Cerita anak kampung menjadi seorang Programmer

Berikut adalah cerita saya mengenai bagaimana saya menapaki tangga karir di bidang IT ini sedari awal sampai saat ini. 
Saya Irfan Maulana, saat tulisan ini di publikasikan saya masih bekerja di salah satu e-commerce yang cukup besar di Indonesia Blibli.com sebagai Senior Software Development Engineer. Semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit inspirasi bagi teman-teman yang membaca.


0.0.0: Lahir di kampung, besar di kampung, sekolah di kampung

Saya bukanlah orang yang lahir dan dibesarkan di kota besar dimana berbagai teknologi terbaru bisa dicicipi dengan mudah dan gampang, termasuk juga dengan komputer dan hal keren lainnya. Saya lahir dan dibesarkan di kota Pemalang (ya, ada imbuhan Pe di depan malang 😉). Kalau ada yang pernah dengar lagu dengan lirik begini “Wiiiduriiiii, elok bagai rembulaaan… oh sayang.” (cek youtube ini), yap tempat itu ada di Pemalang 😱.

Selamat datang di Pe-malang 🤗

Dibesarkan di kota kecil seperti Pemalang akhirnya membuat saya juga bersekolah dari SD sampai tamat SMK di kota ini. Bersekolah di kota kecil sangat berbeda dengan bersekolah di kota besar, apalagi dengan gambaran bersekolah yang dipertontonkan oleh berbagai sinetron jaman sekarang 😭. Di desa saya sendiri (Bantarbolang) masih banyak anak yang tidak dapat bersekolah atau hanya bisa sekolah cuma sampai SD atau SMP yang tentunya sebagian besar memang karena terbentur biaya untuk bersekolah. Jadi tentu mereka yang bisa bersekolah sampai tingkat SMA dan sederajat saja sudah sangat besyukur.

Bersama teman semasa SMP

Sayangnya lagi-lagi, bersekolah sampai tingkat SMA di kota kecil seperti Pemalang memang tidak sama dengan kalian yang bersekolah di kota besar. Jelas bukan karena kami bodoh-bodoh, saya punya teman-teman dari kampung yang pasti bisa diadu knowledgenya dengan mereka yang lulusan kota besar. Namun memang faktanya kita juga tidak bisa menafikkan bahwa di Indonesia masih terjadi banyak ketimpangan di dunia pendidikan antara daerah yang termasuk kota besar dengan daerah yang lebih kecil. Ada banyak sekali fasilitas wajib maupun penunjang pendidikan yang tidak dapat dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota kecil, kalaupun ada pasti intensitasnya tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang ada di kota besar.

Saya sendiri sekolah dari SD hingga SMP di desa saya Bantarbolang, kemudian melanjutkan ke tingkat selanjutnya memilih bersekolah di SMK jurusan Akuntansi dimana ini tidak terdapat di desa saya sehingga harus pulang pergi dari desa ke kota dimana sekolah tersebut berada. Dari desa sampai ke sekolah memiliki jarak kurang lebih 20-an kilometer, tapi jangan dibayangkan dengan jarak yang ada di Jakarta ya 😅. Jarak sejauh ini bisa ditempuh dengan waktu paling hanya 15 menitan lebih (jangan tanya itu sopirnya orang atau bukan ya).

Kalau ada yang tanya kenapa saya SMK dan Akuntansi pula jurusannya, jawabnya jelas karena saya sadar bahwa orang tua saya tidak akan mampu menyekolahkan saya ketingkat yang lebih tinggi lagi. Dan pilihan yang paling masuk akal adalah dengan memilih SMK dibandingkan SMA karena rumornya di SMK memang lebih dipersiapkan untuk bisa bekerja setelah lulus. Kenapa akuntansi? ini bukan pilihan saya sebenarnya. Hanya saja pas pertama kali mendaftar di SMK, ada ujian masuk dan sepertinya mereka sorting berdasarkan hasil ujian tersebut (*ada prioritas yang bisa kami pilih urutannya juga).

Bersama teman-teman SMK (jurusan akuntansi 😙)

Umumnya banyak temen-temen software engineer yang saya kenal memang mereka sudah bergelut dengan komputer sejak dini, atau paling tidak mereka kenal dengan komputer bermain-main dengan komputer sejak usia dini. Berbeda dengan saya, jika buat saya bisa sekolah sampai tingkat SMA saja sudah berkah yang tiada tara maka jangan tanya apa saya punya komputer atau tidak di rumah. Jangan tanya juga apa saya sudah sering ketak-ketik komputer sejak dini. Komputer bagi saya pada masanya adalah barang mahal dan mewah, barang yang cuma orang-orang yang punya banyak uang yang bisa memilikinya. Salah satu tempat saya bisa duduk di depan komputer itu ya di sekolah SMK tersebut. Tapi ini hanya duduk ya, jangan dibayangkan saya duduk didepan komputer terus berselancar kesana kemari di layar komputer 😩.

