Jual Beli Cinta A la JKT48 dan AKB48

Ingat mas, barusan sholat Jum’at.

Oleh: Charlie Sanjaya

Sejak tahun 2011, JKT48 menjadi sebuah sensasi di dunia hiburan Indonesia. Sebagian karena popularitasnya yang melaju begitu pesat, sebagian lagi karena relasi yang mereka miliki dengan grup idola perempuan raksasa Jepang, AKB48. JKT48 terlihat sangat berbeda dengan girl group lain, diantaranya karena jumlah mereka yang sangat banyak (yang sekarang sudah lebih dari 48 orang), fans-fansnya yang selalu membawa lightstick ketika konser dan selalu protes ketika kita menyebut mereka sebagai girlband (yang benar idol group katanya). Meskipun sudah berumur enam tahun, JKT48 masih menjadi grup dengan popularitas yang lumayan bagus dan cenderung stabil walaupun keramaian yang diakibatkan fans setia mereka di Fx dan venue konser sudah dianggap sebagai hal biasa dan bukan hal spesial lagi.

Dalam kesempatan kali ini saya ingin mencoba untuk menjelaskan kepopuleran JKT48 dan sistem bermasalah dibalik kepopuleran dan kelarisan mereka selama enam tahun. Tirto sempat menerbitkan artikel menarik soal JKT48 yang jujur, menurut saya adalah artikel terbaik yang pernah saya baca dari media Indonesia yang membahas mengenai JKT48. Tidak seperti media massa lain yang membahas JKT48 secara dangkal dan terbatas terhadap popularitas yang mereka miliki, Tirto membahas mengenai apa yang sebenarnya bisa membuat orang menyukai JKT48 dan bagaimana konsep JKT48 itu bekerja. Di sini kritik yang bisa saya tawarkan adalah bagaimana mereka berfokus kepada relasi antara idol dan fans, dengan fans sebagai aktor yang tereksploitasi. Saya rasa pembahasan ini terlalu sederhana karena dengan begitu mereka telah meminggirkan relasi antara sang idol dan manajemen, dan relasi idol sebagai perwujudan fetish dan hasrat dari fans. Pengecualian itu membuat seakan-akan idol adalah pihak yang relatif baik-baik saja dibandingkan dengan fans yang uangnya terus dihisap demi keuntungan manajemen dan idol, padahal menurut saya idol juga menjadi korban eksploitasi yang kasusnya patut mendapat perhatian khalayak ramai.

Memang betul kasus-kasus yang membahayakan idol juga sempat dibahas, tapi saya rasa artikel itu masih terjebak dengan menggunakan contoh-contoh ekstrim (yang juga diakui dalam artikel tersebut) untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di dunia peridolan. Kasus yang dialami Rina Kawaei dan Anna Iriyama (anggota AKB48) yang juga sempat dibahas, mereka menjadi korban penyerangan bersenjata pada tahun 2014 yang dilakukan oleh fans mereka. Hal ini kurang tepat karena itu sebetulnya bukanlah kasus penggemar terlampau obsesif yang melakukan hal gila, tapi lebih tepat dilihat sebagai kasus di mana seseorang dengan penyakit mental (yang juga mengalami masalah karena tidak mendapat perawatan professional) bertindak agresif dan melukai orang lain. Kasus penguntitan dan lainnya juga adalah kasus ekstrim yang kurang lebih sudah dimitigasi. Hal itu memang ada dan betul-betul terjadi, tapi itu adalah kasus yang sangat kecil jumlahnya dan bahkan tanpa adanya kasus itu sekalipun, kita masih bisa menunjukan bahwa industri ini sebenarnya bermasalah. Dengan berfokus kepada kasus ekstrim, artikel ini saya rasa kurang tepat dalam membahas secara menyeluruh mengenai bagaimana industri idol ini bekerja dan relasi hubungan antara fans-idol-manajemen yang jauh lebih kompleks daripada itu.

Idol: Bukan Manusia Utuh?

