Dhyta Caturani, Perjuangan Panjang untuk Kesetaraan dan Keadilan

Oleh: Scholastica Asyana E. P.

Dalam rangka memperingati Hari Karini 2017, saya mencetuskan project pribadi bertajuk Cita-cita Kartini. Dalam proyek ini, saya mewawancarai perempuan-perempuan inspiratif, menulis ulang kisah mereka, dan menyebarluaskannya melalui media sosial maupun ruang-ruang berbagi lainnya. Tujuannya sederhana, memulai kampanye saling mendukung dan saling menyemangati antar perempuan Indonesia, bahwa tak ada yang tak mungkin dan tak ada yang boleh menghalangi mereka bercita-cita. Karena itu, saya menghimpun narasumber dari berbagai latar belakang, kalangan, dan usia. Project ini saya nyatakan berhasil, dilihat dari apresiasi publik yang sangat sangat teramat positif serta banyaknya narasumber yang tertarik untuk berkontribusi, bahkan Marissa Haque, politikus nasional, serta Rachel Vennya, selebgram, ikut pula menyatakan dukungannya terhadap proyek ini. Dari 25 kisah inspiratif yang saya tulis, saya tertarik untuk mengunggah hasil wawancara dengan Dhyta Caturani, seorang aktivis hak asasi manusia dan pejuang kesetaraan gender Indonesia. Saya berharap, penuturan Dhyta dapat menjadi penyemangat untuk putri-putri bangsa untuk selalu speak up dan be bold.

Saya memang sengaja memilih untuk mengunggah wawancara saya dengan Dhyta Caturani karena pengalaman Mba Dhyta yang sangat lama malang melintang di dunia pergerakan aktivis HAM, khususnya hak-hak kesetaraan perempuan. Beliau juga sudah menggagas banyak sekali acara-acara pemberdayaan perempuan, membuktikan sepak terjang beliau yang dekat dengan rakyat dan betul-betul berjuang dengan rakyat.

Dhyta Caturani

Berikut saya lampirkan transkrip wawancara saya dengan Dhyta Caturani. Karena halangan lokasi (saya di Perancis sementara beliau di Indonesia), akhirnya saya putuskan untuk melakukan wawancara lewat Facebook Messenger. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 18 April 2017 pukul 08:51 waktu Paris, atau pukul 13:51 WIB.

Selamat membaca!

Asyana : “Halo, Mba Dhyta, maaf ganggu sebentar, dan terima kasih karena sudah berkenan jadi kontributor di project ini.”

Dhyta : “Iya nggak apa-apa, santai. Sama-sama.”

Asyana : “Mengenai aktivitas sebagai aktivis HAM dan feminis, bagaimana cerita awal mulanya, kok bisa masuk ke isu-isu feminisme dan hak asasi manusia? Memang sudah tertarik sejak kecil?”

Dhyta : “Hm, mungkin kalau setiap orang akan punya refleksi yang berbeda, tapi tentu saja aku rasa ada benang merahnya yang sama. Kalau aku sendiri, kenapa aku ingin jadi aktivis dengan perspektif HAM dan feminis, itu memang perjalanan refleksinya panjang. Bisa dibilang, mulai dari aku kecil, mulai mempertanyakan hal-hal yang, bisa dibilang, ada ketidakadilan sosial. Misal waktu kecil, aku bilang sama Ibuku ketika aku melihat anak kecil yang jualan koran di sore hari, itu kan koran yang udah basi ya, “kenapa harus jualan koran?”, hal yang semacam itu. Lalu melihat di dekat rumahku ada anak-anak yang tidak sekolah, aku bertanya pada Ibuku, “kenapa mereka nggak sekolah?”, lalu Ibuku jawab, “karena mereka dari keluarga miskin”, lalu aku tanya lagi, “kenapa mereka miskin?”, Ibuku bilang, “nanti kalo sudah dewasa kamu mengerti”. Kemudian itu terbawa, aku sering kepikiran, tapi mikirnya dalam konteks yang sangat anak-anak lah ya, teringat muka-mukanya mereka aja. Lalu ketika SMA aku banyak membaca, dan mulai terlibat aktivisme yang masih level ikut-ikutan. Misal, dulu Universitas Airlangga bikin demo, aku ikut. Memilih kuliah di Jogja pun, ada ceritanya: karena pengen jadi aktivis, hahaha… (tertawa). Karena waktu itu, tahun 1990-an, Yogyakarta adalah barometer politik. Kelas 2 SMA, ada mahasiswa UGM bikin mogok makan, aku bilang sama Ibuku, “aku mau menulis surat dukungan buat mahasiswa-maha’siswa itu”.”