SMK tempat saya bersekolah memang termasuk beruntung karena memiliki lebih dari satu lab komputer, tapi ini juga tidak serta merta kami para siswa bisa seenak jidat main komputer. Kami bisa masuk ke ruangan ini paling hanya seminggu sekali, itupun kalau beruntung saya bisa duduk di depan komputer yang bisa menyala. Kalau sedang apes ya silahkan duduk dengan tenang di depan komputer dengan layar warna hitam ya.


0.1.0: Kasir di sebuah supermarket

Seperti sudah saya jelaskan di paragraf sebelumnya, bahwa dengan bersekolah di SMK kami disiapkan untuk langsung ke dunia kerja. Namun faktanya mencari kerja dengan label lulusan SMK dan sederajat itu tidak mudah juga. Pernahkah kalian bertanya ke tukang sapu yang ada di Mall-mall, atau tukang bersih-bersih di toilet-toilet di tempat perbelanjaan, mereka lulusan apa ? Atau pernahkah kalian tau kalau buruh di beberapa perusahaan manufaktur yang kerjanya sebenarnya “itu-itu” aja, mereka itu lulusan apa ?

Jangan kaget kalau beberapa mungkin akan kalian dengar sebagai lulusan SMA dan sederajat. Yaaa, betapa ironi… 😭 Sekolah dari SD, SMP sampai SMA 12 tahun lamanya. Belajar berbagai pelajaran susah, lalu nyatanya cuma buat kerja jadi tukang sapu atau tukang bersih-bersih. Hmmmm, sedih kalau ingat hal ini. Tapi ini fakta dan tentunya masih dan makin banyak terjadi diantara kita.

Begitupun saya, lulus dari SMK lalu pergi ke kota mencari kerja (apapun itu — selama halal) tanpa menaruh ekspektasi tinggi namun itupun tetap tidak mudah. Butuh waktu berbulan-bulan dan hampir setahun bagi saya untuk bisa mendapatkan pekerjaan pertama saya setelah lulus dari SMK. Pekerjaan itupun tidak begitu wah (namun tentu saya selalu berusaha bersyukur akan hal ini).

Pekerjaan pertama saya ialah sebagai kasir di sebuah supermarket. Yap, kalau kalian pernah ke minimarket seperti BetaMart dan dilayani oleh seseorang yang akan men-scan barang-barang yang sudah kalian beli, menerima pembayaran, mengembalikan kembalian uang kalian, membungkus belanjaan kalian, sampai menawarkan pulsa ke kalian, yapppp… itu namanya kasir. Namun pekerjaan saya tidak seenak Mba-mba di BetaMart yang bisa bercanda dan ngobrol sambil melayani pembeli, atau malah duduk ngumpet pas kita mau bayar, atau dengan juteknya melayani pembelian kita tanpa melihat mata kita sama sekali 😩.

Lewat pekerjaan pertama saya, saya berhasil membesarkan betis karena harus berdiri 9 jam yang porsinya bisa diatur seenak jidat. Bisa jadi kami baru datang 2 jam dan sudah harus istirahat, kemudian sisanya 7 jam harus berdiri dan bekerja tanpa istirahat 🤒. Lewat pekerjaan ini pula saya berhasil membuktikan kalau iman itu memang berat, saya mengalami bagaimana meminta ijin untuk sholat itu gak kalah mengerikan dibandingkan meminta ijin buat menikahi anak orang 😂.

Perkejaan ini memuakkan? tentu saja. Tapi saya harus bersyukur, saya bukan orang yang suka meludahi tempat makan saya. Saya bukan orang yang akan tiap hari menggunjing tempat saya bekerja namun bertahun-tahun tetap bertahan di tempat tersebut. Selama saya masih butuh uang dari pekerjaan tersebut, berarti saya tetap harus bersyukur atas keadaan sekarang.

Saya bersyukur pernah bekerja di tempat tersebut sebagai kasir, saya bertemu banyak teman disana yang sebagian besar seumuran dan pastinya senasib sepenanggungan (hmmm, jadi ingat ada yang tiap pulang kerja selalu ngisi botol air mineral sampai penuh 😅). Saya juga bertemu Istri saya yang sekarang di tempat ini 😘. Kalau dibikin judul sinetron di Indos**r mungkin akan seperti ini “Istriku ternyata mantan teman kerjaku”.