Industri idol pada dasarnya adalah sebuah industri yang menciptakan sosok pujaan untuk dikonsumsi oleh khalayak ramai. Saya rasa sangat tepat untuk Tirto menjelaskan bahwa hubungan antara fans dan idol adalah hubungan parasosial. Mengutip artikel tersebut:

“Donald Horton dan Richard Wohl dalam paper klasik “Mass Communication and Para-social Interaction” (1956) menyebut ilusi hubungan sosial antara penggemar dan idola itu sebagai “hubungan parasosial.” Dalam hubungan parasosial, idola dipandang sebagai persona atau karakter publik, bukan manusia seutuhnya yang kompleks dan tidak selalu menarik, dan persona itu dibentuk oleh para penggemar demi memenuhi kebutuhan psikologis mereka.”

Idol dalam pekerjaannya pada dasarnya melakukan sebuah pertunjukan dengan menjadi sebuah sosok yang memenuhi hasrat dan pandangan ideal para fans. Mengenai apa yang dia rasakan dan apa yang sebenarnya dia pikirkan menjadi masalah sekunder yang dapat dipinggirkan selama dia dapat menjadi sosok yang didambakan para fans. Apakah sebetulnya sang idol merasa terganggu dengan kelakuan para fans? Apakah sebetulnya dia tidak nyaman dengan sosok yang dia tunjukan kepada para fans? Semua itu tidak penting selama para fans yang sudah ‘mendukung’ mimpi sang idol bisa dipuaskan.

Pengaruh patriarki dalam menentukan apakah yang dimaksud dengan sosok ideal itu menjadi tidak dapat dipisahkan. Bagaimana mereka membangun sosok ideal yang mereka wakili dan fantasi seperti apa yang harus idol perlu manifestasikan agar ia bisa populer dibentuk berdasarkan apa yang disukai lelaki sebagai mayoritas demografi fans idol perempuan. Fans perempuan mungkin memang ada, namun dalam kasus di JKT48, mereka masih menjadi minoritas. Di Jepang sekalipun walaupun AKB48 bisa dikatakan sudah menjadi idola nasional dan demografinya sudah lebih setara, fans lelaki tetap menjadi mayoritas dari fans fanatik yang memenuhi acara-acara besar seperti konser, theater show, dan handshake event. Pada akhirnya, sosok ideal yang dipakai oleh idol merupakan gambaran patriarkis akan apa yang dianggap sebagai perempuan ideal yang diinginkan oleh laki-laki.

Apa yang sebenarnya laki-laki inginkan dari idol terefleksikan dari tipe-tipe tipikal dari idol-idol yang ada. Mayoritas dari tipe idol adalah idol yang imut, polos dan manja. Gambaran sifat kekanak-kanakan ini sengaja dipilih karena menunjukkan para idol sebagai sosok yang harus bergantung pada laki-laki untuk menuntun mereka dalam hidup (kedengaran familiar ya? Dasar patriarki). Hal lain yang harus mereka lakukan adalah mereka harus terus menunjukan sikap ramah dan banyak tersenyum, menunjukkan bahwa mereka perempuan yang siap 24/7 untuk memuaskan hasrat fans akan perempuan yang ramah dan baik hati — sesuatu yang mungkin jarang mereka temui di kehidupan sehari-hari mereka. Jangan sampai mereka menjadi gemuk, berjerawat, terlihat jelek atau terlihat tidak lemah lembut karena akan berakibat pada para fans tidak bisa berfantasi berpacaran dengan idol itu nanti.

Salah satu kenyataan yang menurut saya cukup membuat tidak nyaman adalah bahwa ada konsekuensi yang jelas ketika para idol melakukan deviasi dari norma-norma idol yang dikenakan oleh fans. Para idol yang gagal untuk memenuhi ini mendapatkan reaksi negatif yang cepat dari para fans. Para fans maupun anti-fans selalu siaga untuk mencaci-maki idol yang dianggap tidak memenuhi standar ideal idol yang ketat. Atsuko Maeda, mantan anggota AKB48 misalnya, menghadapi banyak komentar negatif dari fans maupun anti-fans karena dianggap memiliki wajah yang tidak ramah dan jarang tersenyum. Efek dari tekanan sosial ini terlihat jelas hingga saat penentuan senbatsu sousenkyo (acara tahunan grup AKB48 yang menentukan ranking popularitas seluruh member AKB48) tahun 2011, dalam pidatonya saat menerima penghargaan sebagai member paling populer tahun itu. Kala itu, Atsuko mengalami hyperventilasi dan tidak dapat melanjutkan pidatonya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengutarakan sebuah pernyataan yang bisa dibilang melegenda di kalangan fans AKB48, “Kalian boleh membenci aku, tapi tolong jangan membenci AKB48”. Para fans AKB48 mungkin melihat itu sebagai bentuk dedikasi seorang anggota AKB48 terhadap grup yang dia cintai, namun bagi saya, hal ini tidak lebih daripada hasil dari melewati tekanan yang begitu besar dari pemaksaan standar idol yang terlampau ketat dan patriarkis; di mana perempuan — atau dalam hal ini idol — selalu dipertanyakan nilainya berdasarkan nilai-nilai patriarkis dan direndahkan ketika ia gagal memenuhi standar itu.

