Empat Mitos Puisi Versi Jokpin: Workshop Puisi Joglitfest Bareng Joko Pinurbo (#1)

Joko Pinurbo alias Jokpin adalah tipikal penulis yang mampu membuat pembacanya senyum-senyum sendiri sambil bergumam, “Asu, kenapa enggak terpikir, ya, kalimat macam begini?” Saya mengalami momen-momen seperti itu sejak pertama kali dibelikan buku kumpulan puisinya yang berjudul Celana (1999) oleh bapak kala SD dulu. Hanya saja, dulu saya tidak mengumpat. Kalau sekarang, ketika membaca buku-bukunya yang lebih baru seperti Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016) atau Buku Latihan Tidur (2017), tentu saja iya.
Puisi-puisi Jokpin nyaris, atau bahkan tidak pernah dipenuhi bunga-bunga metafora yang berlebihan. Tema-tema yang diangkat biasanya intim dengan keseharian kebanyakan orang, tetapi Jokpin sangat cerdik menggunakan permainan logika dan bunyi. Puisinya sederhana dan kompleks secara bersamaan.
Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) merupakan ajang literasi yang lagi-lagi diadakan di Yogyakarta. Salah satu rangkaian kegiatan yang mengantarkan pada acara puncak di tanggal 27–30 September adalah sejumlah workshop kepenulisan. Workshop penulisan puisi Joglitfest diadakan dua kali, salah satunya (07/09) diisi langsung oleh Jokpin yang juga merupakan penyair asal Jogja.
Puisi dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk produk literatur yang paling lain dari yang lain. Penulis puisi berhak untuk menabrak segala aturan kebahasaan sebebas-bebasnya. Hal ini justru membuat puisi mendapat stigma sakral. Puisi diciptakan ketika muncul inspirasi dari langit — seperti sabda yang diturunkan secara magis kepada penulisnya.
Kalau begini ceritanya, maka tentu akan nyaris mustahil menyelenggarakan workshop permohonan sabda dari langit. Jokpin mencoba untuk meyakinkan para peserta kalau ada mitos-mitos yang tidak semestinya diimani penulis puisi yang ingin serius berpuisi. Mitos-mitos tersebut di antaranya adalah:
1. Puisi tidak bisa disunting
Mitos: Sebagai inspirasi gaib, puisi kerap dianggap tidak sepantasnya disunting. Puisi lahir pada saat yang tepat, momen yang tepat, lewat bisikan malaikat sehingga jika direvisi akan kehilangan “keajaibannya”.
Fakta: Sama seperti karya tulis lain, tidak ada yang salah dalam penyuntingan puisi, malahan perlu. Dengan melakukan penyuntingan, elemen-elemen dalam puisi yang tidak diperlukan dapat dihapus dan yang kurang tepat dapat diperbaiki sehingga menghasilkan puisi yang lebih efektif. Buku-buku puisi Jokpin kerap memuat puisi yang berubah-ubah redaksinya dalam setiap terbitan. Maka, jangan dikira hanya draf skripsi saja yang bisa disunting sampai berjilid-jilid.
2. Menulis puisi harus menunggu ilham datang
“Sumber ilham berasal dari tanah, bukan dari langit. Ilham berasal dari pergulatan hidup sehari-hari.”
Mitos: Sejumlah orang menganggap ilham untuk menulis puisi itu seperti dibisikkan, entah oleh Jibril atau entitas astral lainnya. Maka kegiatan menulis puisi menjadi seperti ritual, seperti ibadah (meskipun Jokpin sendiri menulis puisi dan menerbitkan antologi dengan judul ini). Ide dan kata-kata dalam puisi menjadi seolah-olah di luar kontrol penulisnya sendiri, melainkan di bawah kontrol sesajen-sesajen seperti kopi, rokok, dan senja.
Fakta: Penulis puisi yang produktif dan konsisten seperti Joko Pinurbo menyikapi kegiatan menulis puisi sebagai rutinitas sehari-hari. Oleh karenanya tidak ada ruang bagi bermalas-malasan menunggu datangnya inspirasi. Justru dengan terbiasa menulis secara disiplin, maka kemampuan untuk menuliskan ide dengan baik dapat turut diasah. Metode semacam ini juga dilakukan oleh penulis novel kenamaan, Stephen King. Dalam sebuah talkshow yang dimoderatori oleh George R.R. Martin, King membocorkan obsesinya terhadap kedisiplinan dalam menulis yang berbuah pada produktivitas yang tidak perlu diragukan lagi — baik kualitas maupun kuantitasnya.
3. Puisi lahir dari penderitaan
Mitos: Menulis puisi harus didahului dengan rasa nelangsa, entah harus patah hati terlebih dahulu atau terjebak oleh belenggu kemiskinan. Entah berapa hati yang harus dipatahkan setiap minggunya jika ingin produktif menulis puisi. Intinya jadi penulis puisi harus sengsara.
Fakta: Penulis puisi tidak perlu menderita. Yang sangat diperlukan oleh penulis puisi adalah kepekaan akan apa yang terjadi di sekitarnya, termasuk penderitaan. Empati dan kepekaan akan menghasilkan gagasan yang memiliki kedekatan dengan penulis maupun pembacanya.
4. Puisi harus ditulis dalam mood yang tepat
“Jangan menulis puisi saat sedang marah atau jatuh cinta. Beri jarak terhadapnya, sehingga kamu bisa melihat perasaan itu dengan lebih objektif.”
Mitos: Banyak orang kesulitan menulis puisi dengan alasan tidak mood. Puisi cinta harus dibuat saat mood sedang jatuh cinta. Puisi patah hati harus dibuat saat mood sedang diputusin. Puisi kritik harus dibuat ssaat sedang marah-marahnya dengan pemerintah.
Fakta: Tidak hanya sekali Jokpin menyampaikan bahwa rahasia dari puisi-puisinya yang mampu menggali sisi lain dari peristiwa adalah kecenderungannya untuk mengambil jarak. Hal yang sama disampaikan dalam hampir setiap workshop yang diisi olehnya. Puisi yang baik justru tidak ditulis saat ada perasaan tertentu yang meledak-ledak. Biarkan perasaan tersebut mereda. Kemudian, menulislah puisi dengan melihat kembali peristiwa yang dialami dan dirasakan dari jauh. Dengan menyediakan ruang semacam ini, penulis akan mampu melihat perspektif-perspektif lain yang sebelumnya tertutupi oleh perasaan sendiri.
“Ketika sebuah puisi kehilangan sisi misteriusnya, maka hilanglah nyawa puisi itu.”
Prasyarat yang diajukan Jokpin sebelum memulai workshop adalah membuang jauh-jauh kepercayaan akan keempat mitos di atas. Barangkali metode tersebut cukup berlawanan dengan apa yang selama ini kebanyakan orang percaya saat akan menulis puisi. Akan tetapi, pendekatan ini adalah upaya untuk melihat puisi dari sisi yang lebih teknis.
Dengan cara ini, maka, akan lebih mudah bagi penulis untuk mengukur seberapa baik puisi yang dibuatnya, kendati tetap dalam kaidah sastra yang mengandung subjektivitas. Puisi tidak lagi dianggap sebagai sebuah produk kepenulisan yang kelewat abstrak, melainkan sesuatu yang tidak terlampau sulit untuk dicerna dan dinikmati. Meskipun begitu, Jokpin mewanti-wanti bahwa nyawa puisi tetap berada di sisi misterius yang dikandungnya.

