Lipstik dan Perempuan: Sebuah Memoar Perjuangan

Keep Calm and Agent Carter oleh ratscape (http://ratscape.deviantart.com/art/Keep-Calm-and-Agent-Carter-503615249)

Membicarakan tentang kecantikan seolah tidak lengkap tanpa membicarakan makeup, dan membicarakan makeup seolah tidak lengkap tanpa membicarakan lipstik. Alat makeup berbentuk batangan yang digunakan untuk mewarnai bibir ini sangat digilai oleh perempuan dan seolah tidak boleh dilewatkan. Meskipun terlihat seperti barang yang baru saja diciptakan oleh manusia di bawah rezim kecantikan dan budaya populer, sebenarnya lipstik memiliki sejarah yang sangat panjang. Sejarah panjang ini pula yang memainkan peran yang sangat penting dalam mendefinisikan kecantikan dan juga kelas bagi perempuan — dan laki-laki! — di setiap titik masa sejarah.

Lalu siapa yang pertama kali menciptakan lipstik? Bagaimana ia diciptakan?

Sejarah pertamakali mencatat tentang keberadaan lipstik pada tahun 3500 SM. Adalah Ratu Schub-ad dari Ur, Sumeria Kuno, yang tercatat pertama kali menggunakan lipstik untuk mewarnai bibirnya. Ratu Schub-ad membuat pewarna bibirnya dari campuran timah putih dan batu permata yang ditumbuk untuk kemudian dioleskan ke bibirnya. Penggunaan campuran timah putih dan tumbukan batu permata sebagai lipstik ini juga diikuti oleh para bangsawan lainnya dan digunakan oleh bangsawan laki-laki maupun perempuan. Tren penggunaan lipstik oleh kedua gender ini juga diikuti oleh masyarakat kelas atas Mesopotamia pada tahun 3000 SM, lima abad setelah kerajaan Sumeria menciptakan dan mengenakan lipstik. Bedanya, masyarakat Mesopotamia pada saat itu membuat lipstik dari campuran lemak, lilin (wax), tumbukan batu permata dan perhiasan mereka sehingga lebih aman dipakai.

Mesir Kuno juga mengikuti jejak Mesopotamia dan Sumeria dalam membuat lipstik. Mereka membuat gincu dari oker merah yang dicampurkan dengan getah agar bisa melekat lama di bibir. Pewarna bibir yang dipakai di masa Mesir Kuno tidak hanya berwarna merah, tetapi juga berwarna oranye, hitam-biru dan magenta. Sama seperti Mesopotamia dan Sumeria, lipstik digunakan oleh kalangan bangsawan laki-laki dan perempuan untuk menunjukkan status dan kelas sosial. Yang menariknya, lipstik memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan bangsawan Mesir Kuno sampai-sampai ketika meninggal pelayannya harus menyertakan setidaknya dua lipstik untuk ditaruh di pemakaman mereka.

Lipstik baru memainkan peran yang berbeda di masa masyarakat Yunani Kuno. Memang lipstik masih eksklusif digunakan oleh kalangan bangsawan, tetapi ia juga digunakan oleh pekerja seks. Sejak pekerja seks menggunakan lipstik, alat rias tersebut mengalami regulasi yang sangat ketat dan berakibat pada stigma yang buruk terhadap lipstik. Lipstik hanya boleh digunakan oleh pekerja seks dengan tujuan untuk membedakan mereka dari perempuan baik-baik. Selain harus mengenakan lipstik, para pekerja seks ini juga harus muncul di jalan pada jam-jam tertentu. Pekerja seks yang ngotot tidak menggunakan atau lupa menggunakan lipstik akan dihukum karena dianggap berpura-pura menjadi “perempuan baik-baik”.