Komodifikasi Afeksi dalam group 48

Tidak lengkap kalau kita tidak membahas mengenai komodifikasi afeksi yang terjadi di group 48. Komodifikasi afeksi ini menjadi sebuah faktor paling signifikan yang membedakan grup 48 dengan industri idol di negara-negara lain karena begitu intens dan masifnya hal ini dilaksanakan.

Sebelum kita membahas bagaimana komodifikasi afeksi terjadi di group 48, ada baiknya kita membahas apa itu komodifikasi afeksi. Komodifikasi sendiri menjelaskan proses di mana hal yang sebetulnya bukan untuk diperjualbelikan kini menjadi sesuatu yang diperjualbelikan. Dalam hal ini, yang diperjualbelikan adalah afeksi berupa kasih sayang, keramahan, kehangatan, atau kepedulian — suatu hal yang dahulu diberikan secara cuma-cuma. Pekerja rumah tangga misalnya, adalah bentuk jual beli afeksi dalam bentuk tugas-tugas domestik dari mengurus rumah, memasak makanan, dan menjaga anak yang dahulu tidak diperjual belikan namun merupakan tugas yang dilakukan oleh unit keluarga. Pekerjaan ini menjadi berbeda dan menjadi komodifikasi afeksi karena ketika pekerja rumah tangga (PRT) bekerja, yang dijadikan penilaian bukanlah barang yang mereka produksi namun juga bagaimana mereka bisa mengurus anak dengan kasih sayang dan keramahan mereka ketika menyambut dan melayani sang majikan datang ke rumah.

Ya Tuhan antriannya…

Praktik paling signifikan dalam komodifikasi afeksi di grup 48 terjadi di handshake event. Dalam setiap album dan single yang dirilis oleh grup 48, selalu disisipkan tiket handshake event yang bisa digunakan untuk berjabat tangan dengan idol yang kita suka. Event ini di atas kertas adalah sarana untuk mengecilkan jarak antara idol dan fans, namun pada prakteknya ini adalah salah satu contoh paling jelas untuk fenomena komodifikasi afeksi. Di acara jabat tangan ini, sebagai ganti tiket handshake yang dibeli oleh fans, idol diharapkan untuk membalas dengan perhatian, penyambutan dengan penuh semangat atau kelembutan, serta afeksi dalam bentuk sentuhan fisik saat berjabat tangan. Grup lain sebenarnya juga melakukan ini dalam bentuk acara pemberian tanda tangan, meet and greet, dan lain sebagainya, tapi belum ada yang menjadikan ini sebagai daya jual utama seperti bagaimana grup 48 melakukannya.

Konsep ini bisa dibilang adalah sebuah inovasi yang membedakan AKB48 dahulu dengan grup lain dan bisa dibilang menjadi faktor yang membuat mereka mampu merajai industri musik Jepang. Bayangkan saja, mereka dapat mendominasi industri musik sampai mereka sudah menjual 40 juta keping CD yang merupakan penjualanan terbanyak sepanjang sejarah industri Jepang yang notabene adalah industri musik terbesar kedua di dunia. Tak hanya itu, mereka juga sudah 29 kali berturut-turut menjual lebih dari sejuta keping CD single kurang dari seminggu setelah perilisan single tersebut. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa, hingga tahun kemarin angka penjualanan CD mereka hanya dapat didekati oleh Nogizaka46 yang merupakan “grup saingan resmi” dengan konsep sangat mirip dengan AKB48, yang mana produser dua grup ini adalah orang yang sama, Yasushi Akimoto. Konsep ini juga membuat AKB48 mampu melebarkan sayap ke mana-mana sehingga sampai sekarang mereka dapat memiliki 400 lebih (500 bila kita menghitung “grup saingan resmi”) anggota yang bergabung di seluruh group 48. Bahkan baru-baru ini mereka berniat membuat BNK48, iterasi baru dari 48 group yang berbasis di Bangkok, Thailand. Jika ada satu hal yang Akimoto Yasushi ketahui, hal itu adalah afeksi amat sangat laku dijual.