0.2.0: Buruh di pabrik roti

Ini merupakan pekerjaan kedua sekaligus menjadi rekor terlama saya di satu perusahaan. Tidak sampai genap setahun saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan menjadi kasir dan atas bantuan paman yang sudah lebih dulu bekerja di tempat ini (*ini namanya kolusi ya), akhirnya saya bisa menjadi buruh di sebuah pabrik roti besar di Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, saya langsung mendapuk posisi yang teramat sangat keren jika di sampaikan, yakni Quality Control yang termasuk di bawah departemen Research and Quality (RnQ). Meskipun sebenarnya ini cuma pencitraan belaka 🤗. Pada dasarnya pekerjaan saya ada 2 bagian besar, pertama memastikan kualitas hasil produksi, kedua melakukan riset untuk produk baru. Saya sendiri masuk ke QC di bagian bakery, yang artinya berkaitan dengan berbagai produk bakery yang diproduksi maupun di riset.

Pengalaman menjadi tukang roti selama 4 tahun lebih :-)

Bagaimana cara mengetest produk bakery? Paling mudah ya ambil sampel dari bahan baku terus bikin produk jadinya. Jadi dalam bahasa mudah, kerjaan saya ya bikin roti untuk sampel setiap hari. Terus bagaimana cara riset paling bar-bar? Ya, trial and error. Jadi kerjaan kedua saya ya (lagi-lagi) bikin roti dengan komposisi yang dicoba-coba.

Pekerjaan ini merupakan pekerjaan paling menyenangkan di dalam karir saya sampai sekarang, bukan karena pekerjaannya namun karena orang-orang di dalamnya. Berada di sekeliling orang-orang yang sudah seperti keluarga sendiri, tak ada pembatas maupun aling-aling. Suasana bekerja yang selalu disisipi gelak tawa, tawuran, gosip murahan, serta j*** yang merajalela di berbagai sudut. Saya tidak pernah merasa saya berangkat bekerja, saya hanya berpikir bertemu dengan orang-orang ini. Dan semua lelah dari pekerjaan ini selalu terbayar lunas oleh suasana kekeluargaan yang terjalin antar sesama karyawan.

Pekerjaan ini bukan berarti tidak melelahkan, saya harus membuat roti seharian, seringkali tanpa jeda, tidak bisa ditinggal, selalu waspada terhadap timer, belum lagi harus berurusan dengan berbagai benda berbahaya dari mulai minyak super panas, oven tua yang tidak kalah mengerikan ketika dinyalakan dan banyak lagi. Saya juga harus mengurus sendiri ruangan bekerja saya, yang artinya harus menyapu, mengepel, dan membersihkan semua perangkat kerja tiap hari, menguras minyak sisa penggorengan, membersihkan tembok yang hitam lebam bekas asap dan lain sebagainya. Di beberapa kesempatan saya malah harus masuk di hari libur untuk membersihkan gudang penyimpanan sampel yang sudah kadaluarsa.

Namun semua hal melelahkan ini saya jalani dengan ikhlas karena selama bekerja disini pulalah saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah dengan menyisihkan sisa uang gaji yang tidak seberapa. Saya melupakan semua lelah dan berusaha tetap bertahan demi pendidikan yang lebih tinggi.


0.3.0: Kuliah IT

Seluruh keluarga saya dari kakek nenek tidak ada satupun yang pernah tau nikmatnya mngenyam pendidikan di bangku kuliah. Kuliah buat keluarga saya merupakan hal yang seperti tidak mungkin, hal yang akan cuma jadi angan-angan, hal yang teramat jauh untuk diwujudkan. Meski begitu dari awal sejak saya lulus SMK pada dasarnya saya sangat mendambakan bisa merasakan kuliah, meskipun saya tetap memutuskan bekerja terlebih dahulu, ini bukan karena saya tidak ingin kuliah namun melainkan memang karena tidak sanggup.

Memutuskan untuk kuliah tentu bukan perkara mudah juga bagi saya, saya harus ngomong ke orang tua khususnya ibu, meminta maaf kalau saya tidak bisa menyisakan banyak uang untuk di transfer ke rumah selama beberapa tahun semasa kuliah 😭. Ini mungkin bagian paling susah buat saya dan menjadi bagian paling egois bagi saya, sebab saya sadar ibu dan adik-adik saya jelas membutuhkan uang tersebut lebih dari saya.

