Kenapa Arya Memutuskan Untuk Melajang

Kenapa belum punya pacar sih, Ya?”

Setiap kali pertanyaan itu keluar dari mulut setiap orang, Arya hanya tertawa grogi dan mengeluarkan jawaban yang tidak konklusif. Paling tidak, dulu itu yang ia lakukan. Belakangan ini, tawa groginya berubah menjadi senyum tipis dan jawabannya berubah menjadi sekedar gumaman. Masih masuk dalam kategori jawaban yang tidak konklusif, namun mungkin berada di level yang lebih tinggi.

Wajar, karena Arya sudah diharuskan menjawab pertanyaan yang sama seumur hidupnya. Ya, Arya, temanku dari SMP yang bertubuh kurus ceking ini, belum pernah punya pacar. Selama 30 tahun ia hidup, belum pernah sekalipun ia menggandeng seorang perempuan, pergi berkencan, makan di kafe yang makanannya tidak enak tapi sedang populer, atau sengaja nonton film jelek dengan tujuan supaya bisa ciuman tanpa merasa rugi.

Rasanya, segala bentuk pertanyaan tentang kenapa Arya belum punya pacar sudah pernah terlontar, mulai dari yang polos (“Emang di sekolah gak ada yang cantik?”), yang bernada menuduh (“Lo nyari gak? Gak nyari kali!”), yang disamarkan sebagai empati (“Belum ada yang cocok ya?”), sampai yang paling liberal (“Lo gay?”).

Apapun bentuk pertanyaannya dan apapun jawaban dari Arya, hanya ada satu fakta yang menjadi benang merah: Arya, 30 tahun, belum pernah pacaran seumur hidupnya.

Sebagai temannya, aku dan beberapa orang temanku sudah melakukan berbagai macam cara untuk mewujudkan percintaan Arya. Bukannya ia pernah meminta tolong, tapi seperti kata salah satu teman kami — Edo — kisah cinta Arya itu bak sebuah film yang akan datang tapi tanggal rilisnya terus ditunda. Sehingga dapat dikatakan, memang kami teman-temanya yang lebih penasaran ketimbang, mungkin, Arya sendiri.

Entah sudah berapa kali kami mencoba menjodohkan Arya. Mulai dari yang serius sampai yang iseng-iseng berhadiah, yaitu ketika kami secara acak mengenalkan Arya dengan seorang perempuan tanpa mempedulikan preferensinya sama sekali. Kami berharap-harap, siapa tahu dari perkenalan acak ini justru Arya menemukan jodohnya.

Tapi akhir dari semua cerita itu selalu sama: “hubungan” Arya dengan perempuan tersebut hanya berlangsung sekitar tiga hari, lalu Arya akan mengeluarkan alasan kenapa ia tidak mau melanjutkan hubungan itu. Biasanya, alasannya seputaran “rumahnya jauh”, “gak nyambung ngobrolnya”, atau “dia keliatannya gak minat sama gue.”

Setelah itu biasanya kami akan mengajak Arya untuk bergabung di sebuah sesi introspeksi, dimana kami akan mencoba mengorek apa yang terjadi selama dua-tiga hari belakangan dan mencoba menilai apa yang salah. Pada umumnya, Arya akan diam, sesekali manggut-manggut, tapi kami tidak pernah tahu apakah petuah kami ada yang pernah masuk ke dalam pikirannya atau tidak.

Lalu semuanya akan kembali ke titik nol, berulang seperti lingkaran setan. Arya, pencinta komik dan game, belum pernah pacaran seumur hidupnya.


Pagi ini Arya bilang ke kami semua kalau ia memutuskan untuk melajang seumur hidupnya. Awalnya kami menganggapnya bercanda. Mana mungkin ada orang yang memutuskan untuk melajang seumur hidup, kecuali dia adalah pemuka agama? Kami tahu persis bahwa Arya bukan seorang religius, apalagi pemuka agama. Tapi Arya tidak sedang bercanda dan kami segera mengadakan sebuah sesi introspeksi. Agendanya adalah meluruskan pikiran Arya. Ya, kami menganggap pikiran Arya saat ini tidak lurus. Mungkin dia sudah putus asa.

Tapi Arya terlihat sangat tenang. Seperti biasa, dia terdiam mendengarkan kami semua bergantian berbicara. Ia tidak manggut-manggut, tapi sisanya sama persis seperti biasanya. Selama kurang lebih satu jam ia mendengarkan kami yang mencoba meyakinkannya bahwa di luar sana pasti ada seorang pasangan sejati yang menantinya.

Selesai bicara, kami menunggu Arya untuk memberikan tanggapan. Tapi dia hanya mengucapkan terima kasih, lalu pergi, meninggalkan kami semua yang terbengong-bengong. Itu adalah terakhir kalinya kami melihat Arya.


Setelah hari itu Arya menghilang. Dia tidak pernah lagi membalas group chat, walau namanya m asih terdaftar di situ. Japri ke nomernya tidak lagi mendapatkan balasan atau bahkan notifikasi bahwa pesan tersebut sampai. Telepon hanya akan berakhir di kotak suara.

Aku pernah menghampiri rumahnya dan mendapati bahwa ia sudah pindah dari situ. Pemilik rumah baru itu adalah saudara sepupunya dan ia mengatakan bahwa Arya pindah sejak ibunya meninggal. Ibunya meninggal? Aku bahkan tidak tahu kapan ibunda Arya meninggal. Ayahnya sudah meninggal sejak lama, tapi ibunya? Kenapa Arya bahkan tidak memberi tahu berita sepenting ini?

Mengenai ke mana Arya pindah, bahkan si pemilik rumah baru pun tidak mengetahuinya. Nomer telepon yang diberikannya kepadaku adalah nomer yang sama dengan yang sudah kusimpan selama 10 tahun belakangan.

Seorang teman pernah bilang kalau ia melihat Arya di Nagoya, Jepang. Tapi ia tidak yakin kalau itu adalah Arya, sehingga ia tidak menyapanya. Seorang teman lain bilang kalau ia melihat Arya di sebuah TV yang meliput keriaan tahun baru di suatu tempat, tapi ia tidak tahu tempat itu di mana.

Aku sendiri merasa pernah melihat Arya di antara kerumunan orang di Orchard Road, Singapura. Namun selintas berlalu dan ia menghilang. Entahlah. Seiring berjalannya waktu, yang tersisa hanyalah memori tentang masa lalu.

Terkadang aku masih bertanya-tanya kenapa Arya memutuskan untuk melajang. Tapi belakangan aku lebih sering bertanya, kenapa aku menjadikan hal tersebut urusanku?


4 Januari 2016