Asyana : “Isinya apa, masih ingat Mba?”

Dhyta : “Isinya ya memberikan dukungan, pokoknya aku bilang kemarin baca di koran, memberi dukungan, memberi kekuatan, ya gitu-gitu. Dan itu yang membuat aku memutuskan, aku harus kuliah di UGM. Dan di sanalah kemudian aku berproses menjadi aktivis. Aku pikir refleksinya akan berbeda-beda tiap orang, tapi aku rasa akan selalu ada kesamaan, sama-sama sebagai aktivis melihat ketidakadilan sosial yang menyakitkan dan membuat kita bangkit.”

Asyana : “Tapi kenapa Mba Dhyta memilih untuk jadi aktivis? Kenapa bukan, misalnya, politikus? Kan kita bisa bantu untuk ambil kebijakan? Atau mungkin, kuasa hukum? Dimana kita bisa mendampingi lewat jalur hukum?”

Dhyta : “Yang pasti, tidak mungkin memilih menjadi politikus. Aku tumbuh di masa Orde Baru, yang tidak ada pilihan politik kecuali politik Orde Baru. Partai ada tiga, tapi semua orang dipaksa untuk memilih Golkar. Jadi, menjadi politikus bukan pilihan untuk berjuang di masa Orde Baru. Tapi setelahnya pun, setelah Reformasi, banyak teman-teman aktivis yang kemudian menjadi politikus, memilih untuk berjuang di dalam. Namun sampai detik ini, dilihat juga tidak ada yang efektif. Either terbawa arus atau mereka tidak punya kekuatan di dalam. Apapun itu, aku melihat tidak efektif. Ya sudah, aku memilih setia di jalan ini saja.”

Asyana : “Kalau mengenai gagasan, sudah ada berapa gagasan yang Mba Dhyta telurkan?”

Dhyta : “Gagasan itu kan sebetulnya tidak pernah merupakan gagasan individu, apalagi dalam aktivisme, itu kan sangat kolektif. Gagasan itu muncul dari interaksi panjang seseorang dengan lingkungannya. Ada beberapa gagasan yang aku inisiasi, mungkin, pada awalnya, namun itu merupakan proses bersama. Kalau misal yang sudah aku inisiasi, gerakan perempuan misalnya, pertama kali tahun 1999 aku bikin yang namanya Purple Rose Campaign, yang sebenarnya gerakan global. Di Indonesia aku yang mencoba menginisiasi, untuk melawan human trafficking pada perempuan dan anak. Kemudian Reclaim The Night, itu juga gerakan global, diadakan pada setiap Hari Perempuan, itu di Indonesia dimulai pada akhir 1990-an, aku juga yang menginisiasi tapi kemudian tidak lagi dilakukan setiap tahun karena aku sempat tidak berada di Indonesia, lalu aku mencoba memulai lagi tahun 2013. Kemudian ada One Billion Rising, itu juga gerakan global, dan aku juga menginisiasi itu di Indonesia. Lalu yang kemarin ada Save Our Sisters, tapi lagi-lagi aku mau bilang, bahwa itu bukan gagasan pribadi, itu kerja kolektif.

Asyana : “Berarti concern Mba Dhyta terbatas hanya ke feminisme saja, atau tak menutup kemungkinan misal ke pembahasan lain mengenai anak, difabel, dan sebagainya?”

