Puisi Dangdut

Seorang penyair
merasa terkutuk
kerna sepenggal syair
dangdut dan suara
biduanita yang aduh
menggagalkan semua puisinya

Literasi.co
Aug 24, 2017 · 1 min read

Ia menemu pencerahan
saat biduan bergoyang
dan dari pinggulnya
kata-kata berjatuhan
seperti hujan dalam sajaknya
o, hatinya alangkah dingin
basah memenuhi tubuhnya

lalu sepi menjeratnya
listrik padam
televisi yang menyiarkan
panggung fantasi itu
surut dalam gelap layar
ia jadi kacau

Matahari begitu panas
pagi berlenggang cepat
lalu dari kejauhan
truk yang berdebu
melaju dengan kencang
sementara spikernya memekarkan
tembang-tembang dangdut
beraroma peluh

Penyair kembali
mendapati jiwanya
dan sementara ia khusyuk
dalam tikungan melodi
dan desah yang mendayu
truk segera berlalu
dan di bak truk tertulis:

“aku bukan penyair
tapi jalanan adalah puisi
dangdut debu bising asap
mengajariku arti hidup”

Ia diam.
suara biduan menjauh
ditelan jalan aspal hitam.
hujan, cinta, senja
pohonan, angin malam,
pagi, tetes embun, aroma rindu,
semua nampak sia-sia.

Belum pernah ia merasa paling puisi
kecuali saat mampir ke warung bude
membeli sebatang rokok
dan melihat semua peristiwa itu
buat jantungnya berguncang
berirama dangdut kendang

2017

Literasi

Media Kooperasi

Literasi.co

Written by

Literasi

Literasi

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade