Menyingkirkan Trenggiling Dari Dalam Piring

Flickr Creative Commons

Statusnya sebagai hewan langka kalah tenar dari gajah dan orangutan. Tapi trenggiling tercatat sebagai mamalia korban perdagangan gelap terbesar di dunia.

Belasan bungkus daging dijejer di atas meja narasumber di ruang konfrensi pers Kepolisian Daerah Jawa Timur pada akhir Agustus lalu. Daging itu bukan sembarang daging melainkan daging trenggiling hasil sitaan aparat dalam sebuah penggerebekan beberapa hari sebelumnya.

Kondisi trenggiling-treggiling itu mengenaskan. Mereka dibungkus dalam kemasan plastik yang telah divakum. Sisik-sisiknya dicabut sehingga yang tampak hanya daging trenggiling putih yang menggulungkan badannya.

Barang bukti yang dirilis oleh Polda Jatim saat itu merupakan hasil pengerebekan salah satu pemburu daging trenggiling di Kecamatan Sumobito, Jombang, Jawa Timur. Total ada 657 ekor trenggiling mati yang ditemukan di dalam lima lemari pembeku atau freezer dari rumah tersangka SF. Dia mengaku mencari trenggiling dalam lima tahun terakhir.

Perburuan trenggiling terus berlangsung dan tampaknya belum akan berhenti. Setiap tahun aparat keamanan selalu menemukan tumpukan daging trenggiling yang akan diselundupkan ke luar negeri.

April 2015, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse dan Kriminal Polri (Tipidter Bareskrim) menggagalkan upaya penyelundupan lima ton daging trenggiling beromzet miliaran di Medan, Sumatera Utara.

Banyaknya jumlah dan nilai trenggiling yang kerap ditemukan aparat terkait dengan tingginya permintaan daging trenggiling di China dan Vietnam. Dua negara itu menjadi konsumen terbesar trenggiling. Dari Indonesia, trenggiling sunda (Manis javanica) menjadi spesies yang paling banyak diburu.

International Union for Concervation of Nature (IUCN) telah melabeli trenggiling sunda sebagai satwa yang berada dalam kondisi ‘kritis’, hanya satu tingkat di bawah kategori ‘punah di alam liar’, dan hanya dua strip di bawah ‘punah’. Organisasi yang mendapat otoritas untuk memberikan status pada spesies-spesies langka dan terancam itu melaporkan trenggiling tidak saja terancam di Asia Tenggara dan Selatan tapi juga di Afrika. Tingginya permintaan produk-produk trenggiling membuat pasar Asia Timur beralih ke Afrika.

Jutaan ekor trenggiling diduga telah ditangkap di dalam bebas dalam satu dekade terakhir untuk memenuhi permintaan China dan Vietnam. Trenggiling sangat menderita ditangan para pedangan illegal. Sampai-sampai para ahli di IUCN mengatakan, trenggiling merupakan mamalia yang paling banyak diperdagangkan di dunia secara illegal.

Keprihatinan terhadap kondisi trenggiling tak hanya disuarakan oleh para ahli konservasi. Pangeran Inggris, William mengajak warga dunia untuk memerhatikan satu-satunya mamalia bersisik di bumi. “Trenggiling berpotensi punah sebelum orang-orang bahkan mendengar namanya,” ujar Williams seperti dikutim dari The New York Times.

*****

Sandlash

Lucu dan menggelikan. Seperti itu gambaran yang muncul di benak banyak orang ketika melihat trenggiling. Spesies ini seukuran kucing, memiliki sisik tebal dan lidah yang lebih panjang dari tubuhnya untuk mencari semut dan rayap. Di ujung kakinya tumbuh dua kuku seperti cakar panajang yang berguna untuk menggali tanah atau menggaruk batang pohon saat mencari makanannya.

Penampilan trenggiling yang lucu itu bahkan menjadi inspirasi pencipta Pokemon menciptakan tokoh Sandlash. Pemain Pokemon Go bakal mengira Sandlash sebagai landak, namun sebenarnya ia terinspirasi dari trenggiling.

Delapan spesies trenggiling tersebar di Afrika hingga Asia Tenggara. Hewan ini berada di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Habitatnya bisa di berbagai tempat baik lembab ataupun kering, taman nasional hingga perkebunan.

Ia tidak dapat bergerak cepat, namun gerakannya juga tak lambat-lambat amat. Jika terancam, ia akan menggulungkan badannya seperti bola dan mengandalkan sisiknya untuk melindungi diri dari pemangsa.

Hanya saja, upaya perlindungan trenggiling itu tak mempan saat manusia menangkapnya. Di tangan manusia, trenggiling sangat lemah.

Beberapa waktu lalu fotografer Paul Hilton melakukan perjalanan ke Indonesia untuk melihat proses penangkapan trenggiling. Lokasinya tak disebutkan, namun itu merupakan kawasan kebun sawit.

Ia penasaran dengan trenggiling yang banyak ditemukan di dalam mangkuk sup di Guangzhou, China. Di Asia dan Afrika trenggiling telah lama menjadi makanan tradisional. Di China dan Vietnam, sup trenggiling terkenal sangat lezat dan menjadi makanan kelas atas. Di Vietnam makanan berbahan trenggiling bahkan harganya paling mahal di Negara itu.

Di kebun sawit Hilton melihat aktivitas pemburu trenggiling. Mereka menggunakan anjing untuk mengejar dan mengendus lokasi trenggiling. Ketika malam sangat pekat, anjing-anjing berlari sambil menyalak di bawah satu pohon sawit. Sang pemburu mengarahkan senternya ke dahan dan mendapati trenggiling tengah bergantung dengan ekornya sambil menggulungkan badan. Dengan mudah sang pemburu mengambil trenggiling tersebut.

