Go to Merah Muda Memudar
Merah Muda Memudar
Letter sent on Apr 16

Logo Merah Muda Memudar Berubah Loh!

Halo, bertemu lagi dengan saya Ann Putri, si editor yang selalu terjangkit krisis eksistensial dan finansial. Hari ini Merah Muda Memudar menerbitkan tulisan berjudul “Interaksi Nilai Formal dan Informal dalam Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan” yang ditulis oleh Charlie Sanjaya. Tulisan ini merupakan submisi pertama dari salah satu pembaca kami yang akhirnya dengan bangga kami publish. Tulisannya mengupas tentang bagaimana hukum normatif milik negara saja tidak cukup untuk menumpas dan menghentikan kekerasan seksual terhadap perempuan, namun juga diperlukan hukum informal alias ‘hukum rakyat’ (norma dan kode etik masyarakat).

Selain itu, kami akhirnya memiliki logo baru! Yay!

Mas Zakwan, pembuat logo Merah Muda Memudar di Women’s March Jakarta 2017. Kami pampang foto dia di sini biar dia terkenal.

Logo baru kami dibuat dengan senang hati dan penuh perjuangan dibuat oleh Zakwan Oebit, tukang photoshop meme Facebook dari tanah Aceh. Kami mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk mas Zakwan yang sudah mau mendengarkan permintaan kami yang aneh-aneh dan mewujudkannya menjadi logo Merah Muda Memudar yang cantik dan elegan ini. Terimakasih banyak mas Zakwan!

Logo baru kami. Lucu yha? Lucu dong. Terimakasih yang sebanyak-banyaknya kami haturkan ke Zakwan Oebit yang sudah membuat logo lucu nan menggemaskan ini.

Mengenai arti dan filosofi dari logo kami, kami mengambil bunga teratai sebagai logo kami dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama adalah bagaimana bunga teratai itu tumbuh dan berkembang. Bagi yang belum tahu, bunga teratai tumbuh dari tempat yang gelap dan ‘kotor’ (lumpur) hingga ia sampai ke atas permukaan dan mekar menjadi bunga teratai yang indah. Dalam ajaran Buddha, bunga teratai merupakan simbol dari kesucian badan, ucapan dan pikiran, juga menandakan kelahiran kembali dan dan pencerahan. Kami menganalogikan posisi perempuan dan golongan minoritas lainnya sekarang berada di dalam ‘lumpur’ opresi dan gerakannya tertahan oleh ‘lumpur’ kode etik dan norma masyarakat. Tapi kami percaya bahwa kondisi kita yang sekarang hanyalah sementara, dan kita akan bisa mencapai permukaan — liberasi — sebagai golongan yang baru dan terbebaskan.

Pertimbangan kedua adalah nama dan warna yang kami gunakan dalam logo kami. Kami sengaja memilih warna merah muda karena warna tersebut seringkali diasosiasikan dengan perempuan. Warna merah muda sendiri juga sering disebut sebagai warna feminin yang hanya pantas digunakan oleh perempuan, dan apabila ada laki-laki yang mengenakan warna tersebut maka akan dicap sebagai laki-laki yang bukan ‘laki’. Dari sini, kita bisa melihat bahwa hal yang remeh seperti warna saja bisa membedakan kita dan menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi yang lebih jelek dan rendah dibandingkan dengan laki-laki. Oleh karenanya, kami menambahkan nama ‘Memudar’ di belakang ‘Merah Muda’ karena keinginan kami untuk memudarkan dan kemudian menghilangkan stereotip dan anggapan buruk nan merendahkan yang diberikan terhadap gender. Tidak hanya menghilangkan stereotip dan ekspektasi yang buruk terhadap perempuan, namun ke semua golongan manusia yang ada di muka bumi.

Tentu saja proses ‘pemudaran warna-warna’ yang kami lakukan tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari kalian. Perlawanan individual ataupun kelompok kecil tidaklah efektif dan tidak akan memunculkan efek yang besar, sehingga kami memerlukan dukungan dan keikutsertaan kalian dalam perjuangan kolektif. Proyek perjuangan Merah Muda Memudar bukan perjuangan intelek menara gading atau kelompok elite, tapi perjuangan yang melewati batas-batas kelas, ras, suku, gender, orientasi seksual, dan bahasa. Kami para editor yang menyambi jadi penulis ala-ala hanyalah remah-remah chiki Indomaret 5000-an yang tak berarti tanpa adanya keikutsertaan dan dukungan kalian. Salah satu dukungan dan keikutsertaan kalian dalam perjuangan perempuan adalah kontribusi tulisan kalian terhadap Merah Muda Memudar, jadi jangan segan-segan ataupun malu untuk menulis ya! #tetep

Akhir kata, terimakasih banyak sudah mampir dan sudi membaca tulisan-tulisan kami! Tetap dukung dan berkontribusi ke perjuangan dalam meliberasi perempuan dan kalangan minoritas lainnya dan terakhir — selamat memudarkan merah muda!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.