Mencari Siti: Sebuah Resensi

Salah satu potongan adegan dari film SITI. Sumber: KapanLagi.com

Siti adalah perempuan tangguh. Setidaknya, itu satu hal yang bisa kita sepakati bersama setelah menonton film SITI (2015) karya Eddie Cahyono. Di titik itu kita tidak perlu berdebat sampai perlu teori rasio frame segala. Tidak banyak manusia yang mau saban hari jualan peyek, malam langsung bergoyang di karaoke esek-esek, dan sebagai perempuan menerima segala stigma di hidup yang demikian. Siti juga adalah perempuan yang tabah. Dia hanya bisa melampiaskan kekesalannya dan berteriak asu! ketika tak ada orang di sekitarnya, didorong oleh temannya di bibir pantai, atau ketika mendapatkan minuman ‘asik’ yang diyakini tidak akan memiliki sertifikasi badan POM.

Tangguh dan tabah. Premis yang standar untuk menjelaskan kehidupan perempuan. Ditambah, warna hitam putih yang dipilih untuk menjelaskan hidup Siti yang serba terbatas seolah ingin menambahkan kata ‘kasihan’ di antara karakter Siti yang ‘tangguh’ dan ‘tabah’ tersebut. Di titik inilah kita bisa berdebat; lalu di bagian mana tepatnya, dan maafkan jika saya tidak bisa menemukannya, film SITI berhasil sebagai film yang menyuarakan permasalahan perempuan yang tertindas oleh patriarki? Sebab, ‘perempuan tangguh, tabah, tapi kasihan sekali hidup di bawah patriarki’ sudah jadi lagu lama yang didengung-dengungkan oleh para saudari-saudari kita di era suffrage, dan direproduksi lagi oleh film SITI. Lalu di mana letak kekuatan perempuannya atau setidaknya proses mengubah protes di abad 18 itu menjadi bahasa tentang kekuatan?

Menonton SITI, justru membuat saya bertanya, adakah Siti ketika Gatot dan suaminya tak ada lagi? Mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi saya menjadi curiga karena Siti si penjual peyek dan Siti si hostess karaoke, selalu hadir atas alasan suaminya yang sakit, dan Gatot yang tampan, yang terakhir ini bahkan bisa dianggap jadi jalan keluar kehidupan Siti yang mengenaskan. Walaupun solusi ini sama saja lari dari mulut buaya ke mulut harimau. Dari patriarki yang tergolek lemas, ke patriarki yang berseragam. Cerita-cerita hidup Siti, selalu didahului oleh kehidupan lelaki-lelaki di sekitarnya, saya tidak mendapat gambaran Siti di luar lilitan hutang yang disebabkan oleh suaminya yang sakit, atau di luar nuansa malam bersama Gatot. Pendek kata, mengulang lagu lama patriarki, Gatot dan suami Siti adalah penanda Siti.

Walaupun banyak kritik yang mengatakan bahwa Siti bukanlah korban, tapi bagi saya Siti akhirnya jatuh ke narasi usang — yang terus ingin dilawan oleh para banyak feminis saat ini — bahwa perempuan adalah bentuk korban patriarki yang pasif. Dia tidak bisa mendekonstruksi makna ‘korban patriarki’ menjadi perempuan yang berdaulat, dan tidak perlu laki-laki untuk menyuarakan dan mengisi kediriannya sebagai seorang ‘Siti’. Jika memang Siti adalah narasi tentang kekuatan[1], maka dengan ‘kekuatan’ yang darimana, dihasilkan siapa/apa dia menjadi seorang hostess karaoke dan penjual peyek jingking? Kekaguman terhadap hidup yang begitu kontras ini juga bentuk lain dari miskinnya imajinasi kita tentang hidup perempuan yang pada dasarnya tidak jauh berbeda dari manusia-manusia lain; misalnya pagi hari berbicara soal kesejahteraan sosial, siang hari menandatangi Undang-Undang, dan malam hari merancang skema pencucian uang.

Jika masih ingin mendebat teori frame[2] yang tidak saya pahami, maka mungkin benar bahwa hidup Siti di dalam bingkai 4:3 itu begitu sesak; begitu sesak karena saking sempitnya dia tidak punya ruang untuk melawan, dan jika ingin melawan ia harus melompati batasan-batasan tersebut secara ekstrim. Tapi ekstrimitas dari seorang istri, penjual peyek yang merawat suami, ke seorang hostess karaoke dan pacar gelap seorang polisi ini tidak membawa implikasi yang berarti untuk memvalidasikan kekuatan Siti. Bagaimanapun, kutub-kutub ekstrim seorang Siti dimoderasi oleh patriarki, dan baik di keduanya ia tetaplah perempuan yang dibawa ke perkara moralitas semata, alih-alih sekalian saja langsung membuat Siti menjadi seorang femme fatale — suatu identitas yang sangat jarang ditemukan di perfilman Indonesia yang membawa isu perempuan. Keekstriman Siti akhirnya merugikan dirinya sendiri. Hal tersebut tidak bisa dilihat lagi sebagai sebuah kekaguman dari perempuan yang berani mengambil sikap perlawanan.