Maju ke Masa Kegelapan di Eropa, di mana kelaparan, kemiskinan, dan penyakit merajalela. Pada masa ini, kalian pasti berpikir lipstik tidak mungkin eksis, tapi siapa yang menyangka bahwa perempuan-perempuan miskinlah yang menggunakan lipstik untuk menghiasi bibir mereka? Sejarah mencatat bahwa perempuan-perempuan miskin Spanyol di abad ke-6 mengenakan lipstik dalam kegiatan sehari-hari mereka. Perempuan-perempuan kelas atas juga mengenakan lipstik namun sedikit lebih terlambat dari saudari-saudari miskin mereka.Ketertarikan perempuan kelas atas terhadap lipstik baru dimulai pada abad ke-9, dibuktikan dengan ditemukannya tempat penyimpanan kosmetik yang dihiasi dengan kristal di Konstatinopel. Pada masa tersebut, lipstik dan alat-alat makeup lainnya bisa bebas diperjualbelikan dan digunakan tanpa larangan yang berarti. Namun baru pada Abad Pertengahan kalangan gereja mendorong untuk pelarangan penjualan dan penggunaan makeup. Gereja, terutama gereja Inggris, menganggap bahwa perempuan yang menggunakan lipstik merupakan “inkarnasi dari Setan” karena dianggap mengubah ciptaan Tuhan.

Meskipun gereja mengeluarkan larangan untuk menggunakan lipstik, tidak semua orang menganggap bahwa menggunakan lipstik merupakan perbuatan yang berdosa. Perempuan-perempuan Italia malah tetap menggunakan lipstik dan lipstik pun berfungsi sebagai pembeda kelas. Perempuan-perempuan dari kalangan bangsawan dan kelas atas menggunakan warna pink yang cerah, sedangkan perempuan dari kalangan kelas menengah ke bawah menggunakan warna merah. Regulasi yang dilakukan oleh pihak gereja terbukti tidak berhasil dan tingkat populeritas lipstik semakin meningkat.

Melihat pamor lipstik tidak turun-turun dan perempuan tetap ngotot menggunakan lipstik meskipun sudah dilarang oleh Gereja, parlemen Inggris kemudian mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan laki-laki menceraikan istrinya apabila sang istri ketahuan menggunakan lipstik ketika prosesi pernikahan berlangsung. Selain diceraikan oleh suaminya, sang perempuan juga akan dituduh melakukan praktek sihir (witchcraft) dan dihukum seperti penyihir. Amerika Serikat sebagai daerah koloni Inggris pada kala itu juga sempat memberlakukan peraturan ini di sebagian daerahnya, namun peraturan ini hanya berlangsung secara singkat.

Sayangnya, pelarangan penggunaan lipstik — dan makeup lainnya — oleh perempuan terus dijalankan di Inggris, terutama di masa Ratu Victoria I. Sang Ratu menganggap makeup sebagai sesuatu yang “tidak sopan” dan melarang semua kalangan perempuan terkecuali aktris dan pekerja seks untuk mengenakan makeup, terutama lipstik yang mendapatkan pandangan yang paling sinis. Toh meskipun dilarang, perempuan tetap mencari cara untuk memerahkan bibir mereka. Cara-cara tersebut antara lain menggigit bibir mereka, mencium kertas crepe merah, dan menggunakan pelembab bibir yang diam-diam diberi pewarna merah. Berbagai cara dilakukan oleh para penjual lipstik untuk menjual lipstiknya, seperti menyamarkan lipstik sebagai obat-obatan dan menjual lipstik di lokasi tersembunyi. Perilaku para perempuan yang secara diam-diam dan rahasia mengenakan lipstik ini lama-lama tidak begitu rahasia lagi. Masyarakat pun mulai terbuka dengan lipstik. Hal ini juga bisa terjadi berkat para aktris-aktris teater yang sering mengenakan pewarna bibir ketika tampil dan membantu mempopulerkan lipstik ke masyarakat umum.

Suffragist (Sumber: https://www.giordanocolors.com/single-post/2015/01/07/The-History-of-Red-Lipstick)

Baru pada abad ke-20 lipstik menikmati posisi dan status yang sangat tinggi. Kepopuleran lipstik sebagian besar disebabkan oleh para aktris-aktris teater yang saban hari muncul untuk menghibur masyarakat. Lipstik secara resmi dijadikan sebagai simbol feminitas dan — mengejutkannya! — simbol perlawanan. Lipstik sebagai simbol perlawanan muncul berkat aksi Elizabeth Cady Stanton dan Charlotte Perkins Gilman, ketua gerakan suffragette New York yang membagikan bungkusan kertas berisi pewarna bibir kepada perempuan-perempuan yang mengikuti demo menuntut hak pilih pada tahun 1912. yang membagikan bungkusan kertas berisi pewarna bibir kepada para perempuan yang mengikuti long march sebagai simbol perlawanan.