Dhyta : “Feminisme buatku adalah kacamata untuk melihat semua persoalan. Jadi aku justru tidak mau hanya mengangkat isu-isu kesetaraan, isu-isu kekerasan terhadap perempuan, isu-isu mengenai body image… Tidak hanya sekadar itu. Aku menyebut diriku intersectional feminist. Bahwa seorang feminis juga harus terlibat bergerak untuk menghapuskan ketidakadilan sosial, tidak hanya terhadap perempuan. Artinya melihat penindasan terhadap perempuan itu harus lebih dalam, bukan hanya sekadar serangan terhadap tubuh kita, serangan terhadap otoritas terhadap tubuh kita yang fisik ini, tapi lebih jauh dari itu. Jadi buat aku, feminisme adalah lensa yang aku gunakan dalam perlawanan melawan ketidakadilan sosial dimanapun juga aku terlibat. Tentu saja aku sebagai seorang individu tidak bisa terlibat dalam semua isu, aku bukan aktivis LSM yang punya gaji dari melakukan advokasi, nothing’s wrong with that, tapi intinya aku berbagi waktu untuk diriku juga. Memang aktivisme yang isunya paling dekat dengan aku adalah isu-isu perempuan, juga sedikit terlibat di gerakan buruh, tiga tahun terakhir aku sangat intens di gerakan petani.”

Asyana : “Yang terbaru, Kendeng Melawan?”

Dhyta : “Ya, disitu aku sangat konsisten tiga tahun terakhir ini. Juga di gerakan HAM, dan yang terkait dengan orang hilang.”

Asyana : “Mengenai pengorganisiran petani di Wonosari yang Mba Dhyta lakukan pertama kali ketika mahasiswa, apakah ilustrasinya sama dengan kasus Kendeng?”

Dhyta : “Saat itu masa aku masih mahasiswa di Jogja, sebegai mahasiswa kami sadar betul bahwa tak bisa hanya jadi menara gading; cuma bergelut dengan diri kita sendiri. Lalu memang selain pengorganisiran mahasiswa, dulu sebagai aktivis mahasiswa saat itu, tugasnya mengorganisir mahasiswa lain. Namun setelah itu disadari bahwa memang tak bisa jadi menara gading, kita harus keluar dan mengorganisir rakyat. Di Wonosari dan di Kendeng narasinya berbeda, mereka di Wonosari dulu juga sebenarnya melawan perampasan tanah, tapi yang dilawan ketika itu adalah oknum-oknum pemerintah lokal, tidak melawan korporasi yang besar seperti Kendeng. Mereka memang meminta kami untuk membantu, dan ketika itu memang berhasil. Setelah itu aku meninggalkan gerakan petani karena harus ke Jakarta, lalu disana aku mengorganisir buruh, karena memang Jakarta sebagai kota industri, jadi concern ke buruh dan kaum miskin kota.

Fast forward ke tahun-tahun sekarang, aku kembali ke petani, namun awalnya tidak dengan diniati. Karena waktu itu akhir tahun 2014 aku melihat video di sosial media, ada aksi Ibu-ibu Rembang yang dipukuli oleh aparat dan preman, dan mereka melawan betul. Disitu aku langsung mencari jalan gimana aku bisa membantu, bener-bener menyentuh aku banget lah video itu. Akhirnya terkoneksi, ternyata ada teman yang berasal dari daerah sana, dan terlibatlah aku sampai sekarang.”

Asyana : “Berarti sosial media penting untuk menggerakkan massa?”

Dhyta : “Oh iya, sangat, sosial media menjadi alternative power terhadap industri informasi. Dulu kita bisa tahu apa yang terjadi kalo media mainstream memberitakan. Sekarang ‘kan nggak, sekarang semua orang dengan adanya sosial media bisa menjadi content producer. Distribusi informasi sudah terbagi lebih rata dibanding dulu, jadi sosial media memang powerful kalau kita tahu bagaimana cara menggunakannya.

Asyana : “Oke, masyarakat tak hanya menjadi pemirsa saja, melainkan juga content creator?”

