Maker Indonesia 
Published in

Maker Indonesia 

Menolak Maker Movement 

Jangan lupa diri! Karena Nenek moyang kita adalah Maker.

Dahulu kala 40.000 tahun silam Homo Sapiens membuat beberapa peralatan yang canggih pada jamannya seperti jarum dan kalung yang dibuat dari tulang-belulang hingga pahatan lukisan di dalam goa. Arkeolog menyebutnya The Brain’s Big Bang dalam menandai era evolusi manusia yang mampu bermimpi dan berpikir konseptual menciptakan alat bantu dalam beraktifitas. Psikolog Joe Griffin dan Ivan Tyrrell dalam bukunya Godhead: The Brain’s Big Bang berpendapat bahwa Brain’s Big Bang memperkenalkan kreatifitas, mistik, dan gangguan mental bagi peradaban manusia. Dari sinilah manusia hingga saat ini memiliki mimpi dan imajinasi dalam berkarya.

http://www.youtube.com/watch?v=7kP9vIsUzU4

Kondisi serupa saat ini terlihat dalam bentuk Maker Movement yaitu sebuah era dimana alat pabrikasi sudah dalam ukuran desktop memudahkan individu membuat prototype secara rapid hingga membuat benda-benda yang dipakai sendiri di rumah. Bikin apa, bikin apa sekarang? Membuat smartphone sendiri pun sudah bisa terealisasi seperti smartphone inersia bikinan Sumasta Pamungkas, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda, dikerjakan di Sumasta Lab miliknya. Handphone dengan inertial sensor yang mengandalkan navigasi gestur goyang inersia terbenamkan di dalam open source micro controller hardware dengan ongkos kurang dari 50 USD ini telah membawa Sumasta Pamungkas memenangkan Grand Prize kontes Atmel AVR Hero 2013. Gokil gak tuh? Kreatifitas individu sudah bukan lagi dalam tataran konseptual abstrak yang tak juntrung. Namun sudah bisa diwujudkan setiap individu secara kongkrit dengan melakukan rapid product prototyping berkat revolusi maker movement di segala penjuru dunia.

We are all makers. We are born makers. — Chris Anderson

Jangan melawan lupa bahwa nenek moyang kita adalah Maker sama seperti nenek moyang para Maker di seluruh dunia. Rumah nenek siapa yang gak ada mesin jahitnya? Bagaimana hingga sampai ada pelajaran Tata Busana di sekolah menengah ? Teman saya yang saat ini berprofesi sebagai seorang Guru SD pun mengajarkan rangkaian listrik serial/paralel kepada anak muridnya di sekolah. Bahkan saya mengalami jaman SD dahulu diajak berkelompok dengan bimbingan Guru pergi berjalan kaki ke toko bahan bangunan berbelanja tripleks lalu beraksi menggunakan gergaji, bor, palu, paku , dan amplas untuk membuat lemari bikinan sendiri. Kita semua adalah Maker, sebagian dari kita belum menyadarinya saja. Sebagian dari kita masih konsumtif dan shopaholic untuk membeli barang yang tidak diperlukan untuk menyenangkan anak daripada peduli terhadap pembenahan jiwanya dan jiwa kita sendiri. Apakah kita membeli gadget baru untuk mengorbankan jiwa kita dan anak-anak kita? Be a Maker or Nothing #MakerMovement .

--

--

--

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Imanzah Nurhidayat

Imanzah Nurhidayat

Market designer for public. goods

More from Medium

ISO20022 — The Who, What, When, and Why It Is Relevant or Everyone!

Cega Finance is the first decentralized derivatives protocol

GUEST OPINION: NC Educrats Reject Positive Curricula in Favor of CRT and Transgender Grooming

A drop in the ocean