Subronto K. Atmodjo & Paduan Suara Gembira

12 Oktober 1929–12 November 1982
Sebuah kenangan dari sahabat; Untuk Mbak Titi Bronto dan anak-cucu.

Barangkali pada sekitar pertengahan tahun 1950-an ketika untuk pertama kali saya mengenal melalui membaca nama “Subronto K. Atmodjo” — selanjutnya akan saya sapa menurut kebiasaan saya dahulu: Mas Bronto. Nama itu disebut sebagai dirigen sebuah perkumpulan koor atau paduan suara yang bernama ‘Gembira’, yang selalu tercantum seminggu sekali di dalam majalah ‘Berita Radio’ yang terbit di Jakarta. Seperti nama “Gembira’ itu sendiri sudah menunjukkan, anggota perkumpulan paduan suara ini adalah para muda-mudi remaja masa itu. Umumnya, atau malah seluruhnya mungkin, terdiri anak-anak pelajar sekolah menengah atas.

Ketika itu ada dua acara siaran dari Studio Radio RRI Pusat, Jakarta, yang tidak pernah saya biarkan berlalu begitu saja. Acara siaran yang pertama bernama ‘Tunas Mekar’, di bawah asuhan Abdul Mutalib dan M. Duri Abdurahman, yang membacakan dan mengulas sajak-sajak kiriman dari para penyair pemula dan bahkan calon penyair. Pada masa-masa itulah saya mula pertama berkenalan dengan nama Nh. Dini dan puisi-puisinya. Acara siaran yang kedua ialah paduan suara ‘Gembira’ di bawah pimpinan Subronto K. Atmodjo itulah!

Barangkali tidak salah jika saya katakan, pada masa itu belum ada perkumpulan paduan suara lain selain ‘Gembira’. Tentu saja di luar perkumpulan paduan suara untuk nyanyian-nyanyian rohani di sementara gereja tertentu. Mungkin saja sudah ada juga perkumpulan paduan suara semacam ‘Gembira’, di tengah-tengah ‘sukubangsa penyanyi’ seperti di Batak dan Ambon sana. Tapi sebuah perkumpulan paduan suara yang terkemuka dalam mutu, dan karenanya mendapat tempat tetap di Studio RRI Pusat, Koor ‘Gembira’ sungguh tidak atau belum ada duanya.

Selain oleh kepiawaian Mas Bronto, yang ditunjang oleh bakat musiknya yang luarbiasa itu, namun bagaimanapun juga saya harus menyebut seorang pemusik otodidak berbakat lainnya. Orang itu ialah [Mas] Mohamad Sutiyoso, yang sudah meninggal di Hamburg, Jerman, sekitar tujuh tahun lalu. Apabila Mas Bronto selain dirigen juga komponis yang cergas dan peka, Mas Sutiyoso lebih mencurahkan kepekaan musikalnya sebagai penata atau penyusun aransemen lagu demi lagu yang hendak dipergelarkan. ‘Gembira’ harus selalu menciptakan suasana gembira. karena pendukungnya yang anak-anak remaja kaum menengah ibukota — begitulah barangkali yang terpikir tanpa pernah terucapkan oleh Mas Bronto. Tapi ia tidak sekedar membiarkan menjadi sebuah motto hampa: gembira untuk gembira. Di dalam jiwa dan semangat Mas Bronto musik menjadi sebuah alat pendidikan yang ampuh. Pendidikan harmoni, baca: keindahan keselarasan, dan pendidikan pengabdian, baca: cinta bangsa atau nasionalisme dan cinta tanahair atau patriotisme.

Maka bergemalah dari panggung ‘Gembira’ lagu-lagu yang menggugah semangat dan membangkitkan tekad, berselang-seling dengan lagu-lagu yang menanamkan kesadaran dan keikhlasan pengabdian pada bangsa dan tanahair. Untuk itu ditampilkanlah lagu-lagu karya para komponis Indonesia terkemuka, seperti Cornel Simandjuntak, H. Muntahar, Ibu Sud (Bintang Sudibio), Daljono (Pak Dal), Soedharnoto, Ismail Mz., Amir Pasaribu dan lain-lain. Di samping itu tentu saja ia juga menampilkan lagu-lagu ciptaannya sendiri yang oleh Bung Karno, dalam salah satu kesempatan pidatonya, pernah dipuji dengan kata-kata: “… ciptakanlah terus lagu-lagu dengan irama yang berdentam-dentam!”

Pada hemat saya Mas Bronto juga salah seorang komponis yang menggunakan lagu sebagai alat pencatat sejarah. Ini keistimewaan dan sekaligus keunggulan Mas Bronto yang lain lagi. Tidak ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia pada masanya, juga pidato-pidato Bung Karno, yang dibiarkannya berlalu tanpa ‘dicatatnya’ dalam komposisi lagu. Lagu ‘Resopim’, misalnya, singkatan dari “Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional”, adalah judul pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1953; Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk pembebasan Irian Barat, diabadikannya dalam lagu ‘Bebaskan Irian!’; Dwikora (Dwi Komando Rakyat) untuk mengganyang Malaysia sebagai proyek ‘nekolim’ (neokolonialisme dan imperialisme) digubahnya dalam lagu ‘Sukarelawan’; seruan persatuan nasional berporos nasakom dari Bung Karno, dikemasnya dalam lagu ‘Nasakom Bersatu’, dan masih banyak lagi.