Ekstrimitas yang terus menjadi titik tolak kita membaca Siti juga menjadi pisau bermata dua. Pembenturan dikotomis ini tidak membawa visi yang lebih maju mengenai kehidupan perempuan; alih-alih berusaha melihat bahwa kehidupan perempuan memang tidak bisa dipandang dengan hitam putih, audiens akan terus dipingpong untuk melihat Siti si hostess karaoke dan Siti si penjual peyek-ibu-istri yang tabah. Sekedar jadi bumbu cerita, tapi hambar dalam pemaknaan akhirnya.

Yang juga cukup bermasalah di dalam SITI adalah ia menghadirkan perempuan dalam bahasa Hollywood klasik yang seksis; rasa bersalah perempuan karena identitasnya yang ambigu di dunia misoginis — ia lelaki tanpa penis dan karena itu ia merasa takut [3]. Siti terus menerus dibenturkan dengan rasa bersalahnya di hidup yang dikotomis tersebut, mulai dari mertuanya[4] yang berharap agar Siti tidak merokok dan berhenti bekerja di karaoke, dan keengganannya untuk meninggalkan suami meskipun Gatot sudah siap dengan segala janji-janjinya. Siti merasa harus bertanggung jawab kepada hutang suaminya dengan meminta uang Gatot. Ketika mabuk, ia memikirkan angan-angan yang tak pernah kesampaian dari janji suaminya. Bahkan ketika mendekati adegan terakhir ketika Siti mengaku kepada suaminya ia ingin berpisah karena Gatot, dan suaminya terlihat hancur, Siti kemudian digambarkan dengan ‘hukuman’ perut yang sakit, rasa bersalah (lagi) karena merasa ia tidak dalam keadaan sadar untuk mengatakan isi hatinya, lalu adegan itu diakhiri dengan Siti pergi ke laut.

Pada dasarnya, hanya karena film SITI berusaha ‘mengangkat’ dan menggambarkan perempuan yang hidup di antara kesumukan patriarki dan ia hadir dalam ruang yang begitu kontradiktif satu sama lain, bukan berarti SITI membawa paradigma feminis dan/atau keadilan gender di dalamnya. Menempatkan isu perempuan di dalam bingkai sinema, tidak serta merta membuat kita dapat mengangguk-angguk dan mengatakan film tersebut benar membantu membawa kekuatan terhadap perempuan. Kita harus memeriksa relasi yang terjadi di dalam film antara narasi dan si perempuan dan/atau identitas feminin lainnya. SITI, setidaknya bagi saya, bukan film tentang kekuatan, melainkan justru tentang kelelahan– jika kita tidak ingin bilang atau menghindari pandangan lain bahwa jangan-jangan SITI justru meromantisasi penindasan perempuan prekariat tanpa membawa premis progresif apapun dalam melihat perempuan dan segala kenajisan patriarki yang ia hadapi.

Film seharusnya bisa menjadi lebih dari sekedar mengangkat dan mendokumentasikan apa yang terjadi di masyarakat, semata.

Trailer Film SITI

Perdana Putri sehari-sehari mendengarkan Led Zeppelin di pinggir sungai. Cita-citanya ingin jadi jawara kampung #agarsupaya. Kalau semesta mengizinkan, akan berangkat ke Evanston, Illinois, Amerika, untuk menjadi Arryman Predoctoral research Fellowship 2017, The Buffet Institute for Global Studies of Northwestern University. Kritik dan saran bisa kalian layangkan ke email pribadinya: perdana21@gmail.com


*

[1] Seperti pandangan yang ditawarkan oleh Hikmat Darmawan di http://majalah.pabrikultur.com/film/51/Siti

[2] Lihat Hikmat Darmawan, http://majalah.pabrikultur.com/film/51/Siti

Manshur Zikri, http://jurnalfootage.net/v4/artikel/menemui-lagi-siti

Adya Nisita, http://cinemapoetica.com/siti-perempuan-tidak-sebatas-peran/

[3] Smelik dalam Cook dan Bernink, 2007.

[4] Di sisi lain, adegan ini bisa dibaca secara positif bahwa patriarki yang melahirkan norma perempuan baik versus perempuan buruk pun hinggap di perempuan lainnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.