Yap, saya juga pernah kuli(ah)

Bisa kuliah, dan mengambil jurusan teknik informatika. Ini merupakan hal paling aneh yang terjadi di hidup saya yang saat ini menjadi hal yang saya syukuri dengan teramat sangat. Saya, anak kampung yang tidak kenal komputer, bingung caranya menyalakan komputer, tidak pernah memiliki komputer sebelumnya, yang sampai hari ini masih ngetik dengan 11 jari, 
looh kok berani-beraninya kuliah jurusan yang berhubungan dengan komputer.

Entah kenapa, saya sendiri tidak begitu paham apa pertimbangan saya waktu itu mengambil jurusan ini (*mungkin salah satunya faktor jarak kampus yang termasuk dekat 🤔). Pastinya jelas semester-semester awal merupakan ujian paling berat buat saya. Saya sering merasa ingin menyerah saja, ingin keluar kuliah dan lebih baik mengirimkan uang untuk kuliah ke keluarga di kampung saja. Namun tentu peran keluarga merupakan hal penting dalam masa-masa seperti ini. Keluarga yang selalu mendukung dan tidak pernah sedikitpun mengeluh menghadapi serunyam apapun urusan di rumah.

Saya berusaha memahami setiap pelajaran yang diberikan di kampus. Setiap teori berusaha saya serap waktu itu juga (*maklum saya tidak punya banyak waktu untuk belajar) jikapun gagal memahami saya berusaha secepatnya mengejar seusai pulang biasanya. Celakanya, saya selalu tertinggal tiap harus praktek, saya tidak pernah bisa memahami berbagai perintah dan tugas yang diberikan baik oleh dosen maupun asisten dosen di lab komputer. Hal ini seperti terus terjadi dan berulang sampai saya lulus, sehingga sebagian besar nilai saya memang baik ketika berhubungan dengan berbagai teori-teori, dan hampir pasti jelek bila berhubungan dengan praktek di depan komputer.

Sedihnya lagi, waktu saya sudah habis untuk bekerja dari senin sampai jumat dan sabtu minggu untuk kuliah. Saya tidak pernah tau bagaimana dunia di luar kampus, apalagi perkembangan ilmu di dunia industri terkait IT. Saya cuma berharap banyak dari kampus yang sayangnya hampir tidak mungkin didapatkan.


1.0.0: Pekerjaan pertama sebagai Programmer

Saya beruntung memiliki dan dekat dengan hampir semua teman kuliah, salah satunya mas bro Lukimen yang mengajak saya untuk mencoba melamar pekerjaan sebagai Programmer meskipun dia tau pada saat itu saya masih sangat cupu dengan dunia tersebut. Dan lebih beruntung lagi karena yang melakukan wawancara pada saat itu merupakan atasan langsung dari Lukimen yang saking percayanya cuma ngobrol-ngobrol dan tanya soal kuliah, tidak ada test logic atau test apapun.

Berbagung dengan SML Technologies memberikan saya banyak pelajaran, saya bertemu banyak orang yang sampai hari ini masih seperti mentor bagi saya. Banyak orang-orang yang saya anggap luar biasa berawal dari kantor ini juga. Masa-masa awal saya di SML, saya membantu mengembangkan produk aplikasi desktop mereka yang dibuat dengan Java Swing sebagai antarmuka dan JavaEE dibelakangnya. Lalu kurang lebih setahun setelahnya dan produk tersebut berhasil di launch, akhirnya diminta membantu tim web, untuk mengerjakan beberapa web dashboard.

Saya yang hampir setahun bergelut dengan Java Swing ternyata tidak tau apa-apa soal web development. Saya tidak tau bagaimana html itu dibuat, saya tidak mengerti bagaimana CSS bekerja, apalagi berbagai “sihir” JS. Saya seperti anak kambing di tengah sekumpulan serigala-serigala lapar. Untungnya SML merupakan tempat yang sangat kondusif untuk bekerja sambil belajar, saya bisa tetep bekerja, digaji dan belajar mengenai hal-hal yang mendukung pekerjaan saya. Tentunya dituntun oleh orang-orang yang lebih jago dan duluan terjun di bidangnya.

Bersama teman-teman dari SML Tech.

Untungnya saya pernah kerja bertahun-tahun sebagai kuli dan buruh, buat saya sesusah-susahnya belajar programming masih mending dibandingkan kerja buruh pada masa lalu. Saya mungkin cupu dan harus belajar banyak hal dibandingkan teman-teman lain tapi ini tidak lantas membuat saya menyerah. Saya punya istri dan anak yang harus saya nafkahi, saya tetap harus memastikan bahwa saya bisa perform dengan baik di kantor agar bisa naik gaji dengan layak di tahun berikutnya 💃.