Namun Subronto K. Atmodjo tidak berhenti sampai di sana saja. Kesadaran nasionalisme dan patriotismenya diterjemahkannya melalui musik sebagai sarana dan wahana sekaligus. Bersama Mohamad Sutiyoso mereka bekerja keras untuk ‘menggali’, kemudian mengangkat lagu-lagu rakyat, warisan kebudayaan suku-suku bangsa dari seluruh Indonesia. Sambil mencari dan mencatat lagu-lagu rakyat yang telah tertimbun debu sejarah, lagu-lagu rakyat yang sudah ada diberi notasi, dan kemudian diaransemen sebagai repertoar lagu untuk paduan suara. Berkat mereka berdua itulah pengetahuan saya tentang khazanah lagu rakyat Betawi, misalnya, yang terbatas pada Gambang Kromong, Jali-jali dan (keroncong) Kemayoran, sejak tahun 1965 setidaknya bertambah dengan satu lagi: Glatik Nguknguk!

Barangkali andaikata orang tanpa prasangka dan mau berendah hati belajar pada ketauladanan Subronto K. Atmodjo dan Mohamad Sutiyoso, lagu ‘Rasa Sayang Sayange’ dan gending tetabuhan Reog Ponorogo — mungkin masih ada yang lain lagi? — tidak perlu didaku sebagai milik ‘orang’ lain. Juga barangkali anak-anak remaja tidak perlu dari hari ke hari bikin ‘paduan kelahi’ alias tawuran, melainkan dari hari ke hari saling asyik belajar berpaduan suara untuk membangun harmoni kehidupan yang indah.

Sepanjang akhir tahun 50-an atau awal 60-an perjumpaan saya dengan Mas Bronto ibarat perjumpaan dua orang sahabat di sebuah stasion, barang satu-dua jurus, masing-masing di dalam kereta-apinya yang berjalan ke arah berlawanan. Perjumpaan kami baru menjadi lebih ‘sering’, tapi pasti menjadi lebih dekat, justru sesudah kami sebagai tapol diasingkan dan dikerja-paksakan di Pulau Buru. Mas Bronto di Unit X, selanjutnya dipindah ke Barak Mako untuk memimpin Bandko bersama Basuki Effendy, dan saya di Unit XIV, selanjutnya dipindah ke Unit XV. Jarak antara dua unit tersebut, Unit X dan Unit XIV, kira-kira 35 km, dan jarak antara Mako dengan Unit XV sekitar 7 km. Tapi kebebasan gerak yang tidak ada tentu saja mengalangi kami untuk bisa saling bertemu di mana saja dan kapan saja. Semuanya ada ‘aturan main’ yang dinamai ‘konsinyes’ dengan resiko hukuman fisik bagi si pelanggar.

Suatu ketika Bandko naik pentas di Unit XV, sebagai awal sebelum ‘tur’ ke duapuluhsatu unit-unit tapol lainnya di seluruh Tefaat atau Inrehab. Ada salah satu lagu yang dimainkan, “Barcarolle” dari Jacques Offenbach (komponis Jerman-Perancis abad ke-19), yang disebut salah sebagai komposisi Mozart. Saya menyelinap ke belakang panggung dengan pesan koreksi untuk Mas Bronto. Dalam bilangan detik ia segera tampil di depan publik, dengan wajah tersenyum dan suara bernada keikhlasan menerima koreksi — walaupun koreksi itu di depan umum!

Itulah pribadi Subronto K. Atmodjo. Saya tidak pernah melihat ia di depan oranglain, apalagi orang banyak atau publik, tidak dalam wajah tersenyum dan tatapan mata yang selalu penuh perhatian. Wajah seperti itu jugalah yang saya saksikan pada hari-hari terakhir hayatnya di atas ranjang Rumah Sakit “Pertamina”, di awal bulan November 1982. Wajah yang ikhlas dan suara yang tetap bening.

Mas Bronto. Beristirahatlah dalam keabadianmu dengan sepenuh damai. Bisikkanlah nada-nada lagu nuranimu pada kami dan mereka, yang masih terus dalam perjalanan Ziarah Kemanusiaan.

Mbak Titik, tulisan ini khusus untukmu yang belum lama ini berulangtahun!

Catatan:

1. ‘Resopim’, kalimat pertama lagu berbunyi: ‘Resopim Resopim / Revolusi Agustus empat lima/

2. ‘Bebaskan Irian!’, kalimat pertama lagu berbunyi: ‘Siap, siap, Saudara / Bebaskan Irian sekarang juga/

3. ‘Sukarelawan’, kalimat pertama lagu berbunyi: ‘Bulat semangat tekad kita / Baisan Sukarelawan Indonesia/

4. ‘Nasakom Bersatu’, kalimat pertama lagu berbunyi: ‘Acungkan tinju kita / satu padu bersatu/

5. “Mako” (Markas Komando), kedudukan penguasa Unit-Unit Tefaat Buru, dan di sekeliling kantor komando dan pemukiman para penguasanya, didirikan barak-barak khusus seperti Barak Karawitan/Pedalangan, Barak Bandko (Band Markas Komando), Barak Pelukis dan Perajin dsb.

6. Basuki Effendy, aktor, penyanyi, sutradara film; “Pulang”, film karyanya, mendapat penghargaan internasional sebagai film terbaik di festival film di Praha.

Dengarkan rekaman lagu-lagu paduan suara “Gembira” di sini