunjukkan oleh Pastoral OMK. Perlahan, dengan semakin banyaknya kaum muda yang datang mencari pekerjaan di Batam, jumlah anggota OMK semakin bertambah. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Paroki Santo Damian Bengkong, namun juga di lingkungan Stasi Santo Yosef Kabil. Meski, dari sisi kegiatan, banyak kegiatan OMK yang masih diadakan di Paroki.

Selain meningkatnya jumlah dan makin berkembangnya kegiatan OMK, pada periode ini, OMK mendapat kesempatan untuk mengirimkan perwakilannya ke pertemuan pemuda internasional di Korea Selatan. OMK juga terlibat dalam berbagai macam kegiatan di Paroki, salah satu di antaranya adalah peran mereka dalam prosesi Tablo pada Misa Jumat Agung.

Menilik perjalanan Paroki Santo Damian Bengkong selama 20 tahun melayani umat Katolik dan masyarakat Batam, kita patut bersyukur. Segala proses dan pencapaian yang telah dilalui selama itu merupakan buah dari usaha yang dilakukan para pastor dan umat paroki. Meski demikian pencapaian ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang tak bisa dipinggirkan. Salah satunya disampaikan oleh Pastor Yance bahwa pengembangan paroki harus melalui perencanaan pastoral yang matang dan strategis. Langkah ini perlu diakukan mengingat selama ini perkembangan Paroki Santo Damian Bengkong banyak ditentukan oleh faktor eksternal, yakni penggusuran warga dari luar masuk ke dalam wilayah Paroki Santo Damian.

Di tengah banyak kekurangan dan pekerjaan rumah yang menanti, kita sebagai umat dapat bergembira dalam perayaan dua dekade paroki kita tercinta. Bagi Paroki Santo Damian Bengkong, usia ke-20 tak semata masuk ke dalam periode baru dengan sejumlah perayaan yang menyertainya. Namun pencapaian ini merupakan bukti bagaimana Tuhan berkarya dalam pergumulan umat yang merindukan-Nya, serta dalam usaha mewartakan Kabar Baik di tengah masyarakat.

Ditulis untuk buku ‘Dwi Dasawarsa Paroki Santo Damian Batam’

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.