Keset

Kalau aku boleh jujur, aku tidak suka jadi keset. Memang benar, gajinya lumayan, apalagi di perusahaan besar seperti ini. Tapi tetap, aku tidak suka. Jadi keset itu membosankan, dan rasa bosan itu membawa serta perasaan lelah luar biasa. Ya, jadi keset bisa sangat melelahkan, apalagi di musim hujan seperti sekarang ini. Jalan di depan sudah setahun dibiarkan rusak dan ketika musim hujan seperti ini bentuknya tiada berbeda dari kubangan kerbau, mengotori kaki para perlente yang mau masuk ke gedung ini. Dan tentu adalah tugasku untuk membersihkan, atau setidaknya mengeringkan kaki mereka agar tidak meninggalkan jejak di lantai yang berkilau bak cermin.

Orang-orang sering bilang kalau pekerjaanku enak, tinggal rebahan seharian dan menunggu matahari terbenam. Tapi aku tahu kalau aku lebih baik dari ini. Lebih baik seperti apa, aku belum tahu. Tapi aku yakin kalau aku bisa jadi lebih dari sekedar keset. Guru sekolahku waktu SMP dulu pernah mengutarakan bedanya yakin dan percaya. Katanya percaya itu perlu bukti, seperti ketika polisi sedang melakukan penyidikan. Polisi tidak boleh langsung menerima kata-kata dari seorang saksi. Mereka perlu bukti yang mendukung, baru bisa percaya.

Sebaliknya, yakin tidak perlu bukti. Contohnya adalah tentang keberadaan Tuhan. Kata guruku, kita seharusnya meyakini bahwa Tuhan itu ada, tanpa perlu adanya bukti. Tapi menurutku, tidak ada satupun hal di dunia ini yang bisa atau patut diyakini. Pada akhirnya, semua hal menuntut bukti. Orang boleh yakin akan Tuhan, namun pada akhirnya, dalam hati mereka, pasti ada keinginan untuk membuktikan bahwa yang mereka yakini itu benar. Paling tidak di akhir hayatnya, mereka berharap Tuhan akan menemui mereka sehingga mereka bisa berkata, “Ah, ternyata kau sungguh ada.” Lalu mati dengan tenang.

Demikian juga dengan keyakinanku akan kemampuanku. Betul aku yakin bahwa aku lebih baik dari sekedar keset, tapi aku pun merasa perlu bukti. Untuk diriku dan egoku, dan sekaligus juga untuk semua orang yang pernah menjadi korban uneg-unegku.

Maka dari itu siang ini, sembari diinjak-injak oleh kaki orang-orang sibuk yang serba tergesa-gesa — entah karena berusaha secepat mungkin bebas dari hujan atau karena terlambat — aku memikirkan rencana besar hidupku. Aku mencoba berpikir secara sistematis, dimulai dari memikirkan hal-hal yang aku sukai, hal-hal yang tidak aku sukai, hal-hal yang bisa kulakukan, hal-hal yang belum bisa kulakukan tapi bisa kupelajari, dan hal-hal yang sampai kapanpun tidak akan bisa atau tidak akan mau kulakukan.

Kemudian aku mulai menjodohkan kategori-kategori tersebut, sehingga tercipta kategori-kategori baru seperti misalnya hal-hal yang aku sukai dan bisa kulakukan, hal-hal yang aku sukai tapi tidak akan bisa kulakukan, hal-hal yang tidak aku sukai namun bisa kulakukan, dan seterusnya.

Dari situ aku baru sadar bahwa ternyata tidak ada hal yang sungguh aku sukai dan bisa kulakukan. Bahkan aku kesulitan menemukan hal yang aku sukai tapi tidak bisa kulakukan. Ini disebabkan karena ternyata aku tidak bisa menemukan satu hal yang benar-benar aku sukai. Aku suka tidur. Aku ahli tidur. Aku bisa tidur dengan cepat di situasi apapun. Tapi tidak ada pekerjaan yang berhubungan dengan tidur kan? Bahkan sepertinya tidak ada yang pernah sampai hati bilang kalau tidur adalah pekerjaan.

Satu-satunya hal yang mungkin aku agak suka adalah menggambar komik. Masalahnya, gambarku jelek dan sepertinya tidak mungkin aku bisa mengembangkan kemampuan ini. Mengembangkan kemampuan menggambar komik perlu komitmen dan dedikasi. Sementara aku tidak memiliki kedua fasilitas itu. Aku terlalu sibuk.

Sebaliknya, aku menemukan banyak hal yang tidak aku sukai namun bisa, atau sesungguhnya bisa, kulakukan. Aku bisa bersih-bersih. Kata pamanku, aku tukang bersih-bersih paling teliti yang pernah dia lihat. Tapi aku tidak suka jadi tukang bersih-bersih. Pekerjaan itu melelahkan dan membosankan. Dan aku tidak suka bentuk sapu. Entah kenapa ijuk sapu mengingatkanku akan mimpi buruk tentang nenek sihir waktu umur 4 tahun dulu.