Dengan menyatakan bahwa seluruh komodifikasi afeksi sendiri sebagai hal yang secara absolut salah menurut saya bukanlah hal yang tepat. Salah satu kritik yang diberikan untuk komodifikasi afeksi ini adalah bagaimana hal ini menaruh harga pada kasih sayang itu sendiri dan membuat kasih sayang itu menjadi tidak otentik. Tetapi, hanya karena ada sebuah transaksi moneter dalam pemberian afeksi, bukan berarti sebuah hubungan yang tulus tidak mungkin terjadi di sana. Perawat di rumah sakit dalam pekerjaannya juga melakukan komodifikasi afeksi namun toh banyak sekali di antara para perawat yang dengan sepenuh hati peduli dengan pasiennya. Para perawat dalam pergerakan sosial ada di garis terdepan dalam gerakan untuk fasilitas untuk kaum difabel di ruang publik, layanan kesehatan universal, sampai akomodasi untuk veteran perang, walaupun hal tersebut bukanlah isu yang berdampak langsung untuk kehidupan mereka. Ide bahwa seseorang dapat mendapatkan penghidupan dari memenuhi kebutuhan emosional orang lain juga menurut saya bukanlah hal yang tidak bermoral, justru adalah sebuah masalah ketika seseorang tidak dapat hidup sejahtera ketika dia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan emosional seseorang. Adalah sebuah hal yang gegabah kalau kita mengatakan seluruh komodifikasi afeksi adalah tidak etis karena itu juga berarti kita menganggap perawat yang menjalankan peran vital di layanan kesehatan sedang melakukan hal yang salah.

Minami Minegishi yang harus membotaki dirinya sendiri karena ketahuan berpacaran dengan Alan Shiraham dari band EXILE. Sumber: https://www.dailydot.com/upstream/minami-minegishi-miichan-shaves-head-apology/

Efek patriarki yang diamplifikasi kapitalisme dalam komodifikasi afeksi menghasilkan beberapa praktek yang secara moral patut dipertanyakan. Salah satu dari bentuk ekstrim dari komodifikasi afeksi adalah eksklusi dari afeksi yang dapat diberikan oleh sang idol dalam bentuk renai kinshi jourei (larangan untuk bercinta). Peraturan ini melarang idol untuk berpacaran dengan orang lain selama dia masih meniti karir sebagai idol. Walaupun hukum ini sejatinya hanyalah hukum informal, tapi toh sebagai nilai informal poin ini sangat efektif untuk menghukum idol yang melanggarnya dan “menertibkan” idol untuk mengikuti aturan ini. Idol yang diketahui menjalin hubungan, entah karena diekspos oleh tabloid gossip atau “detektif-detektif” dari kalangan fans mengalami tekanan yang besar hingga mereka keluar dari grup. Beberapa yang akhirnya tidak keluar dapat mengalami pengurangan promosi secara signifikan, dan beberapa bahkan melakukan ‘penebusan dosa’ yang cukup ekstrem seperti Minami Minegishi yang tahun 2014 lalu mencukur habis rambutnya karena ketahuan berpacaran.

