Meski tak lagi adanya hubungan. Kadang diri diuji untuk memastikan.

FADJAR RAMADHAN
Nov 1 · 2 min read

Katanya jodoh itu bukannya ditunggu. Tapi ya dicari. So, gua mau coba berusaha memulai. Karena pada dasarnya, yang memulai harusnya laki-laki, kan?

Tapi, apa lu pernah, udah coba usaha proses pendekatan yang kemudian gagal dan berakhir ke yang lain? Bahkan ternyata akhir deketnya juga sama yang di sekitaran, ga jauh-jauh. Ya, lingkungan kantor gua ini.

Beruntung, peraturan menikah sesama rekan kantor sekarang udah boleh. Bagus, kan? Perasaan ga ada yang bisa dipaksa cuy. Cuman ya tetep harus berani ngadepin konsekuensinya sih.

“Nan.. makan siang yuk, aku laper nih.” Ajak Ayu via chat. Yes, this is the woman. Wanita yang akhirnya bisa jadi deket sama gua. Sayang, belum ada peresmian status. Padahal udah sering jalan dan makan bareng begini.

But hey, masih aja kayak anak zaman. Kayaknya sih, dengan cara ‘begini’ itu udah termasuk menggambarkan. Mungkin.

“Ayo, di kantin kantor aja ya. Aku ada meeting abis jam maksi nih, Yu. Kamu gapapa?” Bales gua.

“Gapapa ko, Nan. Aku tunggu di lobby ya.”

Bergegaslah gua siap-siap dan langsung ke lobby. Kalau jam istirahat begini udah jadi kebiasaan gua sama Ayu sejak 3 bulan lalu. Saling bagi cerita juga apapun yang dilakuin. Layaknya orang pacaran. Even we haven’t make sure what is this relationship about. We are totally enjoy it.

Kayaknya, semesta lagi coba nguji gua hari ini. Pas banget lagi maksi sama Ayu.

“Ayu?”

“Vani? Hey!” Ha? Vani?

Damn! Ini ‘kan Vani yang pernah gua coba deketin juga waktu itu sebelum Ayu. Aduh, gawat. Semoga Vani udah lupa sama gua. Semoga Vani udah lupa sama gua.

“Eh, Vani. Kenalin, ini Nanta.”

Ga lama gua sama Vani saling tatap diem terpaku.

“Weey! Kok malah pada diem? Kenalan, donk!” Seru Ayu.

“Eh? Nanta?” Anjir! Dia masih inget sama gua lagi.

“Eh-hm. Hai, Vani.”

“Looh, kalian saling kenal? Kok ga bilang sih, Nan? Ini Vani temen kuliah aku.”

“He-eh iya. Kita…”

“Lo yang waktu itu nge-chat gue kan, Nan?” Ah, gila! Kenapa juga harus pertanyaan itu yang keluar dari Vani sih. Sial.

“Ha? Chat apa? Maksudnya?” Tanya Ayu. Situasi makin genting gua rasa. Ayu orangnya cemburuan lagi.

Sementara Vani, masih nunggu jawaban dari gua.

Sial, harus jawab apa gua.

_________________________________________________________________

Suka sama tulisan gua di atas? Boleh banget support-nya dengan klik icon ”👏’’. Boleh juga Share tulisan ini yang semoga manfaatnya ga cuma berhenti di lu. Gimana? Boleh langsung aja komen di kolom respon biar tulisan gua makin ngena sama lu! 👌😉

Lu bisa kepoin gua via
Instagram, Twitter, LINE atau Telegram (pilih dan klik!)
Email: fadjaramadhan@gmail.com

Lu juga bisa kepoin Logika Merasa di Instagram dan Twitter
Atau lu mau berbagi kisah dari sudut pandang pria buat jadi bagian cerita Logika Merasa?
Boleh banget, langsung Email aja di logikamerasa@gmail.com

Mata Kata

Media nutrisi hidup dalam proses menemukan sebuah makna dengan mengolah jiwa lewat mata yang membaca kata.

FADJAR RAMADHAN

Written by

Menutrisi jiwa dengan kata-kata

Mata Kata

Mata Kata

Media nutrisi hidup dalam proses menemukan sebuah makna dengan mengolah jiwa lewat mata yang membaca kata.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade