Yang Jarang Dibicarakan ketika Membicarakan UX

Adityo Pratomo
Nov 2, 2020 · 3 min read
Photo by Randy Fath on Unsplash

Saya baru menyelesaikan membaca buku panduan tentang membuat aplikasi Cloud Native Stateful dari Lightbend, sebuah perusahaan konsultasi dengan spesialisasi di pembuatan sistem cloud native yang reaktif. Menariknya, bab awal buku itu, yang bercerita tentang teknologi serverless, justru saya anggap sebagai paparan yang menekankan pada aspek UX, alih-alih pembahasan teknologi murni. Mereka melihat serverless sebagai cerita yang belum selesai, terutama di sisi UX, bagaimana teknologi ini seharusnya bisa membantu menyelesaikan masalah operasional aplikasi di lingkungan enterprise. Tentu saja, ini pun juga diteruskan dengan berbagai paparan yang cukup teknis, yang menyangkut masalah bagaimana seharusnya implementasi teknologi tersebut dilakukan.

Cerita lain yang mirip, yang juga saya temukan, adalah di konferensi Next.js yang diadakan beberapa hari yang lalu. Beberapa talk yang disajikan di sana, meskipun konteksnya adalah penggunaan Next.js sebagai sebuah framework aplikasi web, justru banyak yang menyentuh aspek UX, baik UX dari sisi pengguna akhir aplikasi, maupun developer, sebagai pengguna Next.js sendiri. Sehingga ujungnya adalah bagaimana developer bisa menggunakan waktunya dengan baik, untuk menghasilkan aplikasi yang memiliki UX yang bagus, demi meningkatkan kualitas kehidupan pengguna aplikasi tersebut.

Apa yang bisa kita pelajari dari 2 cerita tersebut? Menurut saya pribadi, ternyata ketika berbicara soal UX, kita juga perlu melihat sisi aspirasional pengguna, sesuatu yang seharusnya lahir dari UX yang dimiliki produk itu sendiri.

Kurang jelas? Mari kita bedah sedikit dari awal.

Pembaca yang sudah berkutat di bidang UX, pasti paham benar tentang persona, sebuah dokumen yang menggambarkan karakter fiktif, yang menunjukkan perilaku tipikal pengguna sebuah produk. Salah satu yang biasa kami tuliskan di Labtek Indie, adalah Be Goal dan Do Goals. Keduanya bisa dibaca lebih dalam di artikel ini tapi pada dasarnya, Be Goal adalah tujuan aspiratif yang ingin dicapai seseorang. Do Goals adalah hal-hal yang ingin ia lakukan demi mencapai Be Goal tersebut. Gambar di bawah ini menunjukkan Be Goal (kotak di tengah) dan Do Goals (kotak sebelah kanan).

Contoh Persona dengan Be Goal dan Do Goals

Dari sini, saya melihat bahwa pembicaraan UX, juga perlu bisa mencakup soal goal aspirasional yang diwakili Be Goal seorang persona. Mengapa sebuah produk perlu ada, value apa yang didapat penggunanya, dan yang terpenting, bagaimana ia bisa membantu kehidupan pengguna produk tersebut? Lebih-lebih lagi, apabila selama ini hidupnya baik-baik saja, apakah keberadaan produk tersebut bisa membawa dampak yang lebih baik? Setelah itu, di tingkat detail implementasi, barulah kita bisa membicarakan Do Goals, bagaimana alur antar layar ketika melakukan sebuah pekerjaan bisa membantu pengguna mencapai tujuan yang ia harapkan.

Dengan demikian, secara strategis, UX memang perlu berdiri lebih dekat dengan konsep produk dan bisnis sebuah organisasi. Dan ini bisa tercapai lewat interaksi erat antar ketiga domain itu, dengan tetap memajukan bukti empiris dari riset pengguna sebagai acuan pengembangan produk. Dengan ini, diharapkan produk bisa terus diingatkan untuk menciptakan value untuk sang pengguna yang searah dengan arahan bisnis organisasi.

Oh, jika teman-teman tertarik soal UX di level strategis ini, buku UX Strategy dari Jamie Levy, sangat saya rekomendasikan untuk bacaan lebih detail.

Selamat mengatur strategi!

Labtek Indie

We help you solve problem and build prototype for your…

Labtek Indie

We help you solve problem and build prototype for your technology product.

Adityo Pratomo

Written by

Digital product maker. Do design and code just to see pixels give real-world values. Cyclist + Gamer + Metalhead. Also, proud dad and husband.

Labtek Indie

We help you solve problem and build prototype for your technology product.