HALO

Halo,

Kamu, iya kamu. Cengar cengir di pojokan. Sibuk mengetik entah apa. Kening berkerut terkadang sambil manggut-manggut. Seru sekali. Sesekali saya lihat kamu membawa buku tebal-tebal seperti bantal. Kerepotan membuka halaman demi halaman, mencatat, mencoret. Kening berkerut kali ini tanpa manggut-manggut tapi sedikit manyun. Ribet sekali.

Namun ada kalanya juga saya lihat kamu duduk santai. Tanpa komputer. Tanpa buku tebal-tebal. Kamu dan secangkir, entah apa, mungkin kopi, mungkin cokelat, mungkin teh. Saat kamu duduk santai, biasanya kamu membaca buku yang lebih ringan. Kali ini tanpa kening berkerut. Mata kamu berbinar-binar. Terkadang kamu tergelak sendiri. Lucu sekali.

Dalam beberapa kesempatan saya lihat kamu duduk tanpa berbuat apa-apa. Hanya memandang keluar jendela. Melamun. Seringkali mata kamu kosong. Namun lebih sering lagi mata kamu basah. Kamu menangis diam-diam. Tanpa isak. Tanpa menyeka air mata.

Dari berbagai pemandangan kamu, versi menangis diam-diam adalah yang paling tidak saya suka. Melihat kamu menangis seperti juga melukai saya. Saya sungguh ingin menghampiri kamu dan menawarkan selembar tisu atau pundak untuk kamu bisa terisak-isak dengan puasnya. Menggenggam tangan kamu dan bilang : Hey, kamu terlalu indah untuk menangis.

Tapi tentu saja saya tidak bisa melakukannya. Saya hanya bisa memandangi kamu. Menerka-nerka apa yang membuatmu begitu sedih. Ikut terluka melihat kamu menangis. Dan terkadang air mata saya juga ikut merebak. Terutama kalau kamu menangis sambil menahan isak. Kenapa kamu menahan isak? Air mata tidak akan sempurna jatuhnya tanpa sedu sedan. Kamu tidak akan lega. Kamu hanya akan menangis terus pada akhirnya.

Melihat kamu melangkah masuk dan duduk di pojokan itu selalu membuat saya menahan napas. Saya menanti, ekspresi apa yang akan keluar dari kamu hari ini? Seakan-akan kebahagiaan hari saya akan dipengaruhi oleh emosi yang kamu tampilkan.

Ketika kamu sedang sibuk menulis dan membaca buku tebal-tebal. Saya juga jadi termotivasi. Ikut fokus. Serius. Dan mulai membaca koran. Ketika kamu sedang bersenang-senang membaca, saya juga merasa senang. Memesan semua makanan enak. Menonton film. Dan jatuh cinta. Yang paling susah adalah saat kamu sedih. Mendadak hari saya menjadi kelabu. Beberapa kali bahkan saya memaki. Seakan dengan makian dapat mengurangi beban kesedihan kamu.

Ah kamu,
Iya kamu, yang duduk di pojokan. Selalu sendirian. Sibuk menulis entah apa. Selalu membaca. Sering menangis. dan sedikit sekali tertawa.

Saya sudah melatih ini berkali-kali. Menghampiri kamu. Menyusun kata-kata perkenalan dan kalau bisa mengajak kamu jalan-jalan.

Maka hari ini saya membulatkan tekad. Satu dua kalimat tentu tidak susah. Ditambah senyum akan lebih bijaksana. Siapa tahu kamu tertarik dan mau saya temani. Sudah terlalu lama saya mengamati. Ini saatnya mulai mendekati.

Ah kamu,

Iya kamu, yang duduk di pojokan. Baru hendak saya melangkah untuk menghampiri. Kaki saya dijegal.

“Jangan ganggu gadis itu, dia baru meninggal bulan lalu, masih galau dan belum tahu. Tunggulah lagi sampai seminggu. Baru dia bisa jadi milik kamu.”
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.