Can’t you people read??? - 2010/Marg/CC BY-NC 2.0 from flickr

Sesat pikir dalam penerapan Taksonomi Bloom

Banyak yang menggunakan Taksonomi Bloom dalam dunia kependidikan, tetapi rupanya sedikit yang memahami substansinya.

Setiap kali merancang pelatihan dengan berbagai pihak, saya sering bertemu dengan jargon “pengetahuan, sikap, dan keterampilan” dalam merumuskan materi. Hal ini mengganggu pikiran saya, karena sebagian besar tampaknya telah memahami konsep ini dengan cara yang sangat berbeda.

Pembagian tiga ranah ini, awalnya dicetuskan Benjamin Bloom dan kawan-kawan. Maksudnya untuk menentukan tujuan belajar. Ia bukanlah ruang yang terpisah satu sama lain, ia bukan kemampuan yang terpisah dalam diri manusia. 

Pengetahuan berkutat seputar hal-hal yang harus diketahui. Sikap, atau aslinya adalah Afektif, berkaitan dengan rasa, suka-tidak suka, peduli-tidak peduli. Sedangkan Keterampilan, aslinya adalah Psikomotorik, yang hanya terkait dengan kemampuan fisik manusia, kemampuan untuk mengendalikan organ tubuhnya.

Setiap kali manusia belajar, mereka ingin mendapatkan kemampuan. Ketika mereka ingin tahu sebuah informasi atau pengetahuan, mereka ingin berbuat sesuatu dengan pengetahuan itu. Ini berarti, kemampuan tersebut, butuh pengetahuan. Tetapi apakah sekedar tahu saja sudah cukup?

Ketika Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan dipilah menjadi 3 jenis kemampuan, inilah awal kesalahkaprahan itu terjadi. Tiga ranah ini harusnya membentuk satu set kemampuan tertentu. Sebutlah kemampuan memasak. Kita bisa lihat bagaimana tiga ranah ini berperan untuk membentuk seorang koki yang handal.

Anda perlu tahu jenis-jenis bahan makanan, peka dalam hal etika memasak, dan terampil menggunakan alat-alat memasak. Pernah melihat bagaimana koki dengan cepat mengiris bawang? Itu terkait dengan kemampuan motorik dalam menggunakan alat, dalam contoh di atas, pisau dapur. 

Kepekaan dalam memperhatikan etika memasak, membuat seorang koki peduli bahwa makanan yang ia sajikan bukan hanya untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi juga menyehatkan dan tampak profesional. Ini akan membuatnya selalu menjaga kebersihan dan menampilkan makanan dengan estetika yang baik.

Pengetahuan? Sudah tentu banyak hal yang harus ia ketahui. Salah satunya mengenali bahan makanan yang tepat sesuai dengan rasa makanan yang diinginkan. Termasuk juga komposisi gizi di dalamnya, agar menu yang ia sajikan sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.

Dalam cara pandang yang salah kaprah, Memasak bisa dianggap sebagai “Keterampilan”. Bias ini muncul pula dalam kalimat, misalnya terampil memasak. Padahal, kemampuan memasak terdiri dari banyak keterampilan: terampil mengenali bahan makanan, terampil menggunakan alat masak, terampil menyajikan makanan di atas meja, atau terampil dalam mematuhi prosedur memasak sesuai resep.

Kata keterampilan, yang dicatut dari 3 jargon ranah pembelajaran, disalahartikan menjadi kemampuan. Padahal, Keterampilan dalam jargon itu asalnya dari ranah Psikomotorik. Maka yang terjadi kemudian adalah, si perancang kegiatan belajar - para pelatih dan tim materi - salah dalam menyusun materi pembelajaran.

Kesesatan pikir ini - dalam pandangan saya - juga terjadi dalam perancangan Kurikulum 2013. Alih-alih berbasis kompetensi, kompetensi yang dimaksud justru diambil dari 3 ranah pembelajaran ini. Mereka tidak memetakan kompetensi dalam sebuah kemampuan, tetapi memilah kompetensi dengan 3 ranah Bloom ini.

Sekali lagi, 3 ranah ini hanya menentukan tujuan belajar. Apa yang harus dipelajari untuk menguasai sebuah kompetensi/kemampuan? Apakah perlu Pengetahuan? Sikap? Dan Keterampilan (psikomotorik) sekaligus? Ketiganya tidak harus dibutuhkan, tergantung kemampuan apa yang dimaksud. Bayangkan jika kemampuan bertoleransi terhadap perbedaan, adakah psikomotorik dibutuhkan di sana?

Secara sederhana, tahapannya sebaiknya begini:

  • Cermati kemampuan apa yang harus dimiliki si pebelajar; 
  • Periksalah ranah apa saja yang perlu dipengaruhi agar pebelajar dapat menguasai kemampuan itu;
  • Rumuskan bunyi tujuan untuk setiap ranah yang harus dipelajari;
  • Susun proses pembelajaran berdasarkan pencapaian tujuan yang paling mudah, baru ke yang kompleks.

Kita akan bicara lagi nanti bagaimana Taksonomi Bloom itu kini sudah direvisi. Dalam revisi terbarunya, ada sedikit perbedaan susunan kompleksitas dalam ranah Kognitif (Pengetahuan), dan penambahan kategori: Fakta, Prinsip, Prosedur, dan Meta-kognitif.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.