Lipstik oleh pemerintah Amerika Serikat juga digunakan sebagai simbol perlawanan perempuan di masa Perang Dunia II. Awalnya pembuatan dan penggunaan lipstik dilarang oleh pemerintah karena bahan-bahan kimia yang ada harus digunakan untuk peralatan dan senjata perang. Namun, melihat antusiasme perempuan yang sangat tinggi terhadap lipstik dan fungsinya untuk meningkatkan moral masyarakat membuat pemerintah AS mencabut pelarangan produksi lipstik setelah 4 bulan hukum itu dilaksanakan.

Salah satu poster propaganda perang Amerika Serikat pada PD II yang mengajak perempuan untuk bekerja di kantor pos. (Sumber: https://galahad6323.wordpress.com/2016/03/28/woman-in-propaganda-during-wartime/)

Segera setelah pelarangan produksi lipstik dicabut, pemerintah membuat poster-poster propaganda perang yang mengajak perempuan untuk berkontribusi untuk negara. Poster-poster ini seringkali memuat perempuan yang mengenakan lipstik merah terang. Lipstikpun “naik pangkat” dari sekedar alat kosmetik biasa menjadi simbol senjata perlawanan perempuan dan harapan akan hari-hari normal yang akan segera datang. Poster propaganda perang yang menggambarkan perempuan berlipstik merah sebenarnya juga sebagai upaya Sekutu untuk mengontraskan diri dari Nazi Jerman yang lebih memilih perempuannya untuk tidak mengenakan makeup dan berbusana yang lebih sederhana.

Penggunaan lipstik sebagai simbol perlawanan tidak hanya berhenti di masa perang saja, namun masih terus digunakan hingga sekarang. Salah satu gerakan yang menggunakan simbol lipstik sebagai alat perang mereka adalah lipstick feminism, yaitu sebuah gerakan feminisme yang memperjuangkan nilai-nilai feminim tradisional sebagai bentuk empowerment mereka.

Lipstik: Sebuah Komtemplasi Kontestasi Tubuh Perempuan

Dari rangkuman sejarah lipstik yang panjang di atas, kita bisa melihat bahwa lipstik mengalami kontestasi dan konflik yang panjang. Lipstik yang awalnya digunakan oleh perempuan dan laki-laki, seiring dengan waktu berubah menjadi hal yang khusus digunakan oleh perempuan dan melambangkan feminitas. Permasalahan mengenai lipstik baru mencuat ketika lipstik secara khusus digunakan oleh perempuan. Regulasi dan pelarangan ini dimulai di masa Yunani Kuno, di mana mereka mengharuskan pekerja seks mengenakan lipstik merah untuk membedakannya dari perempuan baik-baik, diikuti oleh Eropa di Abad Pertengahan dan dilakukan oleh Gereja yang melarang penggunaan lipstik karena dianggap sebagai produk Setan, hingga parlemen Inggris yang menerbitkan peraturan yang menyatakan perempuan yang ketahuan menggunakan lipstik di pernikahannya boleh diceraikan oleh suaminya dan dikenai hukuman karena dianggap melakukan praktek sihir (witchcraft) di Inggris.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Tentunya regulasi dan pelarangan ini bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan yang jelas. Pelarangan lipstik di masa lampau bukanlah pelarangan penggunaan kosmetik semata, namun juga sebagai usaha oleh orang-orang yang berkuasa (baca: pemimpin negara dan agama yang mayoritas laki-laki) untuk mengatur tubuh perempuan sesuka mereka. Dilarangnya perempuan untuk mengenakan kosmetik merupakan cara bagi orang-orang berkuasa ini untuk merenggut kembali hak otonomi tubuh perempuan; untuk menentukan apa yang bisa ia pakai atau tidak secara sadar tanpa tekanan dari orang lain. Perempuan yang memiliki agensi dan hak otonomi tubuh merupakan perempuan yang berbahaya karena ia bisa merubah posisinya dari obyek yang narasi mengenai tubuhnya bisa diubah sesuka hati oleh orang-orang yang berkuasa menjadi subyek di mana ia bisa membentuk sendiri narasi mengenai tubuhnya.