Aku juga bisa memotong kayu. Namun memotong kayu selalu membuat tanganku sakit luar biasa. Belum lagi ada serat-serat kayu yang sering memaksa masuk ke tanganku. Lagipula siapa yang butuh kayu potong di jaman sekarang? Orang tidak lagi menggunakan kayu bakar. Segala macam perabotan yang katanya terbuat dari kayu sekarang sudah tidak menggunakan kayu sungguhan. Ditambah isu-isu tentang lingkungan hidup, aku merasa pekerjaan memotong kayu tidak memiliki masa depan yang cerah.

Lalu tentu saja, aku bisa menjual diriku untuk kegiatan seksual. Rata-rata orang tentu akan bilang kalau ini adalah salah satu pekerjaan yang paling menyenangkan. Banyak orang yang ingin berhubungan seks saja harus membayar, maka tentu kalau situasinya dibalik akan ada banyak orang yang dengan senang hati akan melakukan pekerjaan ini. Tapi aku tidak pernah menyukai hubungan seks. Tidak ada alasan tertentu, aku hanya tidak pernah mengerti kenapa orang sering mengkaitkan hubungan seks dengan hal paling nikmat yang dapat terjadi pada manusia. Menurutku ada hal-hal lain yang lebih nikmat. Tidur misalnya.

Jam pulang kantor semakin mendekat. Aku belum juga bisa memutuskan rencana besar hidupku. Sungguh hari yang sangat tidak produktif. Aku menguap dan melihat ke sekitarku. Aku melihat teman-temanku dan pekerjaan mereka: ada si pot bunga, si kursi, si meja, si penunjuk jalan, dan si cantik pajangan. Berbeda denganku, mereka terlihat menikmati pekerjaan mereka. Aku tahu karena aku sering melihat mereka tersenyum. Orang tidak akan tersenyum kalau tidak bahagia. Aku tahu karena aku tidak pernah tersenyum. Tapi sesungguhnya aku iba pada teman-temanku. Mereka menikmati pekerjaan mereka, tanpa tahu bahwa sesungguhnya mereka bisa jadi lebih dari ini semua.

Dan tetiba aku sadar akan apa yang harus aku lakukan. Aku harus jadi martir bagi mereka semua. Aku harus menunjukkan bahwa kita bisa menjadi lebih dari ini. Bahwa di luar sana, kehidupan yang sesungguhnya menanti. Seketika aku merasakan darahku bergejolak. Perutku semriwing. Aku merasakan semangat yang entah terakhir kali kapan kurasakan. Tanpa kusadari, aku tersenyum.

Bel di jam tengah berbunyi nyaring. Tanda waktunya pulang. Aku bangkit berdiri, meregangkan otot-ototku, dan memukul-mukul pundakku. Mungkin tidak terlihat, tapi jadi keset sungguh pekerjaan yang melelahkan. Tapi tidak seperti biasanya, sore ini aku merasa semangat. Besok pagi aku akan bertemu dengan atasanku, dan aku akan berhenti dari pekerjaan sialan ini. Setelah itu mungkin aku akan pergi ke luar negeri. Tabunganku lumayan dan tidak pernah terpakai, pasti cukup untuk plesiran di luar negeri selama beberapa minggu. Setelah itu, aku akan mencari pekerjaan baru. Mudah-mudahan plesiranku bisa memberikan inspirasi.

Setelah menolak ajakan teman-temanku untuk makan malam dan minum-minum, aku pulang ke rumah dengan langkah enteng.

Besok adalah hari yang besar.

***

Pagi tadi aku bertemu dengan atasanku. Belum sempat aku mengutarakan niatku, ia menawariku pekerjaan baru. Lebih tepatnya sebuah promosi. Ia menawariku untuk jadi keset di depan ruangan direktur. Menurutnya, pekerjaanku sangat baik dan aku layak mendapatkan promosi ini. Aku akan jadi keset di ruangan ber-AC, ada karpet, dan gajiku dinaikkan hampir 40%.

Tentu saja langsung aku terima. Jadi martir dan liburan ke luar negeri bisa menunggu. Malah mungkin nanti tabunganku bisa jadi makin banyak dan aku bisa pergi lebih jauh dan lebih lama lagi. Menginap di hotel yang lebih mahal, belanja barang yang lebih banyak, dan makan makanan yang lebih enak.

Tapi itu nanti saja.

Saat ini aku adalah keset di depan ruangan direktur.

***

23 Januari 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Jerry Hadiprojo’s story.