Di sini kita melihat sebuah interaksi dari komodifikasi afeksi (yang kini lebih mirip eksploitasi afeksi) dan objektifikasi dari idol yang saya telah saya bahas sebelumnya. Tidak hanya afeksi, para fans ini juga menginginkan afeksi dari idol dengan karakteristik tertentu. Oleh karena itu, para idol dituntut untuk berpenampilan seseksi mungkin dengan atribut-atribut tertentu untuk membangkitkan hasrat seksual dan fetish para fans. Namun, di sisi lain mereka juga harus menunjukan sisi suci mereka lewat peraturan pelarangan berpacaran karena itu akan membuat mereka ‘kotor’ dan merusak fantasi fans yang ingin memiliki dan mendapatkan cinta yang secara eksklusif dari mereka. Benar-benar sebuah kombinasi impian patriarki: di satu sisi ingin memuaskan hasrat seksual para fans laki-laki namun di sisi lain menekankan dan menghilangkan otonomi tubuh perempuan untuk memenuhi kebutuhan afeksi dan seksualnya.

Adalah wajar bagi manusia untuk ingin mencintai dan dicintai, dan bagi para perempuan yang memilih untuk menjadi idol, mereka harus menentang insting alami mereka sebagai manusia. Afeksi yang awalnya adalah sesuatu yang diberikan kepada orang yang kita anggap pantas untuk mendapatkannya secara cuma-cuma kini malah dikontrol dalam lingkungan kapitalistik yang memaksa untuk menyerahkan afeksi itu pada pasar. Menjalin hubungan dianggap sebagai perusak proses komodifikasi afeksi itu karena para fans dari lingkungan patriarkis itu hanya mau mendapatkan afeksi dari idol yang ‘tidak dikotori’ oleh lelaki lain dan menganggap bahwa pemenuhan fantasi para fans lelaki untuk dicintai idol yang ‘suci’ ini adalah segalanya di mata sang idol.

Mungkin orang dapat berkata bahwa ini adalah sebuah pilihan yang dilakukan oleh idol, sehingga ini memang sudah resiko yang seharusnya mereka sadari untuk ambil. Tapi hal itu membutuhkan beberapa asumsi yang perlu dipenuhi. Perempuan yang memilih menjadi idol berarti harus memiliki daya tawar yang seimbang dengan pihak-pihak yang menuntut mereka untuk bertindak dalam standar tertentu. Tanpa terpenuhinya kondisi ini, persetujuan yang mereka berikan adalah konsen untuk suatu hal yang eksploitatif, sehingga secara kondisi inilah yang perlu dirubah dan konsen tidak lantas menjustifikasi kondisi yang dialami mereka. Hal ini sayangnya tidak tercipta dengan kondisi sistematis yang mereka alami.

Eksploitasi Sistematis dalam Grup 48

Selain komodifikasi afeksi, masalah yang tidak kalah besar di AKB48/JKT48 adalah penempatan idol di posisi yang lemah dan rawan untuk dieksploitasi. Ketika seseorang bergabung dengan JKT48 atau AKB48, kemungkinan besar dia tidak memiliki kemampuan menari dan menyanyi yang luar biasa karena memang konsep dari group 48 adalah merekrut perempuan yang memiliki kemampuan yang belum matang agar dapat ‘berkembang bersama fans’. Dalam kondisi ini, mereka harus mengalami persaingan ketat dalam posisi yang tak menguntungkan. Selain harus bersaing dengan senior yang sudah lebih dulu memiliki fans, anggota baru juga sangat jarang untuk bisa menjadi member yang ikut menyanyikan lagu di single. Sebagai ilustrasi, di JKT48 terdapat 60 lebih anggota dan hanya 16–20 anggota yang bisa diikutkan untuk menyanyikan lagu utama di single JKT48. Hanya member yang diikutkan di single inilah yang dapat ikut tampil di acara TV dan sebagian besar gig yang diikuti JKT48. Kondisi yang begitu timpang ini membuat sebagian besar anggota diletakkan pada posisi yang rapuh dan amat bergantung dengan fans dan manajemen untuk mendorong karir mereka.

Hal ini menyebabkan pihak manajemen memiliki insentif untuk memenuhi keinginan para fans dan memperkuat standar patriarki yang ada. Manajemen yang memiliki kontrol untuk lagu yang mereka nyanyikan, sosok yang mereka bentuk, pekerjaan yang dapat diambil, siapa yang dapat dipromosikan dan siapa yang tidak, hingga soal posisi idol saat manggung. Posisi tawar idol dalam menentukan imej yang ingin ia bawa ditekan hingga dihilangkan, semata untuk memenuhi hasrat patriarkis para fans dan menaikkan penjualan CD, tiket konser, dan tiket vote senbatsu sousenkyo.