Salah satu cara awal bagi perempuan untuk mendapatkan kembali hak otonomi tubuh mereka adalah dengan cara menggunakan dan memperjuangkan lipstik. Lipstik di mata perempuan kala itu merupakan kunci bagi mereka menuju pintu kemerdekaan dan hak otonomi tubuh. Laki-laki sebagai mayoritas pemegang tampuk kekuasaan menyadari bahwa lipstik merupakan langkah awal bagi perempuan untuk mendapatkan kembali kebebasan dan hak otonomi tubuhnya. Mereka melihat lipstik sebagai ancaman sehingga mereka merasa mereka harus melarang penggunaan lipstik, bahkan sampai menggunakan dalil agama untuk menjustifikasi pelarangan mereka.

Namun dengan berjalannya waktu, semakin berkembang dan terbukanya masyarakat terhadap ide-ide baru, diikuti dengan melonggarnya norma-norma masyarakat menyebabkan lipstik diperbolehkan lagi untuk digunakan secara bebas oleh perempuan. Tak hanya dipergunakan secara bebas, lipstik pun mengalami kenaikan status dan kelas, bahkan sampai digunakan oleh negara untuk propaganda perang. Tapi apakah ini berarti para pejabat dan penguasa negara yang mayoritas laki-laki itu akhirnya memperbolehkan atau bahkan mendukung perempuan untuk mendapatkan kembali hak otonomi tubuhnya? Lagi-lagi kita tidak bisa langsung mengasumsikan bahwa pemberian kebebasan perempuan oleh para laki-laki yang berkuasa ini merupakan sesuatu yang dilakukan secara cuma-cuma. Salah satu contoh yang menurut saya pas dalam mewakilkan permasalahan ini adalah penggunaan lipstik di poster-poster propaganda perang.

Dari poster ini kita bisa melihat bahwa “kebebasan” — dalam hal ini kebebasan bekerja di luar rumah — yang diberikan untuk perempuan oleh laki-laki selalu memiliki maksud tertentu. Tulisan dibawah poster menyatakan bahwa sang perempuan “bangga” karena suaminya menginginkannya untuk mengambil pekerjaan di luar rumah dalam rangka membantu negara dalam masa perang. Pertanyaannya adalah, mengapa untuk bekerja di luar ranahnya (rumah) sang perempuan harus menunggu persetujuan dari laki-laki? Bahkan yang dituliskan di poster bukan lagi menunggu izin, tapi menunggu si suami menginginkan istrinya bekerja di luar rumah. Rasa bangganya berasal dari keinginan suami, bukan berasal dari dirinya sendiri karena akhirnya bisa bekerja di luar rumah.

Memang poster di atas merupakan poster propaganda yang tentunya memiliki nada bias yang kuat, namun saya rasa ini cukup menggambarkan tentang bagaimana “kebebasan” yang diberikan oleh laki-laki ke perempuan selalu memiliki subtext tertentu. Subtext yang saya maksud di sini tentu saja keuntungan laki-laki. Ujung-ujungnya, “kebebasan” ini hanya ilusi semata karena “kebebasan” ini toh pada akhirnya ada hanya untuk menguntungkan laki-laki.

Pada akhirnya, kebebasan yang diberikan untuk perempuan di masa Perang Dunia II hingga sekarang merupakan “kebebasan semu” belaka. Perempuan masa kini sampai sekarang masih tidak memiliki agensi dan diperlakukan sebagai obyek. Apapun yang dilakukan oleh perempuan harus dilihat, diteliti, dan dikritisi — dan apabila dianggap tidak sesuai dengan pandangan yang berkuasa harus dilarang. Toh dilarang pun bukan berarti perempuan akan berhenti sama sekali dan duduk manis mengikuti larangan tersebut, namun mereka tak akan tinggal diam dan melawan. Mau sekeras apapun larangan dan hukumannya, perempuan akan terus melawan dan mendapatkan kembali hak-hak mereka yang direnggut secara tidak adil oleh sistem yang berkuasa dan semena-mena.

