Mengukur Kualitas Desain UI dan UX

Adityo Pratomo
Oct 9, 2020 · 3 min read
Photo by William Warby on Unsplash

Apa yang terjadi setelah UI sebuah aplikasi telah selesai didesain dan diimplementasikan di kode? Sebagai desainer, mungkin kita jadi penasaran, sejauh apa sih kualitas desain UI atau UX yang telah kita kerjakan? Lalu bagaimanakah cara mengukur kualitas tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa metric yang bisa kita gunakan untuk mengukur kualitas desain kita. Menurut saya pribadi, beberapa metric yang saya jabarkan di sini bisa memberikan penilaian objektif, alih-alih berdebat dalam kerangka subjektif seperti estetika visual. Sekedar catatan, ini bukanlah daftar metric terbaik, tapi gunakan ini sebagai titik awal pengukuran yang tentu saja bisa dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi Anda.

  1. Time to completion
  2. Error rate
  3. Abandonment rate

Mari kita bahas satu-persatu

Time to completion

Dengan mengukur faktor ini, maka kita bisa melihat, sejauh apa desain kita membantu user, apakah UI-nya mudah dipahami, apakah alur UX-nya sesuai dengan mental model user, dan seterusnya.

Variasi lain yang bisa diukur juga adalah jumlah klik atau tap yang harus ditempuh seorang user dalam melakukan task-nya.

Error Rate

Berbekal data ini,kita jadi punya titik awal untuk menelusuri penyebabnya. Mungkin saja ada kesalahpahaman pengguna terhadap teks yang muncul, tombol yang sulit dikenali, atau bahkan alur penggunaan produk yang tidak intuitif.

Sebagai desainer untuk produk digital, kita pun perlu bisa memahami dinamika sebuah software, yang penggunaannya akan sangat bergantung pada siapa yang menggunakan. Kita perlu membimbing para pengguna untuk bisa sukses menggunakan produk kita dengan berbekal desain UI dan UX yang sesuai. Error bisa dibilang pasti terjadi, tinggal bagaimana kita meminimalisir kemungkinan itu terjadi dan kalaupun ada insiden, kita bisa menginformasikannya dengan jelas ke user.

Abandonment Rate

Sebagai contoh, saat mengukur UX website saya, saya memperhatikan sebanyak apa pengunjung website keluar setelah mengunjungi halaman home. Di titik ini, angka tersebut berarti informasi yang ada di halaman home, tidak bermanfaat bagi pengunjung saya, sehingga kualitas kontennya perlu ditingkatkan lagi, baik dengan desain yang lebih bisa mengedepankan informasi yang sesuai, ataupun dengan penggunaan copywriting yang lebih bersahabat.

Abandonment rate ini menandakan bahwa user tidak merasakan value dari produk kita, sehingga ia memutuskan untuk tidak lagi menggunakannya ataupun tidak berinteraksi lebih jauh. Sehingga dari sisi UX kita pun bisa mengevaluasi lagi, siapa sebenarnya user yang kita sasar dan value apa yang bisa kita berikan.

Melakukan Pengukuran

Untuk produk dengan skala lebih besar, kombinasi feedback form, layanan analytic seperti Google Analytics ataupun event tracker dari layanan seperti Sentry, bisa membantu kita dalam mendapatkan data lebih banyak. Kemudian jadi PR kita untuk bisa memahami angka-angka yang banyak itu dan mencari korelasinya.

Akhir kata, selamat mengukur desain teman-teman. Saya cukup yakin bahwa diskusi dengan menggunakan data-data ini bisa jadi lebih bermanfaat ketimbang berdebat soal taste desain, karena ujungnya, apalah gunanya sebuah produk apabila penggunanya tidak bisa melakukan hal yang akan membawa value baginya.

Labtek Indie

We help you solve problem and build prototype for your…

Labtek Indie

We help you solve problem and build prototype for your technology product.

Adityo Pratomo

Written by

Digital product maker. Do design and code just to see pixels give real-world values. Cyclist + Gamer + Metalhead. Also, proud dad and husband.

Labtek Indie

We help you solve problem and build prototype for your technology product.