Dhyta : “Betul. Lima tahun terakhir aku juga bergerak di isu gender dan teknologi, bagaimana perempuan bisa menggunakan teknologi untuk mengamplifikasi suara perempuan dan suara-suara orang yang termarjinalkan. Aku terlibat sejak 2015 di Feminist Principles of The Internet. Sebenarnya sama dengan kita berbicara tentang dunia offline, dimana ada relasi kuasa yang timpang, di internet ini pun terjadi, bagaimana internet ini berpengaruh pada kehidupan perempuan, tapi pengambil kebijakan di dunia internet (internet governance) masih sangat male-dominated. Program-program, apps yang dibangun, masih sangat maskulin. Algoritma internet, sangat politis dan maskulin. Jadi pertama kita mencoba membongkar relasi kuasa online supaya perempuan terlibat dengan pengambilan kebijakan. Kedua adalah menggunakan teknologi untuk kepentingan perempuan, mengamplifikasi aktivisme dan eksistensi perempuan. Yang ketiga, juga untuk menyebarkan ide-ide kesetaraan.

Asyana : “Berarti tujuannya termasuk untuk encourage women one and another?”

Dhyta : “Itu hal yang berbeda dengan mengamplifikasi suara perempuan, tapi merupakan prinsip dari gerakan perempuan. Encouraging one and another di antara perempuan itu memang sangat penting, tetapi harus dalam konteks yang membangun. Karena kalau tidak, kita akan terjebak dalam budaya to be nice to each others, saling nggak enakan, ini sebetulnya yang sangat berbahaya dalam konsep ini kalau kita tidak pahami betul. Criticism kan tidak bisa dipahami sebagai sesuatu yang hostile. Criticism diperlukan untuk membangun wacana bersama, supaya kita ini bisa berkembang bersama-sama.

Asyana : “Jadi, jangan anti kritik ya?”

Dhyta : “Betul. Diskusi, ruang-ruang diskusi, ruang debat, ruang empowerment itu harus dibuka seluas-luasnya di kalangan perempuan sendiri. Kalau semua harus to be nice to each others dan semua ruang itu ditutup, ya kita nggak maju-maju.”

Asyana : “Termasuk kemarin kegaduhan penyelenggaraan Festival Belok Kiri? Itu salah satu bukti ruang berpendapat ditutup?”

Dhyta : “Betul. Itu salah satu contoh, karena contoh ruang berpendapat ditutup itu banyak sekali. Dan Indonesia kan ketakutan terhadap itu. Sekarang ini trennya ada tiga, tiga isu yang ditakutkan pemerintah Indonesia, dan banyak masyarakat Indonesia termakan oleh propaganda. Yang pertama, pemikiran-pemikiran ideologi kiri. Kedua soal Papua, yang dikaitkan dengan isu separatisme, itu acara apapun soal Papua pasti di shut-down, sekarang bahkan website-website tentang Papua itu disensor semua. Ketiga, LGBT. Entahlah pemerintah Indonesia itu ketakutankah atau apa, yang jelas mengalami banyak represi, terutama tahun lalu, sekarang masih agak lebih mending.”

Asyana : “Berarti sebenarnya masyarakat tahu ada isu ini di sekitarnya, tapi berusaha untuk tak mau tahu menahu?”

Dhyta : “Betul. Isu LGBT misalnya. Mereka tahu itu ada, bagian dari kita, tapi mereka deny, menyangkal itu. Kalau ada pun, dianggap unnatural, tidak normal.”

Asyana : “Komentar terhadap pendidikan perempuan muda? Karena ada yang pola pikirnya mengalami kemunduran padahal era sudah makin maju? Misalnya, fenomena nikah muda? Apa karena sisi patriarki di Indonesia yang masih kental atau memang anak-anak perempuan yang kurang membuka diri?

Dhyta : “Banyak hal. Buat aku, ini yang sangat disayangkan, salah satu buah buruk dari teknologi. Contohnya begini, dulu informasi kita sangat terbatas, nah sekarang berbeda, informasinya banyak dan beragam sekali, dengan perspektif yang beragam, dengan data yang beragam, dengan fakta yang beragam, entah itu data dan fakta dari mana. Nah kecenderungan kita itu kan melakukan screening terhadap informasi yang kita cari, sayangnya, secara alamiah, manusia akan mencari bahan informasi yang akan memvalidasi keyakinannya.