Oleh karena itu, lipstik merupakan salah satu kasus di mana perempuan — baik dari kalangan bawah, menengah, atas, muda-tua, tidak berpendidikan-berpendidikan, kulit putih, kuning, gelap —bersatu dan saling berbondong-bondong melawan tirani agama, negara, dan masyarakat untuk mendapatkan kembali agensi tubuh mereka. Meskipun harus diakui bahwa secara obyektif lipstik adalah sebuah barang yang remeh dan menyimbolkan kecantikan semu, kita harus mengakui bahwa sebagai common goal, ia berhasil. Kasus perjuangan lipstik ini menurut saya sangat menarik karena ia bisa menyatukan perempuan dari kalangan miskin dan bangsawan di masa Abad Pertengahan, di mana jarak dan batasan antar kelas masih sangat kontras.

Mengingat lipstik merupakan simbol perlawanan perempuan antar-kelas yang diperjuangkan selama berabad-abad untuk mendobrak nilai-nilai tradisional yang mengungkung perempuan, maka saya pikir adanya lipstick feminism sebagai salah satu cabang feminisme yang mendukung perempuan untuk tetap merangkul konsep-konsep feminim tradisional di samping ide-ide feminisme pada umumnya merupakan sebuah hinaan yang sangat dalam. Adanya cabang lipstick feminism sendiri merupakan bukti kebodohan dan ketidaktahuan orang-orang atas sejarah panjang dibalik perjuangan perempuan atas lipstik, menafikan perjuangan-perjuangan perempuan zaman dahulu untuk mendobrak peraturan kuno dan mendapatkan kembali otonomi tubuh dan hak-hak mereka. Cabang ini juga merupakan sebuah ejekan terhadap Feminisme Gelombang Pertama atau gerakan suffragettes yang dengan sengaja menggunakan lipstik merah terang sebagai simbol senjata perjuangan mereka.

Lagi-lagi kita harus mengingatkan diri kita bahwasanya feminisme merupakan gerakan yang menginginkan penghancuran nilai-nilai tradisional seperti pembagian kerja berdasarkan seks, peran gender, dan obyektifikasi perempuan —hanya dari penghancuran nilai-nilai tradisional inilah perempuan bisa bebas sebebas-bebasnya. Sehingga adanya cabang feminisme yang menginginkan perempuan untuk merangkul kembali nilai-nilai tradisional karena sang perempuan merasa empowered ketika melakukan hal-hal tersebut, maka cabang feminisme tersebut baru saja meludahi dan mencoreng gerakan feminisme sebelumnya yang menginginkan liberasi perempuan yang sebenar-benarnya. Liberasi dan empowerment tidak didapatkan dari merangkul nilai-nilai tradisional feminitas, namun dari menghancurkannya!


Ann Putri adalah mahasiswi Antropologi Budaya UGM yang ingin menjadi 70s radicool. Terkadang mengalami krisis ekonomi dan eksistensial. Kritik dan saran bisa kalian layangkan ke email pribadinya: anisadewintap@gmail.com.


Sumber bacaan:

Madison, James H. 2007. Wearing Lipstick to War. https://www.archives.gov/publications/prologue/2007/fall/lipstick.html

Mason, Meghann, “The impact of World War II on women’s fashion in the United States and Britain” (2011). UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1390. http://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/1390

Ribchester, Lucy. 2016. Beauty is your Duty: Red lipstick, an official weapon of WWII. https://www.waterstones.com/blog/beauty-is-your-duty-red-lipstick-an-official-weapon-of-wwii

Schaffer, Sarah. 2006. Reading Our Lips: The History of Lipstick Regulation in Western Seats of Power. https://dash.harvard.edu/bitstream/handle/1/10018966/Schaffer06.html?sequence=2.

Galahad6323. 2016. Woman In Propaganda During Wartime. https://galahad6323.wordpress.com/2016/03/28/woman-in-propaganda-during-wartime/

Bacaan lanjutan:

Nayak, Anoop dan Kehily, Mary Jane. 2006. Gender Undone: Subversion, Regulation and Embodiment in the Work of Judith Butler. British Journal of Sociology of Education Vol. 27, №4, Troubling Identities: Reflections on Judith Butler’s Philosophy for the Sociology of Education (Sep., 2006), pp. 459–472. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/30036156

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ann Putri’s story.