Melihat Mahasiswa yang Gemar ke Desa

kegiatan masyarakat desa (dok pribadi)

Desa dalam beberapa tahun berlakangan menjadi hal yang semakin menarik untuk di ulas. Bukan hanya tentang pembangunan yang semakin meggeliat, tetapi juga banyaknya peran pemuda yang terlibat di dalamnya. Salah satu unsur pemuda itu adalah mahasiswa, golongan yang sering diidentikkan dengan orang terpelajar dan bermartabat. Upaya mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan semakin banyak. Tengoklah keterlibatan mereka dalam aktivisme pemberdayan masyarakat dan gerakan sosial yang semakin banyak muncul.

Terkhusus dapat kita lihat di UGM, yang dimana pemberdayaan merupakan bagian dari marwahnya, kini hampir seluruh organisasi mahasiswa dari tingkat jurusan hingga universitas memiliki sebuah desa yang mereka jadikan tempat berkegiatan. Hal tersebut seolah menjadi trend yang menggandrungi dan menjadi salah satu bagian dari pergerakan mahasiswa.

Sayangnya tidak semua kegiatan yang mereka namakan dengan pemberdayaan masyarakat tersebut benar-benar akan berakibat kemajuan bagi desa yang mereka “bina”. Dalam kesempatan kali ini, saya akan mencoba melihat bagaima trend keterlibatan mahasiswa ini akan berhasil atau biasa-biasa saja.

Desa binaan

Mayoritas (tidak semua) organisasi mahasiswa yang sering berkegiatan di desa yang telah mereka tentukan itu dengan sebutan desa binaan. Harapannya, dengan dibina tentu desa yang sebelumnya tidak maju menjadi maju. Tapi benarkan keberadaan mahasiswa di disa ini benar-benar terjadi mahasiswa yang membina masyarakat desa? Sebutan desa binaan seolah menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang lebih berilmu dan dapat menyelesaikan masalah di desa. Faktanya tidak semudah itu — antonio — . Masyarakat di desa telah memiliki sistem hidup mereka sendiri. Tidak terlalu tepatlah jika mahasiswa menempatkan posisi mereka di atas masyarakat desa. Justru, mahasiswalah yang akan banyak belajar dari interaksi mereka terhadap masyarakat desa.

Terlebih, tidak semua organisasi mahasiswa memiliki desain yang jelas terkait aktivitas mereka di desa. Fokus arah, langkah, dan tujuan yang ingin dicapai belum dimiliki oleh semua yang bergerak ke desa. Sehingga seringkali aktivitas di lokasi yang disebut dengan desa binaan hanya diisi oleh mengajar anak-anak dan melakukan baksos secara temporal/eventual. Padahal, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat fokus yang ingin dicapai adalah penigkatan kemampuan masyarakat untuk menggerakkan desa sesuai potensi yang mereka miliki, entah tujuannya untuk menjadi desa wisata, agro, ekonomi kreatif, dan lain-lain. Peran mahasiswa seharusnya menjadi fasilitator dalam penguatan kelembagaan sosial masyarakat. Jika demikian, apakah sudah pas desa itu disebut dengan desa binaan?

ilustrasi (sumber : google)

Perspektif kemajuan desa

Desa dan kota merupakan entitas yang saling bertolak belakang. Dalam mengembangkan desa pun, harus memiliki perspektif kemajuan yang berbeda antara desa dan kota. Kemajuan desa bukan diukur dari berapa banyak gedung baru yang terbangun, bukan pula dari daya beli masyarakat terhadap kebutuhan seperti orang kota. Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa, perspektif tentang kemajuan yang masih berkiblat pada kota harus ditinggalkan. Sebab, sampai kapanpun pengembangan desa akan gagal jika kita masih menggunakan perspektif kota dalam membangun desa.

Akan tetapi di lain sisi, kegemaran mahasiswa untuk mau masuk ke desa patut untuk diapresiasi. Tenaga mahasiswa yang berlebihan memang sepantasnya disalurkan untuk kegiatan yang berdampak positif bagi masyarakat luas, salah satunya adalah program-program pemberdayaan masyarakat desa. Yang harus diperbaiki adalah bagaimana agar upaya untuk memberdayakan masyarakat desa tersebut bukan kegiatan kaleng-kalengan. Artinya, terlalu eman-eman jika tenaga mahasiswa yang telah digunakan untuk berkegiatan di desa justru tidak berdampak yang nyata bagi masyarkat desa. Sehingga semestinya ada grand desain dan arah yang jelas dalam program pengembangan desa, tanpa menghilangkan aspek lokalitas masyarakat desa.

Sejatinya, mahasiswa dan masyarakat adalah dua pihak yang saling bersimbiosis mutualisme dan saling belajar. Istilah-istilah yang menempatkan mahasiswa menjadi pihak yang lebih supra dari masyarakat desa seperti “desa binaan” dan “ turun ke desa” menjadi kurang pas selama mahasiswa masih megambil ilmu dari keberadaan masyarakat. Mengembangkan dan membina — rumah tangga — masyarkat desa memang tidak mudah, diperlukan semangat, kemanusiaan dan keikhlasan atau kalau kata Sosrokartono disebut dengan sepi pamrih tebih ajrih.

Ditulis oleh seseorang di dua sisi, warga desa yang berekesempatan menjadi mahasiswa di kota.

Salam cinta dari desa, salam anak desa!