Karenanya meskipun terbilang paling cupu diantara yang lain dalam hal web programming, tidak bikin saya berkecil hati. Saya bertanya ketika tidak tau, saya berusaha memahami banyak fundamental dari web programming, saya juga tidak segan “mengganggu” pekerjaan teman agar masalah yang saya bingung atau tidak tau bisa dipecahkan bersama-sama. Hal ini saya lakukan berbulan-bulan semasa awal diminta membantu tim web.

Saya banyak berurusan dengan JS ketika itu, karena memang kami mengadopsi ExtJS Framework untuk membuat berbagai web dashboard sehingga pengetahuan JS saya banyak terasah meskipun saya jadi banyak melewatkan soal dasar HTML dan CSS pada akhirnya.

Masa-masa terakhir di SML saya tergabung di tim R&D “jadi-jadian”, sehingga punya banyak waktu untuk belajar dan bereksplorasi banyak hal baru. Dua tahun lebih kalau tidak salah, jodoh saya dengan SML, sebelum kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain.


1.1.0: Programmer di e-commerce

Saya orang yang tergolong baik dalam mempersiapkan CV, termasuk memoles sosial media para pencari kerja profesional, LinkedIn. Lewat ini pula, salah satu idola saya sampai sekarang (mas Ifnu Bima) menghubungi saya dan mengajak untuk mencoba submit CV di Blibli.com. Dalam benak saya, tentu saja, orang yang mengajak ini adalah orang yang dari jaman kuliah sudah saya baca ebook-nya namun selalu gagal paham sampai harus dibaca ulang ketika awal-awal bekerja di SML.

Sepertinya saya akan butuh satu artikel lagi untuk menceritakan apa yang sudah saya alami dan kerjakan selama saya di Blibli.com. Namun yang pasti saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, pertemanan bahkan keluarga selama di Blibli.com. Tentu bukan tanpa aral juga, Blibli.com telah mengalami berbagai macam evolusi, migrasi, rewrite, improvement semenjak saya pertama bergabung.

Bersama teman-teman dari Blibli.com

1.1.1-SNAPSHOT: Next Feature

Saat tulisan ini dipublikasikan saya masih bekerja di Blibli.com, namun saya seperti halnya kalian semua, tidak pernah akan tau apa yang akan terjadi di masa depan. Namun dari semua perjalanan panjang saya, saya berusaha selalu bersyukur baik saat menjalani maupun saat telah selesai melalui. Seperti saya tidak pernah menyesal pernah bekerja sebagai kasir supermarket, saya juga akhirnya bisa banyak mengerti arti teman di sebuah pabrik roti, saya bahkan tidak mengeluh pernah jadi Programmer gaji UMR (lebih dikit), saya juga akan selalu bersyukur menjadi bagian Blibli.com sampai sekarang.

Pada dasarnya setiap hal itu ada sisi baiknya, seringkali kita saja yang tidak melihat pada sisi yang tepat.

Yang jelas dimanapun saya bekerja, saya akan berusaha bekerja dengan baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta memberikan dampak baik bagi tempat saya bekerja. Saya bekerja demi menghidupi, menafkahi dan dalam rangka memberikan kebahagiaan yang cukup bagi keluarga saya, orang tua saya, adik-adik saya, dan keluarga besar saya.

Bareng istri dan anak-anak

Updated: saat ini saya bekerja di Bizzy Indonesia sebagai Software Engineer, cerita saya disana sekilas bisa dibaca di artikel berikut:


Tulisan ini saya persembahkan bagi mereka yang sedang belajar menjadi Programmer atau Software Engineer, bagi mereka para newbies, bagi mereka para fresh graduates yang seringkali mengeluhkan betapa susahnya belajar programming.

Bila kamu suka dengan tulisan ini, silahkan tekan tombol 👏 sebanyak-banyaknya dan mohon bantuannya untuk share 📲 di sosial media kalian bila kalian rasa artikel ini akan bermanfaat bagi orang lain.

Saya Irfan Maulana, kalian bisa ikuti tulisan-tulisan saya di berbagai publikasi Medium seperti Vuejs-ID, Blibli.com Tech Blog, AngularID, and mazipan-mind. Saya menulis berbagai hal teknikal maupun non-teknikal terkait dengan dunia programming terutama yang berkaitan dengan web programming dan sebagian besar saya tulis dalam bahasa Indonesia. Saya juga senang bereksplorasi dan membuat berbagai percobaan mengenai apa yang saya sudah atau sedang saya pelajari. Anda bisa ikuti dan lihat semuanya di Github saya di 🐙 mazipan.