Misal aku sebagai seorang feminis, aku akan mencari hal-hal atau rujukan untuk memvalidasi feminismeku. Nah keyakinan itu darimana? Propaganda, patriarki, keyakinan… Patriarki di Indonesia masih sangat kuat, propaganda makin kencang dengan adanya media sosial. Nah itu yang membentuk keyakinan orang-orang, membuat mereka melakukan screening terhadap rujukan-rujukan. Namun ada satu faktor lagi, nah ini terkait juga dengan patriarki, yakni bagaimana media mempropagandakan yang namanya keindahaan dan keromantisan pernikahan. Yang namanya majalah bridal sangat laku, fairytale dijual di media. Sehingga ada yang menganggap pernikahan sebagai tujuan hidup, tanpa melihat ada banyak pilihan lain dalam hidup ini. Aku tidak anti pernikahan, bahwa kamu mau menikah muda sekalipun tidak apa-apa, sehabis kuliah mau menikah pun mangga, tapi harus diingat bahwa hidup bukan hanya persoalan menikah, ta? Kalau kamu bisa menikah tapi juga menjalankan mimpi-mimpi dan cita-citamu yg lain ya it’s fine, itu pilihan personalmu. Tapi kalau menikah lalu harus mengorbankan mimpi-mimpimu yang lain dalam hidup, itu yang kemudian menjadi problem.”

Asyana : “Berarti penting ya untuk perempuan muda membuka diri terhadap berbagai macam diskusi, biar nggak mencari pembenaran terus-menerus, lalu berbagi opini agar kita tahu ada banyak pilihan di luar sana?”

Dhyta : “Iya, dan jangan pernah percaya dengan satu informasi, data, atau fakta. Cari dulu, “Benar nggak sih fakta ini?” Tidak semua yang sesuai dengan keyakinan kita itu benar atau jujur. Terbukalah dengan semua informasi, data, fakta, pemikiran, ideologi, apapun sebutannya.”

Asyana : “Kembali lagi ke permasalahan petani Kendeng, bagaimana jalannya proses penyelesaian, termasuk mediasi dan lain-lain?”

Dhyta : “Prosesnya berbeda-beda untuk tiap daerah, Kendeng ini luas, dan semuanya memang sedang akan dihajar pabrik semen. Tapi yang riil sekarang adalah Rembang dan Pati. Rembang ini, pabriknya sudah berdiri ketika warga mengajukan ke pengadilan, tiga tahun lalu. Pada 5 Oktober 2016 keputusan Mahkamah Agung keluar, warga menang. Namun pabrik semen terus berjalan, tentu dengan restu Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah. Desakan semakin besar, Ganjar pada Januari 2017 akhrinya mencabut ijin lingkungan atas perintah MA, karena memang desakannya luar biasa. Tetapi pada 23 Februari 2017 ia mengeluarkan ijin baru, dengan alasan diskresi. Agustus tahun lalu, Jokowi juga melakukan satu langkah yang cukup baik sebenarnya, yaitu membentuk tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang seharusnya bekerja selama setahun. Saat tim KHLS bekerja, harusnya semua aktivitas pabrik semen berhenti. Ternyata tidak. Rekomendasi KLHS akhirnya keluar, menyatakan memang Rembang tidak layak ditambang. Tapi Ganjar Pranowo menyatakan tidak mempedulikan hasil penelitian KLHS dan tambang bisa terus berjalan.”

Asyana : ”Jadi masih akan terus berjuang?”

Dhyta : “Ya, karena mau bagaimana, korporasi dan pemerintah kita betul-betul melakukan pembangkangan-pembangkangan, bahkan terhadap putusan hukum tertinggi sekalipun. Warga memang akan terus bergerak, posisi aku dan teman-teman yang bukan petani, kami aja tahu bahwa kalau Kendeng rusak, ini seluruh Jawa akan mendapatkan dampaknya, bahkan seluruh Indonesia, kalau kita ngomongin soal lingkungan hidup gitu kan? Namun kita ya tetap menyerahkan sepenuhnya pada warga, kalau warga dan petani Kendeng masih mau terus memperjuangkan, maka kami akan terus mengusahakan.

Asyana : “Ada peristiwa paling berkesan selama Mba Dhyta mendampingi? Dan membuat berpikir bahwa perjuangan ini tak boleh berhenti?