Posisi tawar idol yang lemah ini pula yang menyebabkan idol sangat bergantung ada manajemen. Tanpa manajemen, tidak ada pekerjaan dan promosi yang dapat mendorong idol untuk bisa sukses di dunia hiburan. Sistemnya sengaja dibuat sekompetitif mungkin agar idol patuh. Ada yang merasa kalau kebijakan manajemen tidak adil? Jangan ikutkan mereka dalam line up CD berikutnya, biarkan mereka menjamur di teater tanpa kesempatan untuk masuk radar media mainstream. Rendahnya popularitas membuat mereka harus didepak dari grup — masih banyak orang di luar sana yang ingin menjadi idol. Kalaupun mereka cukup populer sehingga mereka memiliki pengaruh signifikan dalam grup, insentif mereka untuk berbicara pun kecil karena toh mereka diuntungkan dengan sistem yang ada. Buat apa mengambil resiko dimundurkan posisinya ketika memenuhi keinginan manajemen adalah cara terbaik mendulang popularitas? Apalagi popularitas mereka juga amat bergantung dengan nama grup 48 yang jauh lebih besar dari mereka.

Kompetisi yang demikian intens membuat para anggota grup sulit bersatu untuk menciptakan kondisi kerja yang lebih baik. Mereka semua bersaing satu sama lain di internal grup dan mengritik manajemen akan membuat posisi mereka dalam persaingan menjadi tak diuntungkan. Hal ini membuat kritik terhadap kondisi yang dialami idol sangat jarang keluar dari grup itu sendiri. Tidak hanya bisa kehilangan fans yang merasa bahwa standar ideal patriarkis mereka terancam, mereka juga mengalami resiko kehilangan kesempatan untuk menggapai impian mereka di dunia hiburan.

Untuk bisa keluar dari kondisi seperti ini, anggota grup 48 sama saja harus mengubur impian mereka karena kecilnya kemungkinan untuk bisa sukses di luar sana. Ketika grup 48 meraup untung sedemikian banyak dari para idol yang menjaring banyak fans, bukankah adil untuk memberikan mereka kesempatan bertumbuh tanpa harus mengekang mereka dengan standar yang tidak manusiawi?

Konklusi dan Pentingnya Perempuan untuk Bersatu

Sebelumnya perlu saya tekankan di sini bahwa industri idol bukanlah sebuah industri yang isinya iblis-iblis yang hanya ingin membuat hidup perempuan menderita — deskripsi itu cuma bisa saya berikan kepada industri pornografi dan prostitusi.

Keberadaan idol sebagai penyedia afeksi dan sosok yang terasa dekat dengan fans tidak bisa kita katakan sebagai hal yang selalu negatif. Di Jepang di mana rasa kesepian berada di mana-mana, keberadaan AKB48 dan grup lainnya memberikan sebuah tempat di mana orang-orang dapat diberikan perhatian yang pada dasarnya adalah kebutuhan emosional penting manusia. Di saat Tohoku dilanda gempa, AKB48 adalah salah satu grup yang memberikan respon cepat untuk menggalang dana, menyediakan bantuan infrastruktur, dan memberikan hiburan kepada korban gempa dan tsunami dengan melakukan pertunjukan rutin dan acara jabat tangan yang dapat diikuti tanpa bayaran oleh korban gempa. Hal ini berlangsung bahkan bertahun-tahun sampai media massa mainstream tidak memberitakannya lagi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hidup dari memberikan afeksi kepada orang lain bukanlah hidup yang perlu dijalankan dengan rasa malu.

Sebuah grup yang mendedikasikan identitasnya sebagai tempat untuk orang-orang belajar mengembangkan talentanya dalam menari, bernyanyi, dan lain-lain juga bukanlah konsep yang buruk, sangat baik malah. Sangat jarang bagi seseorang yang terlahir di keluarga biasa-biasa saja untuk bisa memasuki industri hiburan, mereka tidak dapat memiliki kesempatan untuk memiliki fasilitas sama seperti yang dimiliki orang yang terlahir di keluarga berada yang bisa membayar untuk latihan menari atau menyanyi atau koneksi ke industri hiburan. Orang yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja sangat sulit untuk bisa berkompetisi ketika ketimpangan dalam akses fasilitas dan koneksi untuk mengembangkan talenta mereka menjadi sedemikian besar. Grup 48 memberikan kesempatan untuk para perempuan menggapai impian mereka, dan itu patut diapresiasi.

