Labtek Indie
Published in

Labtek Indie

Twitter adalah Peralatan Riset Favorit Saya

Photo by Noah Rosenfield on Unsplash

Dan ini bukan tanpa dasar yang kuat. Jika teman-teman kebetulan (atau terpaksa) memfollow akun Twitter saya, mungkin selain menemukan candaan saya yang kadang terlalu sektoral, teman-teman juga menemukan saya beberapa kali menanyakan pertanyaan untuk memancing respon tertentu dari para warga Twitter.

Contohnya ini, ketika saya menanyakan kenapa nasabah sebuah bank, tidak menggunakan produk mobile bankingnya

Atau yang baru saja kemarin terjadi, ketika saya ingin mensurvei, apa sih pain point terbesar yang dirasakan seorang pengguna aplikasi berbasis CLI/Terminal

Ini baru 2 contoh dari beberapa riset yang saya lakukan dengan terjun langsung ke pasar, meskipun tidak langsung, dengan perantara interface Twitter.

Mengapa Twitter?

Saya pengguna setia Twitter, sejak saya menginstal aplikasi ini sekitar 10 tahun yang lalu. Bagi saya pribadi, platform ini adalah tempat yang super intuitif untuk menumpahkan apa yang ada di otak saya. Ternyata, tanpa saya sadari, beberapa tahun belakangan, saya melihat meskipun follower akun saya tidak terlalu banyak (1.900-an, masih jauh untuk jadi selebtwit atau buzzer), ternyata engagement saya cukup bagus. Ada beberapa twit yang direspon bahkan di luar lingkar pertemanan saya, yang mengindikasikan bahwa ini adalah tempat yang bagus untuk mencoba mendapatkan respon dari sebuah pertanyaan. Interaksi twitter yang relatif instan, berbasis teks, mungkin membantu menstimulus siklus respon ini.

Terbukti, kedua twit saya di atas, ternyata mendapatkan respon cukup baik, dan menjadi insight tersendiri bagi saya pribadi, ketika saya sedang memikirkan sebuah permasalahan. Sebagai seorang UX desainer, mengalahkan asumsi pribadi, adalah hal yang rutin saya cari. Mendapatkan validasi langsung dari orang lain, meskipun hanya lewat interaksi singkat, sudah cukup bagi saya untuk mendapatkan titik awal solusi yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Selain itu, dengan melakukan riset seperti ini di publik, saya berharap bisa sedikit menyumbangkan penyebaran informasi tentang sebuah fenomena. Siapa tahu, dengan semakin banyak kita memahami mengapa seseorang melakukan sesuatu, semakin tumbuh pula empati kita.

Apakah ini ideal?

Tentu tidak. Metode ini tidak akan bisa menggantikan wawancara mendalam dengan seorang responden yang dihasilkan dari fase penyaringan yang ketat. Namun, lagi-lagi, untuk saya, ini bisa dianggap sebagai cara saya mengendus masalah utama apa sih yang sebenaranya dirasakan banyak orang. Dan hasil dari riset ringan ini, tentu saja perlu divalidasi lagi, lewat metode yang lebih formal seperti wawancara.

Sebagai contoh, di kedua kasus yang saya sebutkan di atas, ternyata asumsi awal saya, salah semua. Saya kira, orang malas menginstal aplikasi mobile banking, karena merasa tidak aman, ternyata tidak semua merasa begitu. Takut boros justru jadi hal yang sering diungkapkan. Meskipun tetap ada yang merasa faktor keamanan juga menjadi penyebab fenomena tersebut. Di kasus kedua, asumsi saya, sintaks lah yang menjadi pain point terbesar, ternyata justru itu adalah pilihan yang paling sedikit dipilih.

Itu semua adalah titik mula saya untuk mengoyak hipotesa awal, yang tentu, sangat saya hargai.

Oke, rasanya ini menarik, bisakah saya meniru metode ini?

Oh, tentu saja. Siapapun bisa mencoba metode ini. Jika takut karena jumlah follower belum banyak, coba saja dulu, siapa tahu ada traction-nya. Menurut saya, poin tersulit adalah bagaimana bisa menanyakan pertanyaan yang tepat, dengan batasan 280 karakter. Ini bisa jadi latihan yang seru bagi kita sebagai periset untuk membiasakan diri menanyakan pertanyaan dengan ringkas namun tepat.

Saya pernah menuliskan sedikit tips dalam menyusun pertanyaan yang tepat, yang mungkin bisa ditinjau teman-teman yang berminat. Terlepas dari itu, khusus untuk Twitter, kita juga bisa memanfaatkan cara algoritmanya bekerja. Jika sebuah twit dirasa memiliki engagement yang rendah, coba retweet atau reply twit tersebut, sehingga posisinya bisa naik lagi di timeline follower kita. Ini akan memperbesar peluang seseorang merespon twit kita.

Akhir kata, selamat mencoba metode ini. Dan untuk teman-teman yang kebetulan mengikuti akun saya, mohon maaf ya kalau saya sering riset di publik. Semoga tidak mengganggu hari teman-teman 😄

--

--

We help you solve problem and build prototype for your technology product.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Adityo Pratomo

Adityo Pratomo

Digital product maker. Do design and code just to see pixels give real-world values. Cyclist + Gamer + Metalhead. Also, proud dad and husband.