Dhyta : “Aduh banyak banget, aku melihat mereka yang luar biasa adalah, bagaimana mereka dikalahkan, dipukul, jatuh, bersedih, menangis, tapi mereka bangkit lagi, maju lagi. DIpukul lagi, mereka jatuh, sedih, menangis, bangkit lagi. Itu yang buat aku luar biasa. Endurance mereka dalam melawan ini yang sudah lama tidak aku lihat. Untuk seluruh Kendeng ya, dari tahun 2006 lho. Sebelas tahun. Ada beberapa hal juga yang menginspirasi, salah satunya adalah lagu mereka itu, “Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani…”, sangat filosofis. Lalu kemudian aku sering bertanya pada Ibu-ibu itu, “Bu, kalau kalah gimana ya?”, jawaban mereka, “aduh, gimana ya? Karena aku ini nggak pernah mikir kalah, pokoknya akan terus berjuang, kalah itu bukan opsi”. Buat aku, itu yang menginspirasi. Selama aku terlibat disana, aku melihat bahwa kekalahan atau kemenangan itu sudah bukan lagi persoalan. Yang penting itu berjuang untuk hak-hak, sebaik mungkin. Dan sehormat-hormatnya, kalau kata Pram.”

Asyana : “Berarti ini masih mondar-mandir Jakarta-Rembang?”

Dhyta : “Aku masih di Jakarta, kalau aku ada waktu aku ke Rembang, ke Pati. Kalau misalnya ada acara disana aku sempatkan hadir, aksi longmarch itu juga aku ikut. Banyak orang-orang yang seperti aku ini, setiap kita kesana, baik sekedar mengunjungi atau ada acara atau ada pelatihan, semua adalah biaya masing-masing. Full sukarelawan.”

Asyana : Adakah cita-cita yang masih ingin diwujudkan?

Dhyta : “Cita-citaku mungkin terlalu besar unutuk diwujudkan dalam waktu dekat, hahaha. As cliché as it may sounds, apa yang aku perjuangkan ini adalah untuk keadilan sosial, kesetaraan sosial, untuk siapapun, tak pandang bulu. Apakah itu bisa terwujud dalam waktu dekat, sepuluh dua puluh tahun, atau dimasa hidupku, aku tak tahu itu. Tapi paling tidak, aku tahu bahwa aku ikut mencoba berkontribusi, meskipun kecil, dalam membangun fondasi itu. Mungkin kesetaraan dan keadilan sosial ini tak akan terjadi di masa usiaku, mungkin saat aku sudah mati, tapi aku ikut membangun fondasi, itu paling nggak.”

Asyana : “Melihat endurance manusia Indonesia, optimis akan terwujud ya?”

Dhyta : “Aku optimis dengan sifat manusia; dimana ia ditindas, ia akan melawan. Kesetaraan dan keadilan sosial secara penuh itu mungkin tidak akan pernah terjadi dimanapun, tapi bahwa upaya untuk melawan itu akan selalu ada, iya, aku percaya. Itu yang terpenting.”

Asyana : “Ada pesan-pesan untuk perempuan?”

Dhyta : “Nilaimu itu tidak lebih kurang dari nilai laki-laki, nilai kita itu sama dengan nilai laki-laki sebagai manusia. Mimpimu is not less valid daripada mimpi laki-laki. Kontribusimu itu tidak less juga nilainya dari kontribusi laki-laki. Jadi ayo, kita bersama-sama mewujudkan kesetaraan untuk perempuan, keadilan untuk semua warga negara Indonesia, untuk semua manusia, itu tugas kita. Kita harus bergerak beyond kesetaraan dan keadilan sosial untuk diri sendiri, tapi juga untuk perempuan-perempuan lain: perempuan buruh, perempuan petani, perempuan miskin kota, siapapun perempuan, dan bahkan beyond that, untuk semua orang. Tapi jangan lupa, tetap bawa kacamatamu sebagai perempuan, sebagai feminis.”


Scholastica Asyana E. P. merupakan perempuan Jawa kelahiran 10 Februari 1997 dan sekarang menyandang status mahasiswi Hukum Universitas Lille. Bahagia di antara susunan nada, makanan lezat, dan tempat-tempat eksotis dunia. Pertanyaan, kritik, dan saran bisa kalian layangkan ke email Asyana: scholasticaasyana@ymail.com

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.