Mengenai Merah Muda Memudar

Karya: Roy Lichtenstein

Halo, selamat datang di Merah Muda Memudar, sebuah komunitas yang memberikan ruang bagi para perempuan untuk mengeksplorasi dirinya dan warna yang melekat pada dirinya. ‘Warna’ yang kami maksud di sini adalah nilai-nilai yang diberikan pada perempuan oleh masyarakat yang digunakan untuk membatasi gerak dan ruang perempuan, atau pendeknya opresi terhadap perempuan. Kami sengaja menggunakan warna merah muda karena warna merah muda merupakan warna yang paling sering diasosiasikan dengan feminitas. Di sini, kami ingin mendekonstruksi ‘warna’ ini untuk mencari akar dari opresi dan menawarkan solusi dari opresi tersebut.

Fokus tulisan kami sangat luas, meskipun begitu kami memfokuskan diri pada perjuangan pergerakan perempuan, terutama perjuangan pergerakan pembebasan perempuan di Indonesia. Kami sadar bahwa perjuangan pergerakan pembebasan perempuan serta opresi terhadap perempuan merupakan hal yang universal, namun kami ingin memfokuskan diri pada perempuan Indonesia karena minimnya ruang dan literatur perempuan yang secara khusus membahas tentang perempuan Indonesia. Target pembaca kami adalah seluruh masyarakat Indonesia khususnya perempuan dengan berbagai latar belakang usia, pendidikan, profesi, kelas sosial, agama, ras, dan budaya. Oleh karenanya, kami hanya menerima submisi berbahasa Indonesia dan menekankan agar submisi dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh target pembaca.

Mengenai konten, topik-topik yang kami bahas mencakup Sejarah Penindasan Perempuan, Perempuan dan Kultur Indonesia , Perempuan dalam Budaya Pop (Pop Culture) Indonesia dan Global, dan berita khusus perempuan Indonesia. Kami juga menerima submisi tulisan dari kalian dengan tema apapun yang berhubungan dengan perempuan dan kelompok-kelompok minoritas lainnya. Submisi tulisan bisa berupa opini, analisis, review tulisan atau media lainnya seperti film dan lukisan dan berita mengenai pejuang perempuan dan kalangan minoritas lokal dan internasional. Panjang submisi tulisan untuk analisis dan opini minimal 750–3000 kata dan untuk submisi berita dan review media khusus perempuan dan kalangan minoritas minimal 300–1000 kata. Jangan lupa untuk menyertakan sumber bacaan yang kalian gunakan dalam tulisan kalian. Bacaan yang digunakan sebagai rujukan harus bisa dipertanggungjawabkan dan sebisa mungkin sudah melalui peer-review — kami mengutamakan jurnal sebagai bahan rujukan dalam submisi artikel analisis dan opini agar bisa dipertanggungjawabkan. Kami juga menyediakan bahan rujukan bacaan yang bisa kalian akses lewat tab Literatur di halaman awal. Apabila kalian tidak menemukan jurnal yang sesuai dengan tulisan kalian, kalian bisa menghubungi editor kami (Ann Putri, Anindya Joediono, Ester Arinamy Haloho, Perdana Putri, Nadya Karima Melati, Satrio Pratama), kami akan dengan senang hati memberikan bahan-bahan rujukan yang kalian butuhkan. Kami juga mengutamakan submisi yang sesuai dengan kurikulum yang telah kami buat. Mengenai detail kurikulum seperti outline, materi, pertimbangan, dsb kalian dapat menghubungi editor kami :)

Kalian bisa mengirimkan tulisan kalian ke merahmudamemudar@gmail.com. Sebelum mengirimkan email ke kami, jangan lupa untuk menyertakan identitas diri, biografi singkat menjelaskan siapa kalian dan link profil Medium kalian. File tulisan harus berupa .docx dan sertakan juga deskripsi singkat/abstrak tentang apa yang kalian tulis. Konten harus dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, dan enak dibaca: tidak perlu terlalu serius! Font tulisan bebas namun setidaknya enak untuk dibaca dan besar tulisan font 11pt-12pt. Tulisan yang masuk ke kami akan kami seleksi dan tulisan yang lolos seleksi kami akan kami edit secukupnya dari segi bahasa dan konten. Kami akan menotifikasi penulis apabila tulisan penulis akan dipublikasi. Sebelumnya, kami mohon maaf apabila kami belum bisa membayar penulis-penulis yang berkontribusi terhadap Merah Muda Memudar karena kami hanya merupakan komunitas berbagi untuk isu perempuan dan kalangan minoritas.

Selamat memudarkan merah muda!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.