Masalah mengenai komodifikasi afeksi terjadi ketika perempuan yang memberi afeksi itu dijadikan sekadar objek pemenuh hasrat fans. Bukan sebagai manusia yang memiliki perasaan yang bisa dikontrol sesuka hati. Bukan juga bisa diatur-atur soal siapa yang berhak dia cintai siapa yang tidak.

Masalah terjadi ketika manajemen idol memperlakukan perempuan seperti mesin yang bisa dibuang ketika tak berfungsi dengan memanfaatkan posisi lemah anggota dalam grup untuk membentuk mereka sesuai standar yang manajemen inginkan.

Apakah ada hubungan antara idol dan fans di mana fans mengapresiasi idol sebagai seorang manusia seutuhnya dengan segala kekurangan dan individualitasnya, bahkan ketika dia menyimpang dari standar patriarki? Tentu saja ada, tapi itu adalah pengecualian dan bukanlah hal umum. Begitu pula dengan manajemen idol, kasus di mana mereka memberikan kebebasan untuk para idol membentuk sosok yang mereka miliki agar lebih autentik juga sebetulnya ada, namun toh mereka masih terus dibatasi kebebasannya dengan larangan untuk berpacaran.

Selama idol memiliki posisi yang lebih lemah, akan selalu ada kecenderungan dari fans dan manajemen untuk membentuk mereka dalam standar patriarkis yang merugikan perempuan. Selama idol memposisikan diri sebagai individu, bukan sebagai kolektif, perlawanan terhadap standar patriarki akan menjadi musuh yang sangat sulit untuk dihentikan karena kekuatan perempuan yang lebih lemah. Paham kapitalisme memecah belah perempuan dalam kompetisi, membuat mereka tak dapat bersatu dalam solidaritas untuk melawan patriarki. Pada akhirnya, empati dan simpati dari pihak yang secara relatif mengalami opresi yang lebih ringan kepada yang mengalami opresi lebih berat sehingga mereka bisa bersatu dalam perkara yang universal sangat dibutuhkan untuk memberikan perlawanan yang berarti terhadap patriarki.


Charlie Sanjaya adalah mahasiswa Agribisnis IPB yang seharusnya sudah lulus tapi belum karena malas skripsian. Mantan wota yang sudah tobat. Kritik dan saran bisa dikirim ke charliesanjaya48j@gmail.com


Sumber Bacaan:

Marx, D. W. (2012). The Jimusho system: understanding the production logic of the Japanese entertainment industry. In Idols and celebrity in Japanese media culture (pp. 35–55). Palgrave Macmillan UK.

Galbraith, P. W. (2012). Idols: The image of desire in Japanese consumer capitalism. In Idols and celebrity in Japanese media culture (pp. 185–208). Palgrave Macmillan UK.

Galbraith, Patrick W. “The Labor Of Love: On The Convergence Of Fan And Corporate Interests In Contemporary Idol Culture In Japan.” Media Convergence In Japan. Patrick W Galbraith and Jason G Karlin. 1st ed. Tokyo: Kinema Club (2016): 232–264.

Kiuchi, Y. (2017). Idols You Can Meet: AKB48 and a New Trend in Japan’s Music Industry. The Journal of Popular Culture, 50(1), 30–49.

JULIANATHA, B., Sari, D. S. R., & SS, M. S. (2015). PENGARUH EVENT INDIVIDUAL HANDSHAKE\” ANGIN SEDANG BERHEMBUS\” TANGGAL 25 FEBRUARI 2015 TERHADAP KEPUASAN PENGGEMAR JKT48 (Doctoral dissertation, BINUS).

Johnson, D. (2016)” Anxious Proximity: Media Convergence, Celebrity, and Internet Negativity.” Media Convergence In Japan. Patrick W Galbraith and Jason G Karlin. 1st ed. Tokyo: Kinema Club

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.