Di kesempatan lain sang pemburu menemukan trenggiling bersembunyi di dalam batang kayu yang telah tumbang. Sang pemburu memasukkan tangannya ke dalam batang pohon yang telah kopong itu dan menemukan trenggiling. Ia memegang ekor lalu menarik hewan itu keluar.

Sang pemburu mematikan trenggiling dengan sebilah parang. Ia mencopoti sisik-sisik trenggiling satu per satu. Treggiling lainnya ia kuliti sehingga ketika kulit itu dibentangkan, ratusan sisik masih melekat di kulit tersebut.

“Sulit dibayangkan mengapa ada orang yang ingin mengonsumsi makhluk bersisik tebal seperti itu. Namun banyak yang ingin memakannya di China dan Vietnam, karena menganggap dagingnya enak. Sementara sisiknya untuk pengobatan seperti rheumatik, penyakit kulit, mengurangi lebam, dan melancarkan air susu ibu,” kata Hilton.

Hilton yang merupakan fotografer yang tergabung dalam International League of Conservation Photographer bertanya pada pemburu soal motifnya. Sang pemburu mengatakan banyak orang yang marah padanya karena aktivitas tersebut.

“Banyak yang marah pada saya tapi saya berusaha mencari nafkah. Mereka hanya cemburu karena saya punya uang lebih banyak dari mereka,” kata pemburu tersebut.

*****

Treggiling hasil penyitaan di Medan, April 2015. (© Wild Conservation Society)

Para ahli tak tahu persis berapa jumlah trenggiling yang tersisa di dunia. Namun mereka yakin populasi hewan nokturnal itu terjun bebas dalam beberapa tahun terakhir. Perkiraan itu didukung dengan sejumlah alasan.

Mereka memperkirakan ada puluhan ribu trenggiling yang diperdagangkan secara illegal setiap tahunnya. Dari Indonesia, trenggiling diselundupkan di dalam kapal dengan peti kemas yang dilabeli ‘ikan beku’.

Alasan lain yang mendukung penurunan populasi trenggiling adalah siklus reproduksinya yang hanya satu kali dalam setahun, Ia juga sulit untuk ditangkarkan dan selalu stress dalam penangkaran.

Selain untuk makanan, konsumen di China daratan juga menggunakan sisik dan darah trenggiling untuk pengobatan tradisional. Konon, sisik trenggiling yang terbuat dari keratin dapat dijadikan bahan pembuatan sabu.

Ironisnya, hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh medis dengan mengonsumsi sisik atau darah trenggiling. Ahli mamalia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Profesor Gono Semiadi mengungkapkan kebiasaan itu merupakan sugesti semata.

“Secara farmakologi, tidak ada khasiat obat. Tapi dalam dunia pengobatan, kadang bukan senyawanya saja yang memiliki nilai kesehatan, tapi juga sugesti untuk menyembuhkan,” kata Profesor Gono seperti dikutip dai laman Mongabay Indonesia.

Perdagangan trenggiling di dunia diperkirakan bernilai 19 miliar USD per tahun. Nilai sebesar itu menawarkan insentif tinggi bagi para pemburu. Di kebun sawit pekerja hanya digaji Rp 620 ribu per bulan. Sedangkan jika mereka memburu trenggiling, para pemburu akan mendapat Rp 370.000 — Rp 410.000 per kilogram. Biasanya seekor trenggiling memiliki berat hingga enam kilogram.

Belum lagi jika menilai sisik trenggiling. Sisik itu dihargai 5 USD per keping padahal seekor trenggiling umumnya memiliki 120 keping sisik.

Para pemburu tidak pernah jera. Selain karena insentif yan besr dari para pengepul, penegakan hokum pada pelaku perdagangan illegal trenggiling di seluruh dunia masih ringan. Dalam kasus di Medan tahun lalu, hakim hanya memvonis terdakwa pelaku perdagangan trenggiling selama 18 bulan dengan denda Rp 50 juta. Tuntutan jaksa sebelumnya adalah penjara dua tahun dan denda Rp 75 juta.

Sup trenggiling di Asia Timur (© TRAFFIC)

Perdagagan ternggiling pernah dilegalkan hingga tahun 2000. Namun saat masih legal pun banyak ahli meyakini perdagangan gelap lebih banyak terjadi untuk menghindari pajak yang tinggi.

Saat gerakan Aceh Merdeka (GAM) berkonfrontasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), mereka kerap menukat trenggiling dengan senjata dari Thailand.

Jeff Flocken dari International Fund for Animal Welfare mengungkapkan masa depan trenggiling berada di tangan para konsumen dan pedagang illegal. “Tangkapan yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan kita perlu segera melindungi satwa ini,” ujar Flocken.

Kepedulian manusia terhadap masa depan trenggiling belum setinggi mamalia lain seperti gajah, badak, harimau, atau orangutan. Contohnya hukuman bagi pelaku perdagangan gelap gading atau produk harimau akan diganjar dengan denda yang sangat tinggi.

Annette Olson dari Conservation International melihat perhatian terhadap trenggiling belum sebesar mamalia besar lainnya. “Masalah trenggiling adalah mereka bukan satwa besar yang mengagumkan, Ia adalah hewan kecil, aneh, dan akan hilang begitu saja,” kata Olson.

Trenggiling memang tidak sefamiliar hewan langka lain seperti gajah atau harimau. Namun upaya penyelamatan yang sama untuk hewan-hewan besar itu bisa diterapkan untuk trenggiling.

“Lewat komunikasi yang efektif, dunia tahu soal perburuan gajah, harimau dan badak. Tapi secara umum tak ada yang tahu situasi trenggiling yang lucu itu saat ini,” kata fotografer Paul Hilton.